My Little Girl

My Little Girl
Bonchap 6. Alasan Ray Berlatih end



Ay mencubit gemas pipi Ray yang terus tersenyum, "ganteng nya mommy, senyum-senyum terus bahagia banget ya?" kata ay sambil memeluk putra satu-satunya itu.


"Banget mom! abang senang banget" pekik Ray bahagia, dia bahkan membiarkan Ay terus menciumi pipinya.


"Daddy sama grandpa gak tau kan mom?" tanya Ray.


Ay menggelengkan kepalanya, "gak tau kok" jawab ay.


"Yes! kalau daddy dan grandpa tau mereka akan membawa bodyguard mereka ray tidak suka" omel Ray.


Ay mengelus kepala putranya itu dengan lembut, "Ray gak boleh gitu, harusnya ray bersyukur daddy dan grandpa sangat sayang pada Ray makanya karena takut Ray terluka, daddy dan grandpa memberikan bodyguard, jadi abang gak boleh benci sama daddy dan grandpa" ay berusaha memberikan pengertian pada ray dengan cara lembut.


"abang tidak benci daddy dan grandpa, abang hanya kesal mom, abang tetap sayang daddy dan grandpa" ujar Ray.


'Cup cup cup' ay memberikan ciuman bertubi-tubi pada Ray hingga membuat bos kecil itu tertawa kegelian. "mom! stop it!" ujar Ray berusaha mengelak dari ciuman yang di berikan Ay.


"Putra mommy ganteng banget sih..." kekeh ay masih terus menciumi Ray.


"Grandma help me!" teriak Ray, tapi Ara hanya terkekeh melihat ibu dan anak itu sedang bergurau di kursi belakang, saat ini mereka sedang menaiki taxi menuju waterpark yang diinginkan Ray.


...🐯🐯🐯🐯🐯...


Sekitar 1 jam mereka berada di waterpark itu, banyak pria yang menggoda ay dan ara karena kedua wanita itu masih terlihat muda walah sudah mempunyai anak.


"Mom sekarang kita makan di mall ya" pinta Ray lagi, dia sudah puas bermain air bersama mommy dan grandma serta teman-teman baru nya.


“baiklah apapun untuk putra mommy yang ganteng ini, kita mandi dulu siap-siap ya” ujar ay dengan lembut.


“ay, mommy perhatikan kamu sedikit pucat, kamu sakit?” tanya ara pada putri nya itu.


Ay menggeleng pelan, “Cuma sedikit kecapekan aja mom, tadi juga gak terlalu banyak makannya” ujar ay.


“ini makan dulu sandwich ini, biar mommy yang memandikan abang” ujar ara, walau ay sudah punya anak Ara tetap saja memperlakukan putrinya itu seperti anak kecilnya.


Ay mengangguk menyetujui permintaan mommy nya, lagi pula kepalanya sedikit berdenyut, jadi dia ingin beristirahat sebentar.


.


Sekitar tiga puluh menit Ara datang bersama ray yang sudah terlihat tampan dan wangi, wajah bos kecil itu terus merekah senyuman lebar.


“mommy!” teriak ray, dia berlari dan memeluk ay dengan kuat. “abang sayang mommy” ujar Ray.


‘Cup’ ay memberikan ciuman pada kening pria kecilnya, “mommy juga sayang abang, kita jalan lagi?” tanya ay.


Ray segera mengangguk dan masuk kedalam gendongan Ay.


“abang~ kasian mommy nya pasti capek seharian main sama abang, gendong sama grandma aja ya?” ujar ara.


“mommy sakit?” tanya Ray dengan wajah sendu.


Ay menggelengkan kepalanya, “tidak kok, aku gak apa mom” ujar ay.


.


Ketika orang itu sampai di halaman depan mall yang cukup mewah, sebenarnya itu adalah mall milik Brian.


“Mom~” panggil Ray lembut.


“kenapa sayang?” tanya ay sambil berjongkok, Ray sudah turun dari gendongannya dan berjalan bersama ay dan Ara.


“Apa daddy dan grandpa sudah tau kita kabur?” tanya ray sendu.


Ay dan ara sama-sama mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana mereka, “belum, emang kenapa?” tanya ay lembut sambil merapikan rambut ray yang sedikit acak-acakkan.


“tapi bodyguard daddy udah ikuti kita mom” bisik ray pada telinga ay.


