
Shasa begitu bahagia berangkat sekolah di jemput oleh Dimas. Dalam hatinya dia ingin memamerkan perhatian Dimas didepan Ara. tapi yang ada justru Shasa kesal ketika melihat Ara keluar dari mobil sport mewah yang selalu mengantar dan menjemput nya.
"Liat tu dim, Ara sekolah diantar sugar daddy nya" ucap Shasa pada Dimas.
Dimas hanya menatap sinis pintu pengemudi mobil sport yang sudah berlalu itu.
"Betul betul murahan" komentar Dimas sambil berlalu di ikuti Shasa.
"Benar, aku dengar dia pergi liburan bareng tiga temannya, tapi dia gak mau mengajakku, karena ingin membuat harem nya sendiri mungkin" Shasa menambah minyak dalam api yang sedang membara.
"Ara pasti iri jika tau hubungan kita kan Dim" ucap Shasa lagi dengan senyum cerah.
"Benar, gadis itu kan selalu mengejar-ngejar aku, dia pasti sakit hati jika tau aku memilih mu" balas Dimas dengan senyuman lebar.
...🐥🐥🐥🐥🐥...
"Shasa!" panggil riang Ara dari tempat duduknya, Ara mengangkat tinggi tinggi paper bag yang dia bawa.
"Ini oleh oleh buat mu" Ara menyerahkan dua buah paper bag besar pada Shasa. "Jangan marah lagi ya, please... " lanjut ara dengan senyum tulusnya dan mata puppy eyes.
"Aku gak marah kok" jawab Shasa dengan senyuman palsunya. "Makasih ya hadiahnya, cantik" lanjut Shasa lagi.
"Hadiah apaan sha? emang lo ulang tahun sha?" salah satu teman sekolah mereka ikut nimbrung dalam pembicaraan Ara dan Shasa.
Shasa mengangkat tinggi paper bag yang dia pegang, "Ara liburan ke Jepang, ini oleh oleh dari Ara".
" Wahh enak banget Sha, untuk kita mana ra?" tanya teman ara yang lain.
Ara menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Hehhee aku lupa dengan yang lainnya".
" Jelas lupa la, orang ara asik liburan satu minggu di Jepang bareng trio somplak" Dimas tiba-tiba menyindir Ara.
"Iya aku ada liat foto foto Ara sama ketiga orang itu di insta, kalian janjian libur bareng ya?"
"Tapi aku ada liat di story, katanya naik jet pribadi, emang benar Ra?"
"Masak iya?"
"Liat aja di insta leo, Juan dan robi, kan banyak mereka share foto foto mereka disana"
"Wahh asik dong kalau naik jet pribadi kok Shasa gak di ajak Ra? kan Shasa teman akrab lu" sindir salah satu teman perempuan Shasa.
"Iya ra, kenapa kok gak di ajak Shasa nya? mau buat harem sendiri ya?" sindir yang lainnya.
Shasa berusaha menahan senyumnya karena berhasil membuat teman satu kelas menyindir Ara. Dia puas melihat raut muka Ara yang terlihat sedih.
Ara tidak menjawab pertanyaan teman-temannya dia lebih memilih diam. dan berpura-pura sibuk dengan ponselnya.
'BUuuuKk' bunyi pintu yang di tendang dengan keras. Pelakunya siapa lagi kalau bukan si trio somplak.
"Iriii aja, kalian iri gak bisa naik jet pribadi! kasiannn deh" teriak Juan sambil menjulurkan lidahnya pada beberapa orang.
"Enak lohh naik Jet pribadi, gak perlu buru buru takut ketinggalan pesawat, kalau kami sudah mau pergi ya tinggal pergi, tapi kalau belum masih bisa ditunggu, Kasian deh gak bisa diajak irikan!" Robi ikut menambahkan.
