
Leo, Juan dan Robi sudah babak belur dipukul oleh beberapa anak buah Toni. Sebenarnya bisa saja mereka melawan dan melarikan diri tapi mereka terdesak karena sejak tadi Toni berusaha melecehkan Ara.
Ara memang bisa beladiri, tapi tubuhnya sedikit lemas karena pengaruh alkohol yang dia konsumsi.
"Jangan!" teriak Ara tidak Terima saat tangan Toni berhasil mencekam kedua tangan Ara.
'Buk' Leo menendang badan Toni hingga pria itu tersungkur dan melepaskan Ara.
"Sial, pegang para pria itu baik-baik!" bentak Toni, dia kembali mendekati Ara dengan perlahan.
"Ayo lah Ara, jangan ketiga temanmu saja yang kau puaskan, puaskan aku juga, Dimas sudah mengatakan padaku semuanya, kau bukan wanita baik baik, aku akan membayar mahal jika kau mau!" Toni benar benar dikuasai oleh nafsu. Omongan Dimas tentang Ara begitu membuatnya penasaran pada gadis cantik itu, dan semakin Hari dia semakin ingin menikmati tubuh Ara.
"Gak! gue gak mau! gue bukan cewek kayak gitu!" Pekik Ara, gadis itu semakin memundurkan badannya hingga tidak bisa lagi mundur karena terhalang dinding, mau lari keluar pun tidak bisa karena kepalanya sangat pusing saat ini.
"Kamu gak bisa lari atau menghindar jadi pasrah saja, nikmati kenikmatan dunia bersamaku".
" Brengsek lu tau Ara itu siapa! lu bakal mati kalau berani nyentuh dia!" teriak Robi dan Juan. mereka sudah terikat dan tidak bisa melakukan apapun lagi.
'Brakk!" pintu yang tadinya tertutup kini terbuka dengan paksa.
Di Sana Deon berdiri dengan wajah memerah marah. Melihat gadis yang dia sayangi hampir dilecehkan.
"Brengsek!" Deon dengan cepat memberikan bogeman pada Toni hingga wajah pria itu sudah tidak dapat dikenali lagi.
Para bodyguard yang dibawa Deon segera membantu ketiga teman Ara.
"Kak, ara kak!" seru Leo.
Deon segera sadar dan berbalik melihat gadisnya sedang meringkuk di pinggir sambil terus menangis.
"A___" Deon awalnya hendak berteriak marah, tapi dia urungkan, saat ini dia tidak bisa memarahi gadis kecilnya itu, dia tidak ingin Ara mempunyai trauma seperti dirinya.
"Ara" panggil Deon pelan, pria itu menempel kan kedua siku kakinya di lantai, sambil menyodorkan tangannya pada Ara, berharap gadis itu akan menyambut tangannya.
"Hei little girl, ini kak Deon, kakak tidak akan menyakiti mu" ulang Deon dengan nada sehalus mungkin.
Ara mengerjab menatap tangan Deon lalu wajah Deon. lalu dengan cepat gadis itu mendekap tubuh Deon.
"Maafin ara kak" isaknya dalam pelukan Deon.
Deon hanya diam, dia masih belum mau memaafkan gadis kecilnya, karena telah berani melanggar perintah, tapi Deon masih mau mendekap dan menenangkan gadis itu.
Perlahan Deon menggendong Ara dan tegak melihat sekeliling ruangan itu, wajahnya semakin tampak mengerikan ketika melihat beberapa botol bir yang habis dan Toni yang sudah pingsan akibat pukulannya.
"Zaki dan ferdo, segera bawa ketiga remaja itu untuk menerima pengobatan, dan sisa darii kalian segera cari barang-barang haram di club ini dan laporkan pada polisi" perintah Deon.
Deon mulai melangkah pelan menuju pintu. "Jack, ikuti aku, jadi supirku".
...🐤🐤🐤🐤🐤...
Deon berjalan pelan sambil menggendong Ara, gadis kecil itu masih menangis di dada bidang milik Deon, dan Deon membiarkan nya saja, sekarang hanya satu hal yang Deon takutkan, dia takut gadis kecilnya trauma akan pria. Seperti dia yang trauma akan wanita, seperti itu juga dia takut gadisnya trauma.
"Kita langsung pulang bos?" tanya Zack pelan.
"Tunggu Botak dulu, baru kita pulang".
" Baik Bos".
Tiga puluh menit kemudian Botak datang menghampiri mobil Deon.
"Ratakan club ini dan buat mereka semua masuk penjara, cari daftar hitam mereka" perintah Deon dengan sangat kejam, ini pertama kalinya Deon Menghancurkan lahan pekerjaan seseorang, dia sudah tidak peduli apakah karyawan karyawan di sana memiliki pekerjaan atau tidak, Deon tidak memiliki belas kasihan lagi karena mereka telah menyakiti gadisnya.
