My Little Girl

My Little Girl
41. Dikeluarkan



Shasa masuk ke kelasnya dengan emosi yang memuncak jangan tanyakan bagaimana wajah cantiknya saat ini, dia terlihat mengerikan.


Emosi Shasa tambah memuncak ketika melihat wajah Ara yang sedang tertawa bersama ketiga temannya.


Ara selalu beruntung, gadis itu selalu menjadi nomor satu, Ara berhasil mendapatkan gelar gadis tercantik di sekolah, dia juga kaya, dan bertambah kaya dengan pria yang sekarang melindungi nya, bukan hanya itu posisi yang biasa Shasa miliki harus di serahkan pada Ara, gadis itu berhasil mengalahkan Shasa dan mendapatkan posisi satu di sekolah sebagai murid cerdas.


"Sabar Shasa, lu harus sabar sampai impian lu terkabul, saat ini gue masih membutuhkan Ara" Bathin Shasa.


"Ra, maaf ya kemarin, jangan marah sama gue lagi ya" Shasa berusaha menunjukkan wajah memelas nya pada Ara.


"Gak apa sha, lain kali kamu harus percaya ya sama aku, kamu kan sahabat aku, aku jadi sedih kalau kamu tidak percaya aku" Ara berkata formal pada Shasa, entah kenapa dia merasa Shasa berteman dengannya karena ada yang Shasa incar darinya, semua itu Ara rasakan setelah kemarin Ara sadar Shasa tidak pernah membela dirinya selama mereka berteman.


"Ra, gimana kalau sabtu ini kita jalan-jalan, ngerayain kamu yang mendapat posisi satu" usul Shasa.


"Maaf ya sha, gak bisa, aku sudah buat janji sama Juan, Robi dan leo sabtu ini" tolak Ara.


"Janji?"


"Iya ara mau bantuin kami belajar" ucap Robi.


Tiba-tiba saja muncul ide jahat Shasa, "Kalau gitu aku boleh ikut bantuin gak? kan kasian Ara ngajarkan tiga orang sekaligus, kalau aku dan dimas ikut, Ara jadi bisa ngajarkan satu orang dengan fokus kan".


Ara berpikir sebentar lalu melirik ketiga temannya.


" Ara kenapa sih, masih marah ya dengan aku dan dimas, kemarin ara pernah bilang akan bicara dan berteman dengan dimas jika aku dan dimas udah jadian, sekarang kami berdua udah jadian, kok ara masih diam diaman gitu".


'Deg Deg' Jantung ara terasa diremas mendengar pernyataan Shasa. Tidak dapat ara pungkiri perasaannya pada dimas masih ada buktinya sekarang dia merasa sakit ketika mendengar Dimas berpacaran dengan Shasa.


"Ra, maaf ya untuk perlakuan gue yang kemarin kemarin, gue cuma khawatir, sebagai teman gue juga ingin menjaga lu, mau kan maafin gue?" Dimas berbalik dan berbicara pada ara dengan nada pelan.


"'Teman' selama 5 tahun ini hanya status teman yang aku dapatkan " batin ara.


"Iya gak papa, selamat ya buat kalian berdua, aku turut bahagia" ara berucap dengan tulus walau hatinya terasa sakit saat ini.


ketiga teman ara saling menoleh, tapi mereka tidak dapat melakukan apapun saat ini.


...🐤🐤🐤🐤🐤...


Ibu Shinta wali kelas 11 IPA 2 masuk ke dalam kelas dengan wajah kusut. Matanya memandang sinis Ara.


"Pengumuman semuanya" ucapan ibu shinta membuat semua pasang mata menatapnya penasaran.


"Hari ini adalah hari terakhir ibu mengajar disini, berkat seseorang yang sangat berkuasa ibu dipecat secara tidak hormat karena tidak mau MEMINTA MAAF PADANYA" Ibu shinta memandang sinis Ara yang sekarang sudah tertunduk.


"Clara!" bentak ibu shinta.


Ara segera mengangkat kepalanya yang tadi tertunduk lesu.


"Segera keluar dari kelas saya, saya tidak mau mengajar pada murid seperti kamu! saya juga bisa mengeluarkan kamu dari kelas saya, Saya tidak takut dengan ancaman apapun!"


Ara masih diam di tempatnya, dia masih belum terlalu mengerti dengan ucapan ibu shinta barusan.


