My Little Girl

My Little Girl
Extra 11. Melahirkan



Bulan 9


“lakukan yang benar, itu terlalu keras”


Axel menghela menarik nafas Panjang dan Kembali mengeluarkannya. Jelas sekali dia sedang merasa kesal. Tangannya bergerak lagi dengan tempo sesuai keinginan adik tersayang didepannya, sudah tiga puluh menit pria tampan itu memijat kaki Ara untuk memenuhi keinginan Wanita hamil itu.


Jika dia tidak mau melakukan itu maka Bodyguard nomor satu ara akan memarahi nya, tidak hanya bodyguard 1 ada dua bodyguard lagi yang siap memarahi Axel jika tidak menuruti permintaan ibu hamil itu.


“Axel, lakukan yang benar sesuai yang adikmu bilang!” Bodyguard satu berbicara siapa lagi kalau bukan papi tercintanya.


Axel memelas pada ayah deon sebagai bodyguard nomor 3, tapi pria itu hanya menggeleng tidak mau membantunya. Kini harapan satu-satunya axel adalah adik iparnya sebagai bodyguard nomor 2.


“Sayang, abang pasti capek kakak gantikan ya”.


“Gak mau! Ini bawaan bayi” gerutu ara.


“Mau sampai berapa bulan ngidamnya dek, ini terlalu lama untuk ibu hamil” gerutu Axel.


“Adek kan hamil kembar 3 jadi wajar dong lama, ngidamnya ganti-gantian”.


“Ohhh benar juga” ucap serempak papi, mami, bunda dan ayah.


“Kok kalian malah belain!” seru Axel gak terima.


“yang dikatakan Ara ada benarnya juga Xel, jadi bersabarlah ya, paling beberapa hari lagi lahiran” ucap mami dengan mengedipkan sebelah matanya.


‘puk’ Deon menepuk pelan bahu Axel, “Sabar bro, beberapa hari lagi”.


“emang kampr*t satu keluarga kompak mengerjai gue” batin Axel.


“Kak, kipas yang benar” Mau tau apa yang sedang dilakukan Deon dan yang lainnya?


Saat ini mereka semua sedang menonton di ruang keluarga, Axel memijat kaki ara, papi dan mami duduk tidak jauh dari ara sebagai penjaga, jika axel tidak mau menuruti permintaan ara. Ayah dan bunda disisi satunya lagi, sama untuk mengawasi axel dan deon. Sementara deon asik mengipaskan Ara menggunakan kipas tangan, ara bilang dia ingin merasa jadi ratu, makanya dia sekarang sedang dimanja bak ratu.


“Kak, anggurnya”


Deon bergerak mengambil anggur untuk dimasukkan kedalam mulut ara yang terbuka. Memang persis ratu bukan?


“Aku ingin minum susu” rengek ara kemudian.


“Tapi kamu baru meminumnya lima menit yang lalu sayang” ucap pelan Deon.


“Tapi aku menginginkannya lagi” rengek ara tidak mau kalah.


“Apa itu tidak terlalu berbahaya untuk bayi kita? Ahhh baiklah baby”


Deon tidak bisa menolak lagi, dia beranjak pergi berjalan menuju ke arah dapur saar ara memasang raut wajah andalannya lagi. Ara sudah meminum 3 gelas susu ibu hamil dalam waktu kurang dari dua puluh menit. Dan itu artinya ini gelas ke empat dari dua puluh menit tersebut.


Sekarang gadis kecil itu terlihat seperti monster berperut buncit.


“Bang~” Panggil Ara.


Saat ini Axel fokus pada tontonan yang di tayangkan pada tv.


“Apa?” jawab Axel tanpa menoleh pada adiknya itu.


“Bang~”


Axel akhirnya merelakan tontonan menariknya karena ara Kembali memanggilnya, “Ara kamu kenapa?”


Mendengar teriakan Axel, mami dan bunda langsung mendekati Ara.


“Kenapa sayang?”


Ara tidak mengeluarkan suanya lagi, gadis kecil itu malah memasang wajah yang membuat semua orang bingung. Tangan ara bergerak tidak teratur menyentuh perutnya yang sudah sangat besar mengingat usia kandungannya saat ini menginjak 9 bulan hanya menghitung hari dia akan melahirkan.


“Mami~ AHHH, Arghhh…” pekik ara.


“Sayang apa yang sakit?” teriak mami dengan khawatir.


“Argghh….”


“Ini mau melahirkan!” Seru bunda dan mami berbarengan. Kedua ibu itu berusaha mengelap keringat yang bercucuran dari kening Ara.


“Deon!!!” teriak Axel pada Deon yang sedang di dapur membuatkan Ara susu.


“Arrggghhh sakit mi! perut ara sakit” lirih ara.


“Sabar sayang, sabar bentar ya” ucap bunda dan mami berbarengan. Mereka melihat kedua suami mereka sudah mulai panik.


“Deon!!!” teriak Axel lagi.


