My Little Girl

My Little Girl
S2 MLG 23. Restu abang ipar



Tidak sampai 30 menit Ay dan Brian sampai di depan Gedung apartemen yang di tempati El. Brian dengan santainya berjalan sambil merangkul gadis kecilnya, ay sendiri tampak biasa saja, bisa di bilang ay itu sangat agresif, dia lebih banyak memiliki sifat daddy nya, jadi gadis itu senang-senang saja dirangkul oleh orang yang dia rindukan.


‘Ting’ pintu lift terbuka, Brian sedikit terkejut saat melihat Wanita yang keluar dari lift. Begitu juga dengan Wanita itu, dia terkejut melihat Brian merangkul gadis kecil.


Brian hanya diam berpura-pura tidak kenal.


“Hai kakak cantik, ketemu lagi” bukan brian yang menyapa melainkan Ay, dia tersenyum manis menyapa Wanita yang baru keluar dari lift itu.


“Iya, aku duluanya” ucap Wanita itu.


“Kak mau gak ikut ke apartemen Ay, kami nanti malam mau makan malam merayakan pesta perpindahan abang” ucap ay.


Wanita itu menggeleng singkat, “gak bisa maaf, aku masih banyak kerjaan” ucap Wanita itu lalu mempercepat langkahnya untuk segera pergi.


“kamu kenal?” tanya Brian pada Wanita tadi.


“Tetangga abang EL” jawab Ay, gadis itu langsung mengernyitkan keningnya, “Om suka yang model gitu ya” ucap gadis itu sambil cemberut.


Brian terkekeh sambil mencubit gemas pipi Ay, “Apaah sih, kamu itu yang nomor satu bagi aku” ucap Brian.


“Bohong, kakak tadi cantik banget, kok nanyain gitu, pasti suka ya” gumam gadis itu lagi.


“Aku Cuma cintanya sama kamu, mau aku buktikan” Brian mendekatkan wajah Ay kearahnya dengan cara menarik pinggang gadis itu agar lebih menempel dengan tubuhnya.


“Omm mesum ih.. tapi ay suka hehehe” gumam ay dengan tawa kecil. Jangan tanya kenapa ay begitu agresif, mungkin darah deon lebih banyak padanya.


.


‘ting tong’ Ay menekan bel apartemen milik EL.


Hanya bunyi pertama pintu apartemen itu langsung terbuka, al dan el langsung menarik ay yang sedang dalam rangkulan Brian ke belakang punggung kedua pria kembar itu.


“Masuk om” ketus Al pria itu langsung menarik ay untuk menjauh dari sana.


Sementara el masih menatap brian dengan ekspresi datarnya.


“maaf tadi aku membawanya pergi” ucap brian, pria dewasa itu sama sekali tidak tampak goyah dan ketakutan saat menghadapi ke dua saudara kembar Ay.


“Duduk aja dulu om” ucap al lagi.


Begitu Brian duduk, Al dan el langsung duduk di sofa yang ada di depan Brian.


“bang mau ngapain?” tanya Ay, yang sudah bergelayut manja pada leher Al.


“Dedek bisa kupaskan buah apel di dalam kulkas?” tanya Al.


“Ay gak bisa kupas” jawab ay cepat.


“mau cepat dapat restu dari abang gak? Jadi kupas sana ya” suara El baru pertama kali keluar sejak tadi diam saja.


Ay menghela nafas Panjang “baiklah” ucap ay pasrah.


Begitu ay sudah cukup jauh dari mereka, Al dan El baru menunjukkan kuasanya, kedua pria itu duduk layaknya bos, tapi sama sekali tidak menggoyahkan Brian, dia adalah seorang ancaman yang di lihat kan oleh dua bocah berusia 18 tahun sama sekali tidak membuat dia takut.


“Kenapa baru datang sekarang?” tanya al memulai pembicaraan pria itu melipat kedua tangannya di dada agar Brian dapat terintimidasi.


“Aku ada urusan penting diluar” jawab Brian dengan senyuman santainya.


“Lebih penting dari ay?” tanya Al lagi.


“Jika kami meminta Om berhenti menjadi mafia untuk mendapatkan persetujuan kami, apa om bersedia?”tanya Al lagi.


