My Little Girl

My Little Girl
22. Janji



Ara sejak tadi menunduk takut, sepertinya dia tau apa yang ditanyakan Deon, gadis itu tidak berani menjawab apapun, dia masih tidak mau mengatakan pada siapapun bahwa dia sebenarnya berpura-pura bodoh.


"Kenapa kamu melakukan itu ara?" Suara tenang Deon semakin membuat Ara cemas, dia tau pria didepannya itu sangat cerdas, dan sebenarnya Ara takut akan ketahuan didepannya, seperti kata pepatah 'Sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga' Ara sepertinya telah ketahuan oleh Deon.


"Kakak janji gak bakal bilang pada kak Axel dan kedua orang tuaku?" lirih Ara pelan.


"Kakak janji, jadi katakan lah apa yang menyebabkan kamu menyembunyikan kejeniusan mu" ujar Deon sambil melipat kedua tanggan nya di perut.


"Ara tidak mau hidup Ara di kontrol oleh papa, saat Ara berumur 4 tahun, Ara melihat bang Axel yang hidup dengan pengaturan papa karena abang termasuk orang jenius, sebenarnya diumur segitu Ara sudah bisa membaca dan berbicara beberapa bahasa, tapi Ara menyembunyikan dari papa, kenyataan itu" Ara menjeda kalimatnya tangannya meremas ujung baju yang dia kenakan.


"Ara melihat bagaimana bang Axel yang tidak bisa menikmati kehidupan remajanya setelah diketahui abang termasuk siswa jenius, jadi Ara tidak mau itu terjadi pada Ara, Ara tidak apa dianggap bodoh dan mendengarkan setiap ceramah mama dan papa tentang nilai Ara, dengan begitu tidak ada yang bisa mengatur hidup ara, jadi kak bisa tetap rahasiakan hal ini?"


Deon tau hal yang dimaksud Ara, karena dia juga mendapat hal yang sama dengan Axel, dan Deon tidak pernah berpikir seperti Ara, yang siap menerima kemarahan orang tuanya agar bisa tetap menikmati hidupnya.


"Sekarang bisakah tidak menyembunyikan itu lagi?" pinta Deon, "kakak janji papa dan mama Ara tidak akan mengatur hidup Ara, Ara masih bisa tetap bebas melakukan apapun yang Ara inginkan asal masih dalam hal wajar" lanjut Deon.


"gak! kakak gak tau bagaimana papa dan mama! mereka pasti akan menyuruh dan melakukan hal yang mereka inginkan, Ara pasti akan kehilangan kebebasan Ara" Ara menggeleng dia tidak mau menjadi boneka seperti abangnya Axel.


Deon melangkah dan duduk disebelah Ara, tangannya segera menggenggam tangan Ara yang terus bergetar.


"Percaya sama kakak, tidak perlu menyembunyikan ini lagi, kakak akan menjamin kebebasan Ara tidak akan direnggut" ulang Deon sekali lagi.


Deon ingat Axel pernah bercerita padanya tentang kedua orang tuanya yang meminta maaf karena telah merebut kebebasan remajanya. Setelah jatuh sakit papa Axel menjadi tau arti kebebasan yang diinginkan Axel, dan dia memohon maaf pada Axel, tapi papanya tetap tidak bisa memberi kan kebebasan sepenuhnya pada Axel, karena Axel harus menggantikan dirinya yang jatuh sakit.


Axel memaafkan perbuatan kedua orang tuanya dengan janji, tidak akan merenggut kebebasan adiknya Ara, makanya Deon bisa mengatakan janji itu pada Ara.


Deon masih belum mau memberikan alasan kenapa dia bisa berjanji seperti itu pada Ara, tapi dia ingin gadis itu percaya pada janjinya.


"Tapi bagaimana kalau__"


"Kalau itu terjadi kakak akan menculik mu untuk hidup bersama kakak, apakah kamu benci hidup bersama kakak?" potong Deon cepat.


Ara menggeleng pelan, "Aku senang tinggal bersama kakak, kakak tidak membuatku kesepian".


" Jadi kamu mau menunjukkan kehebatan mu di ujian besok?" tanya Deon lagi.


