My Little Girl

My Little Girl
S2 MLG 73. Ketakutan



Sekali lagi ay terbangun akibat ulah sang ketua mafia yang sejak tadi mencium wajah dan bahunya yang tidak tertutupi selimut.


"Kak~ geli" gumam ay sambil membuka perlahan matanya.


"kamu wangi banget baby" kekeh Brian masih mencium bahu ay sambil sedikit membuat bekas kissmark di sana.


Ay tertawa kecil hingga membuat gempa kecil pada dua buah gunung yang tidak tertutupi apapun saat ini, "bau gini di bilang harum, hidung kakak bermasalah" ucap ay di sela tawanya.


"ini benaran lo baby, kakak gak bohong kakak bisa ciumin kamu seharian" ujar Brian serius.


ay mendorong wajah Brian yang sudah menempel pada gunung kembarnya, "kesempatan terus, ay capek kak" kesal ay.


Brian akhrinya mengalah dan memilih menatap mata istri cantiknya itu, "tadi mommy telepon" lapor Brian.


"mommy? kenapa mommy telepon?" tanya ay heran.


"tadi nanya kapan pulang"


"terus kakak jawab apa?" ay mengambil ponselnya yang kebetulan ada disebelahnya untuk mengecek apa benar ada telepon seperti yang di bilang Brian.


"sampai ada dedek disini baru kita pulang" ucap Brian diikuti tawa renyah nya.


'puk' ay memukul lengan suami nya itu pelan, "ay serius kak, jangan bercanda" kesal ay.


"paling lama seminggu lagi" jawab Brian serius.


"lama banget?"


"gak suka? bersantai sama kakak seperti ini?" Brian meletakkan kepala istrinya agar menjadikan lengannya sebagai bantalnya, ay mengikuti arahan Brian dan menempel kan badannya semakin dekat dengan Brian.


"jangan bangun ular kobra nya kak, ay masih capek ini" ucap ay cepat saat badan mereka menempel.


"masih pagi ini sayang, wajar bangun, biasanya pagi itu adalah jamnya dia bangun, tapi gak bakal nerkam kue cubit kok" kekeh Brian.


"awas kalau nerkam" ancam ay sebelum kembali mengeratkan pelukan nya pada Brian.


"iya sayang, gak macam-macam" janji Brian.


"kak, gimana kalau kita nanti punya anak? kakak suka anak kecil?" ay tiba-tiba saja jadi melow begitu Brian mengatakan tentang anak. dia memilih tidak menjawab pertanyaan Brian yang gak jelas tadi.


"kalau yang berasal dari kamu kakak akan suka, daddy deon aja kakak sayang, karena dia bagian dari kamu" kekeh Brian.


mengingat anak ay teringat ucapan daddy nya dulu saat dia masih di dalam kandungan, "kak, tau gak, daddy bilang waktu kami masih di dalam perut mommy, daddy berusaha untuk tidak membunuh siapapun mau itu musuh bebuyutan ataupun orang yang membuat dia naik darah" ay berkata sambil menyembunyikan wajahnya di dada Brian.


"kenapa?" tanya Brian, dia sibuk memainkan rambut istrinya yang panjang, karena tidak bisa melihat wajah istrinya yang bersembunyi di dadanya.


"Daddy takut karma, dia tidak mau terjadi sesuatu pada anak dan istrinya, mengingat itu ay jadi takut kak" ay semakin mengeratkan pelukannya pada brian, gadis itu takut dengan Melani, yang sedang sekarat akibat ulah suaminya dan dirinya.


wajah Brian sedikit berubah mengerikan mendengar istrinya yang ketakutan, dia tidak suka istrinya ketakutan. Tapi itu hanya sebentar karena dia sudah mengubah kembali raut wajahnya menjadi normal, takut ay melihat wajah mengerikan pria itu.


"takut kenapa sayang?"


"jika di perut ay sudah ada bayi dan melanjutkan meninggal, apa Melani akan membawa bayi kita bersamanya kak?" ay mengangkat kepalanya agar dapat menatap mata Brian.


"Sayang, itu hanya mitos, gak mungkin terjadi" Brian sengaja mengucapkan itu untuk menenangkan ay, tangannya dengan cepat menghapus air mata ay yang sudah mengenang di pelupuk matanya.


