My Little Girl

My Little Girl
S2. MLG 85. Sultan mah bebas



Al baru saja pulang tiga puluh menit yang lalu, tidak berapa lama Al pulang Johan masuk bersama suster dan dokter perempuan yang tadi diminta Brian.


“brian ini adalah dokter perempuan yang aku bilang, namanya Siren, dan ini suster yang akan membantunya, namanya Riri” johan memperkenalkan dua orang yang akan ikut dengan johan untuk merawat ay di rumah, “dan peralatan kedokteran sedang dalam perjalanan menuju rumah dan di siapkan di rumahmu” lanjut dokter johan lagi.


“Nona danaya, sudah siap makannya kan? Bagaimana jika mandi sekarang” si suster bertanya lembut pada Ay.


“Mandi?” beo brian, bukan ay yang bertanya melainkan brian. “kamu memandikan istriku?” tanya brian lagi.


Johan mengulum senyumnya melihat tingkah si mr. Posesif. “Ay masih belum boleh menggerakkan badannya jadi suster akan membantu membersihkan badannya brian” johan membantu si suster agar mendapatkan izin membersihkan badan istrinya.


“Biar aku saja yang memandikan ay, kau cabut saja infusnya, nanti kalau sudah siap aku akan memanggil kalian” ucap brian dengan dingin, dia tidak ingin tubuh istrinya disentuh oleh seorang pun walaupun suster itu perempuan.


“Tapi tuan_” si suster hendak membantah tapi tidak bisa.


“lakukan saja, aku tidak ingin ada yang melihat tubuh istriku” potong brian.


“saya juga cewek tuan, mana minat saya dengan istri tuan” ucap si suster di dalam hati, hanya mampu di dalam hati karena tidak berani kena semprot atau lebih bahayanya lagi kena pecat, sudah susah-susah dia bersaing untuk menjadi suster pilihan, karena gaji yang ditawarkan sangat menggiurkan, dia bisa hidup tenang selama beberapa tahun tanpa bekerja jika selesai menjaga nona danaya.


“Brian, istri mu butuh istirahat, kau yakin sanggup menyentuh istrimu tanpa membuatnya terangsang atau kau yang mungkin bakal membuat ay kelelahan karena berciuman” johan berkata dnegan terang-terangan, sekarang posisinya adalah seorang dokter, dia harus memberikan peringatan pada brian, sebelum pria itu membuat istrinya kelelahan.


“Aku tau! Aku tidak sebejat itu, aku menyayangi istri dan anakku” balas brian.


Johan akhirnya mengangguk pasrah, “akan aku lepas selang infusnya, jangan sampai tangannya yang terkena infus, terbentur atau terkena air, jadi hati hati” johan berkata sambil menyuruh dokter Siren untuk melepas infus ditangan ay.


“baik” jawab brian, dia segera menggendong istrinya itu menuju kamar mandi, membawanya dengan hati-hati takut terjadi hal berbahaya pada bayinya.


.


Sampai dikamar mandi brian meletakkan ay dengan perlahan di kloset duduk, dengan perlahan pria itu membuka kancing baju ay satu persatu, dia meneguk saliva nya begitu kancing di dada ay terbuka dan memunculkan buah melon yang sangat menggiurkan.


Brian menggelengkan kepalanya sebentar lalu dengan perlahan menarik baju ay melewati lengan ay dengan perlahan. Setelah selesai di bagian atas, pria itu turun melihat celana yang masih ay kenakan.


“kalau kakak tidak bisa aku bisa meminta suster saja yang membantuku” Ay berkata dengan menahan senyumnya, sejak tadi dia tau suaminya itu sedang memikirkan bagaimana cara bertahan dari melihat tubuhnya yang menggiurkan.


“gak boleh!” protes brian cepat, “berdiri sebentar sayang” pinta brian, begitu ay berdiri dia langsung menurunkan celana ay seluruhnya, hingga sekarang ay tampak polos didepan brian.


“Sebentar ya sayang” brian mengambil handuk basah dan mulai mengelapi seluruh badan istrinya dengan wajah serius brian mengelapi tubuh ay membuat ay tertawa kecil hingga ada sesuatu yang bergoyang begitu ay tertawa.


