
Di butuhkan waktu hampir 45 menit mereka bertiga menghajar semua anak buah dari pria tua yang akan membeli Aurora.
“Hei pak tua! Apa aku harus menghabisimu, dan kami diberi jalan atau kau segera mundur dan memberi jalan pada kami” Bentak AL pada pria tua yang hendak membeli Aurora.
“Di-dia sudah di jual padaku! Keluarganya berhutang banyak padaku, dan dia adalah bayarannya, jadi dia adalah milikku!” ujar pria tua itu sedikit ketakutan.
“Hajar aja Bang Al dia masih tidak mau memberi jalan” ketus Ay, dia terduduk di tanah bersama Aurora, menyandarkan kepalanya pda bahu aurora.
“Baiklah, seperti permintaan adikku” AL mendekati pria tua itu secara perlahan sambil menunjukkan tinjunya ke atas, “Walau sudah bertarung cukup lama, tapi tinjuku masih ampuh untuk membuat orang pingsan” lanjut AL.
“Tu-tung-gu dulu, a-aku akan membayar kalian, berapa yang kalian mau? 1 M? 2 M?” Pria tua itu mengangkat kedua tangannya ke atas, tanda menyerah.
“Hahahahha dek, kita mau dibayar” tawa mengerikan AL terdengar sangat menakutkan.
Ay yang duduk di dekat Aurora hanya tersenyum meremehkan, “emang bisa bayar berapa, 2 M terlalu kecil buat anak anak daddy Deon” kekeh Ay.
“Ja-jadi kalian mau dibayar berapa?” ujar pria tua itu senang, dia pikir, Al senang dengan tawaran yang dia berikan.
‘Buk’ AL menghantamkan sebuah tinju pada pipi pria tua itu hingga keluar darah dari bibirnya. “Kami tidak butuh uang” Al mendekatkan bibirnya pada telinga pria tua itu, “Kau tidak akan bisa membayar anak-anak dari keluarga Allinsky” bisik Al.
Pria tua itu langsung melotot, keluarga allisky yang terkenal itu dan penuh kerahasiaan, ternyata ada didepan mukanya, dan jika diperhatikan dengan jeli, dua orang pria kembar itu sangat mirip dengan Tuan besar Allinsky.
“Apa masih belum mau melepaskan kami?” tanya Al dengan melipat tangannya.
“Si-silahkan pergi” ujar pria tua itu lagi.
Al berbalik menuju Aurora dan kedua adiknya, “Aku peringatkan jangan mencoba menyebar identitas kami, jika masih berani maka kau akan tau sendiri akibatnya” ancam Al sebelum benar-benar berjalan menuju aurora dan kedua adiknya.
.
“Udah?” tanya Ay.
“Iya udah” jawab singkat AL.
“Bang el” ara menengadahkan kedua tangannya pada EL, seperti tau permintaan adiknya, EL berjongkok dan membiarkan Ay melompat ke atas punggungnya.
“Kau juga mau digendong seperti tadi?” tanya AL pada Aurora yang menatap Ay di dalam gendongan EL.
“Ti-tidak aku bisa berjalan sendiri” ucap Aurora cepat.
“Tapi kakimu terluka” tunjuk al pada kaki Aurora yang sedikit berdarah.
“bantu saja aku berjalan, tidak perlu di gendong” ucap Aurora.
“Dasar keras kepala” sindir Al, dia membantu Aurora berjalan dengan memapah gadis itu.
“Aku bisa makanya aku tidak mau digendong” jawab Aurora dengan ketus.
“Iya-iya, bilang aja takut baper sama gue” sindir AL lagi.
“Haaah? Ngapain gue baper sama cowok playboy seperti lo, nanti cewek lo cemburu liat lo dekat-dekat sama gue” ketus Aurora.
“baru putus juga 2 hari yang lalu, lo mau jadi penggantinya?” kekeh AL, dia memang masih suka bergonta ganti wanita, AL mengatakan akan berhenti jika dia sudah memiliki wanita yang dia suka seutuhnya.
“Ogah, kalau gue gak butuh bantuan lo, gue gak bakal mau di papah sama lo sekarang” ketus Aurora.
“hati-hati lo, benci benci bisa jadi cinta loh” ledek AL.
“Kalau udah punya kenapa masih menghubungi adek gue, telepon sana cowok lo” AL sedikit emosi saat Aurora mengatakan dengan lantang perasaanya pada AL.
