My Little Girl

My Little Girl
S2 MLG 93. Monster Mengamuk



‘Brak’ Brian membuka pintu kamar inap Melani dengan keras, disana ada daddy nya, melani, kedua orang tua melani dan asisten setia daddy George.


Melani tersenyum begitu melihat brian ada di depan pintu kamarnya. Tapi senyu itu menghilang begitu pandangan mata mereka bertemu, mata brian memancarkan kebencian yang amat sangat.


“Akhirnya kau datang juga Bri_” ucapan daddy George terhenti ketika brian berjalan melewatinya dan menuju ke arah asisten daddy george.


‘Buk BUK Buk’ brian berkali-kali menghantamkan pukulan pada pria itu membuat melani dan kedua orang tua melani serta daddy george terkejut.


“BRIAN! APA YANG KAU LAKUKAN!” bentak daddy george dengan keras.


Asisten daddy george itu sudah berlumuran dengan darah mungkin rahangnya patah atau hidungnya patah, karena pukulan bertubi-tubi yang diberikan brian.


“KALIAN TAHAN BRIAN!” pekik daddy george lagi pada para bodyguard yang baru saja datang.


Baru saja bodyguard itu mau mendekati brian.


‘DORR’ salah seorang bodyguard tertembak di bagian kakinya, brian menembakkan peluru panas itu tanpa melihat siapa yang mendekatinya, matanya meyalang marah menatap asisten daddy george yang sudah terkapar tidak sadarkan diri, entah dia mati atau masih bisa diselamatkan.


‘DORR’ sekali lagi brian menembak bodyguard yang ingin mendekatinya, brian sangat ahli menggunakan senjata apapun, dia bisa menggunakan pistol tanpa melihat, hanya menggunakan pendengaran, seperti itu keahlian yang harus dia miliki untuk menjadi seorang mafia, sementara si pembuat monster tidak memiliki keahlian seperti brian.


Daddy George, dia memang hebat tapi jika bertanding, maka sudah dipastikan monster buatannya lebih hebat dari penciptanya.


Daddy george meneguk salivanya dengan susah payah, dia yakin saat ini tali kekang pada brian sudah lepas, dan dia tidak akan mampu lagi mengatur monster ciptaannya.


“Hahahaha” suara tawa brian terdengar sangat mengerikan, semua yang ada diruangan itu merinding mendengar tawa pria itu.


Brian duduk disalah satu sofa dengan kaki yang menginjak asisten daddy george yang sudah terkapar.


“kalian takut?” suara brian bahkan terdengar lebih mengerikan dari pada suara tawanya. “Melani! Kau pikir aku menyelamatkan nyawamu karena kasihan dan masih memiliki kasih sayang padamu? Kau salah besar, aku menyelamatkanmu karena permintaan istriku! Dan aku berniat membunuhmu setelah anakku lahir!”


Melani melotot tidak percaya dengan apa yang dia dengar, “Kenapa brian? Aku yang selama ini menemanimu, aku yang menemani kamu saat kamu ketakutan harus melihat penyiksaan didepan matamu, aku juga yang menemanimu saat ditinggal oleh mommy mu, kenapa kamu tidak bisa memberikan hatimu padaku? Sedangkan dia yang baru hadir bisa langsung merebutmu dariku” ungkap melani, gadis itu sudah terisak menangis menghadapi kenyataan pria didepannya tidak lagi bisa dia dapatkan.


“Kenapa? Karena memang tidak akan pernah ada perasaan cinta ataupun kasih sayang saudara padamu, tanyakan saja pada pria yang menciptakanku, dia menciptakan aku yang tidak memiliki perasaan sedikitpun, dan sekarang setelah moster ciptaannya menjadi sempurna dia meminta aku mencari kembali perasaan dan emosi yang sudah pernah aku buang itu, hebat sekali dia, pria tua itu tidak pernah merasakan bagaimana jadi diriku yang sekarang!” brian berucap dengan nada dingin dan mata yang memancarkan kemarahan.


“kau bisa mencintai Ay, bukankah berarti kau sudah menemukan emosi dan perasaanmu yang hilang?” daddy george yang dari tadi diam akhirnya mengeluarkan suara.


“S A L A H!” balas brian. “Aku bukan menemukan kembali emosiku tapi ay memberikannya untukku, dia membuat emosi yang baru didalam hidupku, dia membuat jiwa baru di dalam diriku, sementara wanita pilihan mu hanya membuat aku semakin menjadi gila!”