"tapi ay takut, akan terjadi sesuatu pada bayi kita kak, ay tidak ingin itu terjadi" entah kenapa ay jadi begitu melankolis.


Brian mengeratkan pelukannya pada ay dan mencium puncak kepala ay serta mengelus punggungnya, "tenang, jangan berpikir tentang itu, kakak tidak akan membiarkan wanita itu mati jika kamu inginnya seperti itu, jadi jangan memikirkan hal itu lagi ya".


ay mengangguk pelan dalam pelukan Brian. dia diam menikmati pelukan hangat Brian


" makasih kak, maaf permintaan ay berubah-ubah"


ucap gadis itu pelan.


"iya sayang, tidak apa" ujar Brian masih mengelus punggung terbuka ay.


"kak, ay pengen sarapan di pinggir pantai" ucap ay setelah lama berada di pelukan Brian.


ay tidak mengeluarkan suara hanya mengangguk singkat.


"baiklah, kamu mandi dulu, kakak akan keluar bentar, suruh maid untuk mempersiapkan permintaan istriku ini" ucap Brian sambil mencubit pipi ay dengan pelan.


ay lagi-lagi tidak menjawab hanya tersenyum dan mengangguk.


'cup' Brian mencium bibir ay yang sejak tadi diam, "jangan terlalu dipikir kan ya, semua akan baik-baik saja" gumam Brian sebelum pergi meninggalkan istrinya itu.


.


Begitu sampai diluar Brian langsung menghubungi bobby asistennya itu.


πŸ“² "halo tuan ada apa?" tanya bobby.


πŸ“² "jangan biarkan wanita ular itu mati, tapi jangan juga membiarkan dia bebas dari rumah sakit!" ucap Brian.


πŸ“² "tapi tua__"


πŸ“² "lakukan saja apa perintah ku! kalau perlu kerahkan dokter terbaik untuk menyelamatkan hidup wanita itu!" bobby tidak dapat melanjutkan ucapannya lagi karena Brian sudah memotong ucapannya dengan cepat.


πŸ“² "ba-baik tuan" ucap bobby cepat, dia tidak tau apa yang terjadi tapi dia tidak ingin kepalanya melayang karena membantah ucapan sang ketua mafia.


πŸ“² "bagus cepat laksanakan! jangan menunda lagi!" ucap Brian lalu mematikan telepon secara sepihak.


setelah menelpon bobby Brian turun ke dapur untuk mencari kepala pelayan, dia mau mengatakan semua permintaan istrinya, Brian akan melakukan apapun untuk membuat istrinya bahagia, termasuk memaafkan Melani, tapi dia akan membunuh wanita itu begitu anaknya lahir, itu tekad Brian.


...🐼🐼🐼🐼🐼...


"ahhh! pantai!" seru ay riang begitu melihat pantai yang ada di depan matanya, gadis itu berlari riang di pantai yang tampak sepi dan indah itu.


Brian duduk sambil melihat ay yang sekarang sudah kembali ceria, ini yang dia inginkan melihat senyum ay terus, bukan ketakutan ataupun kesedihan.


"Baby, makan dulu sini" teriak Brian, pada ay yang sudah bermain air, gadis itu mendekati pantai agar kakinya terkena air ombak.


"bentar kak" jawab ay masih sibuk bermain.


tidak mau istrinya sakit Brian mengejar ay dan menggendong gadis itu untuk duduk dan makan.


"padahal ay masih pengen main" gerutu ay dengan wajah cemberut.


"makan dulu, baru nanti mainnya" ucap Brian yang sudah sibuk menyuapkan nasi kedalam mulut ay.


melihat tingkah Brian ay tertawa kecil, "kakak mirip daddy yang sedang sibuk menyuapi anaknya" ujar ay di sela tawanya.


"kan bentar lagi kakak jadi daddy, jadi harus latihan sebelum jadi daddy" ucap Brian, sambil kembali menyendok nasi untuk dirinya sendiri.


ay mengelus puncak kepala suaminya itu, "daddy hebat" puji ay dengan senyum cerahnya.


...🐻🐻🐻🐻🐻...


maaf sampai sini dulu ya, kalau bisa nanti di lanjutin lagi


jangan lupa dukungannya ya, like, vote dan hadiahnya.


Terima kasih


bonus pict hari ini :


ay yang sedang bermain di pantai




Brian yang hanya duduk melihat istri cantiknya