My Little Girl

My Little Girl
15. Kesal



Dimas mengumpat setelah habis menelpon Ara, niatnya tadi ingin menjenguk Ara dan membuat Ara kembali mengejar dirinya, dia sudah merasa beberapa hari ini Ara berubah sikap padanya tidak ada lagi Ara yang selalu berusaha mendekatinya, Ara yang berusaha mengandeng tangannya, Dimas sangat suka saat orang orang iri padanya, saat melihat teman temannya iri melihat idola sekolah mereka mengejar Dimas.


"Dim" panggil Shasa sambil menepuk bahunya, "Ayo kita ke kantin, tadi telepon siapa?" Shasa berpura-pura acuh pada Dimas.


"Ahh bukan siapapun" jelas Dimas dia lalu berjalan bersebelahan dengan Shasa.


'Iri banget gue sama si dimas, Gadis cantik satu sekolah mengejar nya, dan dia dekat juga sama si pintar nomor satu di sekolah'


'Iya gue juga iri'


'Enak banget ya jadi dimas dikejar kejar sama wanita'


'Iya, seandainya wajah dan otak gue seperti dimas gue pacari semua cewek satu sekolah'


Begitulah bisik bisik para pria melihat dimas dan Shasa yang jalan bersama. Dimas tersenyum senang mendengar gosip gosip yang tersebar. Gosip tentang perubahan sikap ara masih belum tersebar dan hal itu yang membuat dimas takut, nanti pamor nya disekolah akan turun.


...🐣🐣🐣🐣🐣...


Dimas dan Shasa memilih duduk didekat tiga sahabat dekat Ara.


"Rob, lu kok gak bilang kalau Ara izin dari sekolah karena antar abangnya ke bandara" keluh Dimas begitu pantatnya menduduki kursi didepan Robi.


"Lu gak nanya" jawab cuek Robi.


"Ahh iya Ara hari ini izin antar abangnya, kemarin Ara cerita sama aku dan yang lain" shasa sontak berucap, ada terselip kebahagiaan dalam suaranya.


"Apa gue ke rumah Ara aja ya, tanya tentang ide gue itu, atau gue telepon aja" batin Shasa. Shasa sangat senang dia yakin akan mendapatkan kabar bahagia dari Ara, karena Ara biasanya selalu mengabulkan permintaan nya, Ara saja memberikan Dimas padanya, dan Shasa sangat yakin Ara itu sangat keras kepala, jika dia mau harus dituruti.


Shasa mengambil ponselnya disaku, bersiap untuk menghubungi Ara.


"telepon siapa?" tanya Dimas penasaran.


"Ara" jawab Shasa dengan wajah bahagia. Ketiga sahabat Ara hanya melirik tidak suka dengan Shasa.


πŸ“² "Halo ra"


πŸ“² "Iya kenapa sha?"


πŸ“² "lagi dimana ra?" tanya Shasa sekedar basa basi.


πŸ“² "di tempat makan, kenapa ya sha?" tanya Ara lagi dari sebrang telepon.


πŸ“² "Gimana kabar tentang pembicaraan kemarin?" tanya shasa kemudian senyum dibibir nya tidak dapat hilang, dia yakin ara yang keras kepala akan memohon pada abangnya itu.


πŸ“² "Ahh soal itu, hmmm maaf ya Sha abang gue gak bolehin, bang Axel tetap pada keputusan nya yang pertama" Suara Ara terdengar sedih.


Melihat perubahan raut wajah Shasa tiga orang sahabat Ara tersenyum senang, mereka hampir saja tertawa puas, mereka yakin abang Axel akan menolak permintaan itu, karena mereka tau seberapa keras kepalanya Ara dan Axel, tapi Ara masih bisa dibantah jika Axel bertindak.


πŸ“² "Gitu ya ra, ya udah gak papa, teman abang Ara itu cewek atau cowok?" Telinga Dimas, robi, juan dan leo langsung tegak mendengar pertanyaan yang diajukan untuk Ara.


πŸ“² "cowok sha, teman kecil bang Axel, kedua orang tua gue juga udah kenal dia, jadi bang Axel gak mau ubah keputusannya".


πŸ“² "bukannya gak enak ya ra harus tinggal satu atap sama cowok yang baru kita kenal? Hati-hati ya ra, kalau ada apa apa telepon aja gue"


Dimas meremas tangannya, sedikit banyaknya dia dapat mengambil kesimpulan bahwa Ara saat ini tinggal sama teman abangnya, dan mungkin karena itu sikap Ara berubah padanya.


πŸ“² "awalnya seperti itu, tapi kak Deon itu baik banget orangnya, aku udah nyaman dengannya dia seperti bang Axel versi baik" Tawa Ara terdengar dari telepon.


