
Pagi harinya Ara diantar seperti biasa oleh Deon, tapi ada yang beda, kali ini Deon juga ikut turun dari mobilnya, dan hal itu membuat beberapa murid yang ingin memasuki sekolah menjadi heboh, ketika melihat pria tampan merangkul ara menuju gerbang sekolah.
Bukan hanya itu Ara juga terkejut melihat Botak sudah menunggu didepan gerbang sekolah dengan beberapa bodyguard.
"Itu siapa yang di belakang tuyul kak?"
Deon sedikit terkekeh lalu menjawab, "Botak Ara, nanti dia marah kalau di panggil tuyul, yang dibelakang dia itu bodyguard".
" Bodyguard? ngapain bawa bodyguard kesini?" Ara tampak bingung di belakang botak ada 3 orang berbadan besar yang memakai pakaian serba hitam.
"Nanti tau alasannya" Jawab Deon santai.
Ara tampak bingung tapi dia tetap jalan mengikuti Deon yang merangkul bahunya.
"Kakak mau kemana sih? masak Ara di antar ke kelas juga" Ara sedikit merengek karena dia risih dengan pandangan orang-orang padanya, bayangkan saja dia jalan bersama Deon dan disisi kiri dan kanan, depan dan belakang ada orang yang berjalan menjaga agar orang orang tidak mendekat, seperti artis bukan?
Begitulah Deon, dia tidak mau ada wanita yang berpura-pura menjatuhkan dirinya pada Deon berharap Deon berhasil menangkap tubuhnya. Jangan pernah berharap itu terjadi karena itu tidak akan mungkin, hanya 2 orang yang bisa Deon sentuh, Ara dan ibunya selebihnya mau ada perempuan berdarah darah didepannya juga gak bakal Deon tolongin.
"Hai ara!" Panggil shasa dari jauh, wanita itu berusaha mendekat tetapi di tahan dengan bodyguard Deon. "Aku teman ara" Shasa menunjuk dirinya sendiri.
"Iya dia temanku" Shasa begitu senang Ara mau mengakui nya, baru saja dia mau melangkah mendekati Ara, suara dingin dan tajam segera menghentikan langkah nya.
"kalau ada urusan dari sana saja, jangan mendekat menjijikkan" ketus Deon, dia memang menganggap semua wanita yang pernah bersentuhan dengan sengaja padanya menjijikkan kecuali Ara dan ibunya.
"Ahh--- ba-baiklah aku hanya ingin berjalan bersama saja tadi" gagu Shasa.
.
Deon kembali melangkah kan kakinya menuju mading sekolah, Mading saat itu sangat ramai karena ada surat dari guru dan kepala sekolah tentang permintaan maaf pada Ara. Kerumunan itu memang ramai tapi dapat Botak singkirkan dengan cepat.
"Tak apakah semuanya sudah menulis surat permintaan maaf?" Deon sangat malas membaca satu persatu, yang penting dia tau guru-guru itu sudah mengakui kesalahannya.
"Hanya satu orang yang belum menulis tuan"
Deon melirik Botak tanpa mengucapkan apapun. "Wali kelas nona ara tuan, dia tidak mau mengakui kesalahannya" botak segera mejawab Deon tanpa pertanyaan karena dia sudah hapal tatapan intimidasi Deon.
"Ahhh jadi dia, singkirkan tak" ketus Deon dingin.
Ara menoleh menatap pria disebelah nya, ini pertama kali nya Ara melihat wajah marah Deon karena selama ini Deon hanya tersenyum manis padanya.
"Kak, bisakah di batalkan? berikan kesempatan kedua untuk bu shinta" pinta Ara dengan memelas.
Deon menggeleng sambil tersenyum manis, tapi terlihat mengerikan sekarang dimata Ara. "Dia sudah menurutmu yang tidak-tidak, aku sudah memberikan toleransi, paling tidak tulis asal saja tidak perlu kejujuran asal menulis surat permintaan maaf untukmu kakak akan maafkan, tapi dia tidak mau mengakui kesalahan nya, orang seperti itu tidak akan cocok bekerja di sini".
"Tap__"
"Gak ada tapi tapian, hanya kali ini kakak gak bisa mengabulkan permintaan Ara, Tak segera cari pengganti nya dan harus bisa mengajar besok, ini adalah hari terakhir wali kelas itu berada disekolah ini".
"Baik tuan" jawab Botak sambil menunduk.
.