Mata ay sedikit melotot begitu mendengar ucapan Ray, kepala gadis itu segera berputar melihat ke kiri dan kanan, memang ada beberapa orang yang melihatnya dengan berpakaian santai, tapi ay yakin tidak pernah melihat muka-muka orang yang melihatnya itu. Mata ay kemudian melihat ke arah pintu mal yang sudah ramai dengan pengunjung ralat mereka tidak terlihat seperti pengunjung biasanya.


“mom, kita dikepung penculik” bisik Ay pada ara.


Ara berusaha bersikap normal, “kuatkan gendongan abang, kita lari ke kiri, dan nyalakan sistem bahaya kita” bisik ara, dia memberikan kode pada putrinya itu untuk lari.


Setelah itu kedua orang itu berlari dengan Ray yang sudah berada dalam gendongan Ay.


“Mommy!” pekik ray terkejut karena ay dan ara berlari dengan kencang.


“berhenti!” pekik orang-orang yang mengikuti ay dan ara.


Ay bersyukur putranya itu mengetahui ada yang mengikuti, ray memang sangat sensitif dengan orang-orang yang mengikutinya, makanya baru diikuti sebentar ray sudah tau dia ketahuan.


.


Ay dan ara berhenti di dekat jalan buntu, “sial” umpat ara. “kamu bisa bertarung sayang?” tanya ara pada putrinya.


Ay mengangguk walau dengan wajah yang sudah pucat ay tetap berusaha menjaga tubuhnya agar tetap berdiri dan melindungi putranya.


“abang, abang mau kabulin permintaan mommy kan” tanya ay.


Ray mengangguk didalam gendongan ay.


“Peluk mommy kuat-kuat ya sayang, kalau bisa tutup saja mata abang jangan dibuka” ujar ay dengan lembut.


“baik mommy” jawab ray mengikuti keinginan mommy nya.


“seharusnya kalian tidak lari, kalau begini kalian yang terluka kan?” ujar salah satu pria berbadan besar.


“Siapa yang menyewa kalian? Sebaiknya kalian tidak melakukan ini, suamiku akan datang sebentar lagi” pekik ara marah.


“itu tidak penting nyonya, sebaiknya kalian ikut kami atau kami akan membawa kalian dengan cara paksa” ujar penculik itu.


Ara dan ay sudah bersiap-siap untuk memukul, jangan remehkan ara dan ay, kedua wanita itu sangat jago berkelahi, walau ara dan ay memilih menjadi ibu rumah tangga, kemampuan berkelahi mereka masih sangat hebat, ara dan ay mulai memukul dan menangkis serangan yang diberikan.


Ray di dalam gendongan ay mulai menangis ketakutan, pria kecil itu tau sekarang dia, mommy dan grandma nya sedang dalam bahaya.


‘Cruusshh’ karena tidak terlalu dalam kondisi Fit si penculik berhasil membuat tangan ay terluka cukup lebar. Dan itu membuat darah keluar dari lengan ay.


“Mom~mommy darah” isak Ray saat dia merasakan basah pada kakinya. Mommy nya berdarah dan itu membuat ray semakin menangis kencang.


“Abang, mommy gak apa, abang jangan nangis” ucap ay masih terus bertarung.


“da-darah mommy, mommy berdarah” isak ray. Lagi.


‘Dor dor dor’ mendengar suara tembakan dari atas kepalanya ay baru bernafas lega, dia terduduk di tanah bersama ara.


“sayang sini tangan kamu biar mommy tutup lukanya” ujar ara sambil menyobek bajunya dan mengikatkan pada luka ay.


Para penculik yang mendekat ke arah ay dan ara semuanya tumbang satu persatu, ay dan ara tau itu adalah brian yang datang menggunakan helikopter.


“Sayang!” ay mendengar suara pekikan Brian dia hanya tersenyum dengan wajah yang sangat pucat, mungkin karena darahnya sudah banyak keluar.


Ray masih saja menangis dalam gendongan ay, bos kecil itu merasa tidak berguna karena mommy nya terluka dan dia hanya berada dalam gendongan ay.


“kamu bawa ay lebih dulu, mommy akan menunggu daddy deon” ujar ara.


Ay berusaha tegak tapi pandangan nya langsung mengkabut, mata lentik itu terpejam, dan itu membuat brian semakin panik, pria itu langsung menggendong ay dan membawa istri beserta putranya menuju helikopter.


“daddy, maafin ray” rengek ay yang masih berada dalan kain gendong ay.


Dengan lembut brian mengelus kepala Ray, dia tidak mungkin memarahi putranya itu, tapi brian tau ini adalah cara ray untuk lebih menurut dan mau berlatih beladiri.


...⛈️⛈️⛈️⛈️⛈️...