
"Boleh aku mencium mu?" suara Deon yang halus dan pelan begitu menghanyutkan Ara, mulut Ara sangat sulit mengucapkan kata-kata, tapi entah apa yang terjadi pada tubuh gadis itu.
Secara spontan Ara mengangguk dan memejamkan matanya.
Merasa Ara telah memberikan lampu hijau padanya, Deon mulai mencium bibir mungil Ara bukan hanya itu dia sedikit ******* bibir itu.
Seperti seseorang yang sedang mengkonsumsi narkoba, seperti itu Deon ketagihan akan bibir mungil milik Ara.
Deon segera menghentikan ciumannya ketika alarm tanda bahaya muncul di otaknya. dia tidak boleh melakukan terlalu lama jika tidak ingin menghancurkan kepolosan gadisnya.
Ara membuka matanya, bibirnya sedikit bengkak akibat ciuman yang diberikan Deon, dengan senyuman yang mengembang di bibir Deon kembali mencium sekilas bibir Ara, hanya menempel sebentar tidak lebih, karena Deon tau batasnya.
Deon mengusap bibir Ara menggunakan ibu jarinya, lalu kembali tersenyum pada Ara, hal itu membuat Ara jadi salah tingkah dan membuat wajah ara berubah merah seperti kepiting rebus.
"Ayo makan siang bersama" Ajak Deon yang kini sudah terduduk di tempat tidur.
Jam sudah menunjuk pukul 1 siang, itu memang biasanya waktu makan siang keduanya bahkan sudah lewat.
Ara mengangguk pelan, gadis itu duduk dan merapikan rambut serta pakaiannya yang terlihat berantakan, jika orang melihat mereka sekarang pasti akan berpikir mereka melakukan hal mesum, tapi jangan berpikir terlalu jauh, Deon sudah bersumpah hanya akan merusak Ara setelah Ara seratus persen menjadi istrinya.
...🐤🐤🐤🐤🐤...
Shasa pulang ke rumah dengan wajah bengkak karena habis menangis. Mata gadis itu bengkak dan hidungnya juga sama.
Acha yang tadi sangat senang mendengar putrinya pulang langsung terbengong melihat keadaan putrinya.
"Sayang! Apa yang terjadi!' pekik Acha.
Shasa segera berhambur ke dalam pelukan bundanya. gadis itu kembali menangis keras.
" Apa yang terjadi siapa yang menyakiti kamu, kasih tau bunda biar bunda buat dia membayarnya" celoteh bundanya sambil terus mengusap rambut Shasa dengan pelan.
"Apa si Allinsky itu, kalau iya, dia harus bertanggung jawab, telah membuat putri bunda seperti ini".
Shasa langsung menatap bundanya, " Bunda mengenal Kak Allinsky?" tanya shasa dengan masih sesegukan.
"Allinsky pembisnis nomor satu se-Asia itu kan?"
Shaha mengangguk cepat.
"Dia putra sahabat bunda! yang kemarin bunda bilang kami ada janji menjodohkan anak kami, kamu kemarin gak mau" gerutu bunda shasa sebal.
"Shasa gak tau kalau itu kak Al, kalau sama kak Al, Shasa pasti mau bun!" rengek Shasa masih didalam pelukan Acha.
"Udah gak bisa, si Allinsky itu sudah punya pilihan sendiri".
" Bun, Acha tau siapa wanitanya gara-gara wanita itu menghasut kak Al, Kak Al jadi benci sama shasa bun, dia Ara bun, wanita urakan dan jahat itu" Shasa selalu menceritakan keburukan Ara pada ibunya, dia tidak pernah mengatakan hadiah yang Ara berikan adalah hadiah dari Ara, dia selalu mengatakan pada keluarganya hadiah hadiah itu dari penggemar nya, yang sangat menyukai nya.
