My Little Girl

My Little Girl
21. Jenius?!



Sudah sekitar satu minggu lebih Ara tinggal bersama Deon.


Ara merasa sangat senang tinggal bersama Deon, karena Deon selalu memperhatikan nya, memanjakan juga melakukan apapun yang Ara inginkan.


Deon membolehkan Ara melakukan apapun dirumahnya, Ara ingin berkebun dan bermain dengan tanah Deon membiarkan nya, Ara ingin belajar memasak dan mencuci baju sendiri, Deon juga membolehkan, Deon membebaskan Ara melakukan Apapun itu asal tidak hal-hal yang negatif seperti pergi ke klub, balapan liar atau membolos sekolah.


Deon juga lebih sering di rumah untuk menemani Ara, seperti hari ini, karena hari minggu Ara meminta Deon membolehkan dia untuk pergi ke pasar bersama bi Arin gadis itu penasaran seperti apa pasar tradisional itu, dia tidak pernah kesana dan sangat ingin pergi kesana.


Karena pasar tradisional itu sangat ramai dengan perempuan, jadi Deon tidak bisa ikut, dia tidak mau alergi nya kambuh disana.


.


"Kak Deon" suara teriakan riang Ara terdengar sampai ke ruang keluarga, Deon yang tadinya asik menonton langsung bergegas menuju dapur tempat Ara berada.


"Kak!" Melihat Deon Ara segera berlari mendekatinya, gadis itu terlihat sangat bahagia, dia tidak sabar untuk menceritakan pengalaman nya pada Deon.


Bibirnya terus bercerita tentang kondisi pasar tradisional yang dia lewati dan melihat bagaimana tawar menawar terjadi, Ara juga kagum melihat berbagai jenis ikan dan daging yang terjual disana, Ara sama sekali tidak jijik dengan keadaan becek dan kotor, gadis itu malah semakin semangat menceritakan pada Deon.


"Nanti lagi lanjutin ceritanya, sekarang mandi dan kakak tunggu di ruang kerja kakak" Deon berkata sambil merapikan beberapa anak rambut Ara yang terlihat berantakan.


"Mau ngapain kak?" Ara malah bertanya dan menatap Deon dengan bingung.


"Siapa ya yang besok akan ujian tengah semester?" ucap Deon gemas sambil mencubit pipi Ara.


Ara terkekeh sambil menggaruk kepalanya, dia sempat lupa bahwa besok dia akan ujian tengah semester.


"Baik bos, Ara mandi dulu" Ara segera memberi hormat dan berlari menuju kamarnya.


Setelah Ara benar-benar menghilang Deon melangkah mendekati bi Arin, "Ara tidak menyusahkan kan bi?"


Bi Arin menggeleng pelan, "Tidak tuan muda, bibi awalnya takut nona akan menghina orang-orang yang kastanya dibawah bibi, tapi nyatanya nona muda terlihat sangat senang ketika saya membawanya kesana, dan nona membagikan beberapa lembar uang pada pengemis yang ada".


"Terima kasih sudah menjaganya bi" Deon segera berlalu menuju ruang kerjanya.


...🐥🐥🐥🐥🐥...


Ara melangkah dengan riang menuju ruang kerja Deon, tangannya penuh dengan beberapa buku yang harus dia pelajari untuk ulangan besok.


'ceklek' Ara mengintip pintu ruangan kerja yang tertutup, Deon tampak duduk di meja kerjanya dengan laptop yang menyala.


"Ya segera bacakan laporan kalian" ucap Deon sambil menatap layar laptop.


Seolah mengerti Deon yang sedang sibuk Ara segera berjalan mendekati sofa, meletakkan semua buku-buku pelajaran nya di meja, dan duduk di sana, dia akan menunggu Deon siap meeting.


Ara melirik kulkas kecil di dekat sofa, sepertinya selalu ada kulkas kecil seperti dihotel didalam rumah ini, Ara segera mengambil susu coklat kesukaan nya, dia mala menunggu dengan berdiam diri mending minum sesuatu untuk menghilangkan kebosanan nya.


Tangan Deon meraih satu buku dan membukanya beberapa kali, lalu Deon menuliskan beberapa soal pada Ara di kertas yang sudah ara siapkan.


"Kerjakan ini, kalau sudah selesai segera berikan pada kakak" Setelah memberi perintah pada Ara, Deon segera kembali pada meja kerjanya untuk melanjutkan meeting onlinenya.


