My Little Girl

My Little Girl
64. Terbongkarnya Kebohongan



Saat ini Shasa dan kedua orang tuanya sudah duduk di ruang tamu milik keluarga Allinsky.


Deon menatap sinis Shasa dan keluarganya dari tempat duduk.


Sementara Shasa gadis itu bukannya takut dia malah bersikap malu malu mendapat tatapan dari Deon.


"Begini tuan Allinsky, saya kesini bersama istri dan putri saya ingin membicarakan tentang masalah anak anak kita, saya ingin meminta pertanggung jawaban atas perbuatan yang putra tuan lakukan pada putri saya" ucap tegas ayah Shasa.


"Perbuatan apa yang telah saya lakukan?" tantang Deon dengan nada sinis.


"Kamu telah melecehkan putri saya!" geram Acha.


"Tenang cha, kita bicarakan semuanya, kalau memang benar putraku melecehkan putrimu, aku akan memastikan putraku akan bertanggung jawab dengan menikahinya" Mitha berusaha mendamaikan suasana yang tegang itu.


"Bagaimana aku bisa tenang! putramu terlihat tidak mau bertanggung jawab!" kesal Acha lagi.


"Aku akan bertanggung jawab tan, tapi katakan pelecehan seperti apa yang saya lakukan?! apakah pelecehan yang memang harus di berikan pertanggungjawaban?" kembali Deon berucap sinis.


"Sayang ceritakan, ceritakan semuanya pada mereka! jangan takut bunda dan ayah ada disini" Acha mengusap bahu Shasa dengan pelan.


Shasa mulai menangis kencang, tangisnya sampai membuat ara keluar dari kamar persembunyian nya, "Kak Deon telah memperkosaku di club malam itu!" suara Shasa terdengar pilu.


Mitha dan Acha ikut menangis mendengar suara isakan Shasa, Shasa berhasil menipu kedua orang tuanya dan orang tua Deon dengan akting tangisnya.


Jika ada penghargaan award untuk akting terbagus, maka Shasa lah pemenangnya, dan Ara tidak akan bisa mengalahkan akting Shasa.


"Kenapa kamu datang ke klub itu?" tanya Deon, dia sama sekali tidak terpengaruh dengan akting Shasa karena disini dialah korbannya bukan Shasa.


"Ara memaksaku untuk pergi kesana! wanita malam itu mengancam aku untuk datang kesana!" ucap Shasa masih tertunduk dan menangis kencang.


"Aku tidak pernah mengajak Shasa pergi ke klub!" Ara mendekat, karena Shasa telah menyebut namanya.


"Kenapa wanita malam itu ada disini!" pekik Acha tidak Terima.


"Aku yang membawanya! aku ingin memberitahu pada Ara bahwa sahabatnya itu adalah wanita bermuka dua!" Deon berucap sambil menarik Ara untuk duduk di sampingnya.


Shasa membelalakkan matanya melihat Ara, padahal kemarin dia yakin ara marah dengan Deon, bagaimana bisa wanita itu kini ada di rumah deon.


"Sial, kalau seperti ini aku akan kehilangan pasokan uangku dari ara! tapi tak apa, kak Al akan menikahi ku, aku akan memiliki kekayaan lebih banyak" batin Shasa.


"Kamu pembohong Ara, kamu yang memaksaku untuk pergi ke klub, di sana kak Deon yang mabuk, memaksaku untuk melakukan hal itu" Shasa kembali tertunduk dan menangis kencang.


"Aku memang wanita yang tidak baik, aku merokok, aku mabuk-mabukan, dan ikut balap liar, tapi aku tidak pernah menghancurkan hidup orang lain, aku tidak akan pernah mau menghancurkan hidup sahabatku" ucap Ara dengan tegas.


"kamu dengarkan Mitha! dia bilang dia wanita tidak baik! dia wanita malam, kau mau menikahkan putra mu dengan wanita seperti itu! sekarang disini putriku yang sedang hancur masa depannya! gara gara dia Putramu tidak mau menikahi putriku!" Bentak Acha dengan amarah yang sudah memuncak.


"Apa sudah sandiwaranya?"


Semua mata kini menatap Deon dengan bingung, pria itu masih tetap tenang disaat semua orang mulai emosi.


"Kamu harus bertanggung jawab pada putriku, karena kamu putriku trauma untuk bertemu dengan orang luar" kali ini suara tegas ayah Shasa yang terdengar.


"Oke, saya akan bertanggung jawab" Deon mengelus tangan ara, tapi matanya fokus menatap ayah Shasa, "Tapi bukan pertanggung jawaban seperti yang kalian minta! aku tidak akan pernah menikahi wanita itu!"


"Deon! kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu!" kali ini bentakan itu berasal dari ayah Deon.


"Perbuatan apa? apa kalian punya bukti?" tantang Deon.


"Bukti apa lagi! putriku adalah korban disini! putriku korban, dia sudah hebat mau menceritakan hal menyakitkan itu kepada semuanya! apa kalian tidak melihat, putriku tersiksa karena perbuatanmu!" pekik Acha. dia memeluk Shasa yang masih menangis sesunggukkan.


"aku sudah berusaha meminta rekaman, di club tapi rekaman itu kak Al hapus" ucap Shasa masih dengan menunduk.


"Putraku akan bertanggung jawab kalian tenang saja!"


"Ayah! apa ayah percaya hanya dengan ucapan dari dua wanita ular itu!" Deon berteriak karena tidak Terima.


