My Little Girl

My Little Girl
Extra 17. Penculik?



“Uncle, uncle cuka cama anti adi” tanya si menggemaskan dedek Ay. Bocah cantik itu bertanya pada Axel dengan mata yang berbinar.


“Hei bocah, jangan tanya-tanya yang gak jelas seperti itu, masih kecil gak boleh ngomong suka-sukaan” jawab axel sambil mencubit gemas pipi dedek Ay.


“enapa?” tanya dedek ay lagi.


“Iya kenapa cle?” tanya abang Ay juga.


“Iya karena masih kecil” axel bingung harus menjawab apa, karena ketiga bocah itu tidak akan menyerah sampai mendapatkan jawaban yang diinginkan.


“Tapi mami bilang tidak apa-apa” celoteh abang Ay. “jadi uncle suka ya dengan aunty cantik tadi?” goda abang AL.


“Tidak, uncle tidak suka, sudah cukupkan?” tanya Axel.


“Lalu enapa uncle cium” dedek ay memonyongkan bibirnya sambil menunjukan bibir monyongnya itu.


‘Karena tida sengaja’ batin Axel.


“Sudah jangan bertanya lagi, kita harus pulang, kalau tidak daddy kalian akan marah pada uncle” ucap Axel sambil menggendong dedek ay dan sebelah tangannya lagi menggenggam tangan abang AL. “abang EL pegangan ya dengan abang AL, jangan dilepas tangan abang AL ya bang EL”


“Iya uncle” jawab singkat abang EL.


...🐥🐥🐥🐥🐥...


“Uncle Dedek Mau Pis” Rengek Dedek Ay di tengah perjalanan mereka mau pulang.


Axel menoleh melihat dedek ay yang duduk di kursi belakang, “Pipis di rumah aja ya sayang, tahan dulu bisa?”


“Ndak au, udah pengen pis” rengek gadis kecil itu Kembali.


“Oke-oke” Axel akhirnya mengalah dia membelokkan mobilnya pada pom Bensin terdekat.


‘Pak, anda mau kemana?’ suara walkie talkie yang terpasang di mobil Axel.


‘Dedek kebelet pipis, segera tutup jalan menuju kamar mandi di pom bensin itu’ Jawab Axel.


‘Baik pak, jangan keluar dulu sebelum jalan benar-benar kami tutup’ ujar bodyguard itu lagi.


‘Oke, kalian harus cepat jika tidak tuan putri akan marah pada kalian’


.


Axel menghentikan mobilnya tepat di Lorong WC, di pertamina itu WC nya masuk kedalam Lorong, dan disana terpisah cowok dan cewek hanya berdasarkan pintu saja.


‘Pak sudah Clear’


Axel melihat banyak bodyguar yang menghalangi pandangandari kiri dan kanan tepat dari mobilnya hingga menuju Lorong WC.


“Dek pakai topi dan maskernya, jaket juga dipakai” perintah Axel.


Dedek Ay langsung mengenakan semua atribut yang disebutkan axel, memang jika di tempat umum Three Dan harus menutupi wajah mereka dengan masker dan topi, hingga rambut Panjang dedek ay harus digulung jadi dia tampak seperti lelaki.


“Abang juga mau ikut turun?” tanya Axel pada AL dan EL.


“Mau” ucap serempak Abang Al, dan EL.


Setelah ketiga keponakannya selesai menutup diri mereka, axel baru keluar dari dalam mobilnya.


“Uncle!” ucap dedek Ay.


“Kenapa lagi, tadi katanya mau pipis”


“Uncle cini aja, dedek bica cendili” celoteh gadis kecil itu.


“Uncle antarin sampai depan kamar mandi”


“Ndak au, dedek malu, dedek udah becal jadi dedek bica, uncle cini aja ya”


Axel berjongkok dan mengusap pelan kepala Dedek Ay yang sedang menggunakan topi, “Kalau ada apa-apa dedek teriak ya” Axel sengaja membiarkan dedek Ay berjalan sendiri menuju WC, karena dia yakin tidak ada orang yang ada disana dan Lorong ke sana juga sepi.


“Oke” Dedek ay berlari cepat menuju WC. Kepalanya melihat ke atas dan ke kanan ke kiri mencari tanda wc perempuan.


