
Deon hanya diam selama perjalanan dia pulang ke rumah, di pikirannya bagaimana bisa Ara mendapatkan sahabat seperti itu.
"Tuan bagaimana jika wanita siluman itu memprovokasi nona Ara?" tanya botak melalui kaca spionnya.
"Aku sudah memperingatkan Ara, tapi aku tidak tau, apa Ara akan melakukan permintaan ku atau tidak" Ucap Deon dengan tidak bersemangat.
🎼 bunyi ponsel Deon menyadarkan nya dari lamunan.
📲 "Ya bun?" jawab Deon cepat.
📲 "Ya ampun sayang, apakah itu benar?"
📲 "Apa yang benar?"
📲 "Apakah wanita yang ingin kau nikahi itu bernama shasa?" ulang bunda mitha lagi.
'Cklkkiiittt' Botak spontan mengerem mobil yang sedang dia kendarai, suara bunda Deon yang terdengar bersemangat tidak sengaja terdengar oleh botak.
Bukan hanya Botak yang terkejut, Deon saat ini bengong dan menjatuhkan ponselnya.
📲 "Siapa tadi?" Deon ingin bundanya mengulangi ucapannya barusan, karena sepersekian detik Deon merasa telinganya sedang bermasalah.
📲 "Shasa, dia putri sahabat SMA bunda sayang".
Melirik Botak, menanyakan melalui tatapan mata apakah telinganya bermasalah? tapi botak mengangguk dan berkata 'saya juga mendengar hal yang sama tuan'
📲 "Salah bun! dari mana bunda tau nama itu!" pekikan Deon membuat Mitha segera menjauhkan ponselnya dari telinga. Mitha sedikit berkerut bingung, sepertinya dia telah salah dan putranya itu telah marah besar. Mitha pun mulai bercerita tentang pembicaraannya dengan Acha sahabatnya itu.
🍃 flashback On 🍃
🎼 suara ponselnya segera membuat Mitha yang tadinya asik memasak segera menghentikan aktifitas nya.
"Bi, tolong dilanjutkan" perintahnya.
Mitha segera duduk di sofa dan mengangkat panggilan telepon itu.
📲 "Halo, dengan Mitha disini" ucap Mitha pelan, pasalnya dia tidak mengetahui nomor siapa itu.
📲 "Mit, ini aku Acha!" Sorak Acha yang terdengar sangat gembira.
📲 "Waahhh maaf ya cha belum sempat telepon jadi kamu duluan yang menelpon ku, ada apa ya cha menelpon?"
📲 "Mitha sepertinya kita akan menjadi besan yang sesungguhnya?" Terdengar suara sorak bahagia Acha dari seberang telepon.
📲 "Tunggu dulu apa maksudnya?" selidik Mitha dia masih belum mengerti maksud ucapan Acha.
📲 "Kamu sudah tau siapa nama wanita yang akan menjadi calon menantu mu?" tanya Acha kemudian.
Mitha menggeleng, namun dia kembali ingat Acha tidak mungkin melihatnya menggeleng.
📲 "Tidak, putra ku masih merahasiakan nama wanita pujaannya" ucap Mitha dengan cepat.
📲 "Kemungkinan besar itu putriku!" pekik Acha lagi dengan bahagia yang tidak bisa dibayangkan.
📲 "tu-tunggu dulu Cha, aku masih belum terlalu mengerti".
Lalu Acha mulai menceritakan perkataan putri nya pada Mitha, tentang kencan yang dilakukan oleh putri dengan pria bernama Allinsky, di Indonesia mungkin ada beberapa nama yang mirip, tapi nama Allinsky sangat jarang terdengar di telinga orang-orang jadi kemungkinan besar Allinsky yang putrinya maksud adalah Allinsky putra satu satunya dari Mitha.
📲 "Benarkah? jika itu benar, maka aku akan sangat senang sekali" pekik Mitha juga dengan sorak bahagia.
📲 "Bagaimana jika kita percepatan pertunangan keduanya" pinta Acha dengan bersemangat.
Mitha sedikit terdiam, dia tidak mungkin menerima begitu saja permintaan Acha, belum tentu Allinsky yang di temui itu adalah putranya, memang kemungkinan besar itu adalah putranya tapi permintaan Acha ini sangat berpengaruh pada masa depan putra kesayangannya itu.
📲 " Ahh, ayolah mit, kau sudah berjanji padaku untuk menjodohkan putra putri kita nantinya" Acha terdengar sedikit memaksa.
"Tapi dia bukan putra kandungku" Batin mitha, wajahnya kini terlihat sedih, mengingat kembali putrinya yang tidak jadi lahir ke dunia ini karena kecelakaan yang menimpanya, bayinya mati didalam perut karena tertusuk pipa besi.
📲 "Mitha, Mitha!" panggil berulang Acha karena Mitha sejak tadi tidak menyahuti nya.
📲 "Itu janji waktu sma, janji anak kecil, nanti saja di pikirkan" ujar Mitha pelan.
📲 "Hmm kalau begitu, bagaimana jika kita pertemukan putra dan putri kita, aku yakin Putra mu akan jatuh cinta pada putriku" seloroh Acha dengan sangat yakin.
📲 "Tidak bisa, aku sudah meminta putraku untuk berjanji menikahi pilihannya, seandainya kita bertemu sebelum putraku menemukan pasangannya." lesu Mitha.
