
Ara berlari dengan senang sambil menatap ke kiri dan kanan, tangannya masih merangkul Deon, dan itu tidak lepas sejak awal mereka berlima masuk kedalam Tokyo Disneyland.
"Ra bisa gak biasa aja sikapnya, kasian kak Deon harus jagain anak kecil kayak lu, ntar lu hilang disini, kalau tingkahnya kayak anak kecil gini" ledek Robi dan Juan berbarengan.
Ara menjulurkan lidahnya pada Robi dan Juan, "Biarin, kak Deon biasa biasa aja kok, iya kan kak".
Deon hanya membalas dengan anggukan dan senyuman.
" Kak kok mau sih ngasuh ni anak ayam! pasti capek kan ngawasi anak umur lima tahun ini" Leo juga ikut ikutan membulli Ara.
"Ihh siapa yang anak kecil! Ara ini udah 17 tahun!" kesal Ara.
"Anak kecil ra! masak sukanya ke Disneyland, orang ketempat tempat lain, ini ngajak kami berempat kesini, yang benar aja ra".
" Lagian disini ramai orang ra, ku gak kasian sama kak Deon".
"Disneyland bukan tempat anak kecil aja tau! ini impian Ara, Ara pengen banget kesini, kakak gak apa kan?"
Deon menggeleng singkat dan tersenyum, "Gak apa, udah lanjutin aja mau kemana dan main apa, kakak temani".
Leo tidak habis fikir, Deon sangat sabar menghadapi tingkah kekanakan Ara, pria ini bahkan tidak pernah membantah permintaan Ara, kecuali permintaan itu untuk hal yang dia anggap tidak baik, seperti kemarin, Ara ingin mencoba pergi ke club, hal itu justru yang Deon larang dan Deon bisa membuat Ara memilih ke tempat lain dibanding ke Club.
Deon juga tidak pernah melarang Ara membeli apapun yang dia inginkan berapa mahal barang itu, untung saja Deon kaya, jadi Ara sangat beruntung mendapatkan perhatian Deon.
...🐣🐣🐣🐣🐣...
'Prank'
Bunyi nampan yang jatuh, begitu menarik perhatian pengunjung.
Deon Menatap dingin pelayan yang baru saja menyentuh lengannya. Kemarahan pria itu membuat ke empat remaja di depannya merinding.
Setelah meminta maaf berkali kali dan disuruh pergi oleh Deon, baru pelayan itu pergi.
"Kakak gak apa?" Ara mengelus bahu Deon berusaha meredam kemarahan pria itu.
"Gak apa" Seperti memiliki dua kepribadian, Deon sekarang malah terlihat seperti malaikat, dia tersenyum hangat kepada Ara.
"Kak tangan kakak kenapa?" tanya Juan, karena dia melihat lengan Deon mulai timbul bintik bintik merah dan Deon juga terlihat mulai mengaruk garuk lengan nya.
"Hmm gak apa" Jawab Deon singkat, tapi masih sambil menggaruk lengannya malah sekarang bintik itu mulai timbul di leher dan lengan sebelahnya.
"kayak alergi kak" ucap Juan.
"Kak Deon alergi cewek, orang lain taunya kak Deon gak suka dekat dekat cewek, tapi yang sebenarnya terjadi jika ada cewek yang menyentuh kulitnya, dia akan gatal-gatal di seluruh badannya" perkataan Ara kembali terngiang di pikiran ketiga orang itu.
"Gak apa bentar lagi hilang kok" bohong Deon, gatal gatal itu tidak bakal hilang jika dia tidak mengoleskan salep atau memakan obatnya, malah akan semakin banyak jika dia menggaruk nya terus. Deon lupa membawa salepnya, padahal dia tau hal seperti itu akan terjadi, Akito asistennya juga tidak seperti botak yang siap siaga dengan obat atasannya.
Deon memilih berbohong karena tidak mau mengecewakan Ara, gadis itu masih ingin bermain di Disneyland, dia sangat senang bermain disana, masih banyak permainan yang belum gadis itu mainkan, dia juga ingin melihat pertunjukan pada malam hari yang selalu dia tunggu tunggu. Jadi Deon memilih berbohong agar tidak pulang lebih cepat.
