
Brian tertawa mendengar penjelasan Bobby yang mengatakan daddy nya telah lepas tangan dengan Melani.
“jadi bagaimana tuan? Apa tuan akan berbaikan dengan tuan besar?” tanya bobby sedikit takut.
Brian semakin tertawa kuat mendengar ucapan bobby, “baikkan? Emang aku anak kecil? Lars! Kasih tau bobby, sekali aku memutuskan hubungan aku tidak akan pernah berbaikan lagi, kepercayaanku sudah hancur, tidak akan bisa kembali seperti semula lagi, aku sudah memberikan pak tua itu kesempatan berkali-kali, tapi dia malah menyakiti orang yang paling berarti dalam hidupku, oke memang berkat dia aku hadir di dunia ini, tapi semua itu sudah ku balas dengan jerih payah menjadi pria terkuat nomor satu seperti yang dia inginkan, aku sudah membalasnya dengan membalaskan dendamnya, hutangku telah hilang, tidak ada lagi” ujar brian disela tawanya.
“Tapi dia daddy mu Bri, yakin tidak berbaikan? Kasian dia sendirian tidak punya siapapun lagi” Johan berusaha membujuk Brian agar memaafkan Daddy George.
“Bisa saja itu siasat untuk membuat Brian lengah, sudah berapa kali kesempatan yang brian berikan, tapi ditinggalkan, jadi tidak ada lagi maaf, kecuali pria itu memohon ampun pada ay” Leo akhirnya ikut mengeluarkan suara juga.
“Nah itu dia, ucapan leo benar banget, pokoknya bilang pada jonny tetap waspada jangan lengah walau si pak tua sudah menyerah” ucap brian, dia langsung tegak, tidak bisa berlama-lama meninggalkan sang istri yang sedang sendiri.
...🐻🐻🐻🐻🐻...
Mendekati bulan kesembilan satu keluarga mulai berkumpul dan menginap di mansion brian, mansion itu sangat besar jadi banyak kamar kosong yang bisa digunakan oleh keluarga ay.
‘’aaakhhhhsss” Brian tersadar dari tidurnya begitu mendengar suara ringisan, brian langsung terduduk begitu melihat ay meringis sambil memegangi perutnya.
“sayang kamu kenapa?!” ingatan tentang pertama kali ay yang meringis seperti itu kembali muncul di kepala brian, pria itu langsung ketakutan, saat ini dia dan ay juga baru saja melakukan hubungan badan, brian hanya mengenakan boxer dan ay hanya mengenakan kaos milik brian.
“Sakit kak, kayaknya abang mau keluar” ringis Ay.
“Abang?! Ini kok basah sayang?!” Pekik brian terkejut dia langsung menyalakan lampu penerangan di kamarnya, betapa terkejutnya dia melihat ay yang sudah mulai pucat.
Tangan brian dengan cepat menekan tombol merah disamping tempat tidur, tombol itu akan membunyikan satu mansion yang membangunkan orang-orang yang ada di mansion itu untuk siaga ay akan melahirkan.
“baju kak, baju panjang untuk ay” ay masih bisa menahan sakit sambil berusaha mengganti baju yang diberikan brian. Sementara brian sudah panik mode on.
‘Brak brak brak’ pint uterus berbunyi kuat di kamar brian, pelakunya tidak lain tidak bukan adalah daddy deon.
“brian! Cepat buka!! Brian!” pekik Daddy dari luar.
Begitu ay sudah siap memakai bajunya brian langsung menggendong istrinya itu menuju pintu.
“BRi_” ucapan daddy deon terhenti begitu melihat brian yang bertelanjang dada sedang menggendong ay yang terus kesakitan.
“Tahan sayang, Tarik nafas keluarkan, Tarik lagi keluarkan perlahan” mommy ara memberikan instruksi pada ay, agar bersabar.
Sambil berlari semua orang sudah panik melihat ay yang terus meringis.
“MOBIL! SIAPKAN MOBIL!” pekik Daddy deon, dia lupa bahwa ay tinggal dibawa berlari menuju sebelah rumah karena saat ini Siren, Johan dan beberapa dokter serta suster sedang berjaga disana.
“Dad! Tinggal bawa ke sebelah!” pekik al mengingatkan.
Brian tidak menggubris lagi mertuanya yang kelabakan itu, dia membiarkannya saja, Hal utama yang paling brian pikirkan adalah ay, begitu sampai dilantai bawah dia berlari menuju rumah sakit yang sudah dia persiapkan untuk ay.
