My Little Girl

My Little Girl
42. Club



Ara memasuki club xxxx dengan santai, padahal sudah jelas pintu club itu bertuliskan tutup, tapi gadis itu tetap saja masuk, alasannya dia mengenal pemilik club dan mukanya sudah dihapal oleh pegawai yang ada.


"Loh Ra, tumben subuh-subuh datang kesini" tegur Toni ketika dia baru keluar dari ruangan pribadi miliknya.


"Bang pinjam satu ruang karoke, Ara lagi pusing, pengen teriak teriak" keluh Ara sambil memegangi kepalanya.


Toni tersenyum mendengar penuturan Ara, "boleh, butuh minuman gak?"


"Butuh, segera bawakan saja kak" Ara segera berjalan mencari ruangan VIP yang masih bersih dan segera masuk kedalamnya.


"Ra, kita balik ke sekolah aja yuk" bujuk Robi.


Ara menggeleng pelan, tangannya sibuk mencari lagu yang hendak dia nyanyikan, agar dia bisa berteriak sepuasnya.


"Ra, lu tau kan kak Deon pasang GPS di badan lu, ntar dia tau lu disini bisa berabe ra" kali ini Leo yang berusaha membujuk Ara.


Ara tertawa keras, "Mana mungkin, kalian percaya saja! hal itu tidak mungkin! paling jika dia tau itu karena kalian" Ara melirik sinis di kalimat terakhirnya.


"Ra, gak ada hal tidak mungkin bagi kak Deon, gue yakin beberapa jam lagi dia datang, lagian ini masih pagi ra, ngapain mabuk mabukan sih" Juan juga ikut ambil andil dalam membujuk Ara.


"Berisik tau gak!" pekik Ara. Air matanya sudah mulai keluar. "Gue benci sama diri gue! gue masih berharap sama dia! kenapa gue masih melakukan itu!?" Ara akhirnya menangis juga, dia tidak dapat menahan emosinya lagi.


Leo, Juan dan juga Robi segera memeluk gadis itu sambil mengelus kepalanya.


"Ya udah menangis lah, sekarang berteriak lah, kami akan menyimpan semua caci maki yang lu lontarkan" putus Leo.


Leo akui, sahabatnya itu pasti sakit hati karena pernyataan Dimas, tidak dipungkiri cinta yang berjalan selama 5 tahun tidak mungkin bisa hilang dalam beberapa minggu bahkan bulan, walau ada benci, cinta itu pasti masih ada bekasnya.


"Huaaaa" Ara menangis semakin kuat, membiarkan ruangan itu hanya terdengar suara tangisnya sendiri. Dan ke tiga sahabat baiknya hanya bisa mendengarkan semua keluh kesah Ara dan tangisnya.


'tok tok tok'


Toni masuk dan meletakkan vodka, beberapa kaleng bir dan wine. "Ni minumannya" tuturnya dan langsung pergi karena tau Ara sedang ingin menangis bersama sahabat sahabat nya saja.


.


Ara meraih kaleng bir di dekat meja, dia sekarang hanya terisak kecil, larangan ke-tiga temannya tidak dapat menghentikan apa yang ingin gadis itu lakukan.


'clliikksss' bunyi botol bir yang ara buka.


"Boleh ya, gue butuh" ara memohon pada tiga temannya yang menatap dirinya intens.


"Huh, hanya satu tidak lebih" ketiganya mengalah, siapa sih yang bisa melarang gadis itu, selain Deon dan Axel tidak akan yang bisa menahan, walau ketiganya menolak juga gadis itu pasti tetap akan meminum bir yang sudah ada ditangannya itu.


...🐤🐤🐤🐤🐤...


Sementara itu, ditempat Deon hari ini, pria itu sangat sibuk karena semalam dia menunda beberapa meeting nya jadi dia sibuk meeting yang tertunda. sehingga telepon dan pesan Leo masih belum dia lihat, dia juga tidak sadar ponselnya berbunyi.


pukul 11 hampir jam makan siang baru dia bisa mendudukkan dirinya di ruangan pribadinya.


"Ahhh, Tak apa ada lagi meeting nya?" tanya Deon sambil menutup matanya sebentar.


"Pukul 1 siang nanti ada meeting di restoran xxx untuk membahas kerja sama di Perancis, dan pukul 4 sore ada meeting dengan presdir Candrama dari perusahaan tekstil". ujar botak.


" Baiklah, berarti aku bisa istirahat sebentar kan?" tanya Deon lagi.


