
Brian dan ay baru pulang setelah daddy deon kembali dari kerjanya, mereka diantar kedua orang tua ay menuju bandara.
Sebenarnya brian tadi tidak boleh pulang oleh daddy George, pria tua itu ingin brian menunggu melani hingga gadis itu bangun, karena dengan kedatangan Brian saja gadis itu sudah mengalami banyak kemajuan, tangannya bergerak karena itu daddy sangat ingin brian tetap di sana, namun karena tidak ada yang berani untuk melawan brian daddy george hanya bisa pasrah.
“kakak mikir apa?” tanya ay penasaran karena melihat suaminya yang terus melamun sejak masuk jet pribadi mereka.
Brian terkekeh kecil, “yang kita nanam benih lagi yuk” goda brian seduktif di telinga ay,tangan pria itu sudah mulai mengelus paha istrinya yang kebetulan sedang menggunakan rok.
“Kak, ada orang malu” tolak ay dengan lembut.
“mereka karyawanku, lagi pula mereka tidak akan lihat ke sini, ruangan ini tidak ada kamera nya sayang, kita berjam-jam di pesawat hanya berdua bersama 2 pramugari dan 2 pilot itu sangat membosankan, boleh ya?” rengek brian, pria itu sudah menciumi bahu ay yang terbuka.
Ay melirik kiri dan kanannya, memang saat ini dia dan brian berada di dalam ruangan yang tampak seperti kamar tidur, dan tempat itu sepi, tapi pasti tidak kedap suara, Ay melototkan matanya begitu sadar brian sudah memulai aksinya pada tubuh bagian bawah milik ay.
“Boleh ya sayang” lirih brian dengan mata memelasnya.
Ay ingin menolak tapi tidak jadi karena melihat mata brian yang memohon padanya, gadis itu menghela nafas panjang. “kak aku tidak ada bawa baju ganti, semuanya ada di koperku” ucap ay dengan lembut, dia tidak ingin brian kecewa nantinya.
“masalah itu kecil, berarti kamu sudah setuju baby” sorak brian Bahagia, bisa-bisanya dia yang sedang banyak pikiran tentang melani, langsung berubah menjadi kegiatan suami istri di atas awan.
Ay hanya bisa mengangguk pelan, dia sudah pasrah mau di apakan saja, paling nanti dia bersembunyi di dekat brian tidak berani menatap para karyawan pesawat itu karena malu, kemungkinan suaranya terdengar keluar.
Brian mulai memberi ciuman pada wajah ay, lalu mulai turun dan berhenti di ceruk leher ay, pria itu diam dan menghirup aroma gadis kecilnya dengan perlahan, aroma ini yang membuat dia menjadi tenang, pikirannya yang kacau langsung menjadi normal begitu mencium aroma gadis kecilnya.
Cukup lama brian berada di posisi itu, lalu dia tegak dan menatap intens mata istrinya.
“pikiran kakak sedang kacau?” tebak ay, saat menatap mata suaminya itu.
Brian mengangguk pelan, “hanya masalah daddy, lupakan itu kakak sedang tidak ingin memikirkannya” ucap brian dan mulai mendekati wajah ay.
“seberapa dekat kakak dengan tante itu?” suara ay terdengar serak, dia memang ingin melanjutkan aksi mereka, tapi dia masih ingin menggali seberapa dekat hubungan brian dan melani, hingga membuat daddy George menjadi seperti itu.
“Sayang, tidak bisakah bicarakan itu nanti saja?” ucap brian tertahan.
“Katakan dulu baru boleh membuka satu persatu” ucap ay, memang saat ini ay masih mengenakan pakaiannya, dia juga sudah dalam keadaan yang sama dengan brian, tapi otak gadis itu lebih dominan, dia ingin menggali lebih banyak tentang melani.
“hanya dekat sebatas teman, aku sudah menolaknya berkali-kali, secara halus maupun kasar, tapi dukungan daddy membuat gadis itu besar kepala dan berharap banyak padaku, daddy lah orang yang terus mendorong nya untuk maju mendekatiku” brian mulai menjawab pertanyaan ay sambil membuka pakaian atas ay.