Deon melirik Ara yang cemberut karena Deon tidak mau mengabulkan permintaan nya.
"Iya, ara gak suka kakak kayak gini, ntar tambah banyak yang benci sama ara".
"Ara, kamu tau kan semua ucapan kakak pasti akan kakak lakuin, jika kakak membiarkan guru itu begitu saja maka dia akan semakin jahat pada ara, kakak gak mau hal itu terjadi, jadi sekarang segera jalan ke kelas". Deon melirik Robi, juan dan leo yang melintas di dekat mereka.
" Robi, leo, juan" panggilan Deon membuat ketiganya berhenti dan berbalik. "Segera antar ara pergi ke kelas".
" Siap bos" serentak ketiganya setelah itu Deon baru berlalu pergi.
...π£π£π£π£π£...
Saat Deon hendak menuju gerbang, ada perempuan yang menghentikan langkah nya. membuat Deon sedikit mengkerut kan keningnya.
"Siapa kamu?" tanya Deon tidak suka.
"Saya shasa kak_" ucap perempuan itu memperkenalkan diri.
"Bereskan tak" Tanpa mau mendengar kelanjutan ucapan Shasa Deon segera berlalu menuju mobil yang biasa dia gunakan.
.
"Ada urusan apa anda dengan tuan saya?" tanya Botak dengan nada dingin.
"Saya wanita yang waktu itu di club, saya mau mengembalikan cek Kak Allinsky secara langsung bisakah saya meminta nomor kontaknya?"
Botak diam dan memperhatikan Shasa dari bawah ke atas, "Apa benar hanya untuk mengembalikan cek?"
Shasa mengangguk cepat dan dengan wajah senang, "Saya sadar saya salah, makanya saya mau mengucapkan rasa Terima kasih saya secara langsung, dan juga mengembalikan cek itu".
" Anda tidak perlu melakukannya, bukankah tuan andri dan tuan Angga sudah mengatakan anggap saja anda memenangkan lotre, jadi anda tidak perlu berterima kasih pada tuan saya" ucap botak dengan dingin.
"Kalau saya tidak bisa meminta langsung dari anda, saya akan memintanya dari Ara" Shasa mulai tidak bisa menahan emosinya, "jika saya bicara dengan Ara, jangan salahkan saya jika saya mengatakan hal yang mungkin akan membuat Ara salah paham pada tuan muda anda".
" Silahkan, anda jangan besar kepala dan terlalu lama bermimpi, bukan hanya anda wanita yang menjadi bahan percobaan tuan Andri dan Angga, belasan bahkan puluhan wanita dijadikan bahan percobaan seperti anda, dan bukan hanya satu sifat yang saya hadapi, bermacam macam sifat dan karakter perempuan telah saya hadapi, anda hanya salah satu dari orang-orang itu, jangan merasa bangga dengan diri anda dibayar mahal".
Botak menjeda ucapannya. "Jika tuan muda saya menyukai anda, maka bukan uang yang dia berikan, dia akan mengikat anda sehingga anda tidak bisa lepas darinya, seperti nona Ara, tuan muda tidak masalah wanitanya gila harta karena tuan memang kaya, jika harta dapat menguncinya, maka akan dia lemparkan uangnya terus pada wanita yang dia sukai".
"Jadi anda tidak takut saya mengatakan pada ara?"
"Silahkan, seratus langkah nona ara melarikan diri dari tuan saya maka seratus langkah pula tuan saya mengejar dan menguncinya, nona ara tidak akan pernah bisa bebas dari tuan muda, sebaiknya anda berhati-hati dengan mulut anda, anda hanya orang biasa yang ingin menjadi dewi, satu jentikan jari saja anda dan keluarga anda akan menghilang dari kota ini, silahkan mencoba jika anda tidak percaya" Botak berlalu pergi tanpa mendengarkan ucapan Shasa.
Sementara Shasa mengepalkan tangannya kesal karena Botak sejak tadi meremehkan nya, tapi dia juga takut dengan ancaman botak, Shasa akan memikirkan cara lain untuk mendekati Deon, sekarang dia sudah mendapatkan jalan, hanya tinggal memikirkan bagaimana caranya, dan seiring waktu pasti ide itu didapatkan.
...π₯π₯π₯π₯π₯...
πΊCuap cuap authorπΊ
Shasa kesal gara gara botak, author kesal dengan sifat shasa. ππππ
Makasih ya buat dukungannya, tetap like dan vote