
Shasa sampai di dalam kamarnya, dia menatap semua foto dirinya saat masih kecil dan beberapa mendali yang terpampang di dalam lemari, entah sejak kapan dia memiliki sifat seperti itu, dulu dia gadis yang baik dan polos.
Orang-orang terus memujinya cantik dan pintar, bukan hanya memuji, mereka juga mulai memuja Shasa bak seorang dewi.
Semakin hari semakin besar pula gengsi yang gadis itu miliki, dia berusaha keras untuk memasuki sekolah yang sangat bergengsi, sekolah yang hanya di tempati oleh orang-orang terpilih dan terkaya, jika kamu tidak memiliki uang sekolah lah dengan beasiswa, seperti juara basket, atau juara Olimpiade, bagi masyarakat bawah seperti shasa bersekolah disekolah itu akan memberikan masa depan yang hebat bagi mereka.
Shasa pun masuk kesana tanpa dia sadari ternyata dia hanya orang kecil yang berada disana, banyak orang-orang kaya yang bisa merawat dirinya, jadi banyak orang-orang yang lebih cantik dari dirinya, dia mulai iri pada kehidupan orang-orang itu, hingga dia melihat seorang gadis yang sangat cantik sedang bercanda bersama beberapa laki-laki.
Shasa sangat iri melihat wajah gadis itu, terlihat alami dan sangat cantik. Disitulah pertama kalinya shasa mulai mendekati ara.
Dia yang awalnya tidak dilirik, setelah berada di samping gadis cantik itu mulai dilirik. Ara merupakan magnet bagi para pria, otomatis jika melihat ara maka dia pun juga akan terlihat.
Lama kelamaan, rasa iri yang dia pendam semakin besar, dia mulai tidak suka ada orang diatasnya, dia harus menjadi yang utama, Ara saja yang tidak pintar bisa menjadi pujaan, kenapa dia yang pintar tidak bisa, dari pernyataan itu dia mulai menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan orang sekitarnya.
"Akkkhhh" Jerit shasa.
'prank prank prank' barang-barang yang ada di mejanya jatuh semua, shasa menghancurkan kamarnya dan berteriak seperti orang gila.
'tok tok tok' pintu kamar shasa terus digedor oleh bundanya yang mendengar kegaduhan dari dalam kamar.
"Sha! shasa! buka pintu nya nak buka!"
Shasa tidak mau membuka pintu itu dia hanya menangis histeris didalam sana, ketika matanya tidak sengaja menatap pecahan kaca, disana otak shasa mulai bermunculan pikiran negatif, gadis itu mengambil pecahan itu dan menggoreskan ke pergelangan tangannya, setelah itu setetes demi setetes darah segar mengalir dari pergelangan tangan itu.
Shasa tidak meringis sama sekali, dia hanya tertawa disertai tangisan melihat darah yang semakin lama semakin banyak keluar.
'Brak!' pintu kamar shasa terbuka secara paksa pelakunya adalah abang dan ayahnya yang mendobrak pintu.
"Shasa!" bundanya segera berlari kearah shasa, mereka semua panik, dan segera mengangkat shasa ke dalam mobil milik mereka berusaha untuk menyelamatkan shasa yang sudah terlihat tidak bertenaga.
...🐣🐣🐣🐣🐣...
Berbeda dengan Shasa, ara sedang sangat bahagia, hari ini adalah hari dimana abangnya axel akan pulang kerumah, Ara dan maminya sedang memasak bersama, dulu ara mana memiliki waktu untuk masak bersama maminya, tapi sekarang Suaminya telah memberikan semua keinginan nya, dengan membuat kedua orang tua ara tetap di rumah menjalani pengobatan.
"Mami gak nyangka loh, ternyata memang benar putri mami sudah pandai masak" puji shahnaz pada putrinya itu. "Bagaimana ceritanya kamu bisa masak sayang?"
"Ara sering menghabiskan waktu dirumah mi, karena bosan dan gak boleh main di luar jadi ara ngehabisin waktu di dapur, kak Deon tidak pernah melarang ara melakukan apapun yang ara mau, tapi jika itu hal yang tidak baik baru dia akan tolak" jelas ara.
"Dek, mami boleh nanya gak?"
Ara segera menoleh untuk menatap maminya. "tanya apa mam?"
"Adek udah melakukan hubungan suami istri dengan Deon?"
Muka ara langsung berubah seperti tomat, mendengar pertanyaan bundanya.
