My Little Girl

My Little Girl
62. Kakak tersiksa Ara



'Plak' Sebuah tamparan mendarat pada pipi Deon, pria itu menatap bingung pada ayahnya yang baru saja menampar dirinya.


"Mas!" pekik Mitha ketika melihat suaminya menampar putra kesayangannya.


"Apa maksud ayah?" tanya Deon sambil memegang pipinya yang kini sudah terasa perih.


"Apa ini ajaran ayah selama ini!" suara tegas tuan besar Allinsky memenuhi ruangan kerja itu.


Mitha sudah menangis sambil menutup mulut nya dia tidak sanggup menatap putra kesayangannya itu di pukul apa lagi oleh ayahnya sendiri.


"Apa yah? Deon tidak mengerti" Deon menatap mata ayahnya.


"Apa ayah pernah mengajarkan padamu untuk melecehkan seorang wanita?! ingat deon! karma itu berlaku! Ibumu seorang wanita, kau mau ibumu yang menerima karmamu!" marah tuan besar Allinsky.


Mitha telah menceritakan hal yang dia dengan pada suaminya, dan setelah mendengar itu, tuan besar Allinsky segera memanggil putranya. Jadi sekarang disinikah Deon menerima kemarahan dari ayah kandungnya atas perbuatan yang belum tentu dia yang melakukan itu.


"Melecehkan? siapa yang Deon lecehkan?" pekik Deon, sepertinya Deon sudah tidak bisa menjaga ketenangan dirinya lagi, karena ini menyangkut tentang pelecehan.


"Shasa! putri dari sahabat ibumu!" balas ayah Deon dengan bentakan juga.


Deon menatap bundanya mencari kebohongan dari matanya, tapi yang ada wanita itu semakin menangis keras menatap manik mata putranya.


"Deon? melecehkan shasa? wanita ular itu?" Deon menunjuk dirinya sendiri dan berbalik menatap ayahnya. "dan ayah serta bunda percaya? dari siapa ayah dan bunda mendengar cerita itu?"


"Kamu mau berkelit dengan masalah ini! si korban sendiri yang mengaku pada bunda mu! jadi jangan lari dari masalah yang telah kamu buat!" Bentak Tuan besar Allinsky lagi.


"Baik Deon tidak akan lari, Deon akan hadapi apa yang telah Deon perbuat, Ayah dan bunda sepertinya sudah lupa dengan putranya sendiri, sehingga bisa percaya begitu saja dengan kedua wanita ular itu!" Deon hendak melangkah pergi ke arah pintu keluar tapi langkahnya kembali terhenti karena bentakan ayahnya.


"Kau tidak boleh pergi! kau harus membicarakan pernikahan mu besok dengan gadis itu!"


Deon berbalik dengan mata yang susah berwarna merah, "Deon akan kembali ke rumah ini besok, kalian tenang saja Deon tidak akan pernah lari dari masalah yang Deon buat, Deon akan menikahinya jika memang dia wanita yang Deon lecehkan!"


'Brak' bunyi pintu yang tertutup secara kasar pelakunya siapa lagi kalau bukan Deon.


Pria itu saat ini berlari menuju mobilnya dimana Botak sedang menunggu di kursi pengemudi.


"Tak, segera pulang ke rumah, aku yakin ada sesuatu yang terjadi pada ara!" perintah Deon ketika dia sudah masuk kedalam mobil.


...🐥🐥🐥🐥🐥...


Bunda shasa masuk kedalam kamar Putri nya, dia melihat Shasa sedang menyembunyikan dirinya dibalik selimut, dengan pelan Acha mengusap rambut putri nya.


"Sayang kamu mau kan besok ikut bunda dan ayah untuk ke rumah Allinsky?"


Shasa segera mengeluarkan kepalanya dari dalam selimut, "Bukan hanya bunda saja?" tanya gadis itu pelan.


"Tidak, tadi mitha sahabat bunda menelpon lagi dia ingin kamu dan ayah juga ikut, dia bilang akan membicarakan pernikahan kalian berdua" ujar Acha.


"Menikah?" ulang Shasa.


"Iya, mitha ingin secepatnya kalian menikah, karena putranya sudah melakukan hal itu padamu, jadi kalian harus menikah sayang, bagaimana jika nanti kamu hamil? makanya kalian harus menikah secepatnya"


Shasa mengangguk pelan setelah itu dia kembali menutup wajahnya dengan selimut, didalam selimut Shasa kini tersenyum lebar.


