
"Gak usah ketawa kak! ara serius ini!" kesel Ara.
Deon berusaha menghentikan tawanya, memang setiap orang yang baru kenal dengannya akan menganggap dia impoten, karena Deon selalu menjaga jarak dari wanita, dan di sekeliling nya hanya ada lelaki.
Deon memeluk ara dengan erat dan sengaja menempelkan benda keramatnya di dekat paha Ara, "Kalau kakak impoten, kakak tidak akan t*rans*ng sekarang karena mu".
Ara tidak mengatakan apapun lagi, kepalanya kini tertunduk malu. pria itu tau cara membuat ara bungkam dengan setiap tindakannya.
" Masih belum percaya?"
Ara tidak menjawab dia hanya menatap manik mata Deon.
"Kamu tau baby, dulu axel juga bertanya hal yang sama, malah dia takut kakak adalah seorang gay" Deon menjeda ucapannya menatap manik mata Ara yang kini memancarkan rasa penasaran.
"saat kakak umur 18 tahun, axel, andri dan angga mendapatkan gosip bahwa kakak gay dan impoten, mereka sedikit takut dengan kakak, karena itu mereka merencanakan hal besar, untuk menguji apakah kakak benar-benar gay atau impoten".
" Menguji ? bagaimana caranya menguji?"
Deon menarik nafas panjang dia akan bersiap untuk menceritakan kenakalan Axel, andri dan angga.
🍃 flashback on 🍃
Saat Deon datang mengunjungi rumah Angga, dia dikurung angga untuk masuk kedalam ruangan bioskopnya, ruangan itu hanya bisa dilihat dari luar, dan tidak bisa dilihat dari dalam.
Deon yang dikurung disuguhi tontonan vulgar, tampak video seorang wanita bertopeng yang sedang meliuk-liuk kan tubuhnya, dan terjadilah hal yang diinginkan ketiganya.
*maaf karena bulan puasa skip bagian hot*
Axel , andri dan Angga begitu puas melihat Sahabat tidak seperti yang di gosipkan orang-orang, walau cara mereka salah Deon akhirnya memaafkan mereka, karena Deon tau, mereka juga pasti takut gosip itu benar.
.
"Sudah puas mengerjai ku" tanya Deon pada ketiga temannya, matanya melirik pada kancing celana ketiga temannya, "Sepertinya bukan hanya aku yang bergairah, kalian juga ternyata hahaha" ledek Deon.
"Brengs*k! ini semua untuk mengetahui apa benar gosip itu?" kesel Andri.
"Kalau benar kalian akan menjauhiku?"
"Tergantung benar yang mana bro! kalau benar yang gay gue bakal lari duluan, takut gue, masak pisang makan pisang" gelak tawa Angga terdengar diikuti gelak tawa axel. mereka memang terlalu pintar* membuktikan dengan cara seperti itu padahal ada cara aman dan lebih baik.
🍃 flashback off 🍃
"Jadi kak axel melakukan hal itu untuk menguji kakak?"
Deon mengangguk dan kembali memeluk tubuh ara, yang kini sudah menjadi istri sahnya.
"Apa masih belum percaya? kalau gitu kita lakukan malam pertama kita sekarang" bisik Deon tepat ditelinga Ara.
Ara sedikit merasa geli tapi dia membiarkan saja Deon mengendus endus lehernya.
"Kak, ara masih belum siap" lirih ara.
Deon segera menghentikan kegiatan nya, dia takut juniornya akan sulit sekali ditidurkan jika terlalu lama menghirup aroma memabukkan dari Ara.
Bibir Deon mendarat pada kening ara, "iya kakak tau, kakak siap menunggu sampai kamu siap".
"Kak boleh Ara tanya lagi?"
'cup' Deon mengecup sekilas bibir ara, "bayaran untuk setiap pertanyaan".
"Sekarang udah gak apa, udah sah ini" ucap dengan dengan senyum liciknya. "Jadi mau tanya apa?"
"Selain ara dan bunda siapa lagi wanita yang bisa kakak sentuh dan dekat dengan kakak?"
"Tidak ada baby, tidak ada wanita yang bisa kakak sentuh, selain kamu" Deon mengelus lembut pipi ara, agara gadis kecilnya tau, betapa sayangnya Deon padanya.
"Tidak mungkin tidak ada, kakak pasti punya teman wanita, seperti ara dan trio badboy"
Deon terdiam sedikit memikirkan pertanyaan Ara, "hmm hanya ada satu orang yang kakak anggap teman, tapi dia juga menimbulkan alergi pada tubuh kakak, saat dia menyentuh kakak".
