My Little Girl

My Little Girl
25. Club



Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, Ara terus saja gelisah melihat ponsel dan jam berkali kali.


"Dasar jahat bilang harus pulang jam 9, dia sendiri belum juga pulang, kalau tau gini kan Ara masih bisa main lebih lama diluar!" Gerutu Ara, sudah berkali kali gadis itu menggerutu dan kesal karena Deon hari ini terlambat pulang.


'Tok tok tok' bunyi suara pintu yang diketuk, "Non, masih belum tidur? bibi ada bawakan buah sama susu" ucap bi Arin ketika melihat Ara yang membuka pintu dengan muka cemberut.


Ara mendekati bi Arin dan duduk disofa sambil mencomot buat yang memang sudah dikupas dan dipotong - potong oleh bi Arin.


"Kak Deon masih belum pulang ya bi?" tanya Ara dengan nada lemah.


"Jangan sedih gitu dong non, baru sakali tuan muda pulang telat, malah bibi kagum loh non"


"Kagum?" beo Ara.


"Iya non berkat nona, tuan jadi sering pulang ke rumah" Jelas bi Arin.


"Emang biasanya kak Deon pulang dimana bi?"


"Tuan mah sukanya tinggal di apartemen dekat kantornya, kadang tuan tidur di kantor non, tuan itu sangat sibuk, jadi dia sangat jarang pulang non".


"Emang kakak gak pulang ke rumah orang tuanya ya bi?"


Bi Arin tertawa kecil mendengar pertanyaan Ara, "Tuan mah takut pulang ke rumahnya non, soalnya nyonya selalu jebak tuan muda untuk dekat sama anak anak temannya".


Ara ikut tertawa mendengar penuturan bi Arin, lalu kedua wanita beda usia itu asik berbagj cerita sambil tertawa.


...🐥🐥🐥🐥🐥...


Deon menatap jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 9 malam, tidak terasa pekerjaan nya hari ini sangat banyak sampai dia lupa waktu.


Deon terkekeh pelan membayangkan Ara pasti ngambek kepadanya.


"tuan pulang kemana?" tanya botak yang berjalan mengikuti Deon.


"Tentu saja pulang ke rumah, kemana lagi?"


"Anu tuan, tuan Angga dan tuan Andri sejak tadi menelpon saya, karena ponsel tuan mati".


" Kenapa dua makhluk jadi jadian itu menelponmu?" Langkah Deon berhenti.


"Tuan lupa kalau tuan janji tentang penelitian tuan andri dan tuan Angga, hari ini"


"Akkhh hari ini hari sabtu?!" Deon berteriak dan menepuk kepalanya. "Tak, kau ikut bersamaku, bawa salep dan obat alergi ku" Deon melangkah cepat menuju lift.


"Baik tuan" jawab botak cepat sambil mempercepat langkahnya mengikuti Deon.


...🐣🐣🐣🐣🐣...


Di depan Club xxx, Deon masih saja diam memandang club yang ditunjukkan Angga dan andri sebagai tempat pertemuan Deon dengan wanita yang telah mereka siapkan.


"Tuan yakin mau masuk ke sana?" Tanya botak dengan khawatir.


"Tak, carikan jalan belakang, yang tidak ada wanitanya, kalau perlu berikan mereka uang agar aku bisa masuk tanpa berdesakan dengan orang orang di sana" Deon memijit kepalanya pelan, Tiba-tiba pusing melanda nya, padahal dia belum juga bertemu dengan wanita itu.


"Baik tuan" Botak segera pergi untuk melaksanakan perintah tuan mudanya.


.


Deon berjalan melewati jalur yang telah botak siapkan, matanya sibuk melihat kiri dan kanan takut ada wanita yang menerjang tubuhnya secara tiba-tiba.


"Tuan bagaimana jika penelitian itu berhasil?" tanya botak dengan sedikit khawatir.


Deon sempat terdiam sebentar, "Aku akan tetap memilih Ara".


" Tapi bukankah tuan ak__"


"Aku tidak kan menyentuh tubuh wanita itu, aku hanya ingin tau bisakah aku menyentuhnya atau tidak, itu saja, aku tidak peduli tentang kelanjutan setelah itu"


Deon memotong ucapan Botak, dia seolah olah tau, Botak ingin berkata apa.


...🐤🐤🐤🐤🐤...


Shasa tampak resah di kursinya melihat dua orang ptia dewasa yang asik bercumbu dengan pasangan mereka masing masing, bahkan sang wanita sudah hampir melorot kan pakaian mereka.


"Kak... bisakah kita masuk ke kamar secepatnya" Meli berkata seperti itu karena dia sudah dimasuki kabut gairah.


Sejak tadi Angga terus mencumbunya hingga tangan Angga sudah bermain didekat pahanya.


"Kak.. ahhh" Desah Meli lagi.