"Liat kan kak Al, wanita memang selalu tampak lemah, jika aku tidak bisa mendapatkan kak al secara baik-baik aku akan mendapatkan kakak dengan cara kasar, terbukti semua orang percaya dengan kebohongan ku, wanita memang selalu lemah makanya pria akan kalah jika dibilang seperti itu" batin Shasa.


rasanya gadis itu ingin bersorak bahagia, tapi hak itu tidak bisa dia lakukan karena dia sedang bersandiwara sebagai gadis yang tersakiti dan trauma.


...🐤🐤🐤🐤🐤...


Begitu sampai rumah Deon segera berlari menuju kamar ara, tapi kamar itu tampak gelap, Ara gadis kecilnya tidak ada di sana, gadis itu tidak ada didalam kamar nya.


"Ara!" Teriak Deon kuat, dia terus memanggik nama gadis itu sambil membuka satu persatu pintu yang ada, dia tidak peduli jika ara ada dikamar mandi sedang berganti baju, yang sekarang dia inginkan adalah mencari dimana ara nya berada.


"Ara" Deon kembali berteriak memanggil nama Ara, hingga teriakannya terdengar oleh botak dan bi arin yang berada dibawah tangga.


"Bi! dimana Ara?!" Deon berlari dari tangga menuju hadapan pembantunya.


"Bi, dimana ara?" ulangnya sekali lagi, kini dengan mata yang kembali memerah.


"A-anu tuan, nona ara tidak pulang sejak tadi siang" ucap bi arin pelan.


Deon langsung terduduk lemas, tangannya dengan cepat merogoh ponselnya, dia ingat dia memasang GPS pada Ara, dan sampai sekarang gadis itu tidak sadar dimana Deon meletakkan GPS nya.


"Rumahnya?" Deon segera berdiri dan menarik botak untuk segera pergi.


"Kita kemana tuan?" tanya Botak dengan bingung.


"Ke rumah Axel, secepatnya!" perintah Deon cepat.


...🐣🐣🐣🐣🐣...


Hanya dalam waktu sepuluh menit mobil Deon sampai di pekarangan rumah Ara, tanpa menjawab pertanyaan para pembantu dan satpam Deon segera menerobos masuk menuju kamar Ara, saat kamar itu hendak dibuka Deon pintunya tidak terbuka, Ara telah mengunci pintu kamarnya.


"Ra, buka ra!" lirih Deon sambil menggedor gedor pintu kamar Ara berkali-kali. "Ra, ini kakak ra, kakak mohon buka".


.


Ara menatap sedih pintu kamarnya yang terus menerus digedor oleh Deon, kakinya melangkah pelan menuju pintu, dia hanya berdiri didepan pintu, dia tidak berniat untuk membuka pintu sama sekali.


" Ra, kakak mohon buka" pinta Deon sekali lagi. "Ra tolong percaya pada kakak" suara Deon semakin terdengar lemah.


"Biarin ara sendiri dulu kak" balas ara.


"Gak! kakak gak akan biarkan kamu sendiri, kakak mohon jangan kamu juga melakukan hal yang sama pada kakak ra, kakak tersiksa ra, kakak tidak bisa jauh dari ara".


" Ara ingin sendiri kak! biarkan ara berpikir dulu " ucap ara lagi.


"Gak! kamu pasti memikirkan hal-hal aneh, ra kakak mohon, buka pintu nya, kamu tidak akan bisa tidur kalau tidak kakak peluk, kakak janji tidak akan mengatakan apapun biarkan kakak memeluk mu, pikiranmu akan semakin negatif jika tidak berpikir secara jernih, biarkan kakak berada di sisimu ra" lirih Deon.


Dia sangat tersiksa gadis kecilnya tidak percaya padanya.


"Ra, kakak mohon buka!" teriak Deon lagi, kali ini dengan gedoran yang lebih kuat, "Ra, kamu udah janji akan percaya pada kakak!"


Ara kembali menangis mendengar setiap perkataan yang diucapkan oleh Deon.


'ceklek' akhirnya pintu itu terbuka, ara disana berdiri dengan air mata yang terus mengalir.


"Ara percaya pada kakak, tapi ara takut kakak yang akan meninggalkan ara!"


Begitu melihat muka ara, Deon segera memeluk tubuh gadis itu.


'brak' terdengar bunyi pintu yang tertutup secara mendadak.


...🐥🐥🐥🐥🐥...


🌺 cuap cuap author 🌺


aduhh bingung ni author, ini bulan puasa lanjutannya besok malam aja gimana ya?? pada setuju gak??


makasih buat semua dukungannya, tetap dukung ya biar author semangat buat ngetik novel ini.


Bonus pict,


babang Deon yang sedang sedih