
Hari ini adalah hari pertama ara menghadapi ujian semester kelas, dia terlihat biasa saja, tidak tegang sama sekali, baginya soal ujian itu hanya mainan.
"Ingat ya ra, jangan menjawab secara asal, kakak ingin lihat hasil maksimal milik kamu" peringat Deon, sambil melirik ara yang asik meminum susu kotak yang tadi di berikan bi Arin.
"iya iya, nanti kalau ara dapat posisi satu kasih hadiah ya?" Ara melirik Deon sambil tersenyum nakal.
"kalau masalah hadiah bakal kakak kasih, tapi masih dalam konteks wajar dan positif" Deon sama sekali tidak masalah dalam memberikan apapun untuk ara, karena dia sendiri tidak tau bagaimana cara menghabiskan uangnya yang setiap hari itu bertambah terus menerus.
"Oke, ara akan berusaha, bye bye kakak ganteng" ara segera melompat keluar dari mobil Deon yang sudah berhenti didepan gerbang sekolah.
Sampai sekarang masih banyak yang penasaran siapa orang yang mengantar Ara, pasalnya orang itu tidak pernah keluar dari dalam mobilnya saat mengantar Ara sekolah maupun saat menjemput Ara pulang.
...🐤🐤🐤🐤🐤...
"Pagi Sha" Sapa Ara begitu dia sampai di tempat duduknya.
"Pagi, udah siapkan untuk ujian?" jawab Shasa.
Ara mengangguk dan tersenyum senang, "yup, aku sudah siap".
Shasa sedikit terkejut dengan jawaban Ara, biasanya gadis itu selalu mengeluh dan bersedih setiap ujian datang dan Shasa lah orang yang menghiburnya.
" Hei.. jangan bengong sha, bell masuk udah bunyi" ucap ara lagi.
.
Di kantin saat jam istirahat, Ara, shasa dan tiga trio teman ara berkumpul makan bersama, sejak pertengkaran dengan Dimas waktu itu Ara selalu berusaha menjauhi Dimas, dan ara serta ke tiga temannya tidak pernah berbicara dengan Dimas, mereka kompak tidak menganggap Dimas ada.
"Ra, sampai kapan kamu mau cuekin si Dimas sih?" Tanya shasa sambil menyendok makananya.
"Emang kenapa sih cantik" Ara gemas dengan pipi Shasa yang menggembung karena berisi makanan.
"Kita kan teman sekelas apalagi bangku kita dekat-dekatan, gak baik loh kita berantem kayak gini" Shasa mulai menceramahi Ara.
"ihh gemas banget sih" Ara mencubit pipi Shasa pelan, "Gue gak berantem kok, cuma gue gak mau ngejar-ngejar dia lagi, itu aja" lanjut Ara.
"Benar tu ra, cowok kayak Dimas gak perlu dikejar-kejar mending cari yang lain" Robi yang sejak tadi hanya mendengar kan akhirnya ikut ambil bicara.
"Setuju, mending lu sama kak deon ini aja"
"huk huk" Ara terbatuk mendengar ucapan spontan Leo padanya. "kok bisa kalian nyangkut-nyangkutin kak Deon dalam masalah ini?"
"Habisnya kak deon keren ra, udah beberapa minggu lu jadi anak baik, gak pernah bolos, dan sepertinya kak deon memperhatikan setiap barang-barang yang lu pakai ra" juan ikut menambahkan ucapan Leo.
"gue perhatikan setiap hari loh, barang barang yang lu pakai baru dan bermerek semua, kadang lu gantinya setiap tiga hari kadang 1 minggu, bukan lu kan yang beli?" goda Leo.
Ara segera menunduk melihat sepatu baru yang dia kenakan, padahal dia tidak berniat untuk pamer, tapi tetap saja ada yang memperhatikan perubahan barang-barang yang dia kenakan.
"100 buat lo, emang ini semua dibelikan".
