My Little Girl

My Little Girl
32. Hadiah



"Melihat dirimu aku yakin, kamu masih virgin, kamu masih belum puas dengan lima puluh juta yang diberikan Sky, dan berusaha mendapatkan sky agar bisa mendapatkan lebih, jadi bagaimana kita barter, aku akan mempertemukan mu dengan Sky dan memberikan nomornya tapi kamu berikan keperawanan mu padaku" Shasa begitu terkejut dengan perkataan Angga, bagaimana bisa pria itu menukarkan keperawanannya dengan hanya kontak Allinsky.


"Jika tidak mau, silahkan cari sendiri biodata dan cara untuk bertemu dengan orang nomor satu se-asia" Lanjut angga lagi, memang benar yang Angga bilang, Shasa tidak akan bisa bertemu dengan Allinsky hanya dengan bermodal keberuntungan.


"Tidak ada cara lain?" Shasa berusaha menunjukkan wajah memelas.


"Ada" jawab Angga dengan senyuman licik.


"Apa?" Shasa terlihat kembali bersemangat.


"Berikan aku satu triliun, apa kau bisa?"


Shasa dan meli begitu terkejut dengan ucapan pria itu, bukannya dia orang kaya, kenapa dia meminta uang pada shasa.


"Kau masih tidak mengerti? biar aku jelaskan" Angga menjeda ucapannya, "Deon berinvestasi padaku dan bisa dibilang keuntungan investasi itu sebesar 1 triliun bahkan bisa lebih, menghianati Deon sama saja dengan kehilangan sumber investasi ku, apa kau bisa mengganti kerugian yang aku derita?" Ucap sinis Angga pada Shasa.


Wajah Shasa berubah sendu, "Tapi kak, kakak tidak mau teman kakak terlihat bersama wanita? apa dia impoten? kakak tidak takut padanya?"


Angga kembali tertawa keras, "Aku lebih tau sahabatku dibandingkan dengan dirimu yang hanya mencari data Sky dari internet, dan Deon bukannya tidak punya wanita, dia punya hanya saja aku dan andri ingin melakukan beberapa percobaan padanya, apakah gadis dengan umur yang sama dan karakter yang mungkin sama bisa mendekati Sky, tapi jawabannya tidak, bukankah sudah jelas dipertemuan pertama Deon mendorongmu menjauh? itu artinya dia jijik padamu".


Angga menjeda kalimatnya dan berdiri tegak dari duduknya. "Gadis itu tidak bisa digantikan oleh wanita sepertimu, dan tidak akan pernah, jadi aku peringatkan, jangan terlalu bermimpi yang tinggi, sakitnya akan membuatmu gila!"


Angga segera berlalu membiarkan Meli yang duduk menemani Shasa.


"Kak tunggu aku" meli berlari mengejar Angga, dia meninggalkan Shasa sendirian di tempat duduknya.


Shasa meremas tangannya dengan kuat, dia begitu marah dengan penuturan Angga, Dia merasa dirinya pantas untuk mendekati Allinsky, karena dia cantik, pintar, dan masih suci.


🎼 lamunan Shasa dibayarkan dengan panggilan dari dimas.


Shasa sedikit bingung kenapa dimas tiba-tiba menghubungi nya.


Muncul senyuman jahat dari bibir Shasa, belum bisa mendapatkan Allinsky masih ada Dimas yang mengejar-ngejar dia, Dimas juga lumayan, dia berasal dari keluarga kaya, orang tuanya adalah pengusaha di bidang tekstil, dan dimas adalah anak laki laki satu satunya dia dalam keluarga, pasti usaha itu jatuh ke tangan Dimas.


Selagi dia memikirkan cara untuk mendapatkan Allinsky, dia bisa menggunakan Dimas untuk membuat Ara iri padanya. setelah mendapat kan cara shasa akan meninggalkan Dimas dan akan mendekati Allinsky.


📲 "halo dim? kenapa telepon?"


...🐤🐤🐤🐤🐤...


Ara sejak tadi merengut sebal dengan tiga trio badboy di depannya. ketiganya kompak tidak mau menemani Ara mencari oleh oleh buat Shasa.


