My Little Girl

My Little Girl
45. Bercerita



Tiga puluh menit berlalu, Ara masih melakukan hukumannya, dan Deon masih setia menatap ara menggunakan ponsel.


"Kak, masih lama?" keluh Ara, kaki dan tangannya sudah merasa pegal, ditambah kepalanya yang masih sedikit berdenyut nyeri.


"Belum juga satu jam, baru tiga puluh menit".


" Pending bisa? nanti Ara cicil kak" seloroh Ara dengan tampang memelas.


Deon tidak dapat lagi menahan senyumannya melihat tingkah gadis kecil miliknya.


"Ya udah boleh"


Mendengar ucapan Deon, Ara segera duduk dan memanjangkan kakinya, "Hah leganya".


" Padahal tadi kalau Ara ngaku salah gk perlu lanjutin hukuman, tapi ya sudah besok hukumannya di lanjut satu setengah jam lagi".


Mukut Ara melongo sempurna, Deon mengerjainya, dia sudah capek-capek seperti itu, ternyata hanya dengan minta maaf Deon akan memaafkan, sia sia rasa pegal yang Ara alami, ditambah besok harus melanjutkan hukuman yang dia minta pending.


"Kak, kok gitu, Ara ngaku salah kok" lirih Ara.


"Kemari lah" Deon menepuk pahanya untuk di duduki Ara, sementara Ara masih belum mengerti maksud Deon. "Cepat kemari".


Ara perlahan mendekat kearah Deon, ketika tangan Deon sudah bisa menjangkau tangan Ara, pria itu langsung menarik tangan Ara untuk duduk di pangkuan nya, hal itu membuat Ara sedikit terpekik karena terkejut.


" Benaran ngaku salah?" ucap Deon pelan tepat didepan muka Ara, hanya berjarak beberapa centimeter.


Muka Ara saat ini berubah merah seperti tomat, apa ini adalah hukuman ya? jika iya maka Ara menyukai hukuman ini.


"Benaran ngaku salah?" ulang Deon Lagi karena gadis kecil itu masih diam tidak menjawab.


Ara mengangguk pelan, "Iya Ara ngaku salah".


" Gak bakal ngulangin lagi?" Deon sedikit mencubit gemas pipi Ara.


"Gak akan".


" Sekarang ceritakan pada kakak semua masalahnya tanpa ditutup-tutupi" Pinta Deon.


Ara pun akhirnya menceritakan apa yang terjadi, mengenai kejadian pagi tadi yang membuat perasaannya kacau balau, padahal dia sudah bilang tidak akan mengharapkan Dimas lagi tapi ternyata pria itu masih berbekas di hati Ara.


Deon sesekali mengelus rambut Ara dan merapikan anak rambut Ara yang berantakan, pria itu dengan sabar dan setia mendengarkan setiap keluh kesah Ara, tanpa menjeda cerita Ara.


.


"Apa dia masih ada di hatimu?" tanya Deon saat Ara sudah menyelesaikan ceritanya.


Ara mengangguk pelan, setetes air mata meluncur bebas dari mata indah nya.


Tangan Deon dengan cepat menghapus air mata itu, "Ini tarakhir kalinya kamu boleh menangisi pria itu mengerti?"


Ara mengangguk pelan tidak menjawab, dia hanya sedang menikmati sentuhan tangan Deon pada wajahnya.


"Sekarang yang Ara pikirkan itu hanya belajar, jangan memikirkan Pria berngs** itu, mengerti?"


Ara kembali mengangguk, "Kenapa kakak tau Ara ada di sana? apa trio itu yang memberi tahu kakak?".


" Tidak, kamu lupa kakak memasang GPS pada badanmu?" bohong Deon, dia tidak mau Ara marah pada tiga orang sahabat nya itu. Walau memang benar Deon memasang GPS pada kalung, gelang serta anting yang ara gunakan. Namun GPS itu tidak dia gunakan karena Leo telah memberi tahu nama tempat itu.


"Kakak bohong kan?" Selidik Ara.


"Emang kakak pernah bohong sama ara?" tanya balik Deon.


Ara menggeleng, Deon memang tidak pernah berbohong padanya, "Dimana GPS-nya kakak pasang?" tanya ara dengan polosnya, matanya sudah melirik kaki dan tangan, dia juga meraba lengan dan punggungnya.


Deon terkekeh melihat tingkah gadis kecilnya, "rahasia, jika kamu tau, kamu pasti membuangnya".


"ihhh, gak kok" Ara masih sibuk mencari cari GPS yang Deon maksud kan.


"Ara kenapa?" Ara menatap Deon dengan bingung, kenapa Deon tiba-tiba bertanya tentang itu pada dirinya.


