My Little Girl

My Little Girl
S2 MLG 115. END



Brian menatap putranya yang sedang menyusu pada ay, terlihat sangat lahap sekali, saat ini hanya mereka berdua yang ada, para keluarga sedang sibuk dan tidak bisa menemani ay.


Brian menatap sendu abang ray, sesekali pria itu mengelus pelan kepala abang ray.


"Kenapa kakak kok mandang abang gitu? cuma bentar loh abang mengusai buah melon kesukaan kakak" ledek ay.


Brian sedikit tersenyum dan mencubit gemas pipi ay, " bukan itu sayang, kakak mikirin yang lain, bukan yang itu" ujar Brian sambil menggeleng pelan.


"Mikirin apaan sih?" tanya ay penasaran.


"Apa kakak bisa jadi daddy yang baik buat abang Ray, kakak ini ketua mafia yang kejam, kakak takut menjadi seperti pak tua itu, yang berakhir dengan kebencian, kakak marah sama pak tua itu, kenapa dia tidak bisa membesarkan kakak dengan normal, kakak takut salah ambil tindakan" Brian mulai mengungkapkan kegundahan nya pada ay.


"oeeekkk oeekk"


Abang Ray melepaskan sumber susu nya, dan menangis keras.


"liat abang gak suka daddy nya berpikir negatif, kakak gendong dulu ray sini" ay menyuruh Brian mendekat pada dirinya, setelah itu ay menyerahkan baby ray ditangan Brian.


tangisan abang Ray berhenti begitu dia sampai di tangan Brian.


"Liat, abang tenang kalau bersama daddy nya, kakak jangan pikirkan itu, masalah mengurus abang membesarkan nya, kita akan belajar bersama, justru karena ada pembelajaran kakak jadi bisa membedakan mana yang boleh, karena kakak pernah di posisi itu, kita biarkan abang akan menjadi apa kedepannya, kita hanya perlu memberikan kasih sayang yang banyak pada abang, agar dia tidak kekurangan kasih sayang" ay berusaha membuat semangat Brian bangkit.


Brian tersenyum dan mengecup kening ay dengan sayang.


"Kamu benar sayang" ujar Brian.


...🐼🐼🐼🐼🐼...


"Tayang cucu grandma ganteng banget sih abang" puji Ara sambil menimang cucu pertamanya.


Semua tersenyum melihat Ara yang asik menggendong abang Ray.


"mom, mommy masih cocok loh buat hamil lagi" celetuk Al.


"Masih cocok kan tapi daddy kamu gak bolehkan" ujar mommy ara.


Semua mata kini tertuju pada Deon, membuat pria yang baru saja resmi menjadi Grandpa itu salah tingkah.


"Bukan gitu nanti Brian kalah lagi sama daddy kalau daddy dapat baby" ucap Deon.


"kok kak Brian kalah dad?" tanya Ay bingung.


"iya kalah lah, daddy sekali coblos langsung dapat 3, si Brian sekali coblos cuma dapat 1" ucap daddy Deon dengan tawa keras diakhir kalimatnya.


Brian menggelengkan kepalanya dan tertawa pelan, "Bentar lagi dad, nanti Brian coblos lagi biar dapat 3 sekaligus" ucap Brian.


"Emang kapan rencana bang?" tanya al.


"4 bulan lagi" jawab Brian asal.


'Plak'


Ay langsung menepuk paha Brian yang kebetulan duduk di dekatnya. "enak aja, gak mau! tunggu abang besar dulu" omel ay.


Brian dan yang lainnya tertawa mendengar omelan Ay.


"Gak apa lah sayang, biar abang ray mommy yang jaga kamu urus aja masa-masa ngidam lagi" kekeh Ara. "mommy mau 2 lagi yang gantengnya kayak abang ray" tambah mommy ara.


Brian menatap Ay dengan menaik turunkan alisnya, "gimana sayang? mau kan? mommy udah minta itu" ujar Brian.


Ay menggeleng cepat, "gak mau tunggu abang agak gede baru tambah lagi, kasian abang kalau gak puas dapat ASI kak" gerutu ay kesal.


'Tok tok tok' saat sedang asik berbincang-bincang semua mata langsung menoleh menatap kearah pintu ruangan ay yang di ketuk.


El yang berada paling dekat dengan pintu membuka pintu itu dengan perlahan, keningnya sedikit berkerut melihat siapa yang datang.


"Masuk dad" ujar El.


