
Shasa berdandan begitu cantik, berkali-kali dia menatap tampilan dirinya dicermin.
"Perfect" ucapnya di akhir. Segera saja gadis itu berlari keluar kamarnya.
"Mau kemana?" tanya bundanya saat melihat anak gadis pertamanya itu sudah tampak cantik.
"Kencan sama Kak Allinsky!" teriak shasa cepat, dan dia sudah berlalu pergi meninggalkan bundanya yang sedang termenung.
"Allinsky? Allinsky, perasaan pernah dengar nama itu" gumam bunda Shasa. "Ahh allinsky yang itu, apa benar ya?" Tiba-tiba saja bunda Shasa ingat dengan suami sahabatnya yang bernama Allinsky juga, "tidak mungkin putriku menjerat bapak bapak kan, pasti itu anaknya, wahhh bagus dong kalau putriku suka sama Allinsky malahan tadi katanya kencan, harus kasih tau mitha ini".
Acha segera berlari ke dalam kamarnya, mengambil ponsel yang tadi dia tinggalkan di dekat meja rias.
...🐥🐥🐥🐥🐥...
Shasa sampai duluan di cafe yang sudah ditentukan, ternyata Deon sudah menyiapkan tempat V. I. P bukan karena shasa spesial, tapi Deon tidak biasa menjadi pusat perhatian dan Deon butuh tempat yang privat untuk meluapkan amarahnya.
"Wahh tempat ini bagus banget" Mata shasa sibuk melihat setiap sudut ruangan tidak jera jera gadis itu mengambil foto selvi dirinya sedang ada di ruangan V. I. P.
Begitu selesai foto, dia langsung mengupdate nya ke sosial media miliknya, begitu banyak berondongan pertanyaan dari teman-teman SMP shasa, mereka tampak iri dengan shasa yang bisa memasuki ruangan V. I. P.
Shasa berasal dari SMP yang biasa, hanya ada orang orang dari status biasa dan status dibawahnya yang bersekolah di sana, tapi dengan kepintaran nya dia berhasil mengambil beasiswa di sekolah yang elite, kebanyakan orang orang kaya yang bersekolah di sana, tapi bukannya dia dibulli shasa malah dianggap hebat karena berhasil menjuarai ajang nasional yang diikuti, tidak lupa juga kecantikannya yang sering dipuji, tapi masih kalah cantik dari Ara.
'Ceklek' Shasa terkejut, mendengar suara pintu yang dibuka, di sana Deon masuk bersama asistennya, Shasa langsung tegak dan tersenyum manis ke arah Deon, tangannya hendak menyalami Deon tapi pria itu sama sekali tidak mau mengangkat tangan yang sejak tadi dia masukkan ke saku celananya.
"Akhirnya, kak Al ingin bertemu denganku" gumam gadis itu sambil tersenyum manis.
Kening Deon sedikit berkerut, dia menatap Botak, meminta bantuan, apakah benar yang tadi dia dengar.
"Kak Al?" suara dingin Deon mulai terdengar.
Bukannya takut Shasa semakin tersenyum lebar, "Iya kak Al, bolehkan aku manggil itu".
Deon hampir saja memaki Shasa saat itu juga tapi kemarahan nya ditahan oleh botak, dia tidak boleh langsung menyemburkan kemarahannya begitu saja, bisa bisa hadiah didepannya ini akan mencari cara lain untuk mendekatinya, sekarang yang paling penting mencari tau apa keinginan gadis itu.
"Terserah" jutek Deon. dia sengaja membalas singkat, singin tau reaksi gadis itu.
Sekali lagi Deon terperangah, melihat respon Shasa, gadis itu semakin tersenyum dan bersikap malu malu didepan Deon.
"Apa urat malunya sudah putus, atau otaknya sudah gila?" batin Deon.
"Kak, aku belum memesan apapun, kakak mau pesan apa, aku juga mau di samain sama punya kakak" ucap Shasa dengan nada suara yang mendayu dayu seperti sedang menggoda.
Jika bukan untuk ara nya, meja itu akan Deon banting dan lempar ke arah gadis di depannya itu.
"Saya disini bukan untuk makan, langsung saja ke topik masalah" ketua Deon.
" Ni cewek gila kayaknya" pikir Botak dan Deon berbarengan.
"Ada apa ingin menemui saya" tidak ingin lebih lama bersama gadis gila itu, Deon memilih langsung mengajukan pertanyaan nya.
Tangan shasa yang tadi sibuk memilih milih beku menu segera berhenti, kini shasa fokus, dan pandangan matanya menatap Deon yang masih duduk dengan gaya angkuhnya.
"Bukannya kak Al yang ingin bertemu shasa?" tanya balik Shasa.
Mata tajam Deon langsung menusuk Botak, seperti nya botak salah penyampaian dalam mengatakan pada gadis itu.