“Setelah aku berpikir lagi, aku memang seorang mafia besar dan aku banyak membunuh orang untuk menghancurkan siapapun yang berusaha menyakiti keluarga dan orang yang aku kasihi, tapi pekerjaanku sebagai mafia bukanlah seperti yang kalian pikirkan, aku tidak pernah menjual narkoba atau Wanita dan manusia, aku hanya penjual senjata illegal, sedikit membunuh para manusia yang menyesatkan, dan pekerjaan lainnya, jika aku berhenti aku tidak yakin akan dapat melindungi ay dari para musuhku, mereka tidak peduli aku berhenti atau tidak, bagi mereka selama aku masih hidup dan bernafas, maka aku adalah ancaman besar, lalu jika begini kalian masih menyuruhku berhenti?” tanya balik brian.


“Apakah om menyayangi adikku?” kali ini El yang bertanya.


“Sangat, aku bahkan sanggup menunggu selama 15 tahun hanya untuk mendapatkan restu dari daddy kalian” jawab brian.


“baiklah, jaga ay, jangan sampai aku melihat dia menangis dan terluka” ucap El santai.


Al melotot pada EL, abang sulung itu masih belum mau memberikan restu seperti EL, memang watak kerasnya sama dengan Deon.


“Apa ?” tanya El bingung.


“cepat banget kasih izinnya?” bisik Al pada EL.


“Bang selama ay bisa Bahagia dan tidak terluka aku tidak peduli om brian mafia atau bukan, kita tidak bisa menjaga ay selamanya, harus ada pria yang bisa menjamin kebahagiaan dan keselamatannya” ungkap EL.


EL mirip seperti ara yang tidak peduli siapa brian, dia hanya peduli kebahagiaan Ay dan itu cukup baginya.


Al menghela nafas Panjang, lalu Kembali menatap brian yang berusaha menyembunyikan senyum senangnya.


“Aku masih belum menyetujui oom bersama ay, aku masih mau melihat interaksi oom bersama ay, baru aku akan memutuskannya” putus Al.


...🐯🐯🐯🐯🐯...


Lima belas menit kemudian ay datang dengan wajah cemberutnya dengan sepiring apel yang tak layak untuk dikatakan buah apel.


“bang liat ni” ay memperlihatkan tangannya tergores oleh pisau.


Melihat itu Brian lah yang pertama kali bertindak dia langsung mendekati ay dan bertanya pada el tentang kotak p3k yang dia miliki.


“el kotak p3k” ucap Brian, dia langsung menyuruh ay untuk duduk dan meniup niup tangan ay yang masih terdapat darah kering, memang darahnya sudah tidak keluar lagi, tapi masih tersisa darah kering ditangan ay.


Ay tersenyum senang melihat kekhawatiran Brian dia malah berpura-pura menangis sambil meringis.


El hanya bisa geleng-geleng kepala, dia tau adiknya itu hanya ber acting. “nih bang” ucap El memberikan kotak p3k itu.


“Makasih el” jawab brian dia masih fokus tangan ay yang teluka.


Al dan El hanya diam melihat kegiatan brian yang membersihkan luka Ay dengan telaten, al dan el juga hanya tertawa kecil melihat acting adiknya, siapa yang tidak tau, ay sangat manja dan suka beracting berpura-pura sakit didepan mereka, dan kedua orang tuanya.


“masih sakit?” tanya Brian dengan wajah khawatir. Ay hanya mengangguk dengan wajah sedih yang dia buat-buat.


Brian Kembali meniup tangan ay yang sudah dia perban.


“Om pandai ya memasangkan perban” ucap Al secara spontan.


Brian tersenyum kearah adik iparnya itu, “aku seorang mafia, tidak bisa mengobati luka maka aku akan cepat mati” kekeh Brian.


"Aku hanya berharap Ay tidak berada dalam bahaya selama bersamamu" ucap Al pasrah.


"tidak akan, selama aku masih hidup aku akan selamanya menjaga ay, bahkan jika aku mati aku akan tetap menjaganya dengan mengerahkan orang yang ada di sekitar ku" tekad brian.


Al dan El hanya mengangguk mereka sudah luluh dengan keteguhan Brian yang selama ini menunggu ay.


...🐰🐰🦊🐰🐰...