
Axel tertawa senang semuanya bisa diancam Deon, tapi dia kan tidak bisa diancam, mau diancam apa? Dia kan kakak ipar deon.
“Pi, abang pi” ara merengek pada papinya.
Sejurus kemudian Axel lari mengikuti jejak para teman-temannya, bukan deon yang ditakuti Axel, tapi papi dan maminya dan ara berhasil membuat mereka mengancam Axel.
.
Alunan music lagu blackpink ‘Bombayah’ terdengar di taman besar itu, Ara tertawa puas melihat para pria yang berdandan seperti Wanita, sangking puasnya dia tertawa,air matanya sampai keluar, bukan hanya ara, tapi para penonton yang lainnya juga tidak bisa menahan tawa mereka.
Musik masih berputar, tapi Gerakan ke tujuh pria itu terhenti, saat melihat ara didepan mereka yang masih tertawa menikmati hiburannya yang luar biasa menabjubkan itu. Axel dan Juan menatap horror kearah Ara yang tepat berada didepannya.
Jika mengingat Wanita itu sedang tidak hamil, mungkin mereka berdua akan bekerja sama untuk mencabik-cabik bibir Wanita itu.
“Yahhh…kenapa kalian berhenti?” kehilangan kesenangannya membuat hani protes. Ara Mengusap perut besarnya. “lanjutkan lagi, kenapa diam?”
“Dek… tolonglah jangan menjatuhkan harga diri abang” lirih Axel.
“Mami!” ara mulai menangis, memasang wajah andalannya yang dapat membuat semua orang kasihan padanya dan saat itu juga mereka yang sedang tegak itu mendapatkan tatapan horror dari para penonton, mau tidak mau mereka Kembali melanjutkan sesi tari menari mereka.
Bukan hanya satu lagu, mereka menari untuk dua lagu penuh, untuk membahagiakan ibu hamil yang sedang ngidam, malu sudah tidak bisa mereka tanggung lagi, mereka hanya bisa pasrah menjadi bahan tawa, untuk membuat ibu hamil itu Bahagia.
Saat Lagu ketiga akan dimulai, tawa ara berhenti.
“kalian membosankan” ucap ibu hamil itu tiba-tiba, dia langsung tegak dan dibantu suaminya untuk masuk ke dalam rumah.
Hiburan itu tidak sampai lebih dari tiga puluh menit. Dan ara Sudah hilang dari hadapan mereka bersama suaminya, Wanita itu berlalu begitu saja meninggalkan para pria jadi-jadian yang baru saja berhenti menari. Melihat itu mereka ber 7 langsung terduduk pasrah.
“Mi! apa semua Wanita hamil seperti itu?” gerutu Axel.
“Aku rasa tidak bang, hanya ara saja Wanita hamil yang lain dari pada yang lain” sambut Juan.
“Ahhh! Aku benci Wanita hamil. Awww….Mami!” pekik Axel karena dia baru saja mendapatkan cubitan panas dari maminya.
“Dia adikmu!”
“Baiklah!”
Tidak sampai sepuluh menit Ara Kembali keluar menuju taman, berjalan dengan dituntun oleh Deon. Dia berdiri didepan para pria jadi-jadian itu.
“Kalian sudah boleh mengganti baju kalian”
“Benarkah?”
Ara mengangguk dan Kembali masuk kedalam rumah.
“Akhirnya…” ucap para pria jadi-jadian serempak.
...🐣🐣🐣🐣🐣...
“sayang kita pulang aja ya, kakak sudah capek”
Ara tidak menjawab bahkan tidak menoleh sama sekali kearah Axel dan Deon yang saat ini tepat berada di samping tubuhnya, sementara para orang tua sedang asik menikmati cemilan mereka melihat pertunjukan terbaru yang disuguhkan oleh Ara.
Kali ini gadis kecil itu mengajak keluarganya untuk berlibur ke taman bermain.
Ara Kembali tidak menjawab, tatapannya lurus ke depan, tersenyum takjub dengan sesuatu yang dilihatnya saat ini. Tangannya bergerak lembut dan teratur membelai perutnya yang mulai membesar. Saat ini usia kandungannya sudah menginjak bulan ke enam.