" Siapa?" tanya Ara cepat.
"Namanya Violet, dia teman sma kakak, Angga sahabat kakak sangat menyukai nya, jadi dia sering membawa violet setiap kami kumpul" Deon mulai menceritakan pertemanan nya dengan gadis bernama violet.
"Lalu dimana dia sekarang kak?" tanya ara lagi, kini dia penasaran seberapa dekat Deon dengan gadis itu, padahal gadis itu tau Deon tidak bisa dia sentuh.
"hmm... kalau tidak salah dia sedang menempuh pendidikannya disini di Amerika, sebagai dokter psikolog, angga yang menceritakan hal itu pada kakak" tidak mau gadis nya cemburu, kenapa dia tau banyak, Deon segera menceritakan dari mana dia tau berita yang dia ceritakan.
"Kakak menyukainya?" Ara menundukkan pandangannya, kini matanya hanya menatap dada bidang Deon, entah kenapa dia sangat takut mendengar ucapan Deon.
Deon tersenyum kecil melihat tingkah gadis kecilnya, 'Cup cup cup' tiga kali bibir Deon mengecup singkat bibir Ara.
Mata ara langsung melotot, mendapatkan perlakukan tiba-tiba seperti itu dari Deon.
"Bayarannya dulu, baru kakak jawab, tadi udah lebih dari tiga pertanyaan" ujar Deon, kejahilannya memang tidak pernah hilang.
"Kakak memang berteman dengannya, hanya saja kakak tidak pernah tertarik padanya, kakak akui dia cantik, sexy__" Deon menghentikan ucapannya, dia terkekeh kecil melihat istri kecilnya sedang cemberut mendengar dia memuji Violet.
"Secantik dan sexy nya wanita diluar sana, kakak tidak akan tertarik pada semua wanita itu, kakak hanya tertarik pada kamu saja baby" Deon kembali mengecup singkat bibir ara.
"Kakak kan tidak tertarik karena tidak bisa menyentuh mereka" gerutu ara.
memang benar yang dikatakan ara, ketertarikan Deon padanya berawal dari sentuhan ara yang tidak berefek padanya, tapi hal itu hanya sebentar, setelah itu Deon benar-benar jatuh cinta pada Gadis itu.
"Ara mau kakak sembuh?" Deon mengangkat dagu Ara agar menatapnya.
Ara menggeleng pelan, "gak mau, nanti kakak pergi dari Ara" lirih gadis itu, sekarang dia memeluk tubuh Deon dengan kuat, menyembunyikan wajahnya pada dada bidang Deon.
"Jadi gimana caranya buat kakak bisa membuktikan perasaan kakak sekarang bukan hanya karena kakak bisa menyentuh kamu" tanya Deon sambil mengelus rambut ara dengan sayang.
"ara gak tau, Ara takut kakak pergi dari ara, setelah Ara benar-benar mencintai kakak" suara Ara terdengar sedikit terisak.
Selama ini Ara sudah mulai mengakui perasaannya pada Deon, tapi dia masih takut untuk menunjukkan perasaannya, dia akan benar-benar menempel seperti cicak jika sudah mengakui perasaannya pada Deon, dia takut apa yang terjadi pada Dimas akan Deon lakukan padanya.
Dimas dulu bersikap biasa pada ara, tapi setelah Dimas mengetahui perasaan ara, dia bersikap jijik pada ara, dia tidak suka tingkah ara yang terus menempel padanya.
"Kini jalani dulu ya, kakak tidak meminta Ara untuk mengakui perasaan ara pada kakak, bagi kakak semua yang ada pada ara, kakak menyukainya, kakak tidak akan membenci ara yang bersikap protektif pada kakak, kakak juga tidak akan marah kalau ara terlalu cemburu dan menempel pada kakak, kakak malah suka semua tingkah kekanakan ara" Deon yang tau kegundahan ara segera mengelus punggung Ara dengan sayang, berharap ketenangan nya dapat menyalur pada ara.
"Kakak akan melakukan apapun yang ara minta termasuk untuk melanjutkan pengobatan kakak, jika memang ara yang meminta" lanjut Deon.
"Boleh ara minta jangan dilanjutkan? apa ara egois jika ara meminta itu?" kini ara memberikan dirinya menatap Manik mata Deon.
"Tidak apa egois, kakak juga hanya ingin menyentuhmu, jadi kakak tidak masalah" Deon kembali mengecup kening ara berlanjut ke bibirnya.
...🐥🐥🐥🐥🐥...