My Little Girl

My Little Girl
S2 MLG 69. Daddy George Marah



“King, makanannya sudah siap” ucap salah satu maid.


Brian tidak menjawab hanya mengisyaratkan tangan untuk menyuruh pelayan itu untuk pergi. Matanya masih menatap maid lainnya yang sedang membereskan kamarnya, sementara pria itu duduk di sofa kebesarannya hanya mengenakan kimono handuk yang menutup sebagian pahanya. Dia tidak tau dada dan sixpack nya yang terlihat membuat beberapa maid wanita menatap instens padanya, beberapa dari mereka bahkan ada yang tidak fokus bekerja karena terus melirik pria sexy itu.


“King, tuan bobby menelpon lagi” ucap seorang pria berbadan tegap disisi brian, dia adalah kaki tangan bobby, jika bobby tidak bisa menemani brian maka dialah yang akan menjadi asisten Brian.


Bobby memang tadi menelpon brian lagi, tapi dia tidak mau mengangkat, karena brian merasa cukup sekali saja dia menelpon bobby. Mungkin karena brian tidak mau mengangkat, bobby akhirnya menelpon asistennya.


“Kemari kan” akhirnya brian mau mengangkat telepon brian.


“Halo” ucap brian malas.


“SAHABATMU SEKARAT DAN SEKARANG KAMU TIDAK ADA NIAT UNTUK MENJENGUKNYA!” suara daddy George menggema hingga orang yang berada didekat brian juga dapat mendengar suara kemarahan daddy George.


“Hahahhaha, bukan aku yang membuatnya seperti itu, salah sendiri sekarat disaat aku sedang bersama istriku” bukannya takut brian malah tertawa mendengar kemarahan daddy George.


“Kau tau jika Leonardo punya penyakit sadistis?!” selidik daddy George.


“Entahlah, aku hanya mendengar sedikit isu, aku pikir itu tidak benar” jawab brian santai.


“GARA-GARA PRIA ITU MELANI SEKARAT SEKARANG!” maki daddy George pada brian, sepertinya daddy George sangat menyayangi melani.


“Lalu? Apakah itu salahku? Aku sudah memberikannya kesempatan untuk hidup! Dia sekarat tidak di tanganku, tapi karena pria yang orang tuanya pilih, apakah sekarang itu tetap menjadi kesalahanku? Kau terlalu kekanakan daddy! Kesalahanmu selalu kau limpahkan ke orang lain! Berpikirlah siapa yang membuat semuanya menjadi seperti ini? Jangan selalu menyalahkan orang lain kau harus membeli cermin dad, agar bisa melihat kesalahanmu sendiri” ungkap brian dengan sangat santai.


“kau tau jika Leonardo memiliki penyakit psikologis dalam berhubungan intim! Kenapa kau tidak memberi tau pada daddy! Seharusnya kau beritahu!” daddy George masih tidak mau mengakui kesalahan yang telah dia perbuat.


“Haruskah? Dad, kau mantan ketua mafia seharusnya kau tau sifat seseorang hanya dalam sekali lihat! Aku bilang sekali lagi, kau membuat mampu membuat monster sepertiku tapi kau tidak menjadikan dirimu monster sepertiku, kau tidak waspada, semuanya kesalahan ada padamu daddy! Sepertinya kau tidak tau jika bukan hanya Leonardo yang mempunyai penyakit psikologis, putri kesayanganmu itu juga memiliki nya, masokis, dimana sang penderita sangat suka disakiti malah dia ingin dicekik dan dicambuk saat berhubungan ****, apakah kau tidak tau? hahhahha” tawa mengerikan Brian mulai terdengar, beberapa pelayang yang sedang merapikan ruangan itu bergidik ngeri.


Tidak ada tanggapan dari daddy George sepertinya pria itu syok saat brian mengatakan melani juga menderita penyakit psikologis yaitu masokis.


“Kau bohong padaku, tidak mungkin melani seperti itu” elak daddy George, dia tidak mau mengakui apa yang baru saja dia dengar.


“kalau tidak percaya tanya leonardo, aku rasa dia punya rekaman dimana melani meminta dia menyakiti dirinya, silahkan tonton dan nikmati daddy” ucap brian dengan nada sinis.


Daddy George kembali terdiam, dia masih mencerna setiap ucapan yang keluar dari bibir putra satu-satunya itu.


“Sepertinya tidak ada lagi yang akan daddy katakan, jangan menelpon ku lagi, ini bukan permintaan tapi PERINGATAN!” Brian menekankan katanya di bagian akhir, dia tidak peduli siapa yang dia ancam, karena belas kasih pria itu sudah lama mati dan hanya muncul saat bersama ay, atau menyangkut dengan ay.


