
Sebuah mobil sport keluaran terbaru berhenti didepan gerbang sekolah XXX, semua mata menuju kearah mobil itu penasaran siapa yang akan datang dan siapa orang kaya itu.
Namun karena kaca jendela yang hitam mereka tidak dapat mengetahui siapa yang berada dalam mobil itu. Tidak lama Ara keluar melalui pintu penumpang, dan pintu penyetir maupun kaca sama sekali tidak dibuka, hanya terdengar bunyi klakson dan Ara hanya melambai dengan malas.
Semua mata memandang iri pada Ara, Lagi-lagi gadis itu mendapatkan perhatian dari semua orang, dari diantar tadi sampai saat ini pasalnya barang-barang yang melekat pada Ara kecuali baju sekolahnya semua bermerek.
"Shasa! pagi!" Ara berlari lalu merangkul lengan Shasa. walaupun tidak suka dengan tingkah kekanakan Ara, shasa tidak bisa melepaskan rangkulan Ara dengan paksa, dia tidak mau image yang dia buat menjadi hancur jika dia ber pelakuan kasar pada Ara.
"Pagi Ra, siapa yang antar?" Shasa berusaha menunjukkan senyuman bahagia saat menyapa Ara.
"Kak deon, orang yang jagain gue" jawab Ara tanpa menatap Shasa.
Lalu selama perjalanan Ara terus saja bercerita panjang lebar pada Shasa, gadis itu memang sangat suka berbicara.
.
Ketika sampai di kelas senyum shasa langsung merekah ketika melihat Dimas sudah duduk di meja nya sambil membaca buku.
Dimas tau Ara dan Shasa baru saja memasuki kelas, tadi Dimas sempat melirik sedikit.
"Pagi dimas" Sapa Shasa dengan nada riang.
"Pagi" jawab singkat dimas, dia berpura-pura cuek dan hanya tersenyum simpul membalas sapaan Shasa.
"Pagi Dim!" Ara juga ikutan menyapa dimas.
"Hmm" hanya dehaman singkat dan tanpa senyuman, Dimas menjawab sapaan Ara.
Dalam hati Shasa bersorak bahagia melihat wajah Ara yang kembali murung, tapi di depan Ara, Shasa mengelus pelan tangan Ara.
"Sabar ya Ra" bisik Shasa. Gadis itu senang dia merasa menang dari Ara, dimas seperti nya semakin membenci Ara.
.
Ara dan Shasa kembali melanjutkan cerita mereka tentang tugas sekolah dan lain-lain. lalu tiba-tiba saja Shasa kembali menanyakan kenapa Ara tidak memaksa abangnya untuk dapat tinggal bersamanya.
"Jadi gimana tinggal dengan orang asing? nyaman?" Shasa sedikit menekankan kata asing dari ucapannya.
Ara menunduk sedih lalu muncul senyuman dari bibirnya, "entah kenapa gue gak ngerasa asing dengan kak Deon, gue seperti udah kenal dia dengan sangat lama, apalagi kak Deon itu baik banget sha, gue yang jadi segan dititipin ke dia, bukan segan tidak nyaman, tapi gue segan karena merasa dia betul-betul menjamu gue selayaknya ratu".
"Biasanya lo itu keras kepala kenapa kali ini bisa dibantah?" tanya Shasa lagi.
Ara sedikit tertawa kecil, "Di keluarga gue semuanya keras kepala termasuk abang gue, setiap keputusan nya tidak bisa di ganggu gugat, gue sebagai yang terkecil dalam keluarga tidak bisa membantah ucapan abang dan kedua ortu gue. lagian emang benar yang dikatakan bang Axel, gue gak mau membuat sahabat gue hancur seperti gue, jika seandainya kita tinggal bersama pasti ada 1 hal yang terjadi gue bakal rubah lu jadi seperti gue, yang nakal, dan gue gak mau itu terjadi sama sahabat gue" balas Ara panjang lebar.
