
Ay berjalan dengan riang menuju tempat aurora dan al yang sudah menunggunya, gadis itu kembali terlambat datang karena sibuk menggoda suami masa depannya.
"Ay, sini" teriak Aurora sambil melambaikan tangannya.
Ay berjalan menuju aurora, tapi dalam perjalanannya menuju aurora dan Al, ay dihentikan oleh ketua BEM yang sedang berjalan menghalangi ay.
"kamu telat datang, jadi tidak bisa menuju teman-temanmu, sekarang berdiri di sana" ketua BEM itu menunjuk beberapa murid yang sedang berbaris paling depan terpisah dengan yang lainnya.
Ay hanya mengangguk patuh tanpa membantah dan berjalan mendekati orang-orang yang juga datang terlambat itu.
"kenapa kamu terlambat?" tanya ketua BEM itu.
"macet dijalan kak" jawab ay asal.
"saudara kembar mu bisa tidak telat tapi kamu telat, kok bisa kalian tinggal satu rumah kan?" bentak pria itu.
"mau tau aja urusan orang sih!" sindir ay.
"Saya bertanya Danaya, bukan mau tau urusan kamu" bentak ketua BEM itu kesal.
"tunangan saya tadi nahan saya di parkiran" jawab ay santai.
"ohh jadi karena itu seberapa hebat sih tunangan kamu sampai bisa buat kamu telat" sindir pria itu lagi, "dia gak tau kalau kamu bakal saya hukum karena telat?" tambah pria itu lagi.
"sangat hebat bahkan lebih hebat dari kakak" balas ay, dia sama sekali tidak takut di bentak oleh ketua BEM itu berkali-kali.
"ohh kamu gak tau siapa saya, nama saya Putra Adigutama, apa kamu tau perusahaan Adigutama?" ledek Ketua BEM itu.
Perusahaan Adigutama memang perusaan nomor satu se-Indonesia, catat hanya se-Indonesia, jika dihadapkan dengan ay dan brian dia pasti sudah kalah.
"huft" ay langsung menutup mulutnya menahan tawanya.
"kenapa kamu ketawa?" kesal putra.
"jangan bandingkan kekuasaan orang tua kak, kekuasaan kakak kalah dari tuanangan saya" balas ay dengan spontan.
"ohh berani kamu melawan saya, setelah pulang dari kampus kelompok kamu harus membersihkan kampus hari ini, ini hukuman buat kamu, karena kamu membantah saya terus dan telat, Siap-siap menghadapi kemarahan Teman-teman mu" ledek Putra.
"saya yang salah telat kok mereka yang kena, dasar gak adil!" sindir ay.
"kalau gitu kamu squat jump 50 kali" ucap Putra asal, dia yakin ay tidak akan mampu.
bukannya menolah ay tersenyum meremehkan, "hanya segitu?"
"emang kamu sanggup? baik jika kamu bisa squat jump 100 kali maka selama MOS kelompok kamu bebas dari tugas bersih-bersih, tapi jika kamu tidak mampu maka kelompok kamu yang akan membersihkan kampus selama MOS" sindir Putra, karena dia yakin Ay akan merengek menolak.
"Deal! untung gue pakai celana" sambut ay cepat. Ay langsung squat jump seperti tantangan Putra.
.
"98... 99... 100" teriak para mahasiswa kelompok ay, mereka membantu menghitung hasil squat jump ay.
"wwooooww keren Danaya!!"
"woooww"
Sorak sorai bergemuruh ketika Ay menyelesaikan hukumannya sampai selesai.
"huft sudah, ingat kak ucapan kakak tadi adalah janji loh" ucap ay, gadis itu makin kelihatan cantik ketika menyapu keringatnya dengan telapak tangannya.
"baik, tapi lain kali jika telat lagi aku tidak akan memberikannya kompensasi padamu" ucap ketus Putra.
"kenapa? malu ya kak, saya sama sekali tidak tertarik dengan kakak walau kakak sudah menyebutkan pengusaha nomor satu di Indonesia ini adalah milik ayah kakak" sindir Ay.
"kamu tau? ayahku adalah pengusaha nomor satu se-Indonesia?" tanya Putra sedikit terkejut. "lalu kenapa kamu tidak tertarik padaku? padahal__" Putra sengaja menggantung ucapannya matanya memandang ay dari atas sampai bawah, gadis itu memang hanya mengenakan pakaian biasa kaos dan jins tapi mereknya saja yang tidak terlihat padahal jika Putra tau baju yang ay kenakan adalah baju yang harganya bisa ratusan juta.