Ketika dedek mendorong pintu wc Wanita yang dia temukan gadis kecil itu sempat terkejut, pasalnya ada pria berumur sekitar 13-14 tahun yang sedang bersembunyi di dalam wc itu.


“Abang napa di cini?” tanya dedek, dia sama sekali tidak takut pada pria itu.


“Abang bica kelual ental dedek mau pipis, di cebelah kocong bang” ucap polos gadis kecil itu.


Tanpa mengeluarkan suara pria itu keluar dari kamar mandi, dedek langsung menutup pintu WC itu Ketika pria itu keluar.


.


“Abang kenapa macih dicini?” tanya Dedek Ay Ketika melihat pria tadi malah berjongkok di depan WC nya.


Dedek Ay melihat baju pria itu yang kotor dan wajahnya yang babak belur. “Abang takut kelual?” tanya dedek lagi. Ada anggukan dari pria itu, dan membuat dedek Ay tau apa yang terjadi, walau masih kecil, dedek Ay sering di kasih pengarahan tentang perlindungan diri dan tentang penculikan, jadi dedek Ay tau pria itu sedang diculik.


“BIARKAN KAMI MASUK! KAMI PERLU MEMERIKSA DIDALAM!” suara teriakan pria asing masuk kedalam Lorong itu. Dedek Ay berjongkok untuk mensejajarkan badannya dengan pria itu.


“Abang di culik ya?”


Sekali lagi pria itu hanya menjawab dengan mengangguk.


Setelah melihat anggukan itu dedek Ay membuka topinya dan tampaklah rambutnya yang Panjang, dan dia juga melepaskan maskernya, “Abang ake, bial gak ketauan” Gadis itu menyodorkan topi dan maskernya pada pria itu.


“Tapi aku tetap tidak bisa keluar, mereka mengenali bajuku” pria itu akhirnya mengeluarkan suaranya.


“Aju dedek gak muat, Ahh!” tiba-tiba terpikir ide dari otak dedek. “UNCLE! CINI!” teriak dedek.


.


“UNCLE CINI!” Axel yang mendengar teriakan dedek Ay segera berlari kedalam, dia semakin menyuruh para bodyguard untuk menahan pria berbaju hitam itu untuk masuk.


“Tahan mereka, jangan sampai masuk kedalam sini” perintah Axel sebelum dia berlari menuju keponakan cantiknya.


.


“Tidak sampai 5 detik Axel sudah sampai didepan dedek ay sambal berjongkok.


“Dek, apa yang terjadi?” tanya Axel cemas, dia masih belum sadar pada pria remaja disebelahnya sedang ketakutan, pria itu takut dedek Ay memanggil para penculik untuk memberitahu tempat persembunyiannya.


“Untuk abang ini cle” Dedek menunjuk pria yang ditolongnya.


Axel memperhatika remaja 13 tahun itu dengan seksama. “Apa yang terjadi padamu?” tanya Axel.


Remaja itu masih diam, dia masih tidak tau mana orang baik dan tidak.


“Aku Axel Kusuma Zoya, ini kartu namaku” axel memberikan kartu Namanya pada remaja itu, “kau bisa percaya padauk, jadi katakan siapa namamu”


Setelah yakin Axel dan mereka semua orang baik, remaja itu akhirnya mau mulai mengenalkan dirinya. “Namaku George Brian Marcello, aku bersembunyi disini dari para penculik diluar sana yang akan masuk”


“tenang saja saat ini para bodyguard ku sedang menjaga mereka untuk tidak masuk”.


“Uncle abang ini luka” Dedek ay menepuk-nepuk bahu Axel memberitahukan luka yang diderita Brian.


“Buja bajumu” perintah Axel.


“untuk apa?”


“mengobati dulu dengan seadanya” ucap Axel cepat dia sudah bergerak mengambil air untuk menyiram bercak darah yang berceceran.


“Abang ambil obat ya cle” Ucap abang Al.


“abang bisa?”


Abang Al mengangguk dan berlari cepat keluar.


“Arrggghh” pekik Brian pelan saat Axel memegang lengannya yang terluka.


“Akit ya bang?” dedek mendekat kea rah brian dan Axel. “Akit akit pelgilah” dedek membaca mantra yang biasa maminya ucapkan Ketika dia sedang sakit.