“jika aku tiada apakah kau akan senang?” tanya melani.


“mau kau tiada atau pun tidak aku tidak akan pernah peduli” jawab brian.


“euuhhhgg” terdengar suara rintihan dari asisten daddy george, brian langsung menendang perut pria itu dan membuat dia kembali mengeluarkan batuk darah.


“brian! Lepaskan dia!” teriak daddy george, dia takut asistennya itu meregang nyawa.


“Ahh dia?” brian menunjuk pria yang ada dibawah kakinya, “kau mau menggantikannya pak tua?” lanjut brian, dia sudah tidak mau memanggil daddy lagi pada Daddy george.


“Apa maumu brian!” bentak daddy george.


“kau siap untuk membunuhku? Jika kau membuang namamu, berarti kau akan keluar dari klan mafiaku, dan itu artinya kau harus melawan ku” daddy george berusaha terlihat tidak takut dengan Brian.


“Aku memukuli dia..” brian menendang lagi pria yang dibawahnya sebagai tanda menunjukkan orang yang dia maksud, “sebagai ganti dirimu pak tua, mulai hari ini aku akan membentuk klan mafia ku sendiri, hanya orang-orangku, tidak ada ayah dan anak lagi, dan mulai detik ini hubungan kita sebagai ayah dan anak putus, aku siap untuk membunuhmu pak tua” brian tegak dan mendekati Daddy george, “jaga saja putri angkatmu itu, atau aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri, aku siap untuk angkat senjata melawanmu pak tua” bisik brian, “ini adalah hadiah perpisahanku, tetap membiarkan kau dan putri angkatmu hidup, jika sekali lagi berani mengusik rumah tanggaku, jangan salahkan jika klan Mafia Marcello akan menghancurkan semua yang ada padamu, sudah cuku aku menjadi boneka balas dendammu, aku tidak akan mau menjadi boneka untuk dipasangkan dengan putri angkatmu, jika dia masih mau hidup, tetaplah berada dalam bayangan dan menjauh dari kehidupanku” lanjut brian lagi. Setelah itu dia pergi meninggalkan Daddy george dengan sejuta penyesalannya.


Melihat punggung brian yang menghilang daddy george baru menyadari putranya sudah tidak bisa dia atur lagi, putra yang dia banggakan telah hilang dan pergi.


...🦁🦁🦁🦁🦁...


Brian memasuki apartemen Al, setelah tadi Al yang membukakannya.


“ay mana?” tanya brian pelan.


“tu di dapur, di ajak masak sama au, biar tidak murung terus di dalam kamar” Al menunjuk ay dan au yang sedang tertawa sambil menempelkan tepung pada wajah masing-masing.


Brian tersenyum, dan perlahan mendekati istrinya itu, tangan brian langsung melingkar pada perut ay.


“kakak!” pekik ay terkejut.


“Hmm, sedang apa?” ucap brian dengan lembut, seolah-olah monster yang tadi mengamuk tidak pernah ada.


“Buat cookies, au ambil cuti kak, dia gak dipecatkan?” tanya ay.


Brian menggeleng, “dia akan naik jabatan, begitu dia lulus kuliah, dia sudah mampu membuat istriku ini tersenyum” brian memberikan kecupan pada pilipis dan puncak kepala ay.


“Kak tidak perlu” tolah aurora.


“kau akan ikut tes untuk naik jabatan, jika kau tidak mampu kau akan tetap di posisimu yang sekarang tapi jika mampu, kau harus menerimanya, aku tidak akan memberi dispensasi” ucap brian.


“baiklah terima kasih” jawab Aurora.


“kak lepas dulu ay masih mau buat cookies” rengek ay.


“gak capek tegak gini?” bisik brian.


“gak capek, ini dedek bayi yang pengen” kekeh ay.


“ya udah, lanjutkan, besok aku punya kejutan buatmu sayang” bisik brian.


“apa?” seru ay.


“kalau dikasih tau sekarang bukan kejutan lagi namanya” kekeh brian.


“baiklah, sana main sama abang, ay mau masak cookies” usir ay.


...🐨🐨🐨🐨🐨...


Maaf ya, tadinya author pengen buat ay keguguran biar ada suasana sedihnya gitu, tapi sepertinya jika dikabulkan banyak yang mengamuk, jadi author ganti deh ceritanya, semoga pada suka ya, jangan lupa like, vote dan hadiahnya.