"Bukannya dari kemarin anda yang mencari nomor ponsel saya, meminta pada sahabat sahabat saya, meminta pada asisten saya dan mengancam meminta dari Ara, serta berbohong meminta nomor saya dari Ara dan Ara memberikan begitu saja! APA MAKSUDNYA!" teriakan suara Deon terdengar sangat keras diikuti dengan pukulan pada meja yang dilakukan oleh Deon.
Padahal tadi shasa berharap makan bersama bercerita, dan saling mendekatkan diri dengan Deon, tapi kenyataan yang dia dapat sangat diluar ekspetasi nya, Tangan shasa mengeluarkan secarik kertas cek bertuliskan nominal lima puluh juta rupiah.
"Saya mau berterima kasih pada kakak, karena ucapan kakak telah menyadarkan saya, waktu itu saya memang sangat membutuhkan uang makanya saya memilih jalan pintas itu, tapi ucapan kakak menyadarkan saya bahwa mahkota saya itu sangat berarti, jadi saya ingin mengembalikan cek ini pada kak Al, Terima kasih telah menyadarkan saya kak" ucap shasa dibuat sangat menyedihkan.
Shasa ingin mengambil rasa simpatik Deon untuknya, maka dari itu dia mengarang cerita yang Mengyedih kan agar Deon mau melihatnya. Dari rasa simpatik, shasa akan mulai mendekati Deon dan membuat pria itu jatuh hati padanya, itu rencana Shasa.
Tapi shasa tidak tau pria di depannya bukan lah cowok normal, dia pria yang tidak memiliki simpatik pada sosok perempuan, baginya wanita itu terlihat sangat menjijikkan kecuali Bundanya dan juga Ara, selebihnya tidak ada yang bisa mendekati bahkan saudara sepupunya sendiri juga tidak bisa berdekatan dengan Deon.
"Hanya itu?" Sakali lagi Deon berbicara dengan nada ketus.
"I-iya kak"
"Baiklah" Deon memberi kode pada botak untuk mengambil cek tersebut, walau terlihat tidak rela, shasa akhirnya melepaskan juga cek itu pada Botak.
Saat Deon hendak melangkah, langkah kakinya terhenti ketika suara Shasa kembali terdengar dari telinganya.
"Kenapa Ara?" gumam shasa, dia sudah tidak bisa menahan keingintauannya.
Deon tidak jadi berdiri, pria itu kembali duduk dan menunggu lanjutan dari ucapan Shasa dengan alis yang sedikit terangkat keatas.
"Ara adalah gadis yang nakal, kakak tau, dia sangat suka mabuk-mabukan, dia juga suka merokok dan balap liar, setiap hari buat masalah disekolah, dia terkenal sebagai gadis pembuat onar, hanya karena berasal dari keluarga yang lebih kaya, dia bertindak seenaknya, dia hanya kebetulan beruntung lahir sebagai sendok emas, tapi kelakuannya nol besar, tidak ada yang mau berteman dengannya selain aku, dia bersikap kekanakan agar mendapat perhatian para pria, gaya bajunya tidak bisa dikatakan sebagai anak remaja, hanya menampilkan bentuk tubuh yang sexy, karena kaya bisa membeli lembar kunci jawaban di sekolah, karena dia malu selalu berada di posisi terakhir, jadi kenapa dia yang kakak pilih?" Shasa akhirnya mengatakan semua kekesalan yang dia pendam pada Ara. Mata gadis itu sudah mulai memerah menahan tangis.
Gadis itu pikir, Deon akan bersimpati padanya, tapi malah kebalikan, dan dia masih belum mau menerima itu, semua ini karena Ara, Shasa selalu berandai andai jika Ara tidak ada makanan semua perhatian akan tertuju padanya, dia yang akan diperebutkan bukan nya Ara. Sudah capek-capek Shasa berusaha membuat image Ara hancur, tapi Dimas dan semua orang masih memandang kagum pada Ara.
"Kau tanya kenapa Ara?" Deon sedikit tertawa sinis. "Clara Shahnaz Zoya, gadis itu tidak melakukan apapun untuk mendapatkan perhatianku, nakal? justru kenakalannya itu membuat aku ingin mengikatnya dan hanya aku yang bisa melihat kenakalan itu, Mabuk-mabukan dan merokok, semenjak bersamaku, dia menjadi gadis yang baik, Ara lahir dari sendok emas? anggap saja itu keberuntungan yang dia miliki, dia tidak minta dilahirkan sebagai sendok emas, tidak seperti mu, Ara mendapatkan keinginan nya dengan usaha dan kerja keras, bukan bersikap kekanakan seperti ini" Ejek Deon.
Pria itu segera meninggalkan Shasa yang kini tertunduk lesu.
...🐤🐤🐤🐤🐤...