Dengan perlahan Brian menurunkan ay pada brankar.
“Lo pakai baju sana Bri!” pekik Johan melihat Brian yang bertelanjang dada.
“Urus AY sana dari pada baju gue!” balik memekik, brian segera mengikuti johan dan Siren yang mendorong brankar ay menuju ruang operasi.
“bentar_” tangan johan yang hendak menuju ke bawah tubuh ay langsung dihentikan oleh brian.
“mau apa Jo!” pekik Brian dengan mata menyalang marah.
“Kak!” pekikan ay membuat cengkraman dikerah Johan terlepas, pria itu terbatuk karena brian baru saja mengangkat badannya dengan sebelah tangan.
“Si-ren ce-k bu-ka-an” suara johan terpatah-patah karena tadi nafasnya tercepat oleh Tindakan brian.
Dengan cepat siren memeriksa bukaan yang ada pada ay.
“bukaan 10 udah bisa sekarang” ucap siren.
Brian melihat ay yang meringis, dia akhirnya mengangguk membiarkan para dokter bekerja dengan cepat.
Siren, johan dan dokter lain bekerja dengan cepat, sementara brian membantu memegangi tangan ay yang terus mencengkram tangannya, Brian tidak tega melihat ay yang kesakitan mengeluarkan anaknya.
“jo, operasi aja ya” lirih brian dia tidak sanggup melihat ay yang kesakitan seperti itu.
“ini kepala anak lo udah nongol! Masak disuruh masuk lagi ambil jalan lain!” geram Johan pada brian.
“tapi_”
“KAK! DIAM!” pekikan ay membuat Johan dan Brian diam. “Ini anak mau keluar! Jangan marah-marah sama om jojo!” pekik ay, sepertinya jiwa laki ay keluar disaat-saat yang mengerikan itu.
“terus ay, ambil nafas lalu buang!” hanya dokter siren yang sejak tadi fokus membantu ay dalam proses bersalin.
Sekitar 30 menitan akhirnya bayi brian keluar, tapi dokter Siren menatap Johan dengan pandangan ketakutan. Johan yang tau akan arti pandangan dokter siren segera mengambil bayi itu kedalam gendongannya, dan menyuruh dokter siren untuk fokus pada penjahitan ay agar darahnya tidak banyak keluar.
“Jo! Apa yang terjadi” tanya brian panik.
Johan tidak menjawab, dia mendekatkan wajahnya pada bayi mungil itu, sejak keluar dari perut ibunya dia tidak megeluarkan suara ataupun bergerak, bukan hanya johan tapi semua dokter dan suster yang ada juga ikut panik.
“JO!” pekik Brian.
Johan masih tidak menjawab. Dia masih fokus memberikan memberikan nafas bantuan setelah menghisap sesuatu dari mulut dan hidung bayi itu.
“bangun jagoan!” suara johan akhirnya keluar, dengan pelan pria itu menekan jantung si bayi yang tidak bergerak juga.
“Kak! Abang kenapa?” tanya ay yang sudah mulai terisak.
Brian tidak dapat berkata apapun lagi matanya sudah berair melihat bayinya yang tidak bergerak.
“Abang bangun bang! Ini daddy!” pekik brian yang sudah sadar apa yang terjadi dengan putranya.
Johan terus memberikan nafas bantuan dan pijatan pada dada bayi itu.
“Abang, bangun__” ucapan Johan terhenti ketika dia merasakan pergerakan kecil pada tangan bayi itu, bibir johan mulai membentuk senyuman dan tidak lama terdengar suara tangis yang sangat memekakkan telinga itu. “akhirnya jagoan om bangun juga” ujar Johan dengan air mata yang sudah berlinang.
“Dia tidak apakan jo?” tanya Brian pelan.
Johan mengangguk cepat, “sudah aman, jagoanmu selamat” ucap brian.
Brian langsung memeluk ay dan menciumi wajah istrinya itu. “abang selamat sayang, jangan sedih gitu” ucap brian.
Ay mengangguk dan berusaha tersenyum. Untung saja semua dokter bekerja dengan cepat, ketika bayi brian tidak bergerak, ada yang mengurus bayi dan ibu, siren dengan cepat mengurus ay agar tidak terjadi pendarahan dengan wanita itu, dan johan yang mengurus bayi brian.
Kerja sama tim yang baik itu membuat ibu dan anak selamat.
...🐨🐨🐨🐨🐨...
bonus pict
anak Brian dan ay saat berumur 2 tahun, ada yang bisa kasih ide nama abang?
ni abang kalau lagi nangis