"Kalian kenapa menyudutkan Ara yang tidak mengajak Shasa ikut jalan jalan ke Jepang? Shasa kan sudah dibelikan oleh oleh, kalian iri gak di bawakan oleh oleh seperti Shasa?" Leo juga ikutan dalam membela Ara.
"Lagian itu Jet bukan milik Ara, kalau milik Ara ya gak masalah Ara maksa untuk Shasa ikut" Lanjut Juan lagi.
"Emang itu jet pribadi milik siapa?" tanya penasaran salah seorang teman sekelas mereka.
"Milik Kak Deon, kakak angkat Ara" ujar Leo, dia tidak bisa bilang kalau Deon adalah orang asing bagi Ara, Deon sendiri yang minta untuk menganggapnya kakak untuk sementara, dia tidak mau mengganggu masa remaja Ara dengan urusan percintaan, cukup Deon yang menjaga Ara dan mencintainya, biarkan Ara sadar sendiri dengan perasaan nya.
"Kak Deon itu gak suka kalau ada cewek asing ikut dalam liburannya, kami diajak karena kami cowok, yang ngajak bukan Ara melainkan kak Deon sendiri, dia yang izin sama orang tua kami secara langsung".
" Lagian Shasa sudah dibelikan hadiah kok, baju dan tas itu harganya mau tiga puluh juta, itu sudah cukup untuk pengganti maaf bukan? iya kan sha?" Robi membalik perkataan nya agar Shasa yang gantian di sudutkan.
Shasa berusaha tersenyum, "I-iya aku gak papa kok, lagian Ara udah minta maaf sebelumnya, maaf ya Ra mereka jadi salah paham sama lu".
Ara mengangguk tapi tidak mengeluarkan kata apapun dari mulutnya.
"Bukan karena ingin buat harem sendiri?" Tiba-tiba saja Dimas berucap pelan padahal tadi suasananya sudah mulai tenang.
'Buk' Robi membanting tasnya di meja dan menatap sinis Dimas.
"Kalau iya kenapa? suka suka Ara mau buat harem nya sendiri, mau jalan sama kami atau tidak itu keputusan Ara! Jangan bilang lu kesal karena tidak diajak padahal lu cowok, tapi sayang lu sudah tidak ada hubungannya lagi dengan Ara, Ara udah selesai dengan lu".
Semua mata kembali tertuju pada pojok kelas dimana terletak meja Ara dan teman-temannya.
"Ara udah gak ngejar Dimas lagi?" ucap salah satu pria di kelas.
"Iya, kalian tidak sadar, sekarang Ara tidak pernah mengejarnya, dan menyapanya" bukan Ara yang menjawab melainkan Juan.
"Sama aku aja ra, aku siap di kejar kejar kamu" Sorak pria itu lagi.
"Hu huu hu huu" pria itu langsung mendapatkan sorakan dari satu kelas.
"Cewek cantik kayak Ara itu cocoknya sama cowok yang tampan dan berkuasa bukan kayak lu Hamid" ledek Robi di ikuti dengan tawa satu kelas.
'Puk puk puk' pintu kelas di pukul tiga kali oleh wali kelas mereka.
"Apa yang kalian ributkan?! sudah dengar bel masih saja berdebat! cepat kalian semua kembali ke tempat duduk masing-masing!" Perintah wali kelas.
Dalam sekejab ruangan yang tadi riuh menjadi hening semuanya diam menatap wali kelas.
"Clara Shahnaz Zoya!" Panggil wali kelas dengan nada tinggi.
"ya bu" Ara mengangkat tangan kanannya, sambil menatap Bu shinta wali kelas mereka.
"Bagaimana cara kamu Mencontek?!" ucap bu shinta dengan mata yang memancar kan kebencian.
"Mencontek? saya tidak mencont__"
"Diam kamu! jangan cari alasan! saya yakin kamu mencontek!" Ucapan Ara dipotong secara tiba-tiba oleh bu shinta.
...🐤🐤🐤🐤🐤...