"Bilang aja lo mau dekat-dekat cowok, lo kan lebih nyaman dekat dengan cowok dibanding cewek, teman lo dari dulu cowok, lagian sudah 2 tahun kalian berteman tapi Shasa tetap pintar, posisinya dari juara umum masih tidak ada yang bisa mengalahkan, alasan aja takut nge rubah Shasa, bilang aja lo yang mau mengambil kesempatan detlkat dekat dengan cowok!" sindir Dimas dengan pandangan sinis yang betul-betul menusuk jantung Ara.
Semua mata menuju ke arah meja Ara dan Shasa seperti ada pertengkaran hebat lagi, pasti lagi lagi pembahasan tentang Ara akan menjadi pertengkaran antara dimas dan Ara.
Banyak yang tau Dimas sangat benci dan jijik dengan Ara, karena gadia itu terus saja berusaha mendekati Ara.
.
Shasa berusaha menahan senyuman nya karena Dimas membelanya, ini pertama kalinya dimas bersikap sekasar ini pada Ara, pasti karena semalam dia bertengkar dengan teman kecilnya karena Ara.
'brak' bunyi pintu yang dipukul secara keras oleh trio somplak.
"Lo mau ngapain lagi sih dim! gak cukup kemarin lo marah marah! karena gak puas lo jadikan Ara sebagai samsak lo!" teriak Robi dengan nada kesal yang luar biasa.
Melihat kemarahan ketiga temannya Ara segera menghampiri mereka dan mengusap bahu robi.
"Udah bi, gue gak apa, udah ya biarin aja, anj*ng menggonggong kapila berlalu, oke" gumam Ara dengan suara pelan namun masih terdengar oleh dimas dan Shasa.
Dimas menggenggam erat kursi yang dia duduki, dia kesal dianggap anj*ng oleh Ara.
"Gue ngomong kenyataan nya, siapa disini teman Ara yang cewek selain Shasa? hanya Shasa yang mau berbaik hati berteman dengan gadis nakal dan bodoh seperti dia! tidak ada cewek dikelas ini yang mau berteman dengan dia! itu karena dia gak mau berbaur dengan cewek cewek disini! dia lebih suka dipuja oleh para pria dan siapa yang tau? she still ada virgin?!"
'Plak' Dimas baru saja merasakan sebuah tamparan mendarat pada pipinya, pelakunya adalah Ara.
Gadis itu menatap Dimas dengan kebencian yang luar biasa, "Stop! please stop! gue minta maaf kalau gue ada salah sama lo" Ara mengatupkan kedua tangannya didepan mukanya, "Lo gak tau apa-apa tentang gue, jangan mengatakan hal yang belum tentu kebenarannya! gue minta maaf selama ini selalu berusaha mendekati lo, karena gue dulu suka sama lo, gue ingin perasaan lo juga begitu, makanya gur terus ngejar lo, tapi sekarang lo tenang aja dimas, gue Clara Shahnaz Zoya tidak akan mengejar lo lagi, mulai detik ini gue hanya anggap lo sekedar orang asing dalam hidup gue, dan kita hanya sekedar teman sekelas, lo tenang aja tidak akan ada Ara yang akan membuat lo merasa jijik"
Setelah berkata seperti itu Ara kembali ke tempat duduknya.
Leo, Juan dan Robi mengelus puncak kepala Ara.
"Good job bestie" ucap serempak ketiga orang itu.
Mereka melirik Dimas yang sejak tadi diam membeku, mereka tau, dimas sebenarnya juga mulai menyukai Ara, makanya pria itu sangat kesal mendengar Ara tinggal bersama pria asing, mereka yakin dimas sangat menyesal dengan ucapannya, tadi sebenarnya ketiga orang itu ingin menghajar Dimas karena menghina Ara, tapi sayang Ara lebih dulu melangkah maju untuk membela dirinya.
"Ra lo gak papa?" bisik Shasa, gadis licik itu berpura-pura sedih dengan hal yang baru saja terjadi.
Ara menggeleng pelan dan berusaha menunjukkan senyuman nya pada Shasa, "iya gue ga pa pa".
'tinggal satu lagi hama yang ada di hidup ara' bathin ketiga teman Ara melihat tingkah Shasa.
...🐣🐣🐣🐣🐣...