Ara mengangguk cepat dan tidak lupa gadis itu menunjukkan senyuman manisnya, "baik bos" kebiasaan Ara sekarang setiap mendapat perintah dari Deon.


Deon mencubit gemas pipi Ara, "Ya udah lanjutin belajarnya, kakak akan memeriksa kerjaan kakak dulu".


" Siap bos" Ara kembali memberi hormat.


...🐀🐀🐀🐀🐀...


Pukul sembilan malam Deon masuk ke kamar Ara sudah lengkap dengan pakaian tidurnya, sejak hari pertama Deon mengetahui penyakit insomnia Ara, Deon selalu menemani gadis itu tidur ditempat tidur.


Paginya dia akan bangun lebih dulu dan meninggalkan Ara yang masih terlelap.


"Belum tidur?" tanya Deon ketika masuk dalam kamar Ara.


Ara menggeleng, menepuk sebelah tempat tidurnya agar Deon segera menuju ke sana.


"Besok Ara ujian, Ara pengen cepat tidur" rengeknya sambil bertingkah seperti anak kecil.


.


Gadis itu menjadi lebih manja dan penurut dengannya.


"ra bagaimana jika tidur sendiri?" Tanya Deon sambil mengelus punggung Ara.


Ara menggeleng pelan, "Gak berhasil Ara udah coba tadi" Ara masih menjawab Deon tanpa menatapnya, dia masih betah berada di dada bidang milik Deon.


"Kamu kan cewek ra, gak bisa selamanya seperi ini?"


Ara melepaskan pelukannya dan memunggungi Deon, "Ya udah besok Ara coba sama teman Ara aja" gerutu Ara.


Deon segera membalik tubuh Ara dan memeluk gadis itu, "jangan coba-coba melakukan itu! kakak tidak terima!"


"jangan coba-coba melakukan itu! kakak tidak terima!" beo Ara. "Kakak kan gak anggap Ara cewek, jadi gak apa dong terus seperti ini setiap malam" kesal Ara.


Deon mendesah panjang, dia sebenarnya suka suka saja memeluk bara seperti itu, cuma dia juga ingin melepaskan kebutuhan biologisnya setiap pagi sama siapa? masak iya dia kembali mem p*rawani sabun lagi.


Deon memang punya alergi cewek, tapi dia itu adalah cowok normal, yang jika setiap hari disuguhi dan dipeluk dan merasakan buah milik Ara, dia pasti akan bernafsu juga.


"Liat aja jika waktunya tiba" gumam Deon pelan.


"Maksudnya kak?" tanya Ara bingung.


"Tunggu waktu buahnya matang ya Ara, dan buahnya sudah sah" ujar Deon Ambigu.


"Ara gak ngerti, buah apa kak?" kalau urusan pelajaran Ara memang bisa dikatakan jenius tapi dalam urusan kedewasaan dan hal hal yang dewasa, Ara masih dikatakan polos.


"Udah tidak usah dipikirkan, tidur aja, besok kan ujian" perintah Deon.


Ara segera kembali menuruti perintah Deon, gadis itu semakin mengeratkan pelukannya pada deon dan itu berhasil membuat Deon menahan nafasnya cukup lama.


"coba sudah lulus sekolah, udah aku makan kamu ra" bathin Deon.


Lima menit kemudian Ara memang langsung tertidur lelap, entah sejak kapan Deon menjadi obat tidur Ara, selama Ara menghirup aroma Deon dan memeluk pria itu Ara akan tertidur hanya dalam waktu lima menit, tapi jika tidak ada Deon dia tidak akan bisa tidur, entah apa alasannya, Deon sama sekali tidak tau.


Seperti alasan kenapa Ara tidak membuat alerginya kambuh seperti itu Deon tidak mengetahui kenapa Ara bisa tertidur dengan cepat jika sudah dia peluk.


'ting' sebuah pesan muncul dalam ponsel Deon.


πŸ“±Angga : "Kami sudah melakukan penelitian, sabtu depan bersiaplah melepas keperjakaan mu!" Pesan yang diberikan Angga apadanya.


"Apanya yang perjaka, aku sudah pernah melakukan itu, mereka saja yang tidak tau" gumam Deon dalam hati.


...🐣🐣🐣🐣🐣...


bonus foto saat pagi hari