“Dia sedang tidak ada disini, sedang di luar negeri, jadi gue gak bisa minta bantuannya” lirih Aurora.
“Jangan pernah lo memanfaatkan kebaikan adek gue, jika sempat hal itu terjadi, lo akan habis di tangan gue” bisik AL dengan suara sinis.
Aurora sedikit merinding mendengar ucapan AL, dia memang hanya terpikirkan Ay tadi, sama sekali tidak terpikirkan Frans orang yang dia sukai. Sudah 2 tahun Frans bersekolah di luar negeri, sejak saat itu Aurora tidak bisa menghubungi pria itu, padahal keluarga mereka dulu mempunyai rencana untuk menjodohkan mereka berdua, tapi sejak keluarga Aurora jatuh bangkrut frans menghilang dan hanya kabar tentang dia bersekolah diluar negeri yang Aurora dengar.
“bang mau kemana?” tanya Ay yang masih digendong EL, mereka berempat sudah sampai di depan mobil yang tadi mereka ambil dari para bodyguard mereka.
“Sampai sini aja, gue bisa cari kos-kosan, makasih sudah bantuin gue ya ay” ucap Aurora terdengar tulus.
“Apaan sih lo Au, lo pasti di ancam abang kan!” Ay menatap sinis abangnya yang masih memapah Aurora.
“gak ada Ay, gue gak enak aja udah nyusahin lo terlalu banyak, kita juga baru kenal beberapa bulan ini, gue gak mau nyusahin lo terlalu banyak” ujar Aurora.
“Lo gak nyusahin gue, bentar gue mikir dulu, bang apartemen lo bisa gak digunakan Au untuk sementara?” tanya ay pada AL.
“Gak Ay, gua gak mau, gue akan cari kos-kosan disekitar sini” putus aurora.
“Lo bakal ditemukan lagi sama abang lo yang sialannya sangat biadab, kalau gak mau nyusahin gue, lo harus mau ikutin apa yang gue omongkan” perintah ay dengan lantang.
Aurora menatap EL lalu menatap AL, kedua pria itu hanya bisa menggidikkan bahu, “Dia seperti mommy kami, sekali dia membuat keputusan tidak ada yang bisa membantah kecuali mommy sendiri yang membantah itu” jelas AL.
“Dia keras kepala” tambah EL singkat.
“baiklah tapi biarkan gue membayar sewa juga” putus Aurora.
“Ahhh baiklah terserah lo” pasrah Al, mereka lalu memasuki mobil dan mulai berjalan menuju apartemen yang sudah Al persiapkan untuk tempat dia tinggal selama kuliah.
...🐼🐼🐼🐼🐼...
Selama perjalanan Ay terus melihat kiri dan kanan, dia merasa pernah melewati kawasan itu, Ay memang tau abangnya sudah memilih apartemen miliknya sendiri, tapi ay tidak tau dimana tempatnya dan bagaimana bentuk apartemen milik abangnya itu.
“kenapa ay?” tanya Al, dia memperhatikan kegelisahan Ay dari tempat dia duduk.
“Ahh, gak ada, ay merasa pernah melewati jalanan ini” jawab Ay.
“Kamu pernah lewat sini? Sama siapa?” tanya Al penuh selidik.
“Ini seperti mengarah ke apartemen milik om brian” Ay memang kembali memanggil Brian dengan om, karena dia masih kesal dengan sikap brian yang tidak memberikan kabar sedikitpun padanya.
“Kapan kamu ke apartemen brian dek?!” seru AL.
Ay yang sadar baru membongkar rahasianya sendiri segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Cerita sama abang atau abang beritahu daddy tentang yang abang dengar barusan “ Ucap al dengan penekanan yang sangat mengerikan.
Ay menundukkan kepalanya dia akhirnya menceritakan pertemuannya dengan brian bukan hanya sekedar jalan-jalan lalu pergi ke rumah uncle axel, tapi pertemuan itu Ay dibawa ke apartemen brian, ay juga menceritakan apa saja yang dia lakukan disana, setelah itu ay di antar pulang ke rumah uncle axel.
“hanya sekedar makan kan dek? Tidak lebih?” tanya al dan El berbarengan.
“I-iya" jawab Ay cepat, dia takut memberitahukan bahwa Brian juga sempat mencuri ciuman pertamanya, bisa semakin murka kedua saudara kembarnya jika mengetahui adik yang mereka jaga sudah dicium orang lain.