“teman mommy datang membawa anak perempuannya ke rumah, di sana kami di kenalkan, tapi sejak awal aku tidak pernah tertarik sedikit pun padanya, dia menyebalkan, dia terlalu sombong dan suka merendahkan orang yang berada di bawah nya” ungkap brian, setelah berkata begitu baru ay membiarkan suaminya itu menarik roknya.
Brian mulai mencium leher ay, dan perlahan turun ke bawah ingin membuka kaitan tali bra, tapi lagi-lagi ditahan ay, “benarkah tidak pernah sedetikpun ada perasaan yang muncul untuknya?” ucap ay lagi sambil menahan tangan brian yang hendak membuka kaitan bra milik ay.
Brian menaikkan sudut bibirnya dan mulai mendekati wajah ay, “jangan cemburu sayangku, hanya kamu satu-satunya wanita di hatiku” bisik brian seduktif, dia mulai menempelkan bibirnya pada bibir ay, mengecup bibir ay, hingga saat ay kehabisan nafas. Gadis itu sudah tidak dapat menahan gairahnya lagi, ulah brian barusan sudah membuat dirinya tidak tahan untuk bermain dengan lobak import milik brian.
Brian memulai bermain dengan bukit kembar milik ay,dan juga kue cubit milik ay, pria itu sudah tidak bisa menahan dirinya lagi, dan terjadilah peperang diatas ranjang di dalam pesawat itu, ay tidak bisa menahan diri brian lagi karena dirinya juga sudah dipenuhi oleh gairah.
Bahkan ay sampai berkali-kali ******* dibuat oleh brian, begitu juga dengan brian, pria itu tidak peduli dimana dia berada, karena jika sudah ada ay pikirannya hanya bisa terfokus pada gadis kecilnya itu, siapa suruh ay kebelet nikah dengan ketua mafia itu, jadi begini kan sekarang ay harus siap menidurkan adik brian yang selalu bangun setiap melihat badan ay.
Ay tersenyum saat melihat suaminya itu mulai mencapai klimaknya.
“sayang!” brian memekik kuat saat pria itu juga mencapai ******* nya, keringat sudah membasahi tubuhnya juga meski ac sudah dinyalakan pada volume yang paling dingin. Ay terus tersenyum melihat brian, pria itu sudah bercucuran keringat.
Ay pikir brian akan berhenti ketika pria itu berbaring disebelah ay sambil memejamkan matanya menikmati puncak ******* yang dia rasakan tadi. Tapi ternyata itu tidak benar
Ketika gadis itu menghapus keringat yang ada pada pipi brian yang saat ini sedang berbaring dan memejamkan matanya, saat itulah ay menyesali apa yang baru saja dia lakukan.
“kau mau lagi sayang?” kekeh brian sambil membuka matanya menatap wajah ay yang ada dihadapan pria itu.
“lagi? Apakah yang tadi belum cukup?” tanya ay terkejut, menyesal dia berniat menghapus keringat brian.
“Apa yang kamu katakan tadi itu hanya pemanasan, kita akan kembali melakukannya, ke menu utama sekarang, baru nanti menu pendamping dan penutup” ucap brian, pria itu kembali menindih tubuh ay.
“gak bisa ke menu penutup aja?” ucap ay dengan lesu.
“Tidak bisa sayang, ada prosesnya satu persatu” kekeh brian dan kembali menindih tubuh istrinya itu.
...🙈🙈🙈🙈🙈...
jangan pada komen kurang hot atau apalah, author heran banget udh gak ada adegan hot tetap aja gak lulus sensor! kenapa gak upload kemarin karena berusaha memberikan permintaan para pembaca, tapi apalah daya editor ku sangat tidak suka dan menganggap terlalu vulgar, jadi apa boleh buat jangan pada protes ya hasil akhir seperti ini.
terim kasih untuk tetap mendukung, dan like, jangan lupa like, vote dan hadiahnya ya biar author semangat habis di tolak berkali-kali kemarin sama editor ku 🥺🥺🥺🥺 mohon maklum ya