" Baiklah, tapi Deon akan memberikan bukti dari Deon sendiri" Deon mengangguk, tangannya sudah melepas tangan Ara yang sejak tadi dia genggam, "Sepertinya ayah dan bunda lupa, putra kalian ini sakit".


Deon berjalan mendekat pada Shasa dan menarik tangan Shasa dengan keras, lalu melepaskannya kembali.


"Dasar manusia h*na, menjijikkan" ketus Deon. Lalu dia kembali duduk disebelah Ara.


Tidak lama bintik merah muncul pada lengan, leher serta wajah Deon.


Hal itu membuat kedua orang tuanya terkejut, mereka memang lupa, mereka lupa putranya tidak bisa menyentuh wanita, mungkin karena sejak tadi Deon menyentuh ara dan pria itu tidak menimbulkan reaksi apapun pada ara.


"Bi! ambilkan salep buat Deon!" pekik Mitha cepat. dia melihat saat ini putranya terus menggaruk lengan serta Lehernya.


"Jangan digaruk kak" Ara berusaha menahan tangan Deon yang terus menggaruk lengan dan leher, hal itu membuat tubuhnya semakin memerah.


"Tapi gatal, dia menjijikkan!" Deon memang selalu mengumpat seperti itu jika bersentuhan dengan wanita yang membuat nya alergi. jangan di tanya mengapa, dia juga tidak tau, mulutnya spontan mengucapkan kalimat kalimat umpatan itu.


"Sepertinya Bukan putraku yang melecehkan putri kalian berdua!" Ayah Deon menatap sendu kearah putranya, dia lupa dan benar-benar tidak terpikirkan olehnya bahwa putranya memiliki penyakit Haphephobia, dengan kata lain putranya tidak bisa bersentuhan kulit dengan wanita selain ibunya.


"Kak Al yang melecehkan ku!" Pekik Shasa kembali.


Sepertinya Shasa belum sadar apa yang sedang terjadi begitu juga dengan kedua orang tua Shasa.


"Hahahaha" Deon tertawa keras, "Bagaimana? bagaimana caranya aku melecehkan mu, sedangkan aku saja tidak bisa menyentuh mu!" Deon kembali tertawa diakhir kalimatnya.


"Apa maksudnya?" tanya Acha bingung.


"Cha, putraku memiliki penyakit Haphephobia, nama lainnya phobia sentuhan, dalam hal ini dia tidak bisa bersentuhan dengan semua wanita, jika dia melakukan itu, maka liat sendiri" Mitha menunjuk putranya dengan wajah sendu, "Dia akan seperti itu".


Saat ini Deon sedang di bantu Ara untuk mengoleskan salep pada tubuhnya yang berbintik merah.


Semua planning Shasa langsung hilang, dia tidak bisa lagi bersandiwara, dia sama sekali tidak tau bahwa Deon memiliki penyakit itu, karena selama ini dia selalu melihat Ara bisa menyentuh nya.


" Tidak! kak Al melecehkan ku! dia berbohong dengan penyakitnya! ara saja bisa bersentuhan dengannya! kak Al mengelak untuk bertanggungjawab bunda!" Shasa memeluk ibunya untuk meminta bantuan.


"Iya, kalau dia punya phobia itu, kenapa sejak tadi dia menyentuh wanita malam itu!" Acha menunjuk Ara yang masih membantu Deon meredakan rasa gatalnya.


"Bi, tolong ambilkan diaknosa Deon di ruang kerjaku" perintah Tuan besar Allinsky.


.


Tidak lama kemudian asisten rumah tangga itu datang membawa dokumen dan menyerahkan nya pada tuan besar Allinsky.


"Ini baca" Ayah Deon menyodorkan map berisi pernyataan dokter yang mengatakan putranya memiliki phobia. "Putraku hanya bisa menyentuh ibunya sendiri, dan wanita itu, mungkin dia spesial di hati putraku, makanya Deon tidak menimbulkan reaksi pada tubuhnya setelah disentuh".


"Aku memang melecehkan dia, tapi dengan ucapanku, aku menghinanya jika dia tersinggung akan hal itu aku akan memberikan uang kompensasi atas ucapan menghina dia!"


"Tidak usah" Ayah Deon menuliskan cek sebesar lima ratus juta rupiah, dan menyodorkan pada keluarga itu. "Ini cek lima ratus juta, untuk uang tutup mulut, mengenai penyakit putraku, dan tandatangani ini, sebelum kalian bisa mengambil cek itu".


Ayah Deon menyodorkan surat perjanjian agar ketiga orang itu tutup mulut dan tidak menyebarkan pada siapapun, jika melanggar maka akan membayar kompensasi 10 kali lipat dari uang tutup mulut yang mereka ambil.


"Baiklah" ayah Shasa menandatangi surat itu, "Shasa cepat tanda tangani!" perintah ayahnya dengan dingin.


"Tapi ayah__"


"Tanda tangani shasa!" shasa tidak dapat melanjutkan ucapannya setelah mendapat bentakan dari ayahnya. kedua wanita itu akhirnya mengikuti perintah kepala keluarga itu.


"Saya minta maaf telah membuat keluarga tuan susah gara-gara kelakuan putri saya, kami akan segera pamit" ucap ayah shasa dengan memaksa putrinya untuk segera pergi dari sana.


Shasa kembalj menangis, menatap Deon dan Ara yang terlihat seperti sepasang kekasih.


Rencananya gagal, kebohongannya terbongkar karena dia tidak tau mengenai penyakit Deon. Semua itu karena ara, kembali lagi, Shasa kembali menyalahkan Ara atas setiap kejadian yang terjadi didalam hidupnya.


...🐤🐤🐤🐤🐤...