Deon melangkah kesal dengan satu gelas susu ditangannya. Dan kekesalan itu lenyap begitu saja saat matanya menangkap sebuah pemandangan yang luar biasa dasyat. Beruntung dia tidak menjatuhkan gelas ditangannya.


“Ara, apa yang terjadi dengannya?” pekik Deon mulai mendekati bunda dan mami yang sama-sama menggenggam tangan Ara. Deon berlari berjongkok dikaki Ara meninggalkan gelas yang tadi dia pegang didekat meja.


“Ara akan melahirkan” ucap bunda mitha.


“Apa?”


“tenang sayang tenang!” ucap Deon dengan panik.


“Dasar Deon bodoh, cepat siap-siap! Bawa Ara kerumah sakit”


“benar rumah sakit!” pekik Deon dia beranjak, membantu papi dan ayah yang sudah mengambil barang yang sudah dipacking, untuk dimasukkan kedalam mobil, Axel juga ikut membantu mengambil koper dan beberapa barang lainnya dan membantu mereka menyiapkan mobil.


Ada dua mobil yang disiapkan, satu ayah deon yang mengemudi, dan satu lali papi ara, kedua mubil sudah diisi dengan koper dan beberapa barang keperluan ara.


“Cepat naik” perintah papi.


Deon yang masih panik, langsung naik dan duduk di samping Papi ara, sementara Axel naik mobil yang dikendarai ayah deon.


Masih dalam keadaan panik Deon melirik mobil ayahnya, yang sudah menyala memastika mobil sudah siap. “jalan pi” Papi yang sama paniknya langsung jalan karena perintah Deon, begitu juga dengan mobil yang ayah kendarai, ayah deon mulai mengikuti mobil yang dibawa oleh papi ara.


‘Ckiiiitttttt’


‘ckkiiitttt’


Kedua mobil itu berhenti mendadak, untung saja tidak terjadi kecelakaan. Ayah deon membuka kaca jendelanya bersamaan dengan itu papi ara juga.


“Pi, kok berhenti?” panik Deon.


Beberapa detik mereka terdiam, seperti ada sesuatu yang penting yang mereka lupakan. “Deon, kita melupakan sesuatu”


“sesuatu? Semua koper sudah dibawa, AHHH___”


“Ara dimobil mana?” pekik Deon.


“Ara??? Dimana?” pekik axel juga.


Lalu kedua mobil itu Kembali memasuki halaman rumah.


.


Di depan rumah mami Shahnaz dan bunda Mitha menggelengkan kepalanya melihat tingkah para suami mereka. Bagaimana tidak geleng-geleng kepala, para pria itu melupakan kunci penting yang akan dibawa kerumah sakit.


“Sakit mi” lirih ara yang sudah duduk dikursi roda, yang memang sengaja deon siapkan.


“Sabar sayang, tu mereka balik” tunjuk mami pada mobil yang Kembali menuju mereka.


“Maaf sayang kakak lupa” Deon berlari dengan cepat kearah ara dan menggendongnya untuk masuk kedalam mobil. Mami dan bunda juga sudah ikut masuk kedalam mobil.


“Arrggghhhh!” ara spontan menarik rambut deon yang duduk didepan.


“Benar sayang kuat-kuat aja tariknya” teriak bunda yang masih kesal.


“Arggghhhh!” tidak hanya Ara yang berteriak selama perjalanan menuju rumah sakit, teriakkan deon juga terdengar. Karena Ara melampiaskan kesakitannya dengan menarik rambut deon.


...🐥🐥🐥🐥🐥...


Detik-detik terasa begitu mencekam dihati para orang tua, axel dan juga deon, saat ini semuanya terlihat sangat tidak tenang menunggu didepan ruang persalinan Ara. Ayah dan bunda duduk dengan saling menggenggam tangan mereka, begitu juga mami dan papi, hanya Axel dan deon yang terlihat mondar mandir didepan pintu bercat putih tersebut. Keduanya berjalan berlawanan arah, dengan perasaan was-was, dengan menggigit jari telunjuk masing-masing, tubuh keduanya terlihat bergetar.


Dengan kepala yang sama-sama menunduk keduanya mondar mandir tidak karuan. Deon kekiri maka Axel ke kanan, begitu mereka selama lebih dari dua puluh lima menit.


“Awwww”


“Akkhhh”


Keduanya terjatuh, pasalnya karena kelakukan mereka yang sejak tadi mondar mandir, keduanya bertabrakan. Tanpa merasa bersalah, Deon mengulurkan tangannya mencoba menawarkan bantuan pada Axel untuk berdiri.


“Harusnya jalan jangan menunduk bro”


“Kau juga bro!”


“Ahh itu aku kan panik!”


“Sudah-sudah! Kalian berdua sama-sama salah, sekarang kalian duduk saja, bunda pusing liat kalian kayak setrikaan!” kesal bunda.


Kedua manusia itupun akhirnya duduk, karena takut dimarahi lagi oleh para orang tua.


...🐣🐣🐣🐣🐣...