“Tidak kak, ara belum coba yang itu”
“Apa?! Kita sudah menaiki dua wahana extream disini, bahkan perjanjiannya hanya satu” pekik deon, sebenarnya yang menaiki wahana-wahana extream itu hanya deon dan axel, sementara ara hanya menonton dibawah dengan bersorak gembira seperti seorang cheerleaders.
Semakin besar usia kandungan Ara, maka semakin besar hal gila yang dia inginkan. Seperti saat ini, Ara bilang dia mengidam ingin menaiki wahana extream di taman bermain, tapi karena tidak diperbolehkan, maka Axel dan Deon yang menggantikan.
“Hiks-hiks, Anak-anak kakak yang minta” Ara Kembali dengan jurus andalannya, yaitu menangis dan merengek. Jika itu terjadi maka para orang tua yang akan turun tangan memaksa kedua orang itu untuk melakukan permintaan dari cucu-cucu mereka.
Deon mendesah kasar. Dia membuang wajahnya kesisi lain dimana ada Axel. Sahabatnya itu sudah terlihat cukup kacau seperti dirinya. Kepalanya bahkan sudah berputar-putar tak karuan. Setelah Hurricane, lalu Double Rock Spin, sekarang Ara malah meminta mereka untuk menaiki rolling X-train.
“Ini gila” batin Deon menjerit. Tidak cukupkah tadi dia sudah berputar di atas tanah dengan kekuatan angin seperti tornado dari permainan hurricane? Lalu selanjutnya dia harus dieksekusi empat putaran penuh berturut-turut pada ketinggian dua puluh meter akibat ulah permainan Double Rock Spin.
“Baby, kamuy akin bayi-bayi kita yang memintanya? Tidak kasian liat tampang unclenya sudah seperti itu?” Deon menunjuk tampang mengerikan Axel yang sudah seperti mayat hidup.
Akhirnya Ara menoleh. Gadis kecil dengan perut buncit itu tersenyum mengerikan layaknya iblis betina.
“Justru Bayi-bayi kita yang menginginkan itu” Ara Kembali merengek.
Astaga sepertinya Deon dan Axel akan pingsan sekarang, harus memacu adrenalin berkali-kali akibat ngidam aneh istrinya itu.
“Hmmm naiknya bisa besok aja sayang?” Deon mencoba memelas mencari perhatian istrinya.
Bukannya merasa kasian, Ara hanya cemberut, “Gak mau, pokoknya harus naik itu sekarang titik gak pakai koma” keras ara, sepertinya bayi-bayi deon sedang senang bisa mengerjai uncle dan daddynya.
“Sayang kamu tidak liat Axel sudah kacau?” Deon masih bersih keras mencari cara untuk menghindari hukumannya, bisa dibilang itu hukuman kan?
Ara menoleh pada abang kesayangannya itu untuk melihat wajahnya lebih lekat, disana Axel terlihat sedikit pucat. “Bang~” Ara memulai aksinya dengan memelaskan wajah, biasanya selalu berhasil.
“Apaan?”
Axel menoleh, dia menatap adik kesayangannya itu yang saat ini memasang wajah minta dikasihani, mata adiknya itu mulai berkaca-kaca dan pergerakan tangan ara di perutnya membuat Axel harus Kembali mendesah pasrah.
“Abang sudah setuju!” Sorak Bahagia Ara ketika Axel mengangguk dengan pelan.
.
Lima belas menit pun berlalu.
“Kalian payah” gerutu Ara.
Setelah mengucapkan dua kata dari bibirnya tanpa dosa, Ara meninggalkan area permainan rolling X-Train yang baru saja dinaiki oleh suami dan abangnya.
Ara berjalan sambil menggandeng mami dan ibu mertuanya, meninggalkan Deon dan Axel yang saat ini sedang menahan mual untuk mengeluarkan segala isi perutnya.
Papi dan ayah hanya bisa membantu kedua pria dewasa itu dengan mengusap punggung mereka, agar Deon dan axel bisa lega telah memuntahkan isi perutnya.
“Sabar ya ibu hamil emang begitu tingkahnya menyebalkan, Ayah dulu waktu kamu masih didalam kandungan lebih parah lagi” ucap jujur ayah deon.
“Iya yah, deon merasa cukup punya anak tiga aja, gak bakal nambah lagi, bisa bahaya jika nambah, entah apa lagi yang diinginkan bayi-bayi deon” Keluh deon.
...🐤🐤🐤🐤🐤...