My Little Girl

My Little Girl
34. Dipanggil Ke BK



Ara dan Shasa sedang berada di ruangan BK bersama wali kelas serta guru BK mereka beberapa guru juga ada di sana untuk menghakimi Ara.


"Jadi Clara sekarang jelaskan bagaimana caranya kamu mencontek pada shasa?"


Ara mengepalkan tangannya kuat, matanya sudah berubah warna menjadi merah menahan marah.


"Apa bapak dan ibu guru yakin saya yang mencontek?"


"Sangat yakin, dari posisi terbawah kamu bisa mendapatkan posisi nomor satu, itu sangat tidak mungkin!" tegas wali kelas Ara.


"Shasa kamu bekerja sama dengan Ara?" kali ini mereka menginterogasi Shasa, karena lembar jawaban Shasa dan Ara hampir sama persis jawabannya. padahal nilai Ara lebih tinggi di banding nilai Shasa tapi mereka masih menganggap Ara telah mencontek dari Shasa.


"Ti-tidak pak" jawab Shasa takut takut.


"Lalu apa menurutmu Ara mencontek darimu?" tanya salah seorang guru yang ada.


Ara menatap geram guru yang ada, mulutnya masih terkunci rapat, tangannya sudah mulai terasa sakit tapi Ara membiarkannya saja dia tetap mengepalkan tangannya kuat kuat untuk menahan amarahnya.


Shasa melirik lembar jawabannya, lalu lembar jawaban Ara, dia takut Ara mengambil posisinya tapi dia juga tidak mau membuat Ara marah padanya. Dia masih membutuhkan Ara lebih tepatnya uang Ara.


Shasa memilih menunduk tidak menjawab apapun ataupun membela Ara, dan hal itu membuat Ara kecewa, bagaimana bisa sahabat baiknya tidak percaya pada dirinya.


"Baiklah Shasa kamu boleh kembali ke kelas"


Ketika mendapat perintah itu Shasa dengan cepat berdiri dan keluar dari ruangan itu.


yang tersisa hanya Ara bersama beberapa guru.


"Jelaskan Clara! dari mana kamu mendapatkan lembar jawaban kami!" teriak wali kelas Ara sekali lagi.


Ara berusaha menahan tangisnya, gadis itu tidak mau terlihat lemah di depan orang lain.


'buk' wali kelas Ara memukul meja yang sejak tadi menjadi objek pandang Ara.


"Aku akan memanggil wali mu!" putus wali kelas itu.


Ara masih diam menunduk tidak menjawab apapun, karena berapa kali pun dia membela dirinya tidak akan ada guru guru yang membelanya, karena dia terkenal sebagai gadis nakal dan bodoh.


"Clara bisakah kamu jelaskan pada ibu bagaimana caranya kamu bisa menjawab soal itu" suara ibu gina si guru bk itu sedikit lembut.


"Dia tidak bisa ditanya dengan lembut seperti itu, gadis bodoh itu tidak akan mau menjawab apapun!" Bentak wali kelas tidak terima ibu Gina baik pada ara.


Sepertinya wali kelas itu sangat benci pada ara, karena ara selalu bolos di jam pelajarannya, selalu tidur di kelas dan membuat kerusuhan, Ara juga pernah memergoki dirinya sedang memberikan lembar jawaban pada murid kaya, dan karena itu dia harus mendapatkan sanksi dari sekolah.


...🐣🐣🐣🐣🐣...


Begitu Shasa sampai di kelas banyak teman sekelasnya yang mulai mengerumuni Shasa.


"Sha tadi ngapain aja?"


"Ara benaran mencontek?"


"Sha apa saja yang terjadi di ruangan bk?"


"Apa Ara mengatakan kebenarannya?"


"Apa Ara menangis?"


"Sha gimana apa Ara ketahun mencontek mu?" begitulah pertanyaan pertanyaan yang ditanyakan teman teman sekelas mereka.


Shasa menggeleng pelan, "Ara masih belum mengaku" gumam Shasa lirih.


"Brengsek! Ara tidak akan melakukan hal itu!" umpat Robi kesal. Dia marah Shasa mengatakan seolah olah Ara adalah pelaku yang bersalah.


"Kalian tidak tahu apapun jangan menghakimi orang seperti itu! kebenaran nya belum ditunjukkan!" Juan membantu Robi dalam membela Ara.