“Ambil” brian melemparkan kembali ponsel asistennya itu pada pemilik aslinya.


“kak~” suara panggilan ay dari kamar mandi langsung mengubah ekspresi brian yang tadinya menyeramkan menjadi hangat dan tersenyum Bahagia, beberapa pelayan yang masih ada di sana semakin merinding melihat perubahan brian yang terjadi dalam sekejap mata.


“Iya sayang, sebentar” brian memberi kode pada para pelayannya untuk segera pergi dan meninggalkan ruangannya, tanpa terkecuali hanya dengan kode tangan dan tatapan mata yang menusuk.


Setelah yakin ruangannya kosong, brian baru melangkah masuk ke dalam kamar mandi dengan kimono handuk ditangannya.


“Sudah?” tanya brian dengan nada hangat.


Ay mengangguk dan merentangkan kedua tangannya pada brian, meminta bantu untuk berdiri.


“sudah mendingan?” tanya brian yang mulai mengangkat tubuh kecil istrinya kedalam gendongan.


“Sudah, tapi belum bisa dimasuki lagi, jadi tahan dulu paralon airnya buat tidak berdiri” ucap ay secara spontan, karena dia dapat merasakan lobak import brian yang mulai berdiri.


“Iya sayang” jawab brian dengan kekehan.


.


Brian terkekeh sambil meletakkan istrinya secara perlahan ke atas tempat tidur mereka. “Ini kamar kita yang tadi sayang, kakak yang membuat semua keajaiban ini” jawab brian, pria itu melangkah mendekati laci mejanya, mengambil sebuah kotak kecil di sana.


“Apa itu?” tanya ay heran begitu melihat apa yang di keluarkan brian.


“salep sayang” balas brian yang mulai menggosok salep itu jari telunjuknya.


“Untuk?” tanya ay lagi bingung.


Brian mulai tersenyum nakal, “kau akan tau sebentar lagi” ujarnya jahil, brian mulai jalan mendekati ay, dan berjongkok tepat dihadapan gadis itu, dan langsung menyingkap kimono ay, hingga tampak kue cubit ay yang terbuka didepan wajah brian.


“Kak! Ma-mau apa?!” pekik ay yang sudah menutupi kue cubit nya dengan tangan.


Brian tertawa pelan, “Baby, mau cepat sembuh kan? Awas kan tangannya” ujar brian.


“gak mau, masih sakit kak” lirih gadis itu.


“aku bukan mau melakukan servis seperti tadi malam, tapi aku mau mengobati kamu sayang” ujar brian.


“Mengobati?” beo ay.


Brian mengangguk sambil menatap mata ay, pria itu masih setia berjongkok didepan tubuh gadisnya.


“iya, makanya awas kan tangannya” ucap brian.


Ay perlahan mengangkat tangannya yang menutupi area terlarangnya. Setelah itu jari brian yang tadi sudah penuh dengan salep didekatkan dengan kue cubit ay.


“Ka-kak__” ay tidak dapat melanjutkan ucapannya lagi, gadis itu sudah terbaring ditempat tidur dengan brian yang masih sibuk mengoleskan salep pada kue cubit nya.


Ay meram melek merasakan jari besar itu menyentuh pinggiran kue cubit nya, terasa dingin dan enak. Sementara itu brian, sejak tadi hanya menelan saliva nya, menahan gejolak nafsu yang kembali muncul.


“baiklah sudah” brian kembali menutup tubuh ay.


“Kak, kaki ay rasanya meleleh” lirih ay. Tenaga gadis itu sudah benar-benar hilang. “ambilkan baju ay tolong” sambung gadis itu lagi.


“baik princess” jawab brian, dengan cepat dia memilihkan pakaian dalam ay dan baju kaos miliknya, setelah itu brian membantu ay berpakaian, seperti anak kecil yang baru belajar memakai baju.


“Ketawa aja, ini gara-gara kakak ay gak bertenaga buat mengangkat kaki aja tidak bisa, benar-benar di gempur ay sampai pagi” celoteh ay.


Brian baru tertawa lepas setelah mendengar ucapan gadis kecilnya. “Kamu imut sayangku, aku jadi ingin memakan mu lagi” kekeh brian.


“Ahhh, sakit sekarang aja belum selesai harus tambah lagi” keluh ay.


“Yakin gak suka?” goda brian sambil menaik turunkan alisnya.


Ay menutup wajahnya dengan kedua tangan, “Suka” jawab gadis itu singkat dan itu kembali membuat gelak tawa brian keluar, hingga sampai keluar dari kamarnya, membuat para maid yang tidak sengaja mendengar merinding ngeri.


...🦁🦁🦁🦁🦁...


bonus pict