My Little Girl

My Little Girl
70. Gue nikah Bro!



Ara datang dengan membawa beberapa tentengan makanan junk food yang sangat banyak, tidak hanya Ara, ketiga temannya juga membawa makanan yang banyak.


Ara mulai meletakkan semua makanan pada meja yang ada di sana.


"Papi gak boleh minta" ancam Ara saat melihat papinya menatap makanan yang sudah Ara keluarkan pada tempatnya, "Ayah, bunda yuk makan" ajak Ara pada kedua orang tua itu.


Ara mengambil sebuah kantong yang berbeda, "Mami makan ini ya, papi tunggu makanan rumah sakit ya" ledek Ara kali ini.


"Kamu ini, enakkan masakan mami kamu dari pada junk food itu" kata papi dengan bangga.


Ara melirik sebal pada papinya dia sudah kembali duduk si sofa dan memakan beberapa burger dan kentang goreng.


"Bang! papi pamer dia bisa di masakin mami tiap hari, papi curang ya bang, dia memonopoli mami, jadi bisa masak buat papi terus, kita kapan ya bang"


"Iya nanti mami masakin kalian makanan kesukaan kalian, tapi hari ini habiskan dulu apa yang kalian beli" ujar mami, dia tau kedua anaknya sangat merindukan masakan ibunya.


"Kan gitu enak, tapi Ara sekarang bisa masak juga mi" bangga Ara memamerkan kemampuan yang baru dia pelajari.


"Iya masak air, masak telor ceplok, masak mie" ledek Axel tidak percaya.


"Wahhh gak percaya dia kak, kak Deon bilang sama babang Axel seberapa jago Ara masak"


"Ara udah bisa masak Xel, di ajari bunda" bukan Deon yang membela melainkan Mitha, bunda Deon.


"Tuh bunda aja bilang! dasar sama adek sendiri gak percayaan" Ara hendak menggigit kembali burgernya, tapi tiba-tiba saja burger itu berpindah pada tangan Deon, dialah yang memakan makanan sisa Ara.


"Ihhh itu banyak ngapa makan bekas ara!" gerutu Ara.


"Ara gak boleh kasar gitu sama calon suami" tegur papi Ara.


"Calon suami apaan sih pi!" balas Ara tidak terima.


"Lusa kalian nikah, jadi benar dong calon suami" kata papi lagi.


"Hahahaha lucu! bro! gue nikah bro!" Ara menepuk bahu leo dan Juan yang ada didekatnya sambil tertawa keras.


"Selamat bro!" ucap mereka serempak.


"ihhh orang gue bercanda, harusnya kalian ketawa!"


"Lu nya yang bercanda ra, tu orang tua lu serius tampangnya, kagak kayak orang bercanda" Juan menunjuk kedua orang tua Ara yang tampak sangat serius.


Ara beralih menatap kedua orang tuanya lalu Menatap Deon, "Benaran? Ara nikah? gak sedang lagi bercandain ara?" tanya gadis itu dengan polosnya.


"Emang Ara gak sayang sama kakak? gak mau nikah sama kakak" lirih Deon.


"bukan gitu, kak, sayang kok, kalau gak sayang mana mungkin Ara bolehin kakak ci__" mulut Ara segera dibekap Deon dengan gerakan cepat. Gadis kecilnya mungkin akan mengungkapkan semua kelakuan Deon jika Deon tidak cepat menutup mulut manis Ara.


"bolehin apa ra?" Axel mendekat dengan seringai yang sudah mengerikan.


"Bolehin kak Deon main ke tempat mami dan papi" ucap Ara dengan asal.


"Tadi gak itu awalnya dek" kini papi juga ikutan penasaran.


"Ihh pada kepo deh, orang Ara asal bicara aja" Arab kembali mengelak, tangannya kini sibuk mengambil makanan dengan cepat, berusaha menghindari pertanyaan.


"Jadi setuju kan dek?" tanya papi lagi.


"Setuju apa pi?"


"nikah lusa ini".


" Gak boleh pending? tunggu Ara selesai sekolah dulu, Ara kan masih mau menikmati masa remaja Ara".


"Emang kakak selama ini menghalangi masa remaja ara?" tanya Deon disela pembicara ara dan orang tuanya.


Ara menggeleng pelan, selama ini Deon tidak pernah melarang ara melakukan apa saja yang dia mau asal itu bersifat positif pada dirinya, jika hal negatif baru Deon melarangnya.


"Tapi, ara takut, emang kenapa sih kok buru-buru nikah?'


"Papi pengen antar kamu ke atas pelaminan, papi gak tau sampai kapan papi sehat ra" lirih papi dengan pelan.


"Ara gak mau!" tegas Ara cepat.