“yang, jangan ketawa please.. kakak gak konsen liat gerakannya” ucap brian memohon, karena saat ini di sedang mengelap lengan ay dengan serius, tentu saja bukit kembar ay hanya berjarak beberapa centi dari matanya, ingin rasanya brian langsung melahap itu, tapi pria itu kembali bertahan dan bersikap serius.


“Muka kakak lucu banget habisnya, jadi bikin ay ketawa” kekeh ay.


“kakak serius ini, jangan ketawa, liat getarannya sampai ke bawahkan” brian menunjuk benda pusaka yang ada di bawahnya, sudah menegang sempurna.


Melihat itu ay kini tertawa keras, dan membuat brian juga ikut tertawa.


“sayang please, serius ya, biar cepat selesai” pinta brian dengan tawa yang dia tahan.


“oke oke, tu kakak jangan diremas ya, ntar ay jadi terangsang” kekeh ay.


Ay menahan tawanya mendengar ucapan brian, Dia berusaha tidak mengganggu konsentrasi brian yang sedang mengelap kebagian badannya.


Hingga kebagian bawah ay, brian menatap kue cubit yang sangat menggoda untuk di cicipi itu, dia menahan nafasnya begitu tangannya sudah mengelap kebagian bawah, “sebentar sayang” ucap brian.


Ay merasa merinding dan geli ketiga handuk basah itu mengenai kue cubit nya, sama seperti brian dia juga menahan nafas agar sentuhan brian tidak membuat dia mendesah.


“Ahhhh” brian menghembuskan nafas panjang begitu selesai di tempat tersulit menurutnya, kini ay sudah selesai di mandikan, brian mengambil baju ay, dan mulai memasangkan pakaian itu ke badan istrinya.


“kak itu gak sakit?” tanya ay, tangannya menunjuk pada benda pusaka brian yang sepertinya sudah menegang didalam sangkar.


“Gak apa sayang, nanti biar kakak urus” jawab brian, dia langsung menggendong ay setelah siap memakaikan pakaian gadis itu.


‘cup’ brian hanya mencium sekilas bibir istrinya lalu dengan cepat berbalik ke kamar mandi.


“mau ngapain kak?” tanya ay heran.


“Menyelesaikan urusan si lobak dulu” jawab brian sebelum dia masuk ke dalam kamar mandi.


Ay tertawa pelan, mendengar penuturan brian, jika suaminya tidak sanggup dia bisa meminta suster, dia tidak masalah dengan itu.


.


Lima belas menit kemudian brian keluar dari kamar mandi. Bagian bawahnya sudah tidak terlihat sesak lagi.


“kalau sesusah itu kenapa gak biarin aja si suster yang mandikan ay” ujar ay.


Brian menggeleng, “gak boleh, kamu hanya milikku, tidak boleh yang lain melihat milikku” protes brian cepat.


“ya udah kalau gitu, kak~ mana koki nya” pinta ay.


Brian langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong celananya.


“bagaimana bob? Sudah dipanggil?” brian bertanya langsung tanpa menunggu sapaan dari bobby.


“Sudah tuan beberapa menit lagi akan sampai, dan akan datang petugas yang memasangkan kompor listrik di kamar nona ay, sebentar lagi mereka akan datang tuan” ucap bobby.


‘brak’ pintu kamar Ay terbuka dengan paksa, johan masuk dengan wajah sedikit marah.


“apa apaan itu brian? Kau membawa kompor di sini? Untuk apa? Kalau mau masak ya dibawah saja, tinggalkan istrimu sebentar saja” gerutu Johan, dia masuk bersama beberapa petugas yang memasangkan kompor besar di depan ranjang ay.


“ini rumah sakitku, istriku mau melihat pertunjukan masak koki, jadi aku membawa koki dan peralatan masaknya kesini” ucap brian.


Johan menepuk keningnya dan menggelengkan kepala tidak habis pikir ada orang yang mempersiapkan hal apa saja yang akan diminta hanya dalam beberapa jam, Sultan kan bebas.


...🦁🦁🦁🦁🦁...