
Dua hari kemudian Abang Ray sembuh dan sesuai janji Brian, pria itu membawa abang ray menuju Kebun binatang tempat kesukaan bos kecil itu.
"abang... abang Ray" panggil Ay berkali-kali tapi bos kecil itu hanya sibuk menatap jalanan tanpa menjawab mommy nya memanggil. "liat tu putra kakak kalau udah di ajak jalan keluar gak ada yang bisa mengganggu konsentrasi nya dalam melihat jalanan" sindir ayu pada Brian yang sedang menyetir mobil.
Brian hanya tertawa kecil mendengar sindiran istrinya, "Biarkan saja sayang, udah dua hari dia menunggu di dalam rumah, jadi jangan ganggu bos kecil kita" kata Brian dengan tertawa pelan.
Ay melirik sinis suami tampannya itu, "yang ngelarang abang sama aku keluar siapa sih sebenarnya??" sindir Ay sambil berkacak pinggang.
"Jangan imut-imut kali sayang, nanti aku nambah lagi ni yang kayak abang 3" kata brian.
"Siapa sih yang imut, ini lagi kesal daddy!" gerutu Ay.
"itu bibirnya kalau manyun bukannya terlihat menyeramkan tapi malah imut sayang, mirip abang Ray kalau lagi cemberut" kekeh Brian.
Jika orang melihat meraka saat ini pasti terlihat seperti keluarga biasa yang sedang berjalan-jalan tapi jangan salah, Brian sudah mempersiapkan semuanya, dia sudah menyewa kebun binatang itu khusus 1 hari hanya ada keluarganya dan karyawan kebun binatang, bukan hanya itu para bodyguard sudah berjaga dan berpura-pura menjadi pengunjung dan ada yang mengawasi dari jauh dan ada juga yang menjadi sniper jika merasa ada yang tidak beres.
Brian sama sekali tidak memberikan peluang bagi orang lain untuk mendekati keluarga kecilnya, seperti kata daddy deon jangan memberikan celah karena celah itu bisa dimanfaatkan kapan saja oleh siapa saja.
Brian tidak seperti daddy deon yang membayar orang yang melihat wajah putranya untuk tutup mulut dia lebih ke eksekusi, jika ada yang berani menyebarkan foto putra kecilnya maka akan di eksekusi seperti akan berpindah negara atau dikirim ke negara antah brantah.
Seperti itulah cara kerja seorang mafia, dan sampai sekarang Brian masih tetap menjadi mafia, dia sudah mendapatkan persetujuan dari mertuanya untuk tetap menjadi mafia, dan dengan klan mafia itu dia bisa menjaga keluarga kecilnya dari gangguan yang mengancam keluarga kecilnya.
...🦊🦊🦊🦊🦊...
"Daddy, simba!" pekik Abang Ray begitu mereka sampai di kebun binatang baru saja mereka memasuki gerbang, abang ray langsung meminta untuk di bawa menuju kandang singa, bos kecil itu sama sekali tidak takut dengan binatang buas raja hutan itu, dia malah suka dan jiwa bos kecil itu memang sangat suka kebebasan dan tanpa kekangan.
"Sebentar, gak mau liat yang lain dulu?" tanya Brian.
Ray menggeleng di dalam gendongan Brian. "Simba" dia mengetahui nama itu karena pernah menonton film Disney tentang simba.
"oke kita ke sana" kata Brian, sebelah tangannya menggendong abang Ray sebelah lagi dia gunakan untuk menggandeng tangan mungil istrinya sementara ketiga bodyguard nomor satu nya ada dibelakang mereka.
Ketiga nya sama-sama berdoa dalam hati tidak ada masalah yang akan terjadi akibat abang ray yang membawa mereka ke kebun binatang.
.
Ray terlihat bahagia melihat beberapa ekor singa yang ada di sana. bos kecil itu bertepuk tangan ruang dan tertawa bahagia.
"Dad, simba gak makan?" tanya Ray.
"sepertinya simba nya kenyang sayang" ujar Brian melihat para singa besar itu hanya tiduran.
"Abang ingin liat simbanya makan?" tanya Ay.
Dengan cepat abang ray mengangguk riang. "om uncle yang kasih makan!" pekik abang ray dengan tawa polos nya.
Brian tertawa keras, dia tau bos kecil itu tidak akan memberikan kasihan pada orang yang membuatnya sakit dan memberikan nya obat yang pait.
"Kalian dengar? bos kecil ingin liat pertunjukan memberi makan, sana beri makan para singa itu" perintah Brian pada ketiga temannya.