"Daddy George" ay tanpa sengaja menggumam kan nama tamu yang datang berkunjung.


"Apa daddy boleh datang kesini?" tanya pria tua itu.


"Tentu saja boleh" Mommy ara yang lebih dulu menjawab boleh.


Sementara Brian dan Deon hanya menatap datar daddy George yang sudah masuk ke dalam kamar inap ay.


Daddy George terlihat sangat tua saat memasuki ruangan itu, dia berjalan mendekati ranjang ay dan begitu jaraknya hanya 2 langkah lagi dari ay, daddy George langsung berlutut didepan ay.


"Daddy! kenapa seperti itu tegak dad!" pekik ay terkejut melihat pria tua itu berlutut padanya.


"Daddy salah ay, daddy minta maaf atas kesalahan daddy, maukah kamu memaafkan daddy?" ucap daddy George lirih sambil menundukkan kepalanya.


"ay sudah memaafkan daddy kok, jadi berdiri ya dad, jangan berlutut terus, daddy gak salah kok" jawab ay cepat atas permintaan maaf daddy George.


"Biar aja sayang, dia memang harus seperti itu" ujar Brian dengan dingin.


'plak' Ay kembali memukul Brian tapi kali ini lebih keras.


"kakak!" pekik ay pada suami mafia nya itu. "Dad, ay sudah memaafkan daddy, jadi cepat tegak ya, ay mohon" ucap ay lagi.


Daddy George menatap ay lalu menatap Brian, putranya itu masih menatap dingin kearahnya. Ay juga mengikuti arah pandang mertuanya itu.


"Kakak sayang, udah ya marah sama daddy, abang Ray sehat, dia lahir dengan selamat, ay juga sehat-sehat daddy sudah menyesal itu, kakak maafkan ya" bujuk ay sambil mengelus lengan suaminya itu dengan sayang.


"Maaf" Brian menggeleng pelan, "aku masih belum bisa, tapi untuk melihat cucu dan menggendong nya boleh" ujar Brian dingin.


"Kak_" ucapan ay terhenti saat mommy ara mendekati kedua pasangan suami istri itu sambil menggeleng.


"bangun besan, sudah cukup berlutut nya, kita tidak bisa berperang selamanya, suatu hari nanti hati Brian pasti akan luluh, untuk sekarang mungkin belum"


"oeekkk oeekkk" suara tangisan abang ray membuat kepala Daddy George langsung tegak untuk mencari sumber suara tangisan itu.


Mata daddy George berair begitu melihat bayi mungil dalam gendongan mommy ara, pria tua itu masih belum bisa melihat wajah abang Raya, tapi hanya melihat kepala dan badannya saja daddy George langsung menangis.


"Seperti nya abang Raya tau kakeknya datang" ujar mommy ara. "Ganteng kok nangis mau minta gendong kakek ya?" ara mengajak abang ray berbincang seolah-olah bayi itu mengerti dengan ucapannya.


"Gendong lah dad, dia cucu daddy" ujar ay.


Pandangan daddy George menatap pada ay lalu kembali menatap abang ray yang masih berada dalam gendongan Ara, dengan perlahan daddy George tegak dibantu dengan asistennya.


"Apakah boleh??" tanya daddy George suara pria itu terdengar bergetar.


Brian hanya diam tidak mengeluarkan suara sedikitpun sementara ay dengan cepat mengangguk dan menjawab iya.


"Ini dia di ganteng namanya Ray, kakek" Ara perlahan memberikan baby Ray pada pria tua itu.


Dan seperti yang dikatakan ara, bayi itu memang berhenti menangis begitu berada dalam gendongan Daddy George seolah-olah dia meminta semua perseteruan antara kakek dan daddy nya harus selesai.


"Hay tampan ini kakek~" suara daddy George bergetar, air mata sudah mulai jatuh membasahi wajahnya tapi dengan cepat dia hapus takut mengenai cucu nya.


ay tersenyum melihat pemandangan itu, dia memeluk lengan Brian dan memberikan kecupan pada pipi pria itu, "daddy hebat jangan lama-lama marahnya ya sayangku" bisik ay pada Brian.


...🐰END🐰...


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini, dan nantikan cerita abang al dan abang el ya, dan kemungkinan akan ada extra sedikit tentang abang Ray nantikan ya.


Terima kasih sudah mengikuti cerita ini, dan tetap mendukung cerita ini, jangan lupa like, vote dan hadiahnya ya.


Bonus pict abang Ray umur 2 tahun