📲 "Mit, jodoh siapa yang tau, jika memang benar jodoh putra mu adalah wanita itu maka, dia tidak akan jatuh cinta pada putriku, tapi bisa saja kan putramu jatuh cinta pada putriku setelah bertemu, kita tidak akan tau apa yang terjadi, mau sejauh apapun jodohmu, mereka pasti akan bertemu juga, jadi apa salahnya mencoba?" usul Mitha.
📲 "Baiklah aku akan coba bertanya pada putraku"
🍃 flashback Off 🍃
📲 " Jadi begitu ceritanya sayang" Mitha telah mengakhiri ceritanya.
Deon memukul mukul keningnya, dan berusaha mengambil nafas panjang, bisa bisanya bunda Deon merencanakan nasib hidupnya tanpa pembicaraan dulu pada dirinya dan lagi bersama shasa? dunia pasti telah hancur, jika dia bersama shasa.
📲 "Bun, dengarkan Deon dari awal hingga akhir, dan jangan memotong, apakah bisa?" suara Deon terdengar lemas, dia menurunkan sedikit kursi yang dia tumpangi agak bisa bersandar.
📲 "Bisa, katakanlah pada bunda" ucap Mitha dengan penuh perhatian.
📲 "Nama wanita yang tadi bertemu dengan Deon memang Shasa, tapi kami bertemu bukan karena kencan, melainkan karena ada masalah yang telah dia buat dengan Deon, Deon sudah bertemu dengan anak sahabat bunda, dan Deon tidak ingin bunda melanjutkan perjodohan ini, jangan sampai Deon mengatakan hal yang tidak ingin Deon ucapkan, Deon sangat menyayangi bunda, Deon akan melakukan apapun untuk bunda, tapi Deon mohon jangan pisahkan Deon dari wanita yang Deon sayangi, Shasa bukan wanita baik seperti yang bunda pikirkan, dia wanita yang sangat licik, sekali lagi bun, karena Deon menyayangi bunda, jangan sampai Deon mengatakan hal yang tidak ingin Deon ucapkan".
Mitha sangat mengerti dengan maksud, 'Hal yang tidak ingin Deon ucapkan' adalah anak kandung, memang benar Deon tidak lahir dari rahimnya, tapi Deon selama ini selalu menganggap Mitha seperti ibu kandungnya sendiri, tidak pernah terucap dadi bibir pria tampan itu bahwa Mitha adalah ibu tiri, walau kenyataan nya memang benar.
📲 "Baiklah, maafkan bunda sayang, Bunda tadi hanya terlalu senang, jika ber besan dengan sahabat lama bunda, jangan marah ya, bunda menyayangi mu" Setelah itu telepon mati.
Botak masih setia menunggu perintah deon untuk menjalankan mobilnya, Deon saat ini menjadi sangat kacau, Tiba-tiba saja pikiran buruk bermunculan dalam otaknya, 'bagaimana jika wanita ular itu menghasut bunda nya, tidak semua ibu mertua menyukai menantu yang nakal seperti Ara, jika seandainya wanita ular itu mengatakan pada bunda nya, maka hancur sudah hubungan ibu dan anak itu, karena Deon akan memilih Ara, baru ibunya, tapi dia juga tidak mau kehilangan ibunya.
"Tuan mau kemana sekarang?" tanya botak pelan, untuk mengalihkan perhatian Deon.
Mata Deon terlihat sangat lelah saat ini, dia hanya bergumam pelan "Pulang ke rumah".
Deon kembali bersandar dan memejamkan matanya, otaknya terus berpikir cara agar menjauhkan bunda Deon dari sahabatnya. dan cara cepat mengikat Ara menjadi miliknya, sehingga Ara tidak akan bisa lari darinya.
Apakah ini karma wajah tampan yang dia miliki hingga banyak gadis yang mengejar-ngejarnya.
...🐣🐣🐣🐣🐣...
Begitu sampai di rumah, Deon segera berlari menuju kamar Ara, perasaan saat ini sangat kacau balau, dia ingin segera menghirup aroma tubuh gadis kecilnya.
.
Di dalam kamar Ara hanya asik bermain ponselnya di tempat tidur sambil telungkup, Lagi-lagi gadis itu tidak sadar Deon Telah berada di dalam kamarnya, tanpa suara pria itu masuk dan langsung memeluk tubuh kecil Ara, menjadikan gadis itu bantal peluknya.
"Kyyaaaa!!! Kak Deon!" jerit Ara karena terkejut.
Deon terkekeh kecil, dia sangat suka mengejutkan Ara, karena wajah Ara akan terlihat menggemaskan di matanya. Deon semakin mengeratkan pelukannya, memasukkan wajahnya di ceruk leher Ara membuat gadis itu sedikit kegelian, tapi Ara membiarkan nya saja, dia merasa Deon sedang memiliki masalah, jadi Ara membolehkan nya.
"Apa yang terjadi kak?" bisik Arab pelan. Ponselnya sudah terbang entah kemana, tangan Ara kini sibuk mengelus punggung dan rambut Deon, biasanya Deon yang melakukan itu kini terbalik malah Ara yang melakukannya.
Deon sedikit menjauhkan kepalanya dari Ara, menatap kedua manik mata Ara, "Boleh aku mencium mu?" tanya Deon dengan spontan dan tanpa aba-aba.
...🐥🐥🐥🐥🐥...