My Little Girl

My Little Girl
Bonchap 8. Kembar 3



“sayang~ kok nangis?” tanya ay pelan saat melihat putranya yang mulai terisak kembali di dalam gendongan brian.


“Mom.. mommy berdarah hiks hiks” Ray sepertinya masih mengingat bagaimana tangan ay yang mengeluarkan banyak darah.


“Sayang sini dekat mommy” ay menarik Ray hingga putranya itu duduk diranjang ay dengan sesugukan.


“liat mommy udah gak sakit, jadi abang gak boleh nangis lagi” ucap ay dengan lembut.


Brian membantu Ray menghapus air matanya, “abang, liat daddy” pinta brian dengan lembut.


Dengan masih terisak Ray menatap mata brian.


“Abang liat bagaimana mommy dan daddy melindungi abang?” tanya brian lagi.


Ray menganguk kecil.


“Setelah kejadian ini abang mau membantu daddy melindungi mommy? Abang takut liat darah sayang?” ujar brian, ingin memastikan apakah anaknya takut atau tidak.


Ray kini menggelengkan kepalanya.


“Lalu kenapa abang menangis?” kini ay yang bertanya.


“Karena mommy terluka gara-gara ngelindungi abang hiks hiks” Ray kembali menangis kencang begitu menjawab pertanyaan ay.


Brian dan ay sama sama tertawa pelan dan menghapus air mata Ray yang kembali tumpah.


“Sekarang abang tau kan kenapa daddy selalu memberikan penjaga pada abang?” brian sengaja menjeda ucapannya, saat melihat pria kecil itu mengangguk brian baru melanjutkan ucapannya lagi. “Karena abang masih kecil dan belum bisa melindungi diri abang, liat mommy jadi terluka, daddy akan membolehkan abang pergi tanpa penjagaan tapia bang harus bisa melindungi diri abang sendiri, abang mau berlatih beladiri?” tanya Brian.


Ray mengangguk cepat, “mau..” ucapnya serak karena terus menangis.


“Tapi kalau abang ikut Latihan beladiri, abang akan merasa sakit dan ketakutan, abang siap?” tanya brian lagi.


“Siap, tapi kalau abang belajar, abang bisa lindungi mommy kan dad? Seperti mommy dan daddy melindungi abang?” tanya balik Ray.


Ay tersenyum sambil mengelus puncak kepala Ray dengan menggunakan tangannya yang tidak terluka. “pintarnya putra mommy, cium mommy dulu sayang” pinta ay.


Ray segera memberikan ciuman pada pipi mommy nya itu dan tersenyum Bahagia. “abang sayang mommy, mommy cepat sembuh ya” lirih ray.


“Iya sayang terima kasih” balas ay dengan senyuman Bahagia, dia bersyukur Ray mulai mau berlatih beladiri, dan mulai menurut denga napa yang dikatakan brian.


...🦁🦁🦁🦁🦁...


Johan tadi memberikan waktu kepada keluarga kecil itu untuk bersama sebentar, setelah Ray kembali tertidur, dia baru kembali lagi bersama Siren, dia tidak mau akan kena amukan lagi dari brian.


“tekanan darahnya normal, bagian tubuh vital juga masih kuat, walau luka di lengan akan memberikan bekas, tapi bisa dihilangkan dengan beberapa operasi, perut kamu keram tidak ay?” tanya Johan, Pria itu memberi kode pada Siren untuk memeriksa perut ay.


Ay tampak bingung, yang sakit lengannya tapi kenapa perutnya yang di periksa, ini yang luka dokternya atau ay.


“Tidak terasa apapun om” jawab ay sedikit ragu, pasalnya dia bingung, kenapa mereka semua menatap perutnya. “hanya sakit di tangan saja” tambah ay lagi.


“itu wajar, luka kamu sangat dalam dan panjang, kamu juga kehilangan banyak darah” kata Johan. Selamat ya ay” tambah johan.


“Iya selamat untuk kedatangan 3 anggota baru di perut kamu” kekeh johan.


“APA?!” pekik ay tidak percaya.


“Sayang kamu hamil dan sekarang kembar 3” brian mengatakan dengan lembut pada ay.


