My Little Girl

My Little Girl
31. Video Call



Ara melamun manatap jalanan malam melalui balkon kamarnya.


"Haaa" hembusan nafas panjang ara lagi lagi terdengar panjang. beberapa hari ini Shasa menghindarinya, Ara sudah berusaha menghubungi Shasa tapi sahabatnya itu tidak mau menjawab atau membalas pesannya.


Tiba-tiba sebuah tangan memeluk Ara dari belakang, Ara menoleh dan melihat Deon yang memeluknya erat.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Deon lembut.


Ara menggeleng pelan, "Tidak ada kak".


" Jika tidak ada kenapa sejak tadi kakak mendengar suara hembusan nafas mu yang berat? apa ini karena Shasa?"


Ara kembali menoleh menatap Deon, "Dari mana kakak tau apa trio badboy itu yang mengatakan?"


Deon mengangguk pelan, "mereka menceritakan sedikit tentang sahabatmu Shasa pada kakak, dan kakak rasa kamu tidak salah sedikit pun".


" Shasa marah karena aku tidak menganggap nya sahabat kak, padahal dia menganggap ku sahabat baiknya"


"Jika dia sahabat mu, dia akan menerima alasan yang kamu berikan dan tidak akan marah seperti ini" Deon berusaha membuka mata Arab tentang arti persahabatan.


Ara menggeleng pelan, "kakak tidak mengerti, kakak tidak tau rasanya menjadi sendiri, hanya Shasa satu satunya perempuan yang mau berteman dengan Ara, yang lainnya takut berteman dengan Ara, mereka takut Ara akan merebut kekasih mereka, mereka takut ara akan merebut perhatian orang orang sekitar mereka, mereka menganggap ara anak nakal karena itu mereka takut terpengaruh buruk oleh ara".


Deon mengeratkan pelukan nya, "Baiklah kakak minta maaf, ini salah kakak, karena takut alergi kakak akan kambuh terus, kakak tidak membolehkan kamu membawa shasa, maaf ya, kamu jadi harus bertengkar dengan shasa gara-gara kakak".


Ara segera membalik badannya menghadap deon. matanya menatap mata jernih deon yang dapat membuatnya tenang dan hanyut dalam kenyamanan.


"Maaf, ini juga bukan salah kakak, ara tidak seharusnya seperti ini, Terima kasih sudah mengajak ara dan teman-teman ara liburan kesini kak" Ara membenamkan kepalanya pada dada bidang deon, dengan begini perasaan nya sedikit lebih tenang.


...🐤🐤🐤🐤🐤...


Deon dan Ara sudah berada di tempat tidur, ara terlihat sangat kelelahan, setiap sentuhan Deon pada punggung dan kepalanya seperti nyanyian tidur padanya.


🎼 baru saja Ara mau mulai memejamkan mata, suara dering ponsel kembali membuka lebar mata Ara dan Deon.


Dengan malas, Deon meraih ponselnya, dan tertera nama bundanya di sana.


"Kenapa tidak kakak angkat?" tanya ara bingung.


" Sakit kepala dan telinga jika mengangkat nya" gerutu Deon.


Tapi suara ponsel itu tidak juga berhenti dan membuat ara kesal. Dengan gerakan kilat gadis itu mengangkat nya dan menempelkan ponsel itu pada telinga Deon.


📲 "Allinsky Deon Prananta!!! mau sampai kapan kamu melarikan diri dari bunda! bla bla bla" Suara bunda Deon terdengar sampai keluar.


Ara menahan tawanya mendengar celotehan bunda Deon. Sementara Deon melirik Ara dengan sinis. Bisa bisanya gadis itu bahagia di atas penderitaan nya.


'Cup' Deon mengecup Bibir Ara dan sedikit **********.


"Bayar hutang!" ucap Deon tanpa suara pada ara.


Muka Ara langsung bersemu merah, dia memejamkan matanya berpura-pura untuk tidur, gadis itu tidak mau memprovokasi Deon lagi, bisa bahaya jika terjadi hal yang diinginkan.


📲 "Bun, udah dong, Deon capek mendengar celotehan bunda".


📲 " Kamu pasti bohong kan pada bunda! mau berapa lama lagi Deon! kamu sudah umur segitu, tapi masih belum punya pacar, apa kamu Impoten?"


Ketika mendengar bunda nya mengatakan itu Deon Segera melirik pada ara yang ada didalam dekapannya, seperti nya gadis itu tidak mendengar ucapan bunda nya karena sudah tertidur nyenyak.


Ara memang akan cepat tidur jika sudah berada dalam pelukan Deon, entah apa alasannya, Deon seperti obat tidur Ara, begitu pula dengan ara, gadis itu menjadi obat bagi Deon yang dianggap impoten.


📲 "Deon benaran jujur bun, cuma Deon masih dalam tahap pendekatan, wanita yang Deon pilih masih sekolah, Deon tidak mau mengganggu masa remajanya dengan masalah percintaan" ucap Deon dengan nada pelan.


📲 "Kamu pasti bohong! bunda masih tidak percaya kalau kamu tidak menunjukkan buktinya pada bunda!"


📲 "Bukti?"