Johan, lars dan leon sama-sama meneguk saliva mereka, kalau singa pelihara Brian mereka masih mau memberikan makan, tapi ini hewan yang hidup di kebun binatang, mereka pasti akan dalam bahaya, mereka bukanlah pawang hewan yang bisa kapan saja masuk ke kandang singa, apa lagi memberikan makan singa-singa itu.
"om lele ndak ucah daddy" ucap Abang ray sedikit cadel.
Leon diam-diam tersenyum dan bersyukur dalam hati bahwa dia tidak membuat masalah pada bos kecil itu.
Ay dan abang ray sama-sama menahan tawa mereka melihat wajah memelas dari johan dan Lars.
“Aku tidak membuat abang sakit brian, tapi kenapa aku juga kena?” tanya johan.
“kau ikut bersalah juga johan, kau memberikan obat pait pada abang Ray”.
Johan membuka mulutnya lebar-lebar, melongo mendengar jawaban Brian yang diangguki abang Ray, padahal niatnya menyembuhkan tapi harus mendapat hukuman yang mengerikan seperti itu.
“Leon bantu tarik mereka menuju petugas kebun binatang, jika tidak mau, kau juga ikut bersama mereka” perintah brian.
Tanpa pikir panjang Leon menarik tangan kedua orang itu, tidak mau ikutan mendapatkan hukuman.
“Abang, singanya udah kenyang, jadi gak perlu makan” ujar lars lirih.
“om main cama simba” seru abang ray bahagia.
“dengar, jika tidak mau makan, bermain saja sama singa-singa itu” kekeh brian.
“bukannya main kami bakal di jadikan makanan sama mereka” gumam lars sambil jalan menuju belakang kandang.
.
Tiga puluh menit waktu yang dibutuhkan lars dan Johan untuk bisa masuk kedalam kandang singa itu, mereka berdua masuk ke dalam sebuah kurungan besi menuju kandang singa, seperti permintaan abang ray kedua orang itu membawa daging bersama mereka, dan itu cukup untuk membuat kedua orang itu merasa terancam di kelilingi oleh singa yang tertarik dengan kedatangan mereka.
Abang Ray tertawa bahagia melihat wajah ketakutan Lars dan Johan di dalam jeruji besi itu, untung saja ray membolehkan kedua manusia itu berlindung dalam jeruji besi, jika tidak, bisa menjadi santapan singa para om uncle.
Melihat tawa bahagia ray, ketiga orang uncle itu yakin ray adalah anak sang ketua mafia, mengerikan dan tidak ada ampun. Entah bagaimana nanti ray dewasa mungkin dia akan mirip dengan brian, tapi sampai sekarang Ray masih tidak di ajarkan oleh brian tentang cara melindungi diri, memang ray sering melihat brian, ay, dan uncle nya berlatih tanding seperti menembak, latih tanding taekwondo dan yang lainnya, tapi tidak pernah memperlihatkan adegan berdarah-darah didepan ray, brian takut putranya itu trauma dan ketakutan jika di perlihatkan sesuatu yang mengerikan di umurnya yang masih sangat muda.
Tiga puluh menit kemudian mereka semua kembali berkeliling dengan johan dan lars yang sudah keluar dan kembali mengikuti mereka berjalan.
“Auntie~ Auntie antik” panggil Ray pada gadis yang mereka lewati, gadis itu adalah salah satu bodyguard yang menyamar menjadi pengunjung.
“Abang ngapain godain auntie itu?” tanya Ay dengan tawa kecilnya.
“ial daddy godain” pernyataan ray membuat bom atom meledak dalam diri Ay.
“oohh gitu, kalau mommy gak ada abang bantuin daddy cariin cewek ya?” ay sudah merapatkan giginya dengan senyum mengerikan.
“gak ada sayang gak pernah!” bantah brian cepat, matanya menatap kedua orang yang sudah menunduk kaku dibelakang mereka. “Dua orang itu yang mengajarkan abang sayang!” tunjuk brian pada lars dan Johan.
“Sini bang gendong sama mommy” ay langsung mengambil alih gendongan Ray dari brian, dan berjalan meninggalkan suaminya itu. “nanti malam gak ada gulat atau tidur bersama, tidur saja di luar” gerutu ay sinis.
Brian menatap sinis kedua sahabatnya, “hukuman kalian bertambah liat saja nanti” ujar brian dan berlari mengejar ay.
Di dalam gendongan Ay, ray tertawa senang sudah bisa mengerjai daddy nya dan kedua uncle nya itu.
...🦁🦁🦁🦁🦁...
bonus pict :
gemas gak liat abang Ray lagi serius liat keluar??