"Tentang di club tadi, kamu tidak trauma kan?" Deon mengelus pipi Ara dengan lembut. Pria itu benar benar takut Ara akan memiliki trauma seperti dirinya yang berakhir dengan tidak bisa menyentuh wanita.


Tubuh Ara sedikit bergetar, mengingat kejadian yang terjadi di club itu, Deon kembali mengelus punggung Ara, dia tau gadisnya sedang terguncang.


"Apa perlu kita pergi ke rumah sakit?"


Ara kembali menatap Deon dengan bingung, Ara tidak mempunyai luka pada tubuhnya, hanya sedikit goresan dan itupun karena memasakkan makanan untuk Deon, tidak mungkinkan teriris sedikit langsung dibawa ke rumah sakit?


"Kakak takut kamu trauma, kita pergi ke Psikolog ya?" pinta Deon Dengan lembut.


Gadis kecil itu kini mengerti maksud Deon, tapi dia takut menemui dokter Psikolog, jadi dia menjawab dengan hanya dengan gelengan kecil.


"Kenapa?"


"Ara gak gila kak" lirih Ara.


Deon tertawa kecil, "Orang yang pergi ke psikolog bukan karena gila, kakak takut kamu memiliki trauma, sebaiknya lebih cepat kita mengetahui apakah kejadian tadi memiliki dampak yang besar di kehidupan Ara yang selanjutnya atau kamu benar benar tidak apa apa".


Ara kini memeluk Deon membiarkan kepalanya bersandar pada bahu Deon. "Ara gak mau, Ara gak apa, kan ada kakak". lirih Ara pelan tepat ditelinga Deon. "Jangan paksa Ara ke sana kak" lanjut Ara lagi.


Deon akhirnya mengalah membiarkan gadis kecilnya itu bermanja pada dirinya, Deon yakin kejadian tadi pasti berbekas pada ingatan gadis kecilnya, tapi Deon tidak bisa memaksa dia tidak mau gadis kecilnya menjauh, Deon akan memikirkan cara lain agar Ara mau ikut bersamanya ke dokter psikolog.


...🐣🐣🐣🐣🐣...


Di rumah Shasa, gadis itu sejak tadi berjalan bulak balik di kamarnya sambil terus melirik ponselnya. Dia sedang menunggu Meli melaksanakan misi yang dia berikan.


"Kakak ngapain sih kayak cacing kepanasan gitu!" gerutu ica, adik perempuan Shasa.


"Berisik, jangan ganggu!" bentak Shasa dengan emosi.


"Kakak tu yang ganggu ica! bikin Ica pusing tau gak!" kesal ica.


"Keluar dari kamar! kalau tidak mau melihat kakak seperti ini!" Shasa kembali membentak adiknya itu.


Ica segera berlari keluar mengadu pada ibunya, yang ujung-ujungnya, ica yang dimarahi, karena dirumah itu Shasa yang paling di sayang oleh kedua orang tuanya.


.


Sementara di sebuah hotel, seorang gadis mengendap endap melirik pasangannya yang sedang tertidur pulas setelah sesi panas mereka di ranjang.


Gadis itu mengambil ponsel prianya dan pelan pelan meletakkan jari pria itu untuk membuka ponsel milik pria itu.


"Berhasil" soraknya pelan ketika ponsel itu terbuka.


Meli, segera menjauh dari angga yang sedang tertidur, gadis itu segera memasuki kamar mandi dengan menggunakan wardrobe, tangannya dengan cepat mencari kontak pada ponsel Angga.


Meli diberi perintah oleh Shasa untuk mencari nomor HP milik Deon dengan upah 2 juta rupiah. Meli yang sengat suka dengan uang dengan cepat menerima perintah Shasa, dan sekarang gadis itu sudah berhasil mendapatkan nomor HP milik Allinsky.


"Dua juta aku datang" gumam Meli, dia kembali meletakkan ponsel Angga pada tempatnya dan kembali tidur di tempat tidur bersama Angga.


...🐥🐥🐥🐥🐥...


'ting'


📨 meli : 08######### aku tunggu transferan nya segera jika tidak aku akan mengatakan pada Angga.


Shasa tersenyum senang akhirnya dia berhasil mendapatkan nomor ponsel Deon, tangannya dengan cepat membuka akun bank miliknya dan segera mengirimkan uang sebesar dua juta rupiah pada rekening milik meli, Shasa bersedia menggunakan uang tabungannya untuk membayar meli, dia pikir tidak apa dia rugi sedikit, nanti ketika dia berhasil mendapatkan Deon dia akan mendapatkan untung lebih banyak.


...🐤🐤🐤🐤🐤...


Next gak??