Shasa sering mendokrin bundanya bahwa Ara itu garis nakal dan jahat, Shasa berusaha mengubah Ara menjadi lebih baik makanya shasa berteman dengannya.
Luar biasa bukan? akting Shasa memang patut di acungi jempol, dia bahkan bisa bersikap seperti tersakiti padahal dia sedang senang.
"Jadi si Ara itu! mana mau Mitha punya menantu seperti itu, suka mabuk mabukan dan merokok, anak gadis sukanya jalan malam-malam, siapa yang tau dia masih virgin atau enggak!" Bunda Shasa terus saja meracau kesal, mengulangi cerita yang selama ini di ceritakan oleh Shasa padanya.
"Tenang saja sayang, bunda bakal buat kamu menikah dengan Allinsky, pria sempurna seperti dia cocoknya dengan putri cantik bunda ini".
" Benarkah bun?" Sorak Shasa dengan wajah berseri sering, rona sedihnya tadi langsung menghilang.
"Iya kamu tenang saja, bunda akan memastikan kamu menikah dengan Allinsky itu!" tegas bunda Shasa.
"Tapi kalau kak al gak mau gimana bun? padahal kak al sudah__" Shasa sengaja menggantung ucapannya dia menunduk dan berpura-pura menangis dengan lebih kencang. Tiba-tiba muncul ide jahat dalam otak Shasa, jika dia tidak bisa mendapatkan secara baik-baik maka dia akan mendapat Deon dengan cara yang tidak mungkin bisa terpikir kan oleh Deon.
"Siapa suruh, menolakku dan memilih batu kerikil itu" batin Shasa.
"Apa yang sudah pria itu lakukan padamu Sha? ceritakan pada bunda" Acha mengguncang kedua bahu Shasa, meminta putri kesayangannya itu bercerita.
Dengan tertunduk dan isakan yang sebenarnya palsu Shasa berkata, "Ka-kakak Al, di-dia sudah melecehkan Shasa bun" tangisnya semakin besar di akhir kalimatnya.
Bunda Shasa langsung memeluk tubuh putrinya itu, "Kamu tenang aja, bunda akan paksa pria itu untuk menikahimu!"
"Jangan bun, jangan bilang sekarang" tahan Shasa.
"Kenapa? kamu diancam olehnya?" pekik Acha tidak Terima.
"Iya bun, itu karena hasutan Ara! sekarang bunda ceritakan saja sikap buruk ara, jika gadis itu pergi dari sisi kak Al, maka kak Al akan memilih Shasa bun, kak Al bilang begitu pada Shasa, tapi jika kak Al tidak mau mengusir pergi wanita itu baru katakan tentang ini bun, Shasa siap menanggung malu, hiks hiks" Shasa kembali menunduk berpura-pura kembali menangis. tanpa bunda nya sadari shasa tersenyum menyeringai dibawah sana.
...🐣🐣🐣🐣🐣...
Ara bengong selama perjalanan pulang ke rumah, sudah 3 hari bangku di sebalahnya kosong, dan tidak ada yang tau Shasa sakit apa. Ara sedikit khawatir kepada temannya itu, dia tidak tau apa yang terjadi tapi selama tiga hari itu, dan juga Ara tidak dapat menghubungi Shasa.
"Lagi melamunkan apa" Deon menyentuh pelan pipi Ara, agar gadisnya sadar dari lamunan.
"Shasa kak"
Mendengar nama Shasa, Deon berusaha mengatur emosinya, "Ada apa dengannya?"
"Dia sudah tiga hari gak masuk sekolah, dan Ara tidak bisa menghubungi nya, boleh Ara menjenguk nya kak?" pinta Ara.
"Apa kata pacarnya?" bukannya menjawab Deon malah memberikan pertanyaan pada Ara.
"Dimas bilang dia sedang sakit, dan tidak ingin berbicara pada siapapun" lesu Ara.
"Nah, dia bilang sendiri kan tidak mau bicara dengan siapapun, biarkan saja, nanti dia akan datang sendiri ke sekolah".
