
Shasa akhirnya datang juga ke sekolah bersama bundanya, ayah shasa tidak mau menemani karena terlalu malu, selama perjalanan menuju ke ruang kepala sekolah, shasa selalu di lirik sinis, bahkan ada yang terang terangan menyindir Shasa selama melewati orang-orang.
‘dasar gadis munafik’
‘Gadis murahan’
‘Hamil diluar nikah’
‘Bermuka dua’
‘ular berbisa’
Dan masih banyak lagi sebutan yang dilontarkan pada Shasa.
Shasa hanya bisa tertunduk membiarkan bundanya menarik tubuhnya menuju ruang kepala sekolah.
.
“Berita besar! Shasa dikabarkan telah datang hari ini dan dia sedang menuju ruang kepala sekolah, sepertinya dia akan di keluarkan dari sekolah” teriak salah satu teman kelas Ara.
Ara terdiam mendengar ucapan temannya itu, dirinya sangat ingin menemui Shasa bertemu gadis itu untuk terakhir kalinya. Tapi dia sangat takut shasa akan mengusirnya.
“Apa yang sedang kamu pikirkan?” Tanya putri sambil menyentuh tangan Ara.
“Apa bisa aku berbicara padanya untuk yang terakhir kalinya?” gumam Ara pelan.
“Ayo, aku juga mau minta maaf kepadanya” Putri menarik tangan ara untuk segera pergi mengejar Shasa yang belum jauh berjalan.
.
Sekitar tiga puluh menit ara, putri dan tiga trio bad boy menunggu shasa keluar dari ruang kepala sekolah.
Shasa keluar terlebih dahulu, lalu bundanya.
“Sha” panggil Ara. Shasa yang dipanggil menatap sinis pada ara. Ara memberanikan dirinya lebih mendekat pada shasa.
“Mau apa lagi? Mau menghinaku seperti yang lainnya?! Belum puas kamu melihat aku dikeluarkan dari sekolah ini!” Bentak shasa, dia menumpahkan semua amarahnya pada Ara.
Sementara ara menggeleng pelan, “Maaf aku tidak bisa menahanmu untuk tetap sekolah disini” lirih ara pelan.
“Hanya itu?! Kau hanya ingin mengejekku bukan?! Ini semua karenamu! Aku membencimu ARA! Gara gara kau aku menjadi seperti ini! Kenapa kau merebut semua yang harusnya menjadi milikku! ” Teriak Shasa dia sudah tampak emosi.
Ara kembali menggeleng tapi kali ini dia memeluk tubuh Shasa, dia tau shasa memberontak, tapi Ara mengeratkan tangannya untuk memeluk shasa, “Aku menyayangimu sebagai sahabat, maaf aku tidak tau semua kesedihanmu, aku minta maaf karena egois memikirkan kebahagianku, terima kasih telah menjadi temanku, walau kau membenciku, tapi selama 2 tahun ini aku benar-benar menganggapmu sahabatku, semoga kamu bisa bahagia diluar sana” Doa tulus ara, setelah itu ara melepaskan pelukannya.
Shasa hanya diam dia sudah tidak menatap ara sinis tapi dia juga tidak mau menjawab ucapan yang ara lontarkan.
“Sha, aku juga minta maaf” Putri menyodorkan tangannya pada shasa, dia tidak sedekat ara untuk memeluk shasa.
‘Plak’ bukannya sambutan tangan yang putri dapat, putri malah mendapatkan tamparan dari Shasa.
“Seandainya kau tidak menendangku! Semua ini tidak akan terjadi! Kau penjahat! Semua kesialanku karena kalian berdua!” maki Shasa.
Leo dengan cepat meraih Putri dan melindungi gadis itu dibelakang punggungnya, bukan hanya leo yang maju, tapi andri dan juan juga ikut maju.
“Kau salah shasa! Sejak awal kaulah yang membuat semua masalah ini! Bangkai sepandai apapun kau menutupinya pasti akan tercium juga baunya!” ucap sinis Leo.
“Kau tau kenapa ara dan putri banyak disukai pria ? mereka berteman dengan kami para kaum pria dengan ketulusan, mereka tidak ingin dipuja dan dipuji, tidak sepertimu yang ingin di agung-agungkan” sambung robi.