"Kalian tidak akan aku bayarkan lagi!" gerutu ara sambil memasukkan gold card pemberian Deon kedalam dompetnya.


"Itu uang kak Deon, kami bisa minta sama kak Deon jika uang cash kami habis" Leo dan robi mengangguk kompak dengan ucapan Juan.


"Kaliannn___"


Sebuah sapuan pelan pada kepala Ara membuat ara tidak jadi melanjutkan umpatan nya pada ketiga trio itu.


"Kenapa ini?" Deon menatap ketiga trio badboy.


"Kak mereka gak mau nemani Ara buat cari Hadiah untuk Shasa" Adu Ara.


Deon duduk dihadapan ketiga orang itu sambil menarik tangan Ara untuk duduk dipangkuan nya.


"Katakan kenapa kalian tidak mau menemani Ara?" tanya Deon dengan nada halus.


"Kak, kami gak mau Ara selalu membeli kan Shasa Hadiah hadiah mahal, setiap kak Axel dulu pergi keluar negeri dan membawa hadiah untuk Ara, hadiah itu malah dikasih pada Shasa karena Shasa bilang pingin punya" Leo mulai menjelaskan.


"Setiap mereka berdua jalan, Shasa tidak pernah mengeluarkan uang, yang membayar setiap belanjaan dan setiap makanan dan minuman yang mereka beli adalah Ara" Juan ikut menambahkan penjelasan Leo.


"Makanya kami tidak mau menemani Ara kali ini, biarkan saja dia tidak dapat sesekali" Robi juga ikut memprovokasi.


Ara merengut kesal ketiga temannya tidak ada yang mengerti dirinya.


"Kenapa cemberut gitu?" Deon mencubit gemas pipi ara. "Sekarang jelaskan kepada kakak alasan Ara melakukan hal itu".


"Ara hmmm, ara kasian sama shasa kak, di sekolah dia menatap iri pada barang barang punya temannya, jadi Ara kasihkan saja soalnya Ara punya banyak di rumah. Dia juga teman perempuan satu satunya yang mau berteman dengan Ara, Bukannya Shasa gak mau bayar sendiri, tapi ara yang memaksa untuk mentraktir dia, Ara kasian dia hidup susah kak, jadi selagi ara bisa bantu ara akan membantunya" Lirih ara.


"Tapi kamu tau cara yang kamu lakukan itu salah?" Deon berkata sambil mengusap kepala ara.


Ara menggeleng pelan. Dia sama sekali tidak tau cara dia berteman dengan Shasa itu salah.


"Wajar jika ketiga teman dekatmu marah, mereka menganggap Shasa cuma mau berteman dengan ara karena uang yang ara miliki, kamu lebih lama berteman dengan mereka, tapi hanya karena Shasa kamu marah pada mereka, padahal kamu bisa menjelaskan alasan kamu melakukan itu dan mungkin mereka bisa menerima nya bukan dengan cara marah marah seperti ini" Deon kembali mencubit gemas pipi Ara.


"Sekarang janji pada kakak ini terakhir kalinya Ara memberikan barang barang pada Shasa, dan mulai berteman seperti biasa, traktir boleh tapi hanya sesekali jangan keseringan, itu akan menjadi penyakit pada Shasa jika dia terus menerima hadiah dari Ara".


Ara mengangguk pelan, " Baiklah ara janji ini yang terakhir".


"Boys kalian masih tidak mau menemani tuan putri ini?" Deon mengedipkan sebelah matanya pada trio badboy itu.


Seolah olah mengerti dengan tujuan Deon mengedipkan mata, mereka bertiga kompak mengangguk.


"Baiklah, karena Ara sudah janji ini yang terakhir kami akan menemani Ara kemana pun hari ini".


Seperti seorang anak kecil Ara berlonjak bahagia, dia akan memikirkan hadiah permintaan maafnya yang sangat bagus karena itu akan menjadi hadiah yang terakhir dari Ara.


Leo, Juan dan Robi begitu salut dengan cara Deon menangani Ara, dia begitu sabar menjelaskan pada gadis keras kepala itu, sehingga dia mau menurut.


...🐣🐣🐣🐣🐣...


bonus pict, Deon yang baby face dan Ara si gadis Deon