" Iya tapi Ara tetap khawatir kak".
"Sudah jangan di fikirkan, sekarang kamu hanya perlu fokus pada pelajaran, ujian kenaikan kelas sebentar lagi kan?"
Ara mengangguk pelan, "Kak, Ara boleh minta sesuatu gak?"
"Apa?"
"Jika ara berhasil memperoleh posisi satu lagi, ara boleh gak minta temani menemui papa dan mama di Amerika?" lirih Ara pelan.
Sebelah tangan Deon yang terbebas dari stir segera mengusap puncak kepala Ara, "Kangen mereka ya?"
Ara kembali mengangguk pelan, selama ini dia sengaja tidak menghubungi kedua orang tuanya, takut mengganggu pengobatan papa nya. Sedangkan Axel dia sangat jarang menghubungi Ara setelah dia sampai di Jerman. Kakak Ara itu terlalu sibuk mengurusi perusahaan milik papanya disana.
"Baiklah, jika dapat posisi satu kita akan ke Amerika, dan mengajak ketiga sahabatmu juga" ucap Deon.
Ara segera memeluk lengan Deon, mengucapkan Terima kasih berkali-kali.
"Gimana kalau nanti kita menghubungi Axel?" tawar Deon.
Ara kini merengut, dia sedang kesal dengan kakak lakinya itu, sudah pernah beberapa kali dia menghubungi tapi tidak dijawab, dan Axel tidak pernah menghubungi duluan.
Melihat ara yang cemberut, Deon sedikit terkekeh, tangannya gemas untuk mencubit pipi Ara, "Nanti kita hubungi dia sampai dia jawab, kalau perlu kakak ancam nanti Axel untuk mengangkat telepon".
" janji ya?" Ara menyodorkan kelingking nya kearah Deon.
Sambil tertawa kecil Deon mengaitkan kelingking nya dengan kelingking Ara, "Janji".
🎼
Deon melepaskan kaitan tangannya dari Ara dan merogoh Sakunya ketika terdengar suara panggilan dari ponsel nya.
📲 "Hallo, bun" Sapa Deon.
📲 "Kamu dimana sekarang?" Suara bunda Deon terdengar sedikit emosi.
Deon sedikit mengerutkan keningnya mendengar nada bicara bunda nya.
📲 "Deon sedang mengantar calon menantu bunda pulang" jawab Deon, sambil melirik Ara yang tertunduk malu mendengar ucapan Deon barusan.
📲 "Ke rumah besar sekarang, bunda perlu bicara!" tegas Mitha dengan nada yang lebih tinggi.
📲 "Ada apa bun? kenapa bunda marah-marah seperti itu!" Deon sedikit kebingungan, ini sudah sangat lama sekali Deon mendengar nada suara bunda nya yang seperti itu, biasanya Mitha tidak pernah meninggikan suaranya didepan Deon, kecuali jika wanita itu benar-benar marah padanya.
📲 "Pokoknya cepat pulang setelah mengantar wanita itu kerumahnya! " bentak bunda Deon sekali lagi. Mendengar bunda nya tidak lagi memanggil Ara dengan calon menantu, Deon yakin ada sesuatu yang terjadi hingga bunda nya marah dan tidak menganggap Ara menantunya lagi.
📲 "Baiklah Deon akan segera kesana, tapi sebelum itu Deon minta tenangin diri bunda dulu, jangan menerima informasi dari orang dengan bulat-bulat, setidaknya pikirkan putra bunda tidak mungkin salah memilih" ucap Deon penuh kelembutan.
"Ada apa kak?" tanya Ara khawatir.
Deon menggeleng pelan, "Tidak apa, kakak mungkin telat pulang ke rumah, tidak apa kan?"
"Iya gak apa kok" jawab Ara diikuti dengan anggukan gadis itu.
...🐥🐥🐥🐥🐥...