
“Melani, mau ya operasi biar melani bisa berjalan lagi dan bisa sembuh” ujar Daddy George sejak beberapa hari ini pria itu sibuk membujuk melani untuk menjalankan pengobatannya.
Melani menggelengkan kepalanya, “gak mau dad, melani Cuma mau menjalani pengobatan jika daddy sudah mengabulkan permintaan melani!” jawab Melani, dia menutup kepalanya dengan menggunakan selimut.
Daddy George menghela nafas panjang, dia sudah berusaha membuat brian untuk datang tapi dia tidak mau juga datang untuk melihat keadaan melani, daddy George yakin Brian akan merasa kasihan jika melihat melani yang sekarang lumpuh dan sering mencoba melakukan bunuh diri.
“Brian udah punya istri, istrinya juga sudah hamil, jangan pikirkan brian lagi ya” bujuk Daddy George.
Melani langsung membuka selimutnya untuk melihat wajah daddy George. “Brian sudah akan punya anak?! Dad, melani bersedia menjalani pengobatan tapi dengan salah satu syarat, kalau melani tidak bisa menjadi istri kedua brian, biarkan melani memiliki anak dari brian, hanya itu dad, please.. daddy bilang mau mengabulkan permintaan melani” lirih melani.
Daddy George melirik tangan melani yang penuh dengan luka sayatan, dia tidak mau gadis kecil itu melakukan bunuh diri lagi, dia tidak mau kehilangan putrinya lagi, ya daddy George sudah menganggap melani adalah putrinya sendiri.
“baiklah akan daddy usahakan” jawab daddy George akhirnya.
...🐼🐼🐼🐼🐼...
Tidak terasa kandungan ay sudah mencapai usia 4 bulan, tapi perutnya masih datar, hanya sedikit keras, tapi belum menonjol.
“Kak, kapan mommy dan daddy kesini?” tanya ay sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang milik brian. Saat memasuki bulan ke 3 kemarin Ay dan brian memberitahukan kabar gembira itu pada keluarganya, tentu saja diadakan pesta kecil-kecilan, tapi kedua orang tua ay tidak bisa hadi berhubung, daddy Deon memiliki masalah disana, jadi keberangkatan mereka di tunda.
“kakak juga kurang tau sayang, nanti kakak bujuk lagi ya, biar mommy dan daddy cepat datang” ujar brian, sebenarnya dia bisa saja menjemput mertuanya itu, tapi entah kenapa deon dan Ara bilang mereka bisa pulang sebulan lagi, brian sengaja tidak terlalu memberi tahu kapan kepulangan mertuanya pada ay, takut hal itu akan membuat istrinya kepikiran, pria itu selalu mendapatkan cara biar pikiran ay teralihkan dan tidak memikirkan tentang kedua orangtuanya lagi.
“perut kamu masih suka keram yang?” tanya brian mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Ay mengangguk dan memegangi perutnya, “kak kok perut ay belum besar-besar ya, gak ada masalahkan dengan kandungan ay” ucap ay lesu.
Brian memegang kedua pipi ay agar bisa menatap matanya, “masih 4 bulan sayangku, dedek bayinya kan Cuma ada satu, jadi besarnya belum Nampak” setelah berkata begitu Brian menciumi wajah ay, membuat gadis itu tertawa geli.
“Ihh kak geli” kekeh ay berusaha menjauhkan wajah brian dari wajahnya.
“sekarang lagi pengen apa? Kamu belum ada makan dari tadi loh” ujar brian.
“hmmm pengen makan di pinggir pantai” jawab ay dengan cengiran khasnya.
“Oke baiklah, kita pergi sekarang” brian langsung menggendong ay menuju mobilnya, menyuruh bobby mengosongkan pantai yang paling dekat dengan mereka dan mengosongkan jalan menuju sana, sebenarnya brian bisa saja menggunakan helicopter tapi dia takut tekanan udara akan membuat perut ay bermasalah, sangking takut dan tidak ingin ay kenapa-kenapa, bria tidak pernah lagi menyentuh ay sejak dinyatakan kandungan istrinya bermasalah. Brian menjadi trauma untuk melakukan hubungan itu, saat ingat malam dimana ay kesakitan, pria itu masih menyalahkan dirinya atas semua yang terjadi pada ay, apa lagi dia mulai mengingat semua orang yang mati ditangannya, brian sangat takut bayinya bermasalah.