"ihhh mami tanyain yang lain aja! jangan yang itu, bikin ara malu aja" Ara dengan cepat menghindari kontak mata dengan maminya.
Ara tertunduk malu mendengar ucapan maminya.
"Dek mami tau kamu masih sekolah, dan beberapa bulan lagi bakal lulus, adek jangan pernah menolak permintaan suami ya, jangan sampai suami adek lari ke orang lain" nasehat maminya.
"gak bakal mi, lagian kak Deon juga masih belum sembuh dari alerginya, jadi dia gak bisa melenceng mi" jawab ara, tangannya masih sibuk mengiris beberapa sayuran.
"Dek, kenapa gak minta suami kamu untuk sembuh? kasian loh, dia harus menghadapi banyak orang, jika kelemahannya diketahui mungkin saja itu bisa berbahaya bagi nya dek".
Ara terdiam mendengar penuturan maminya, sebenarnya di hati ara yang terdalam ara masih takut, dia takut Deon hanya mencintai nya karena hanya dia yang bisa menyentuh Deon, apa yang akan terjadi jika Deon mulai bisa menyentuh orang lain? hati ara selalu sakit setiap memikirkan itu, ara sekarang sangat mencintai Deon, dia sudah tidak bisa meninggalkan Deon.
"Dek, kok diam?" tanya maminya, karena Ara terus saja terdiam.
"Ara masih takut mam, apa benar kak Deon mencintai ara? ara takut kak Deon akan melihat wanita lain yang lebih cantik dari ara, lebih sexy, ara tidak mau kehilangan kak Deon mam, Ara egois ya mam?" tanya ara lirih.
Maminya langsung memeluk Ara, mengelus punggung putrinya itu dengan sayang.
"ungkapkan semua pada suamimu, tapi mami dapat melihat cinta dimata suami kamu sayang, hanya untuk kamu, mami yakin tidak akan ada yang berubah setelah suami kamu sembuh" ujar mami ara.
Tanpa mereka ketahui Deon mendengar semua nya, pria itu awalnya berniat mengambil minum, dan tidak sengaja mendengar pembicaraan ara dengan ibunya. Deon tersenyum kecut, ternyata cintanya selama ini masih belum bisa meraih kepercayaan istrinya.
Dia sangat mencintai ara, bukan hanya karena dia yang hanya bisa menyentuh ara, tapi karena orang itu ara makanya bisa membuat pria itu tergila-gila.
Dia juga merasa senang, karena dengan ucapan Ara yang seperti itu, ara berarti sangat takut kehilangan dia, gadis itu sudah benar-benar terikat dengan Deon.
"Aku mencintaimu ara, sangat mencintai mu, aku akan bersabar menunggu kepercayaan mu jatuh padaku" gumam Deon pelan. Dia yakin suatu saat istrinya akan memberikan kepercayaan penuh padanya, mungkin bukan sekarang karena umur Ara yang masih muda dan tidak dewasa, mungkin nanti setelah wanita itu dewasa.
...🐤🐤🐤🐤🐤...
Dirumah sakit, kedua orang tua shasa menatap sedih putrinya yang sekarang berdiam diri menatap jendela, Shasa seperti orang yang sudah kehilangan jiwanya, dia hanya diam menatap luar.
Percobaan bunuh diri yang dilakukan Shasa membuat dia kembali keguguran, dan kali ini dia benar-benar bisa menggugurkan bayinya, tapi bukannya senang shasa kembali merasa hampa, dia membayangkan semua ambisinya, hingga akhirnya membunuh darah daging nya sendiri, shasa menyesal bayinya harus pergi.
Dia sudah tidak sanggup lagi untuk hidup, tapi dia tidak berani lagi untuk menemui kematian, karena dia takut bertemu dengan bayinya yang bahkan belum dia beri nama.
"Sayang bunda, kita pergi dari kota ini, dan memulai hidup baru dikota lain bagaimana?" tanya bunda shasa entah untuk yang keberapa kalinya.
Shasa hanya diam, dia tidak berniat menjawab bundanya, sudah sejak dia siuman, gadis itu tidak mengeluarkan suara apapun, setiap pertanyaan hanya dia jawab dengan kebisuan.
"mas! shasa kenapa mas?" lirih bunda shasa.
"tenanglah kita akan pindah dan memberikan pengobatan buat shasa, semua akan baik-baik saja" ujar pelan ayah shasa untuk memenangkan istrinya.
...🐥🐥🐥🐥🐥...