"Kebenaran apa? dia selalu berada dibawah ku yang posisi dua di akhir, bagaimana bisa hanya dalam beberapa bulan posisinya berada diatas? kelebihan Ara hanya cantik, tapi dia itu bodoh!" pekik teman sekelas mereka yang selalu berada di posisi dua dari belakang, jika naik posisi maka dia akan menjadi yang terakhir.


"Kalian___" Leo memegang bahu Robi yang hendak membantah ucapan ketiganya.


"Kau setuju juga dengan mereka?!" ucap Robi dengan emosi.


Satu kelas mulai tersenyum saat Leo menahan Robi dan Juan.


"Aku membela Ara, tapi kita berteriak teriak seperti ini tidak akan menyelesaikan masalah yang ada, hanya kita bertiga yang percaya pada Ara, mereka akan terus menjatuhkan Ara, tidak peduli kebenaran itu sudah terungkap atau belum" ujar Leo.


Robi dan Juan akhirnya duduk dan diam mendengar ucapan Leo. Mereka sadar, seberapa keras mereka membela, pembela si pintar dan baik (Shasa) selalu di dewi kan oleh mereka.


"Hah liat kalian tidak bisa menjawabkan? bagaimana gadis bodoh itu bisa pintar hanya dalam beberapa bulan, kalau tidak dari hasil mencontek dari shasa, kasian shasa karena dia shasa harus dipanggil ke ruangan bk".


Kelas masih riuh membicarakan bagaimana cara Ara melakukan hal itu, sementara Juan, Robi dan Leo hanya bisa menahan amarah mereka, mereka bertiga sama sama mengepalkan tangan mereka berusaha meredam amarah yang mulai memuncak.


.


Shasa berjalan pelan menuju kursinya, selama shasa berjalan, mata ketiga trio badboy menatapnya dengan sinis, tidak terucap kata apapun dari mulut mereka tapi, terlihat pandangan menusuk yang siap meluncurkan kemarahan pada shasa.


"a-aku su-sudah berusaha membela Ara, tapi guru-guru tidak percaya padaku" Bela Shasa, karena risih dengan pandangan Juan, Robi dan Leo.


"Membela seperti yang tadi? kami hargai pembelaan mu untuk menjatuhkan Ara" sindir Juan.


"Bagaimana caranya kalian bisa percaya padaku, kalian selalu menganggap ku orang jahat, kalian sendiri tidak dapat menjawab bagaimana cara Ara menjawab lembar jawaban itu, kenapa kalian malah menyalahkanku?" Shasa kembali membela dirinya sendiri.


"Kalau seseorang berusaha, hal tidak mungkin akan menjadi mungkin, kenapa kau tidak membela Ara dengan mengatakan itu? malah mencari cara agar Ara disalahkan" ujar Robi.


"lembar jawaban Ara sama dengan lembar jawabanku, sama persis, bagaimana jika kalian menjadi aku? apa kalian tidak merasa jika memang benar Ara mencontek ku?"


"Kalau aku sebagai dirimu? aku akan mrmbela sahabatku tanpa keraguan sedikit pun, karena dia adalah sahabatku, mau dia bersalah atau tidak aku akan membela dia" balas Leo dengan nada menyindir.


"Benar sahabat macam apa itu, yang tidak bisa membela sahabatnya sendiri malah menjatuhkan sahabatnya didepan orang" Tambah Juan.


...πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯...


Deon sedang melakukan rapat, telponnya yang sejak tadi berbunyi tidak dia sadari, sampai Botak yang membisikkan padanya baru Deon mengangkat telepon itu.


πŸ“² "Halo? Dengan siapa?" Tanya Deon bingung karena tidak tertera nama pada telepon itu hanya tertera sederet anggka saja.


πŸ“² "Apakah anda wali dari Clara Shahnaz Zoya?" ujar suara dari telepon.


πŸ“² "ya itu saya, ada apa ya?"


πŸ“² "Bisakah anda sekarang juga ke sekolah kami perlu bicara dengan anda masalah Clara".


πŸ“² "Baiklah Saya akan segera ke sana" ucap Deon dengan sopan.


...🐣🐣🐣🐣🐣...


🌺🌺cuap cuap author 🌺🌺


Maaf ya masih belum bisa banyak hehehe, bagian Deon juga sedikit, author masih dalam kondisi yang kurang fit, makasih ya untuk setiap dukungannya, Terima kasih semua.


tetap dukung author terus ya, biar semangat buat chapter lebih banyak. dan doakan cepat dikontrak ya biar bisa up lebih banyak.


❀❀❀❀❀