
Begitu Ara masuk kedalam kelasnya, dia langsung disuguhi beberapa pertanyaan dari Shasa, Shasa begitu penasaran kemana Ara pergi setelah diusir dari kelas.
"Aku gak apa sha, kamu tenang aja" jawab Ara santai.
"Lalu lu bolos kemana Ra?" tanya Shasa penuh selidik, "Kakak asuh lu tau kemana lu bolos? bukannya lu dilarang bolos ya?" lanjut nya lagi.
"iya tau, dan gue di hukum, ya gitu aja sih"
.
"Lu benaran gak apa kan Ra?" Dimas yang baru sampai Kelas ikutan menyampaikan kekhawatiran nya pada Ara.
Ara mengangguk dan berusaha tersenyum, "Iya gue gak apa" jawab gadis itu singkat.
"Muka kalian bertiga kenapa pada bonyok gitu?" giliran Shasa menyindir Robi, Juan dan leo.
"Menjadi pahlawan" jawab Robi singkat diiringi seringai tawa yang ditujukan pada Ara.
"Hahaha, maaf ya bro, gara-gara gue muka kalian jadi kayak gini".
" Lu minta maaf ya minta maaf, jangan malah ketawa cantik!" ucap Juan yang tidak terima di tertawan.
"Hukuman apa yang kak Deon kasih?" kali ini Leo yang berbicara.
Ara mengingat hukuman yang dia Terima tadi malam lalu mukanya berubah merah seperti kepiting rebus setelah mengingat lebih jauh saat dirinya didudukkan di pangkuan Deon, itu juga hukuman bukan?
"Woii, mikirin apaan, travelling nya jauh banget pasti sampai muka merah gitu" ledek Juan.
Ara segera memegang kedua pipinya yang bersemu merah. "Gak ahhh, lu tu yang pikirannya sering traveling kemana mana".
" Iya-iya gue lagi yang salah".
"Princess mah emang selalu benar" serentak Leo dan Robi.
"Betul betul betul" ucap Ara, ia mengatakan itu persis seperti pengucapan tontonan anak sejuta umat yang botak botak itu loh.
"Ra, pembahasan kemarin, jadi belajar bareng?" Shasa ikut me nimbrung dalam pembahasan ke empat orang itu.
"Jadi dong".
"Gue dan shasa boleh ikut? kita kan teman ra" Dimas juga ikut dalam pembahasan belajar bersama itu.
Ara mengangguk pelan dia sudah tidak bisa mengelak lagi, atau mengatakan tidak, karena tujuan kedua orang itu baik, walau Ara memang ingin menghindari Dimas, dia tidak boleh terlihat seperti menghindari takutnya Dimas menganggap Ara masih memiliki perasaan pada Dimas.
"Asik! kita belajar di rumah kamu kan Ra?" kata Shasa dengan nada yang begitu bahagia.
Juan, Robi dan Leo hanya saling melirik dan menunjukkan raut muka kesal. tapi ketiganya tidak bisa melarang kedua manusia itu untuk ikut karena si tuan rumah sudah memberikan izin.
"Iya kak Deon udah izinin kok" jawab Ara.
"Wahh asik dong, ra kak asuh mu sukanya apa sih?"
Juan, Leo dan Robi melirik sinis kearah Shasa, ketika gadis itu bertanya pada Ara.
"Suka? suka apa maksudnya?" kata Ara sedikit tidak mengerti.
"Ituloh makanan ra, kakak asuh Ara suka apa?"
"kenapa nanya nanya gitu?" bukan Ara yang bertanya melainkan Dimas, dia sedikit tidak suka kekasihnya bertanya tentang pria lain.
"Dim, jangan cemburu dong, maksud gue tu baik, kitakan bertamu ke rumah orang pasti bawa oleh oleh dong, segan loh datang dengan tangan kosong". Shasa berusaha mengelak pertanyaan Dimas, dia memang selalu bisa membuat Dimas percaya padanya. " Jadi ra apa yang kak Al suka?" lanjut Shasa lagi.
"loh namanya kan Allinsky, boleh dong gue panggil kak Al" ucap Shasa dengan sangat santai.
"tanya orangnya aja kalau tentang panggilan" sinis Ara, dia merasa tidak suka Shasa bersikap sok akrab dengan Deon.
"Loh, lu kenapa sih ra, kok marah gini, gue nanyanya baik loh, iya deh gue gak panggil kak Al, cemburu banget sih, kamu kan cuma adik asuh nya emang boleh kamu punya perasaan sama kakak asuh mu" sindir Shasa, dia berusaha mengompori pemikiran Ara, dan terbukti sekarang Ara sedikit melamun memikirkan Deon.