...🐣🐣🐣🐣🐣...
Begitu sampai rumah, bi arin telah tegak didepan pintu masuk menunggu kepulangan Ara dan Deon.
"Sejak tadi dia menangis, tapi sekarang sudah berhenti dan tertidur, bibi tolong bantuin mengelap tubuhnya dengan air hangat dan ganti bajunya" Deon berkata sambil meletakkan tubuh Ara dengan pelan di tempat tidur.
"Aku masih ada urusan pekerjaan, jika Ara bangun berikan makan siang, tapi jangan pernah membiarkan dia pergi dari rumah ini!" ancam Deon diakhir ucapannya.
Setelah memberikan ultimatum, Deon segera menemui klien-klien nya untuk melanjutkan pembicaraan kerja sama mereka.
...🐥🐥🐥🐥🐥...
"Hah" Deon mendesah panjang ketika akhirnya v dia sudah bisa duduk kembali dikursi kebesaran nya.
Tangannya merogoh saku meraih ponsel dan segera menelpon botak.
📲 "Segera bawa ketiga bocah itu kesini" tanpa salam Deon segera memberikan perintah lalu menutup teleponnya.
Tadi begitu menuju kantor Deon menyuruh botak untuk jangan memulangkan ketiga bocah itu, karena mereka akan di wawancara dulu sebelum mereka dapat pulang ke rumah mereka masing-masing.
lima menit kemudian masuklah Juan, leo dan juga Robi kedalam ruangan Deon. Wajah ketiga pria tampan itu tampak babak belur, walau sudah diobati tapi tetap tampak bekas pukulan yang mereka dapatkan.
"Kalian minum?"
Ketiganya serentak menggelengkan kepala. Janji tetaplah Janji, mereka begitu menghormati dan menghargai Deon jadi mereka memegang teguh janji pada Deon.
"Lalu kenapa kalian membawa ara kesana?"
"Ara yang mau kak, dia begitu tersiksa mendengar pernyataan Dim___"
'plakk' Juan mendapatkan tabokan dari Robi.
"Kenapa dihentikan? lanjutkan penjelasan kalian".
" Kakak jangan marah pada Ara ya? atau jangan menjauhi ara setelah kami menjelaskan nya" pinta Leo dengan memelas.
Setelah mendapat anggukan dari Deon ketiganya baru mau melanjutkan penjelasan mereka.
"Dimas bilang dia sudah berpacaran dengan Shasa, jadi Ara sedih dan sakit hati, lalu ditambah dengan kekesalan diusir dari kelas oleh wali kelas kami, makanya ara ingin melepaskan stress nya" Jelas Leo.
"Bukankah kalian bilang Ara sudah melupakan pria itu?"
"Kak, hati siapa yang tau, Ara sudah menyukai pria itu selama 5 tahun, kalau pun mulutnya berkata tidak tapi hati mungkin saja bisa berkata iya, kami harap kakak bisa bersabar untuk meraih hati Ara".
"Ya sudah lupakan hal itu, kita bicara tentang club tadi, kenapa kalian bisa masuk padahal ini pagi!? bukan malam hari, tempat itu pasti sudah tutup! apa kalian kenal pemilik tempat itu?!"
Leo, Juan dan Robi mengangguk pelan, "Dia adalah saudara sepupu dari Dimas, makanya kami mengenalnya, awalnya Toni mengundang dimas di acara pembukaan clubnya, dan Dimas mengajak Ara, di sana Ara belajar minum karena ajakan Dimas".
" Ahhkk Dimas lagi Dimas lagi!" Kesal Deon.
"Kakak gak nyerah kan untuk dapatkan Ara?" tanya Robi dengan sedikit takut.
"Gak bakal, kenapa? kalian takut kakak menjauhi Ara?"
Dengan polosnya ke tiga bocah itu mengangguk setuju. dengan penuturan Deon.
"Hahahaha, kalian takut kakak gak biayain Kalian lagi atau takut yang lainnya?"
"Kami takut Ara berada dijalan yang gak benar kak, bersama kakak Ara menjadi pribadi yang baik, begitu juga kami, tapi kalau kakak menyerah mungkin Ara bakal lebih hancur dari sekarang, masalah biayaan itu bukannya bonus?!" Leo menyelingi candaan dalam ucapannya dan membuat Deon semakin tertawa keras.
"Ya sudah sana balik kerumah kalian, minta si botak mengantarkan kalian".
" Siap bos!" serentak ketiga bocah itu.
...🐤🐤🐤🐤🐤...
Next???