"Bisa tuan".


Deon segera meraih ponselnya, keningnya langsung berkerut membaca pesan dari Leo.


📨 Leo : "Kak, Ara ada masalah di sekolah, sekarang dia sedang kesal dan mau melampiaskan dengan minum minum di klub xxxx, segera datang ya kak"


"Sial gadis nakal itu" umpat Deon. Dengan cepat Deon berdiri dari duduknya.


" Tapi tuan, pertemuan ini sudah dua kali di tunda, ti_"


"Kalau mereka tidak mau bayar saja denda, aku tidak peduli, lagi pula mereka yang ingin menawarkan kerja sama, mereka yang membutuhkan bantuan ku, hmmm lalu, suruh 4 orang bodyguard mengikuti ku, dan kamu menyusul setelah mengurus semuanya".


Botak hanya bisa mengelus dada dan menghembus kan nafas panjang, siapa yang bisa membantah presdir Allinsky jika dia berkata maka perkataan nya adalah mutlak. "Baiklah tuan" Botak menunduk hormat dan segera melaksanakan setiap perintah Deon, jika dia lama maka Deon dipastikan akan mengamuk.


...🐣🐣🐣🐣🐣...


Ara menyanyi sambil sesekali meneguk kaleng bir di tangannya, ini sudah bir ketiga yang dia minum tapi gadis itu masih belum terlalu mabuk, karena gadis itu lumayan tinggi kadar alkohol yang bisa dia tangani.


Ketiga temannya hanya menemani Ara bernyanyi, tapi tidak menyentuh sedikitpun minuman beralkohol di sana, mereka sudah berjanji pada Deon, dan mereka hanya akan meminum, minuman beralkohol itu saat mereka sudah melebihi umur 20 tahun sesuai janji pada Deon.


'Tok tok tok'


Toni kembali masuk ke dalam ruangan itu dengan empat gelas ditangannya.


"Aku membawakan minuman buatan ku, maukah kalian mencobanya?" ujar Toni dengan senyum sedikit aneh.


"Maaf kami tidak minum-minum beralkohol" ucap Leo.


"Ara mau!" Ara mengangkat tangannya tinggi tinggi.


Toni segera mendekati gadis itu, mengambil minuman berwarna pink berbeda sendiri dari ke tiga minuman yang dia bawa.


"kok beda kak" tanya Juan penuh selidik.


Toni berusaha tersenyum ramah untuk menghilangkan kecurigaan ketiga teman Ara. "Ini khusus untuk Ara, kakak mau tau menurut cewek apa minuman ini enak, dan kalian minum aja ketiga minuman ini, gak ada alkoholnya".


Toni meletakkan masing-masing minuman didepan Juan, Leo dan Robi.


" Ra diminum ra" tawar Toni, karena sejak tadi gadis itu hanya melirik minuman pink ditangannya.


"Bir Ara masih belum habis" Ara mengangkat sebelah tangannya yang dia gunakan untuk memegang bir.


"Ayo dong ra, kakak penasaran" paksa Toni.


Leo mengerutkan keningnya mendengar pemaksaan Toni. Dia segera mendekati Ara dan menahan Ara untuk meminum, minuman pink itu.


"Jangan diminum ra, bahaya" tegur Leo.


"kamu kenapa Leo, kakak gak masukkan apapun dalam minuman Ara, kok kamu curiga gitu" gusar Toni kesal.


Leo langsung menatap sinis Toni, "Leo gak bilang apapun loh, Leo cuma bilang bahaya, leo takut Ara terlalu mabuk, bukan curiga kakak masukkan sesuatu di dalam minuman ini".


" Apa kakak benar memasukkan sesuatu dalam minuman ini?" Juan dan Robi segera mendekat ke arah Ara dan leo.


"Ti-tidak" Toni mulai tergagap.


"Kenapa kakak ketakutan?" selidik Robi.


"Akkhhh sial! cepat masuk!" pekik Toni. lalu beberapa saat kemudian masuk empat orang pria dewasa keruangan itu.


"Kakak mau apa?!" Ara mulai ketakutan.


"Mau apa? tentu saja memakan kamu!" Toni tersenyum menyeramkan.


"Sial!" umpat ketiga teman Ara. mereka mungkin bisa melindungi diri mereka, tapi mereka butuh waktu dan tidak akan bisa melindungi Ara sekaligus melindungi diri mereka.


"Kak Deon cepatlah datang" bathin Leo.


...🐥🐥🐥🐥🐥...