Shasa tidak menyangka ternyata temannya Meli bekerja seperti itu, makanya Shasa sering melihat Meli memiliki banyak barang-barang mewah.


'Ceklek' Pintu terbuka, masuklah Deon dari sana bersama asisten pribadi yang selalu mengikuti nya.


Mata Shasa langsung terpana melihat sosok tampan didepannya, pria tinggi, tampan dan sangat kaya, pria itu masuk kedalam kriteria Shasa.


"Bro! kau terlalu lama! kemana saja?!!" kesal Andri.


Deon masih diam menatap dingin keselilingnya. Mata Deon terdiam ketika melihat Angga yang masih bercumbu bersama pasangannya di sudut ruangan.


"Hahaha, biarkan mereka, dia sudah tidak sabar melahap makanannya karena kamu terlalu lama".


" Maaf tuan, tuan muda banyak pekerjaan jadi dia melupakan janjinya" Botak akhirnya yang menjawab pertanyaan Andri.


"Tak, kamu masih normalkan? masih betah saja menjadi ajudan si Sky" Angga akhirnya melepas cumbuannya.


"Masih tuan, Siapa yang tidak betah kalau gaji saya saja melebihi pendapatan tuan Angga" Botak balik mengejek Angga.


"Sial" Angga mengumpat dan Andri tertawa mendengar perdebatan itu, sementara Deon masih menatap malas keselilingnya.


"Itu wanita mu sky" Andri menunjuk Shasa yang masih bengong menatap Deon sejak dia masuk tadi.


Deon menatap Shasa dadi ujung kaki hingga kepala, sementara Shasa yang dipandang seperti itu oleh Deon langsung bersemu merah, otaknya sudah travelling bercumbu bersama pria tampan itu.


'bagaimana rasa bibir itu ya, bagaimana rasanya ketika dia menciumku' pikir Shasa. Sejak menatap Deon Shasa merasa sangat spesial, dia terlah terpilih dari sekian banyak wanita yang ditolak, dan dia adalah orang spesial yang mendapatkan kesempatan itu.


"Dia tampan sekali" meli yang tadi tidak terlalu memperhatikan orang masuk langsung berkomentar seperti itu ketika matanya menatap Deon.


Deon menghela nafas panjang, "Kalian sudah banyak melakukan penelitian" komentar Deon, suara dingin itu dapat membuat Shasa merasa merinding, dia merasa ingin segera berlari mencumbu Deon jika dia bisa.


Angga dan Andri tertawa keras, "Hebat bukan? susah mendapatkannya, bibit unggul itu" ucap angga disela tawanya.


Deon melangkah mendekat kearah Shasa yang masih duduk.


'Deg deg deg' jantung Shasa bergemuruh cepat, pipinya semakin merona bertatapan dengan Deon.


"Perkenalkan dirimu!" ucap Deon singkat sambil menjulurkan tangannya.


Shasa sempat diam menatap tangan Deon yang terulur, dengan pelan Shasa mulai meraih tangan Deon.


1 Detik


2 Detik


3 Detik


"Sa__"


'Srak'


Deon dengan cepat mendorong dan melepaskan tangannya dari tangan Shasa membuat gadis itu kembali terduduk disofanya dengan wajah terkejut.


"Sial! tutup mulut mereka semua! Botak berikan dia uangnya!" Ucap Deon kesal, dia segera mengambil sapu tangan yang disodorkan Botak.


"Kenapa bro? tidak berhasil?"


Deon menatap Angga dengan sinis. Dia menaikkan lengan jas dan kemejanya menampakkan lengan kekarnya. Ketika lengan itu terlihat Andri dan Angga dapat melihat beberapa bintik merah mulai muncul pada tangan Deon yang berkulit putih.


.


Botak memberikan cek sebesar lima puluh juta dua buah pada Angga.


"Bayarannya cuma dua puluh bro, kenapa dikasih 100?"


"satu untuk menutup mulut dua wanita kalian, dan satu untuk wanita itu, suruh dia bertobat, jangan melakukan hal seperti ini untuk mendapatkan uang, sangat menjijikkan" Setelah berkata begitu Deon pergi meninggalkan Shasa dan yang lainnya diruangan itu.


.


"Nih ambil" Andri meletakkan selembar cek sebesar 50 juta pada Shasa.


Shasa menggeleng pelan, dan air matanya terjatuh, dia sadar yang dia lakukan salah, tapi dia sudah tidak bisa mundur lagi, dia jatuh cinta pada pandangan pertama pada Deon, walau sikapnya kasar, Deon ternyata berhati baik.


"ambil saja, dan jangan pernah mau jika diminta ketempat seperti ini lagi" Andri memindahkan cek itu pada tangan Shasa biar gadis itu memegangnya.


...🐥🐥🐥🐥🐥...