Tiba-tiba saja otak Deon terpikirkan ide gila, Pria itu menarik selimut yang ara kenakan hingga menutupi hidung Ara, dan hanya terlihat mata serta rambut panjang ara yang terurai serta sebelah tangan Deon yang masih sibuk mengelus puncak kepala Ara.


📲 "Sekarang pindah telepon ini menjadi video call" pinta Deon dengan semangat.


📲 "Tapi katanya bunda mau bukti_"


Baru Saja Deon berkata seperti itu, bunda Deon sudah memindah teleponnya menjadi Video call.


📱"Buktinya mana?" tanya bunda Deon dengan cepat.


Deon mengalihkan ponselnya pada Ara yang terlihat tertidur.


📱"Kyyaaaaa Deon ini benaran kan?? ya ampun ya ampun kalian telah melakukan apa?" suara girang bunda Deon terdengar dari ponsel.


📱"bun, bisa kecilkan suara bunda, dia kecapekan, nanti bisa terbangun gara gara bunda".


📱"Ini benaran kan sayang? bunda gak mimpi? tapi katanya dia sekolah, kenapa kamu sudah membuat dia kecapekan? kamu tidak boleh merusak anak remaja sayang"


📱"Gak takut Deon impoten?"


📱"Ya ampun, gak gak, boleh kok kamu rusak, aduh gak boleh.. ehhh boleh, ehhh gak jangan" Bunda Deon terlihat kelabakan.


Deon terkekeh melihat wajah bunda nya yang terlihat cemas bercampur senang.


📱"Jadi mana yang benar?"


📱"gini aja, kamu boleh merusaknya, tapi bersumpah sekarang juga pada bunda kamu akan menikahinya dan tidak boleh kamu tinggalkan, bersumpah sekarang Deon" Raut muka bunda Deon terlihat serius.


📱"Deon berjanji dan bersumpah di hadapan bunda yang Deon sayang, Deon tidak akan berpaling kelain hati dan akan menikahinya".


📱"Bagus, sekarang kamu boleh merusaknya, kyyaaaa! ingat pakai pengaman kasian dia masih sekolah" suara bunda Deon terlihat bersemangat.


Deon sama sekali tidak habis pikir dengan bunda nya, dia mengajar kan hal tidak baik pada dirinya.


📱"Bun, Deon capek mau tidur, jadi besok saja ya lanjut ceritanya".


📱"Iya sayang selamat tidur, sampaikan salam bunda pada menantu bunda ya" suara girang bunda masih terus terdengar.


Deon tertawa kecil setelah telepon dimatikan. Matanya melirik pada wajah Ara yang terlihat damai dalam tidurnya.


"Little girl sepertinya kamu benar benar tidak bisa lari lagi dariku, aku sudah bersumpah didepan bunda walau hanya karena salah paham"


Deon mengecup pelan kening Ara dan mulai memejamkan matanya sambil memeluk erat Ara.


...🐣🐣🐣🐣🐣...


Hari ini Shasa berencana bertemu dengan Meli, karena meli akan jalan-jalan dengan Angga lagi.


Shasa berniat ingin membujuk Angga untuk memberikan nomor ponsel milik Deon. Kemarin andri tidak pernah mau memberikan kontak Deon pada Shasa, mau berapa kali pun Shasa memohon.


"Sha! nunggu lama?" Meli datang bersama angga.


Shasa menggeleng pelan, "Tidak aku juga baru datang" Shasa menjawab sambil menatap Angga.


"Berhenti menatapku seperti itu, mau seperti apapun kalian berdua memohon aku tidak akan memberikan nomor kontak sky, jika aku memberikan pada kalian, aku akan mati ditangan sky".


Seperti tau dengan maksud tatapan Shasa dan meli, Angga langsung menyatakan penolakan sebelum Shasa mengatakan apapun.


" Tapi kak, kakak tidak mau melihat teman kakak jadi normal, aku dengar teman kakak tidak mau dekat dekat wanita, aku yakin aku bisa membantu nya" Shasa berusaha membujuk Angga.


Angga tertawa keras, dia baru pertama kali lihat cewek yang seperti Shasa, begitu percaya diri dengan kecantikan dan kehebatan pada dirinya.


"Kalau gitu bagaimana kalau kita barter?" tawar Angga.


"Barter? barter dengan apa?" tanya Shasa dengan begitu semangat.


"Melihat dirimu aku yakin, kamu masih virgin, kamu masih belum puas dengan lima puluh juta yang diberikan Sky, dan berusaha mendapatkan sky agar bisa mendapatkan lebih, jadi bagaimana kita barter, aku akan mempertemukan mu dengan Sky dan memberikan nomornya tapi kamu berikan keperawanan mu padaku" Angga menatap Shasa dengan angkuh, gadis didepannya tidak akan menyerah begitu saja untuk mendapatkan ikan segar didepannya, jadi Angga harus memutar otaknya agar Shasa mau mengerti dan menyerah dengan cepat.


"Jika tidak mau, silahkan cari sendiri biodata dan cara untuk bertemu dengan orang nomor satu se-asia" Lanjut Angga lagi.


...🐥🐥🐥🐥🐥...