My Little Girl

My Little Girl
65. Tidur di rumah Besar



Tuan besar Allinsky menatap sendu putranya yang masih tampak menempelkan salep pada tangannya.


"Deon, maaf kan ayah" ujar pria itu.


Deon menatap ayahnya lalu menatap bundanya, "Lain kali tolong percaya pada Deon, Ayah selalu mengajarkan hal baik pada Deon, tidak mungkin Deon membalas semua itu dengan penghinaan" gerutu Deon pelan.


"Iya maafkan bunda ya sayang" ucap bunda, "ini semua salah bunda, sekarang bunda janji tidak akan menjodoh jodohkan putra bunda lagi, kan sekarang putra bunda sudah punya yang cantik dan baik".


Ara menunduk malu mendapatkan pujian dari bunda deon.


" Siapa namamu nak?" Tanya Tuan besar Allinsky tapi kali ini dengan nada lembut.


"Clara Shahnaz Zoya, om".


"Jangan panggil om, panggil saja Ayah, seperti Deon memanggil ayah".


" Shahnaz? Shahnaz Zoya Anggraini?" tanya bunda Deon.


"bunda kenal sama mama Ara?" balik tanya ara.


"Ya ampun dunia ternyata sangat sempit!" Mitha segera memeluk ara dan mencium kedua pipi gadis itu.


"Bun!" pekik Deon tidak Terima.


"Apaan sih! ini bunda loh, sama Bunda aja gak mau berbagi" Balas Mitha dengan juluran lidah pada putranya.


"Ya ampunn, bunda baru sadar wajah kamu sangat mirip sama nanaz" Mitha mencubit gemas pipi ara, sementara gadis itu hanya pasrah mendapatkan hujan ciuman serta cubitan kecil.


"Bunda udah! itu milik Deon!" kesal bunda pada Mitha yang masih mencium gemas pipi Ara.


"Belum sah, jadi belum milikmu" ledek bunda.


"Tapi kemarin kakak udah cium bun" dengan polosnya Ara mengadu pada Mitha.


"Benarkah dimana sayang?"


Ara spontan menunjuk bibirnya, pipi, serta kening.


'Puk' kali ini Deon mendapatkan pukulan ringan di punggungnya.


"Yahh sakit!" keluh Deon


"Belum nikah, belum boleh cium-cium"


"Makanya nikahkan cepat!" balas Deon dengan spontan.


"Enak aja ini masih polos" Bunda merangkul bahu Ara, "Kamu nginap disini aja ya sayang" pinta bunda Deon.


Bukannya menjawab, Ara menatap Deon, meminta jawaban dari pria itu.


"Gak boleh bun!" larang Deon.


"Kenapa tidak boleh, mas liat itu putramu!" Mitha bersikap seperti anak kecil didepan tuan besar Allinsky.


"Udah biar sehari dia tidur disini, besok-besokkan dia milikmu".


" Gak mau!" Deon masih bersih keras dengan penolakan nya, jika Ara tidur di rumah besar, mana bisa dia sembunyi-sembunyi tidur bareng Ara. Deon sudah terbiasa tidur bersama gadis itu, sekarang jika tidak ada gadis itu didekatnya maka dia tidak akan bisa tidur dengan tenang.


"Boleh!" pekik bunda tidak mau kalah, "Ayo sayang, kita ke dapur, bantuin bunda masak ya".


Ara mengangguk cepat, dan mengikuti bunda Deon menuju dapur.


tinggallah Deon bersama ayahnya, pria itu masih bersikap kekanakan pada ayahnya, dia masih belum mau Ara tidur di rumah itu.


" Apa yang sudah kau lakukan pada gadis itu?" tanya Ayah Deon penuh selidik.


"Tidak ada" elak Deon cepat.


"Ingat Deon dia masih sekolah, kasian dia jika hamil di usia muda" masih tidak mau Terima, Ayah Deon memperingatkan putra semata wayangnya itu.


"Cuma cium-cium sedikit yah, habis Deon gak tahan dengan keimutan nya, gak lebih kok, Deon tau batas" Deon mengangkat kedua tangannya mengatakan menyerah.


"Saat dia liburan sekolah, kita akan melamarnya didepan keluarga nya".


"Iya, setidaknya mengikat gadis itu untuk jadi milikmu, agar tidak jatuh ke tangan orang lain"


"Oke!" Deon bersorak bahagia seperti anak kecil, Tuan Allinsky hanya bisa geleng geleng kepala melihat pria umur 27 tahun itu bersikap seperti anak kecil.