" Wahhh gila ra, kok bisa lu minta?" sorak Robi takjub.
"Gak, ngapain juga gue minta, orang di kamar ganti gue sama di rak sepatu semuanya penuh sama barang-barang untuk gue, gue ke rumah kak deon cuma bawa buku sekolah dan baju sekolah selebihnya dia yang isikan lemari gue, dari pada nganggur yan mending gue pake, ya gak?!"
"Wahhh gila emang sekaya apa kak deon ra?"
"Ntah lah gue gak mau tau" jawab ara cuek, dia memang tidak terlalu memikirkan seberapa kaya Deon.
Sementara Shasa dia sudah meremas tangannya karena kesal, selalu saja Ara, kenapa selalu gadis itu yang hidup beruntung, hidup di limpahkan dengan kekayaannya, hanya modal wajah dia bisa mendapatkan apapun yang dia mau, sementara dia harus bekerja keras untuk mendapatkan nya.
"lu gak segan apa makai barang-barang itu? siapa tau itu milik orang lain, kan Ara cuma numpang disana" sindir Shasa.
"Gak lah, kak Deon sendiri yang bilang semua itu milik gue, kalau ada yang gak disuka boleh beli yang baru katanya" jawab ara santai.
"Makanya gue setuju kalo lu suka sama kak Deon, dari pada Dimas, dikejar-kejar lima tahun eh taunya kayak gini" Leo mengangguk setuju dengan ucapan Robi.
"Kan Dimas kayak gitu karena khawatir sama ara, cuma caranya aja yang salah" Lagi-lagi Shasa berusaha membela Dimas entah apa maksudnya.
"Khawatir sih khawatir tapi gak kayak gitu juga, bilang aja dia gak mau penggemar dia berkurang, hahaha" ledek Robi di angguki dengan kedua temannya.
Ara hanya menggeleng melihat ketiga temannya menjelekkan Dimas, dulu dia yang selalu membela Dimas didepan ketiganya tapi sekarang Shasa yang lebih membela Dimas, Ara juga dulu berusaha membuat ketiga temannya kembali bersahabat dengan Dimas, tapi sekarang Ara hanya bisa diam, dia tidak mau sakit lagi.
Tidak bisa dipungkiri bahwa perasaan cinta ara masih ada, waktu lima tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mencintai seseorang tapi sekarang cinta itu bercampur menjadi benci, kalau kata orang jangan terlalu benci nanti bisa menjadi cinta, Ara malah kebalikannya, karena terlalu cinta malah berakhir benci.
"Iya deh, gue bakal baikan sama Dimas jika Shasa jadian dengan Dimas" putus Ara, agar Shasa menghentikan semua pembelaan nya dan tiga temannya tidak perlu berdebat dengan Shasa.
"Maksudnya?" Shasa tidak mengerti dengan ucapan Ara.
"Kalau gue duluan yang nyapa dia ntar dia ke geeran lagi, masih ngira gue suka sama dia, mending gue berteman seperti pertemanan gue dengan Leo, Robi dan juan setelah Dimas jadian dengan Shasa, dengan begitu tidak ada salah paham, mengerti cantik" jawab ara sedikit panjang.
Shasa mengangguk mengerti dengan jawaban Dimas. Begitu juga dengan ketiga teman Ara, mereka mengerti kenapa Ara tidak mau berteman seperti yang lainnya dengan Dimas, Dimas adalah pria yang sedikit narsis, dia sangat suka dipuja dan dikejar-kejar, jadi jika ada yang menyapanya duluan maka pria itu menganggap yang menyapanya memiliki perasaan padanya.
Tanpa ke empat orang itu sadari Dimas tidak sengaja mendengar ucapan Ara, setelah mendengar itu muncul ide di kepalanya dia akan kembali membuat Ara mengejarnya bahkan Ara mungkin akan kehilangan sahabat perempuan satu satunya dengan rencana yang ada di otak Dimas.
...🐥🐥🐥🐥🐥...