Axel dan Brian tersenyum kecil dengan kepolosan gadis kecil itu.


“emang bisa ilang sakitnya kalau digituin dek?” kekeh Axel.


“Ica uncle, akiiitt akittt pelgilah syyunggggg” setelah berucap seperti itu dedek menghembus luka Brian.


Brian Kembali tersenyum melihat tingkah lucu Dedek Ay.


“Namanya Danaya, panggilannya dedek Ay” Ucap Axel saat melihat pandangan mata Brian yang sangat lembut pada dedek Ay.


“Kalau ini saudara kembarnya, Daniel dan yang itu Danial” axel menunjuk Abang al yang baru Kembali dengan bungkusan baju ditangannya. “Mana obatnya bang?”


Abang al baru membuka bungkusan baju itu dan nampaklah kotak p3k kecil yang selalu Axel siapkan dimobil. “Abang takut ketahuan jadi abang sembunyikan dengan baju uncle yang ada di mobil”


“Pintar” puji Axel. Pria itu lalu mulai mengobati brian dengan seadanya.


“Akkhhrgg” ringis Brian Ketika Axel mulai mengoleskan obat merah ketangannya yang luka.


“uinggkel uiinggkel li tel stal” Dedek Ay mulai bernyanyi dan berjoget. Membuat axel dan brian tertawa kecil.


“dedek kok nyanyi?” Axel geleng-geleng kepala melihat tingkah keponakan kecilnya itu.


“ial abang blian tidak akit uncle, mami celalu nyanyi dan oyang-oyang waktu obati dedek pakai obat melah” jawab polos Dedek Ay.


“Oohhh oke-oke lanjut Dek, maaf ya dia gak bisa dilarang” Axel memelankan suaranya di akhir agar dedek Ay tidak tersinggung.


Bukannya marah Brian malah senang melihat tingkah menggemaskan Dedek Ay. Jika dia tidak bertemu dengan dedek Ay mungkin, dia akan ditemukan Kembali oleh penculiknya padahal dia sudah berusaha kabur hingga masuk kedalam Toilet Wanita.


“Oke sudah selesai” ucap Axel.


“Ahhh dedek apek cle” dedek juga ikutan duduk dilantai sambil mengelap keringatnya yang mulai bercucuran.


“Siapa suruh joget joget gak jelas”


“Ihh uncle, itu ial abang blian ndak cakit!”marah dedek sambil melipat kedua tangannya.


“Oke uncle yang salah, sekarang gimana caranya kita untuk keluar dari sini?” Axel terdiam menatap baju Brian yang penuh dengan noda darah. Dan diluar terdengar suara orang-orang yang memaksa ingin masuk.


“Pakai baju uncle saja, yang abang ambil tadi” ide abang AL.


“Benal juga, Brian kamu pakai baju ini, ya walau ini baju yang sudah pernah aku pakai, tapi masih bisa dipakai untuk sebentar” kekeh Axel.


Setelah brian bersiap dan sudah mengganti bajunya, serta menutup wajahnya menggunakan masker dedek Ay, Axel memberikan topi yang dia kenakan pada brian.


“Brian bisa gendong dedek? Sampai mobil uncle?” tanya Axel.


Brian mengangguk singkat.


“Dedek pakai Topinya ya kelanya disembunyikan aja di dada Abang Brian” perintah Axel. Dia menggendong kedua keponakannya yang cowok dikanan dan kiri. “ Maaf Brian bisa kan kamu membantu menyembunyikan wajah Dedek?”


“Bisa” sahut Brian Cepat.


‘Aku akan segera ke mobil, kalian buat jalan agar aku bisa berlari menuju mobil’ ucap Axel pada para bodyguard diluar.


‘Siap laksanakan’


...🐤🐤🐤🐤🐤...


Ternyata diluar dugaan part nya lebih banyak kemungkinan akan ada 1 atau 2 chapter lagi hingga tamat ya.


buat pada yang kangen Three Dan, nih bonus visual dari author



Dedek Ay lagi nyontohin bibir axel saat dicium



abang al lagi ngambek



Si cool abang EL



ada yang kangen sama Daddy dan mommy nya gak??