"CLARA SYAHNAZ ZOYA! SEGERA KELUAR DARI KELAS SAYA!" kali ini ibu shinta berteriak kencang hingga membuat Ara tersadar.


Ara segera mengambil tasnya dan keluar dari dalam kelas, diikuti dengan tiga orang temannya.


"Kemana kalian bertiga!" pekik ibu shinta.


"Kami tidak mau diajar oleh guru seperti anda, guru yang tidak mau mengakui kesalahannya!" ketus Leo sambil berlalu mengejar Ara yang sudah mulai menjauh.


"Apa ada lagi yang mau mengikuti jejak anak nakal itu?!!" tanya ibu shinta dengan emosi.


Tidak ada jawaban apapun dari mereka, semuanya hanya menunduk takut.


"Murid pintar apanya! dia hanya beruntung" gerutu ibu shinta pada dirinya sendiri.


...🐣🐣🐣🐣🐣...


Ara berada di kantin bersama ketiga temannya yang setia, padahal mereka telah berjanji pada Deon untuk tidak membolos lagi dan akan memperbaiki diri, tapi yang ada mereka kembali membolos karena ara dikeluarkan dari kelas secara tidak hormat.


Ara menyeruput susu coklat ditangannya, "Akhhhhh!" pekik Ara kesal.


Robi, juan dan Leo masih diam, mereka takut salah bertindak yang ada mereka akan diusir dari hadapan Ara, dan itu akan membuat mereka susah dalam melaporkan keadaan Ara pada Deon. Ketiganya kompak menjadi mata mata Deon sejak Deon berjanji akan membantu mereka menemukan mimpi untuk masa depan mereka.


Sudah ada dua buah susu coklat dan dua buah ice cream dia habiskan tapi masih belum mampu membuat emosi gadis itu menjadi normal.


"Sial!" pekik Ara lagi. mungkin emosi Ara bertambah menumpuk karena pernyataan Shasa tadi tentang jadian dengan dimas, ditambah dia di usir dari kelas oleh Wali kelasnya.


"Rob, motor lu dimana?"


Robi tampak was was dengan pertanyaan Ara. matanya melirik Juan dan Leo meminta bantuan.


"Di dekat parkiran sekolah, gue kan tadi gak telat masuk" memang benar, pagi ini ketiga Trio itu berhasil mendapatkan parkir didalam parkiran sekolah.


"Sial!" umpat Ara kesal. "Ya udah naik taksi aja" Ara segera beranjak dari tempat duduknya menuju perkarangan belakang sekolah, tempat gadis itu biasa melompat untuk bolos.


"Mau kemana ar?" Juan sudah berlari mengikuti Ara diikuti Robi dan Leo.


"Bolos!"


"Lu gak ingat, kak Deon ngelarang lu bolos?" Leo berusaha mengingat kan larangan kak Deon pada Ara.


"Gak peduli gue! gue sedang emosi! gue pengen cari pengalihan, kalo kalian mau ikut ayo! kalo gak ya udah gue pergi sendiri aja!" Gerutu Ara.


Mereka bertiga saling memberikan kode, akhirnya ketiganya mengalah mengikuti Ara.


"Ikut! tapi mau kemana ar?"


"Mabuk" jawab singkat Ara.


"Tapi ini masih pagi klub mana ada yang buka jam segini!" Juan berusaha menahan keinginan gadis itu.


"Ada punya kak Toni" gerutu Ara.


'Kak toni' adalah kakak sepupu dari Dimas, dia pemilik beberapa club besar yang ada di beberapa kota. Dimas belajar mabuk mabukan juga karena ajaran dari Toni.


"Tapi ra__" kata kata Leo terhenti ketika Ara sudah meloncati tembok sekolah yang cukup tinggi.


"Cepat ikutin, biar gue telepon kak Deon memberi kabar" Leo segera menyuruh Juan dan Robi untuk segera mengikuti Ara yang sudah berada di luar sekolah. Sementara dirinya masih sibuk menelpon Deon tapi tidak juga diangkat.


Karena takut ditinggal oleh teman-temannya Leo akhirnya hanya mengirim pesan pada Deon berharap Deon segera membaca pesan dari nya.


📨 Leo : "Kak, Ara ada masalah di sekolah, sekarang dia sedang kesal dan mau melampiaskan dengan minum minum di klub xxxx, segera datang ya kak".


...🐥🐥🐥🐥🐥...