...🦁🦁🦁🦁🦁...
Ay tampak tertawa Bahagia menonton drama korea dirumah, hari ini brian ada sedikit urusan, ada meeting penting dan ay harus ditinggal dirumah bersama para penjaga, bahkan bobby si asisten brian menjadi asisten ay, pria itu tampak asik memakan cemilan menemani sang nona muda yang sedang nonton.
Brian lebih percaya pada bobby, makanya pria itu dijadikan pengawal sekaligus mata-mata bagi brian, bobby itu geraknya cepat, dia akan langsung mencari jalan keluar begitu ada masalah yang muncul, tanpa menunggu perintah brian, berbeda dengan pengawal lainnya, dia akan menunggu perintah baru melaksanakan.
“Daddy George?” wajah ay langsung tersenyum Bahagia, dia memang menantikan kedatangan daddy brian itu, ay ingin mendekatkan dirinya dengan daddy George.
“Nona, jangan berlari!” peringat Bobby, begitu ay tegak secara mendadak.
“hehehe maaf om” cengir ay, dia berjalan perlahan menuju ruang tamu.
Tangan bobby dengan cepat mengetikkan pesan pada brian mengenai kedatangan daddy George, ke kediamannya.
.
“daddy, apa kabar” ay langsung menyalami daddy George dan tersenyum hangat pada pria tua itu.
“kurang baik” jawab daddy George, pria itu sama sekali tidak menunjukkan senyuman pada Ay.
“Loh kenapa? Bik tolong ambilin minuman buat daddy ya” pinta ay pada maid yang ada disitu.
Daddy George menatap bobby yang setia berdri dibelakang Ay, lalu beberapa pengawal yang mengelilingi mereka, “apa harus dijaga seperti ini? Kalian membuatku sesak saja” ujar daddy George ketus.
“maaf tuan besar, tapi saat ini tuan muda tidak ada, jadi kami tidak ingin ada kesalahan yang dapat membuat tuan muda marah, mohon maklumi, bagaimana temperamental tuan muda” jawab bobby dengan sangat sopan.
“Tapi aku ingin memiliki privasi dengan menantuku, aku ingin berbicara berdua saja dengannya, tidak bisakah itu?” seru daddy George sediit tidak terima dia dianggap seperti musuh dirumahnya sendiri.
Ay melihat bobby lalu pengawal yang lain, “kalian pergi aja dulu, aku gak apa, nanti aku akan panggil jika mau tegak atau kenapa-kenapa” ujar ay pada bobby dan yang lainnya.
“Tapi saya tidak bisa melaksanakan perintah nona, saya hanya bergerak jika itu perintah yang keluar dari mulut tuan muda nona” jawab bobby.
“Aku ingin berbicara berdua saja dengan menantuku!” bentak daddy George.
Ay sedikit tersentak mendengar suara tinggi daddy George, tapi kemudia dia berusaha bersikap biasa.
“baik yang lain akan pergi, tapi aku tetap di sini, aku akan mati jika mundur dan tidak mendengarkan perintah tuan muda” bobby masih bersikeras dengan perintah yang diberikan oleh brian, “anggap saja saya patung, saya tidak akan bersuara jika tuan besar tidak ingin pembicaraan terganggu, disini ataupun tidak saya tetap tau apa yang tuan besar katakan, jadi sebenarnya tuan besar tidak akan bisa mengelak dari tuan muda” ungkap bobby, dia sudah membuat alat perekam di ruangan itu menyala, jadi yang dia katakan memang benar.
“baiklah, yang lain menyingkir kecuali kau” ujar daddy George.
“jadi daddy mau bicara apa sama ay?” tanya ay lembut, walau saat ini hatinya sedikit cemas, ay tetap berusaha menampilkan senyuman pada pria itu.
... 🐻🐻🐻🐻🐻...