Ara tampak asik menyelesaikan soal sambil sesekali menyedot susu kotak yang ada didekatnya. Mata Ara sesekali melirik Deon yang masih tampak sibuk dengan meeting pentingnya.


Sejak datang ke kediaman Deon Ara awalnya ingin di les kan oleh Deon, Deon berniat memanggil guru les untuk ara, tapi setiap guru les yang datang selalu dikerjai oleh Ara, para guru itu sudah tidak sanggup untuk mengajarkan Ara akhirnya solusi yang paling bagus, Deon sendiri yang turun tangan dalam pengajaran Ara.


Deon termasuk anak yang genius, bisa dibilang dia termasuk keajaiban dunia untuk kata kata lebaynya.


Sepuluh menit berlalu Ara segera melangkah mendekati Deon yang masih meeting, tadi perintah nya memberikan lembar jawaban jika sudah selesaikan, jadi Ara segera melaksanakan perintah Deon. entah sejak kapan gadis itu akan menjadi patuh akan setiap perintah Deon, jika Axel melihat Ara yang sekarang dia akan berlonjak bahagia, adiknya yang nakal dan urakan menjadi baik dan penurut.


Muncul tangan perempuan yang menyodorkan kertas kepada Deon. beberapa yang menghadiri meeting online itu tampak terkejut, mereka sempat terdiam untuk beberapa waktu, rumor tentang Deon yang gay muncul dalam pikiran mereka, yang mereka tau tidak akan ada perempuan yang berani mendekati Deon dalam jarak 2 meter kalaupun ada dia akan diusir dan tendang agar menjauh darinya.


"Kenapa diam? lanjutkan membacanya!" perintah Deon dengan suara dinginnya. Tangannya sibuk memeriksa lembar jawaban Ara.


Ara sedikit mencuri dengar ucapan salah satu staf dari meeting online itu, mereka membicarakan tentang penjumlahan, perkalian, serta probabilitas yang bakal di dapat dari investasi yang akan di ambil untuk kedepannya.


"Ini sudah bagus, baca buku lainnya, nanti kakak akan tanya lagi" perintah Deon.


Ara mengangguk mengerti, badannya sedikit menunduk mendekati telinga Deon, hal itu menjadi kesempatan bagi para penonton meeting untuk melihat separuh wajah wanita yang ada didekat Deon.


"Kak, hitungan yang dibacakan orang itu salah" bisik Ara, setelah itu Ara kembali ke sofa sambil bersenandung riang, gadis itu sepertinya lupa bahwa dia selama ini menyembunyikan kejeniusan nya pada semua orang termasuk orang tuanya.


.


Muncul sedikit senyum Deon, dia tadi hanya memberi tes pada Ara, selama ini Deon selalu memperhatikan Ara dalam mengerjakan tugas sekolahnya, dan bagaimana cara gadis itu menjawab dan mengerjai setiap guru gurunya, Deon mencari tau apa yang disembunyikan gadis itu, sekarang lah dia tau jawabannya.


"Bisa kalian periksa kembali perhitungan nya, pasti ada kesalahan disana, jika kalian tidak membenarkan itu maka akan aku pecat kalian semua! meeting selesai, perbaiki hitungannya!" Deon menutup laptopnya dengan cepat, dan Deon segera mendekati Ara yang masih asik membaca buku Saint yang tadi sempat dia bawa.


"Katakan pada kakak Apa yang kamu sembunyikan Ara?"


"Hah?! apa?!" tanya Ara bingung, dia merasa tidak menyembunyikan apapun.


Deon mulai mengatakan semua kecurigaannya dimulai dari jawaban soalnya selalu Ara buat salah dengan sengaja, gadis itu dapat mengkali dan membagi didalam otaknya tanpa menggunakan kalkulator, pernah secara spontan Ara menjawab perkalian yang Deon tanyakan secara mendadak, dan mulut Ara yang lemas menjawab dengan jawaban benar padahal itu perkalian dengan 4 angka.


Dan yang semakin membuat Deon percaya bahwa gadis didepannya ini adalah jenius karena jawaban soal yang baru saja Ara jawab.


Deon hanya iseng membaca buku Ara, tapi soal yang dia berikan tidak ada dibuku itu, soal itu adalah soal yang dipelajari di kampus dan Ara menjawab semuanya dengan benar, jadi sekarang Deon sangat yakin bahwa gadisnya ini jenius, tapi dia menyembunyikan kenyataan itu dari semua orang.


...🐣🐣🐣🐣🐣...