"jawaban nya mudah kak, mata saya sudah tertutup oleh tunangan saya, jadi mau sekaya apapun kakak saya tidak akan pernah tertarik" ucap ay.
Al tersenyum sambil geleng-geleng kepala mendengar ucapan adiknya itu.
"profesinya? hmmm" ay mengetuk-mengetuk dagunya sendiri, muncul ide jahil di kepalanya, "seorang pembunuh" lanjut ay.
"apa?!" seru Putra karena terkejut mendengar jawaban ay.
"seorang pembunuh" ulang ay.
"pembunuh hati para wanita" lanjut ay dalam hatinya.
"Udah ya kak, aku capek, mau duduk" ucap ay lagi dengan acuh.
"tunggu aku masih belum bisa Terima ada wanita yang menolakku saat aku sudah mengatakan siapa aku sebenarnya" seru Putra menghentikan langkah kaki ay.
Ay berbalik sambil berkacak pinggang. "Akui saja kak, ay itu tidak bisa tertarik sedikitpun dengan kakak_" ay menggantung kalimatnya dia membalas apa yang dilakukan Putra tadi padanya.
dia melihat Putra dari atas sampai bawah, dia memang tampan, dan kaya tapi pesonanya masih jauh dari kekasihnya brian, "wajah kalah, body kalah, kekayaan juga kalah, tidak ada satupun dari kakak yang bisa mengalahkan dia" jawab ay sedikit sombong, karena tadi Putra duluan yang memulainya.
"Siapa namanya? sebutkan, jika dia bukan orang biasa aku pasti tau, kalau dia bisa mengalahkan ku berarti dia bukan orang biasakan" tantang Putra.
Ay menghela nafas panjang dia menatap Putra dengan ekspresi datar, "George Brian Marcello, sudah kenal?" tantang ay.
"hahahhaha" tawa Putra terdengar kuat, "jangan mimpi memiliki hubungan dengan pembisnis dari Amerika itu" ledek Putra.
Ay sama sekali tidak merasa tersindir. beberapa detik setelah Putra tertawa terdengar nada dering ponsel ay.
Ay merogoh tasnya dan mengambil ponselnya yang berdering, itu adalah panggilan video dari brian.
Ay tersenyum jahil dan mengangkat ponselnya.
📲 "kenapa?" tanya ay.
📲 "arahkan pada pria sialan itu!" suara tinggi brian terdengar dari dalam ponsel.
dengan malas ay mengarahkan ponselnya pada Putra.
Tampak disana wajah brian yang selalu muncul di majalah-majalah pembisnis Amerika sedang menatap Putra dengan sinis. orang awam hanya tau brian adalah seorang pembisnis tapi jika orang yang mempunyai kekuasaan tinggi mereka akan tau brian adalah mafia nomor satu.
📲 "mau sampai kapan menahan tunanganku?" tanya sinis brian.
"a-a i-i-itu ma-maaf" ucap Putra gagap.
📲 " jadi bisa jangan ganggu tunangan ku?" ucap brian masih dengan nada angkuh.
"bi-bisa" angguk putra cepat.
📲 "udah kan?" ay kembali mengarahkan ponselnya pada wajahnya.
📲 "udah sayang, kasih tau siapa saja yang coba menggodamu ya nanti".
📲 "iya, ay tutup lagi ya" ay langsung mematikan ponselnya tanpa mendengar jawaban brian.
Kini dia menatap putra yang sudah keringat dingin.
"udah di bilang masih juga gak percaya, jadi ay boleh balik ni?" ledek ay.
"iya" jawab putra singkat.
Setelah itu semua mahasiswa dan mahasiswi disana mulai memandang ay sedikit kagum, ada yang takut, ada juga yang iri dan ada yang bersikap biasa, yang kagum dan iri tentu saja karena mereka tau siapa brian, sedangkan yang biasa saja itu karena dia tidak tau siapa brian.
...🦁🦁🦁🦁🦁...
om brian udah mulai emosi nampaknya karena si ay di godain terus.
gimana keseruan selanjutnya yaa, nantikan terus ya, apa daddy deon bisa menentang pernikahan ay dan brian?? tunggu chapter selanjutnya 😄
Terima kasih 🥰🥰