"Kenapa gak mau sayang?" Mitha akhirnya ikut berbicara.


"Dek, kemarilah" pinta papi Ara, awalnya gadis itu tidak mau, tapi karena paksaan Deon gadis itu akhirnya mendekat pada papinya.


Papi Ara segera memeluk putrinya, "Papi janji papi akan berusaha untuk sembuh, karena motivasi papi akan bertambah, pertama melihat perayaan pernikahan mu, melihat pernikahan abang mu, papi juga ingin punya cucu, jadi mau ya" bujuk papi Ara dengan halus.


Gadis itu akhirnya mengangguk pelan. "Papi harus berusaha sembuh ya, hiks hiks" tangis Ara kini kembali pecah, ini pertama kalinya dalam sehari gadis itu menangis sampai dua kali.


"Iya, papi janji, jangan nangis dong, gak malu sama calon suami dan mertua kamu?"


"Gak, kalau kak Deon gak suka Ara yang kayak gini, ya udah batal nikah" ujar Ara disela tangisannya.


"Enak aja, kakak Terima semua kekuranganmu ya! termasuk semua kenakalan yang suka mabuk mabuk dan merokok".


Ara melirik Deon dengan sinis, " udah enggak! Ara udah jadi anak baik kok".


"Jadi mau ya nikah sama kakak?" bujuk Deon lagi.


"Ya deh" jawab ara asal


"Wahhh pakai Deh ya! ra, emang kamu gak mau nikah sama kakak?"


"hmmm mau gak mau sih" gurau ara.


Dengan iseng Juan bertanya, "gak maunya kenapa ra?"


"Masih sekolah, gak mau punya anak dulu, kalau nikah kan bisa punya anak" ucap polos ara.


Dengan gemas Deon mencubit pipi ara, "masalah itu bisa diatur".


" Kalau maunya apa ra?" tanya Juan lagi.


"Sayang loh kak Deon kan langka, barang limited ini hanya ada satu di dunia?" ucap Ara dengan mengedipkan sebelah matanya.


"limited gimana ra?"


"Ya kan limited, payah loh cari cowok kayak kak Deon, yang gak bisa sentuh cewek sana sini, jadinya Ara gak perlu khawatir lagi kak Deon main sama cewek lain" ucapan Ara membuat semua orang didalam ruangan itu tertawa kecuali Deon, karena dia lah yang menjadi korban bully kali ini.


...🐣🐣🐣🐣🐣...


Seperti biasa Deon akan terus masuk kedalam kamar Ara di manapun dia berada. pria itu seakan tidak takut, akan ketahuan oleh abang Ara.


"Ra" panggil Deon pelan.


Ara yang saat itu sedang memainkan gamenya segera duduk untuk melihat siapa yang panggil.


"Kak, kemarilah" pinta Ara, gadis itu menepuk nepuk tempat tidur di sebelahnya.


"Sedang mikirin apa?" Deon merapikan sebagian anak rambut Ara yang tampak berantakan.


"Pernikahan" jawab Ara singkat, kini dia berbaring dan menjadikan paha Deon sebagai bantalnya.


"Kenapa? kamu tidak mau menikah dengan kakak?" Deon sedikit sedih ketika mengucapkan kalimat itu, karena dia sangat berharap gadisnya sangat antusias dengan pernikahan itu, walau hanya pernikahan sederhana.


Ara kini duduk, tangannya sudah mengelus pipi Deon pelan, "Kakak benaran sayang sama ara? bukan karena kakak hanya bisa menyentuh ara dan bunda? makanya kakak tidak punya pilihan untuk menikahi ara, karena ara satu-satunya wanita asing yang bisa kakak pegang?"


Deon balas menggenggam tangan Arab yang ada di pipi nya, lalu mengecup pelan tangan ara setelah itu dia meletakkan tangan ara pada jantungnya.


'Deg deg deg' Detak jantung Deon kini tidak beraturan, seperti baru berlari meraton.


"apa kamu merasakannya? ra, hanya kamu yang mampu membuat jantung kakak seperti ini".


Ara kini mengangguk pelan, niat hati ingin membuat Deon baper, eh malah dia sendiri yang baper termakan godaan Deon.


Deon tau gadisnya sedang malu, dia perlahan mulai mendekati Ara, ingin kembali mencium bibir gadis itu, tapi sayang niatnya harus batal.


'Ceklek' pintu kamar Ara terbuka, disana axel berdiri dengan tangan yang dilipat, "Masih lusa, lu boleh pegang-pegang sky!" ketus Axel.


...πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯πŸ₯...


...🌺🌺🌺🌺🌺...


maaf ya untuk hari ini sampai sini dulu, nanti dilanjutkan lagi ya, tetap dukung dengan cara vote dan like ya, Terima kasih semua ❀❀❀