Ara akui, dia mulai tertarik pada Deon dan Ara juga merasa nyaman dengan pria itu. Tapi Deon tidak pernah bilang sayang padanya, dia melindungi Ara seperti Adik, mungkin saja kak Deon baik padanya karena dialah satu-satunya wanita yang bisa pria itu sentuh, dan itu karena Deon tidak menganggap nya wanita pikir Ara.
"apa memang benar gue gak boleh berharap pada kak Deon" batin Ara berkata.
"Boleh aja kok Ara suka sama kak Deon, mereka kan tidak punya hubungan darah, kenapa hal seperti itu harus lu tanyakan?!" Leo yang sudah mulai risih dengan pertanyaan Shasa mulai ikut berbicara.
"Mereka kan beda umur 10 tahun, wajar dong gue bilang gitu, emang mau Ara di bilang peliharaan sugar daddy?" Shasa kembali menanam kan pikiran negatif lagi dan lagi pada Ara.
"Terus, kalau dengan Ara gak boleh, dengan lu boleh gitu?!" Juan berkata langsung pada Shasa, dia tau gerak gerik wanita yang tertarik pada pria.
"Ahh, apaan sih, gue mana mau dekatin pria yang umurnya 10 tahun diatas gue, lagian gue udah punya Dimas" elak Shasa sambil memegang tangan Dimas.
Ara melirik tangan Shasa yang memegang tangan Dimas, sedikit sakit tapi tidak sesakit kemarin, Deon berhasil membuat Ara kembali mengingat perkataan Deon ketika Ara duduk di pangkuannya dan itu malah membuat Ara kembali bersemu merah.
"Iya Shasa punya gue, kenapa kalian bilang seperti itu padanya? Shasa benar umur Ara dan kakak asuhnya beda jauh, dan akan menjadi pembicaraan orang-orang jika mereka bersama?"
"Benarkah?" tanya Ara dalam hati.
"Umur bokap nyokap gue juga beda jauh, mereka beda umur 12 tahun, kehidupan keluarga gue baik baik aja, cuma mereka sibuk berduaan, kemana papa gue pergi mama gue selalu harus ikut, papa gue gak mau pisah dari istri kecilnya, dan itu tidak menjadi gunjingan di mata masyarakat, malah mareka iri melihat pasangan seperti bokap nyokap gue" Jelas Juan, dia sedikit tidak suka ketika orang membicarakan masalah umur.
"Udah, jangan bahas-bahas umur, itu urusan gue sama kak Deon, dan sha gue gak tau kak Deon suka cemilan apa ya__"
"Loh kok bisa gak tau? lu numpang di rumah nya loh Ra, harusnya lu tau sebagai beban kak Al, lu harusnya tau" potong Shasa.
"Ara gak perlu mengetahui itu, dia bukan beban bagi kak Deon, sehingga dia perlu menjilat kak Deon dengan memberikan apa yang kak Deon suka, justru kak Deon yang tidak ingin Ara pergi darinya" sindir Robi dan Leo berbarengan.
"Ehh sorry ra gue gak maksud menghina lu" ucap Shasa pelan.
"Gak apa" jawab Ara singkat.
...🐣🐣🐣🐣🐣...
🎼 untuk ke tiga kalinya ponsel Deon berdering
Deon hanya melirik nomor asing itu dan membiarkannya begitu saja.
"Ada apa tuan?" Botak yang tau kebingungan Deon segera bertanya.
"Tak, gue bingung sama nomor asing ini" Deon memperlihatkan layar ponselnya yang masih berdering pertanda nomor masuk.
"Ini bukan nomor bunda, tapi aku gak tau nomor siapa, yang mengetahui nomor ponselku hanya, bunda, papa, kamu, Ara, tiga trio teman ara, Axel, orang tua axel dan ara, Angga serta yang terakhir Andri, bahkan klien kita tidak ada yang tau nomor ponsel pribadi ku, ini pertama kalinya ada nomor asing yang masuk"
"Apa bunda tuan? bunda tuan kan sering mengganti-ganti nomor katanya bosan dan kadang untuk keberuntungan dalam mencari jodoh tuan".
Deon mengangguk setuju, tapi jika itu bundanya, bunda Deon akan mengirim pesan bahwa itu dia, tapi ini hanya telepon tidak mengirim pesan satupun.
"Apa perlu saya selidiki tuan?" Tanya botak karena tuannya masih saja diam menatap ponsel yang berdering.
"Ya selidiki saja".
...🐥🐥🐥🐥🐥...