πŸ“² "ohh gitu ya, hati ati aja ra, cowok itu bisa khilaf kalau lama-lama berada di dekat cewek, aku sebagai sahabat cuma mau ingatin aja, bye ra"


kemudian telepon tertutup.


Shasa menunduk kesal, ternyata Ara tidak bisa membantah abangnya Axel, seharusnya besok dia bisa menikmati hidup mewah jika abang Ara membolehkan.


"Ara tinggal sama cowok asing?"


Shasa mengangguk, "katanya sahabat kecil abangnya, udah dapat persetujuan kedua orang tua Ara dan abangnya".


Mendengar penjelasan shasa tiga teman baik Ara bernafas lega, karena bang Axel bukanlah abang yang jahat, dia tidak mungkin memasukkan adik bungsu kesayangannya ke kandang harimau, dan lagi tadi mereka dengar orang tua Ara juga sudah setuju, berarti cowok itu baik.


" Bukannya bahaya ya, kalau cewek tinggal satu atap sama cowok dewasa" komentar Dimas. Dia sangat kesal saat ini, ingin sekali dia berlari ke tempat ara dan menarik gadis itu agar selalu dalam jangkauan nya.


"Aku juga bilang gitu, tapi katanya Ara sudah nyaman sama itu cowok, tau sendiri kan Ara itu sangat suka sama cowok__"


"Jaga bicara lu!" Juan menggerbak meja kantin dengan keras, membuat beberapa pasang mata menatap bingung.


"Yang Shasa katakan emang benar, mana ada cewek baik baik pergi ke club, ikut balap liar suka bolos?!" Dimas membela Shasa.


"Jaga mulut lu dimas!" peringatan robi. "Ara ke club karena lu yang ajak dia ke sana! Ara kenal dengan balapan liar karena mengikuti jejak lu! lima tahun pertamanan kalian tidak bisa membuat lu tau sifat asli gadis itu! Lu marah sama Ara karena Ara mulai berubah dengan lu? dan lu ngejatuhin Ara agar perasaan lu lega bukan?" geram Robi.


"Cukup sebaiknya kita pergi" lerai Leo.


"Gue gak minta dia untuk ikuti gue, dia yang terlalu tergila gila sama gue!" ucap dimas percaya diri.


"Cukup dim! jangan seperti ini, kita gak mau persahabatan kita benar-benar hancur, cukup kita diam selama ini, jangan pernah mendekati Ara lagi gue mohon" Leo berucap lemah.


Dulu mereka berempat adalah teman baik sejak SD tapi semua berubah saat kekasih Robi memutuskan Robi hanya karena Dimas, dan diketahui kekasihnya itu berpacaran dengan Robi hanya untuk mendekati Dimas.


"Kalian yang terlalu munafik, hanya karena wanita itu kalian membenciku!" Kesal Dimas, dia meluapka kekesalan nya pada 3 sahabat kecilnya itu.


"Terserah lu mau bilang apa, yang pasti Ara tidak pernah menjelekkan lu di depan kami, Ara malah menyuruh kami untuk berdamai dengan lu, dimas! Dan untuk lu, shasa!" Robi menunjuk wajah shasa yang terlihat pucat. "Jangan pernah mencoba mempengaruhi kami, gue tau akal bulus lu! topeng lu sudah ketahuan oleh kami! sekali lagi gue dengar lu ngomong tentang Ara didepan kami, gue bakal robek mulut indah lu!" Setelah berkata begitu Robi, juan dan Leo berlalu pergi dari sana.


menyisakan Shasa dan Dimas yang sama sama terdiam di meja kantin itu.


Semua pasang mata sangat penasaran dengan perdebatan yang terjadi, mereka yakin itu karena sedang memperebutkan Ara, mereka salah paham dengan kejadian itu, mereka pikir ketiga orang itu marah pada Dimas karena Dimas selama ini selalu memperlakukan Ara dengan tidak baik.


'Pasti ketiga orang itu membela Ara'


'Ara kan memang tidak baik, kenapa masih dibela sih'


'Ara itu cuma tampangnya saja yang bagus kepribadiannya nol besar!'


'benar gue setuju, gue benci liat cowok cowok terpesona dengan Ara, untung Dimas gue gak jatuh cinta dengan kecantikan Ara!'


Begitulah suara suara gosip yang mulai tersebar setelah kejadian tadi.


...🐀🐀🐀🐀🐀...


🌺Author cuap cuap🌺


Terima kasih buat yang baca dan like, untuk yang lainnya mohon bantu like dan votenya please.. πŸ˜†πŸ˜† Terima kasih ya.


bonus nih



si egois, cantik, manja, keras kepala __Clara Shahnaz Zoya