"Jangan digaruk terus kak" Ara menahan tangan Deon yang sibuk menggaruk tubuhnya. Tangan gadis itu mengambil sapu tangannya dan membasahi sapu tangan itu, Ara mengusap bintik bintik merah pada lengan Deon dengan sapu tangan itu, "Kalau kakak garuk terus nanti bakal tambah parah, gak bawa salep nya?" Ara masih tampak sibuk mengusap bintik bintik merah pada tangan Deon.
Deon menggeleng pelan menandakan pria itu tidak membawanya.
"Kita pulang aja?" tawar Ara, dia kasian melihat Deon yang terus merasa gatal.
"Benaran?" tanya Ara sekali lagi.
"Benar".
...🐤🐤🐤🐤🐤...
Deon dan Leo tampak berdiri berjajar menunggu Ara, Juan dan Robi bermain space mountain.
" Kenapa gak ikut main?" tanya Deon.
"Gak suka kak, kakak udah mendingan?" Leo bertanya balik.
"Udah, gak usah khawatir".
" Kenapa kakak bisa kayak gini?"
"Rahasia" jawab singkat Deon sambil tersenyum.
"Kok Ara bisa pegang kakak, dan kakak gak kenapa-kenapa? apa benar yang Ara bilang kakak gak anggap dia wanita?"
"Gak tau juga kenapa bisa seperti itu, semua masih tanda tanya, apa menurutmu aku menganggap Ara seperti tidak sebagai wanita?"
Leo menggeleng pelan, "Justru aku melihat pandangan mata cinta kakak pada Ara, kakak mencintainya?"
"Awalnya penasaran, ada juga wanita yang bisa aku sentuh, lalu semakin lama kenal aku semakin tertarik padanya dan ingin gadis itu semakin bergantung padaku sehingga dia tidak bisa lepas dariku" jelas Deon.
"Ara jika sudah tertarik pada pria dia akan menunjukkan sikap kekanakannya, dia akan manja terus pada orang yang disukainya, saat ini dia masih belum sadar akan perasaannya pada kakak, nanti ketika dia sadar dia akan bersikap lebih kekanakan dari sekarang, apa kakak siap?"
"Aku menyukai semua yang ada padanya, aku akan siap kapanpun itu, tentang pria yang di sukai Ara, apa dia__"
Sebelum Deon melanjutkan ucapannya, leo lebih dulu memotong ucapan Deon.
"Pria itu hanya bisa menyakiti ara, Saat Ara merangkul lengannya dia dengan cepat menepis tangan Ara dan mendorong Ara menjauh, dia suka melihat para pria cemburu padanya yang bisa memperlakukan si cantik seperti itu, Dimas selalu memberikan pengaruh buruk pada Ara, Dia menyuruh Ara belajar minum alkohol jika mau dekat dengannya, dia mengajari Ara balapan liar".
"Apa dia___"
"Tidak terlalu jauh kak, Ara masih suci, dia hanya minum minuman beralkohol dan merokok, serta balapan liar, tapi mengenai hal lebih intim Ara tidak tau sama sekali, paling hanya sentuhan lengan, tidak lebih, Ara belum pernah mencium Dimas" Kembali Leo memotong ucapan Deon ketika melihat wajah khawatir Deon.
"Seperti nya akan sulit untukku mendapatkan hati Ara" keluh Deon pelan.
"Tidak sulit kak, sekarang saja kami tau Ara mulai tertarik pada kakak, sudah aku bilang kan bagaimana ciri ciri Ara jika menyukai seseorang, dan kakak tidak memperhatikan? Ara mulai bergantung pada kakak, yang kami takutkan, kakak akan bosan dengan sikap Ara yang seperti itu"
"Apa diantara kalian bertiga tidak ada yang menyukainya?"
"tidak sama sekali kak, kami hanya menganggap Ara seperti adik, kami akui dia gadis yang cantik sangat cantik malah, tapi hati siapa yang tau akan bertaut kemana, tugas kami hanya melindungi dia dari Dimas yang selalu mengajarkan hal hal buruk padanya, kami takut Dimas mengajarkan hal yang lebih buruk makanya kami bertingkah badboy didepan Ara".
"Terima kasih telah menjaga gadis kecilku, jika disekolah ada masalah yang terjadi pada Ara bisa kasih beritahukan padaku".
Kedua pria itu asik bercerita sambil menunggu Ara dan yang lain kembali dari permainan mereka.
...🐥🐥🐥🐥🐥...