...🐣🐣🐣🐣🐣...


Ara sedang asik bermain game di ponselnya, hari ini dia dipaksa menginap dirumah besar milik keluarga Allinsky. Seperti biasa gadis itu memang akan kesulitan tidur jika Deon tidak ada.


Sudah sekitar dua jam dia hanya berguling-guling tidak jelas di atas kasur dan bermain game, matanya tidak terasa mengantuk.


Lagi asik bermain tiba-tiba saja ara merasakan pelukan dari belakangnya. Dua buah tangan kekar tiba-tiba saja memeluk Ara, saat gadis itu akan berteriak, mulutnya lebih dulu ditutup dengan tangan besar milik Deon.


Ya, pelaku itu adalah Deon, pria itu diam diam masuk ke dalam kamar ara. Ternyata bukan hanya ara yang tidak bisa tidur, Deon pun juga sama, dia sudah terbiasa dengan bantal manusianya, siapa lagi kalau bukan Ara.


"Kak Deon!" Ara berucap dengan mata melotot.


"ssttttss kakak tau kamu gak bisa tidur" ledek Deon sambil menaik turunkan alisnya.


"Bisa kok cuma agak lama" jawab ara tak mau kalah.


Dengan gemas Deon mencubit pelan pipi Ara, "pandai menjawab sekarang ya".


Ara terkekeh kecil, " Kakak yang ajarin".


Ara kini membenamkan kepalanya pada dada bidang Deon, "Kak" panggil Ara pelan.


"Apa" Jawab Deon. Dia sedang asih mengelus kepala dan punggung Ara.


"Kenapa shasa seperti itu sama Ara? padahal Ara sering belikan dia barang-barang yang dia mau"


"Persahabatan itu tidak bisa diukur dari barang-barang yang kita berikan, jika dia tulus berteman dengan kita, maka dia akan segan menerima barang itu dari kita, jadi lain kali berteman cari yang betul-betul teman seperti robi, juan dan leo" Deon berusaha memberikan nasehat pada Ara, dengan cara halus, jika gadis kecil itu langsung disalahkan dalam memberikan pengertian, maka dia tidak akan merasa bersalah dengan apa yang telah dia lakukan.


"Tapi mereka cowok kak, emang kakak gak cemburu?" ledek Ara.


"Ada saatnya kakak cemburu, tapi ada saatnya kakak memberikan kepercayaan padamu, kakak memberikan kepercayaan dan kamu juga harus bisa percaya pada kakak seperti kakak saat ini"


"Kenapa seperti itu?" tanya Ara bingung.


"Kakak kerja bukan hanya berhadapan dengan pria, tapi dengan wanita, ada saatnya kamu mungkin cemburu, tapi kamu harus tau satu hal, dengan kepercayaan cintamu, kakak tidak akan pernah berpaling hati, jadi kita harus saling percaya, dan melindungi".


" Siapa bilang Ara sayang kakak?" gurau Ara, dia masih menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Deon.


"Ohh... berani sekarang?" Deon kembali mencubit gemas pipi Ara, serta mencium pipi gadis itu.


"Ihh kak, nanti Ara kaduin bunda loh" ancam Ara, gadis itu berusaha menjauhkan dirinya dari Deon.


"Kaduin aja, paling langsung dinikahkan besok" tantang Deon.


"Nyebelin, udah ahh! Ara mau tidur" Ara kembali masuk dalam pelukan Deon, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Deon, hingga dia merasa tenang.


"Katanya gak mau dekat-dekat" ledek Deon.


"ihh biarin, ara gak bisa tidur kalau gak kayak gini" ucap ara pelan.


"Mending kita nikah aja deh ya, biar gak ada yang menjadi lawan dan halangan kakak lagi".


" Halangan apaan?"


"pokoknya halangan, kamu anak kecil gak bakalan tau".


Ara mengangkat wajahnya dari dada bidang Deon, "Kak, anak kecil ini bisa buat anak kecil loh".


" Emang kamu bisa?" tantang Deon.


"Bisa!" tantang balik Ara.


'Cup' Deon tiba-tiba mengecup bibir Ara sekilas, "Nanti aja bicarain itu, nanti kakak jadi pingin" kekeh Deon jahil.


Ara segera kembali menyembunyikan wajahnya dari deon, wajah gadis itu kembali bersemu merah, Deon memang selalu suka menjahili gadis kecilnya.


...🐥🐥🐥🐥🐥...