Ay masih diam, tangannya beralih pada perutnya yang masih datar itu, “ay hamil? Dan itu kembar 3? Benarkah itu?”


Johan, siren dan brian mengangguk serentak.


“Kyaaa! Akhirnya abang punya teman juga” pekik ay Bahagia. “mereka sehatkan om?” ay tampak khawatir mengingat dia terluka dan sempat pingsan.


“Anehnya kandungan kamu kali ini sangat sehat tidak seperti mengandung abang ray, padahal kamu cukup banyak kehilangan darah, mereka bertiga tetap bertahan” ujar Johan.


“kalau bisa selama kurang lebih satu minggu tangan nona yang terluka tidak boleh digerakkan, takutnya luka nona akan kembali terbuka, mereka memang sehat di dalam sana, tapi kami takut akan terjadi apa-apa jika luka nona kembali berdarah, dan nona kembali kehilangan banyak darah” siren berkata dengan sopan.


Brian mendengarkan sambil menatap ay dengan penuh cinta, pria itu membelai ay dengan sebelah tangannya dan sebelah lagi dia gunakan untuk menggenggam enat tangan ay yang tidak terluka. Brian sama sekali tidak sadar Siren telah memperhatikan tingkah pria itu dengan wajah memerah padam, dia iri melihat brian mengusam dan menggenggam erat jemari ay seperti iri dan kagum akan rasa sayang Brian terhadap wanita yang kini terbaring lemah di ranjang.


“nanti perawat akan membantu nona ay dalam membersihkan tubuhnya, karena takut akan terkena__”


“Apa?! Tidak!” potong Brian cepat membuat dokter siren menaikkan satu alisnya bingung, begitu juga dengan ay, yang mendongak menatap brian bingung.


“apakah tuan akan merawat istri anda sendiri?” tanya dokter siren ragu.


“tentu saja, aku tidak akan membiarkan orang lain menyentuhkan tangannya pada istriku walaupun itu perempuan” jawab brian dingin. Ucapannya itu sukses membuat ay merona malu, sudah beberapa tahun mereka bersama dan brian masih saja memperlakukannya seperti biasanya, super duper protective.


“abaikan saja si bucin satu itu siren, dia tidak akan membiarkan orang lain melihat tubuh polos istrinya walau itu cewek” sindir Johan.


“Ahh begitu, saya jadi iri melihat kalian berdua” ujar dokter siren.


“ada aku gak perlu iri” goda Johan.


“kalau kau masih saling menggoda, aku harap kalian berdua segera pergi dari sini” sindir brian.


“sensi amat sih bos, sekarang gantian ada yang mau kalian tanyakan?” ujar johan.


“kau bilang kandungan ay kali ini lebih kuatkan? Bisakah aku melakukan hubungan suami istri?” tanya brian. Ay melotot pada suaminya itu, disaat beginidia masih memikirkan itu? Suaminya memang tiada duanya.


“hebat sekali brian, pertanyaanmu memang luar biasa, untuk saat ini kita akan menjaga kondisi ay dan kandungannya dulu, mereka memang sehat tapi tidak dipungkiri mereka sempat berada didalam bahaya karena ibu yang kekurangan darah, jadi selama 1 minggu belum bisa menyentuh istrimu dulu, apakah mengerti?” Jelas Johan.


“ya” jawab brian sambil memberikan kecupan pada puncak kepala ay, dan itu kembali membuat ay merona merah, suaminya semakin hari semakin membuatnya merona merah.


“baiklah kalau begitu kami permisi dahulu” ujar johan pamit bersama siren, “ahh iya, kau tidak perlu dokter psikiater anak? Sebaiknya jaga-jaga dahulu, takut abang Ray punya trauma, atas kejadian itu, aku tidak mau keponakan gantengku menjadi psikopat seperti bapaknya” tambah Johan sebelum keluar dari kamar itu.


“baiklah, carikan dokter untuk Ray” jawab brian setuju dengan usulan Johan.


“kalau gitu selamat beristirahat, ingat brian aku bilang beristirahat jangan goda istrimu terus, dia kekurangan darah dan perlu istirahat dan makan yang cukup” sindir Johan sebelum benar-benar pergi dari kamar rawat ay.


...🐰🐰🐰🐰🐰...