“Pertanyaannya, pernahkah kau tulus dalam berteman? Kau hanya melihat teman sebagai materimu! Kau iri melihat semua orang yang lebih darimu! Jadi ini semua bukan salah ara maupun salah putri, masalah utamanya ada padamu! Jika kau tidak memulai maka tidak akan ada yang terbongkar, kau mengerti!” Juan juga ikut-ikutan berbicara.
...🐥🐥🐥🐥🐥...
Ara menatap suami tampannya yang sedang menyetir mobil, deon selalu menyempatkan dirinya untuk menjemput Ara sesibuk apapun dia, walau dia hanya menjemput dan mengantar ke rumah dan setelah itu pergi lagi bekerja. Deon selalu memberikan perhatian-perhatian kecil seperti itu pada istrinya, dia tidak ingin istrinya merasa sendirian dan tidak dicintai.
“Kenapa memandangku terus sayang?” Tanya Deon, matanya masih focus menatap jalanan.
“Ara sedang mencari tau apa yang shasa sukai dari kakak” balas Ara.
“Kenapa lagi dengan gadis itu? Dia kembali membuatmu sedih?” Deon sengaja memberhentikan mobilnya kepinggir agar bisa leluasa berbicara empat mata dengan istrinya.
Ara menggeleng, “tadi dia ke sekolah untuk mengambil berkas-berkas sekolahnya”.
“Lalu?”
“Ara penyebab dia menjadi seperti itu, jadi ara mau tau bagaian mana dari kakak yang sangat disukainya, hingga dia sangat membenci ara, apakah sama rasa sukanya pada kakak seperti rasa suka ara pada kakak” gumam Ara.
“jadi sudah menemukannya?”
“Sudah”
“Apa itu” deon meraih tangan ara dan memberikan kecupan pada tangannya.
“Rasa sukanya tidak sebesar rasa suka ara, dia menyukai kekayaan kakak”
“lalu kamu? Apa yang kamu sukai dariku ? apa sama dengan dimas?”
Ara mencubit perut suaminya yang rata itu, “Kenapa harus membahas dimas? Kita sedang membicarakan kakak, ara menyukai semua yang ada pada kakak”.
“Termasuk uang kakak?”
“Hahahahha itu bonus bagi ara kak, lagian ara juga kaya, ara tidak pernah mempermasalahkan uang, tapi kalau kakak kasih ya ara senang-senang aja” kekeh Ara.
“bagaimana caranya kamu menyukai dimas?” pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Deon.
Ara menghela nafas panjang, sepertinya suami sempurnanya itu semakin sering cemburu pada pria-pria disekitarnya.
“awalnya dia memberikan perhatian pada ara, disaat ara sangat membutuhkan perhatian pria itu sering memberikan perhatiannya pada ara, dan sekarang ara sadar perhatian yang dia berikan bukan perhatian tulus, dia mengharapkan ara menjadi tergila-gila padanya, dia terlalu narsis untuk menjadi seorang pria” jelas ara.
Deon mengelus puncak kepala ara, “Kamu baru sadar itu?” Ara mengangguk cepat dengan pernyataan Deon.
“Sepertinya kakak harus hati-hati untuk kedepannya dimulai dari sekarang” gurau Deon.
Ara mengernyitkan keningnya, “Kenapa?”
“Istri kakak mudah jatuh cinta pada orang yang memberikan perhatian padanya” Ucap deon sambil mencubit gemas hidung Ara.
“Bukan begitu kak, itu dulu, sekarang mau sebanyak apapun perhatian pria-pria itu berikan pada ara, tidak akan lebih besar dari perhatian yang kakak berikan pada Ara, jadi tidak aka nada pengaruhnya pada ara” Ara meraih tangan Deon dan menggenggam tangan itu.
“Janji jangan melihat pria lain? Hanya kakak saja”
“Iya janji, kakak juga harus janji hanya melihat ara”
“kakak janji” jawab deon, dia mulai mendekatkan wajahnya pada Ara, mencium kening ara lalu beralih pada bibirnya, dua orang itupun mulai berciuman panas di dalam mobil itu”
...🐤🐤🐤🐤🐤...