
"Sayang, kakak sembuh itu bukan mudah, butuh waktu bertahun-tahun, dan kamu mau menunggu kakak sampai kakak sembuh? mungkin juga akan banyak halangan dalam penyembuhan itu, apa kamu masih tetap yakin?"
Ara mengangguk sekali lagi, " Ara yakin kak"
"Kakak bukan orang biasa sayang, akan ada gosip yang kamu dengar, dan membuatmu salah paham, apa kamu siap?"
"Ara siap, ara benar-benar siap"
'cup' Deon kembali mengecup bibir ara. "baiklah jika itu permintaan istri kakak, kakak siap melakukannya".
...🐤🐤🐤🐤🐤...
Dua minggu sebelum pengumuman kelulusan, ara tampak sangat sibuk, menyiapkan perpisahan sekolah nya bukan hanya itu dia juga harus ikut campur tangan dalam acara persiapan pernikahannya, memang bukan ara yang mengerus semuanya, tapi dia tentu harus ikut ambil andil dalam pengukuran baju pengantin bukan?
"Ra, mending lu berhenti dulu deh, istirahat dulu sana" bujuk putri.
"Ngapa put, gue gak apa kok" ara dan putri saat ini sedang mengecat papan spanduk untuk acara kelulusan mereka.
"Wajah lu pucat, lu gak ngerasa sakit gitu?"
Leo, juan dan robi segera menghampiri ara ketika mereka tidak sengaja mendengar Ucapan putri.
"Benaran lu pucat ra, lu gak apa?" Dengan cepat Leo memegang kening Ara, dan memang benar kening gadis itu sedikit hangat, dari orang normal biasanya.
"Udah lu sekarang berhenti kerja, badan lu hangat ini, dan ikut gue ke UKS" putus Leo.
"Leo, gue gak apa, jangan ngaco ah"
"Ara ikuti perintah gue atau gue telepon suami lo sekarang!" ancam Leo.
Mau tidak mau Ara akhirnya ikut Leo menuju UKS, tapi di dalam perjalanan gadis itu tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri, untung saja robi dan juan siap sedia menangkap tubuh ara yang melorot ke bawah.
"Gue udah hubungi kak Deon, kemungkinan bentar lagi dia datang" ujar putri cepat sebelum juan dan robi mengambil ponsel mereka untuk menghubungi Deon.
Lima menit kemudian, ambulans datang dan membawa Ara serta teman-temannya menuju rumah sakit.
...🐥🐥🐥🐥🐥...
Ara masih dalam ruang pemeriksaan, dan keempat sahabatnya menunggu ara di luar, mereka tidak dibolehkan untuk ikut masuk.
"Bagaimana keadaan ara?" Tiba-tiba Deon datang dengan keadaan panik, disana bukan hanya ada Deon tapi ada Axel juga, yang kebetulan sedang ada rapat bersama dengan Deon.
"masih diperiksa dokter kak" jawab juan cepat.
"Bagaimana ceritanya ara bisa sampai pingsan!" bentak Deon dengan marah.
"Tenang dulu bro! jangan marah-marah lu juga salah, gak terlalu memperhatikan keadaannya" bujuk Axel.
"Tadi pagi dia ba__"
'Ceklek' ucapan Deon terpotong, dia langsung beralih menatap dokter yang keluar dari ruangan yang tadi di bilang dimasuki ara.
"Keluarga pasien?"
"Saya dok, saya Axel kakaknya Ara" Axel dengan cepat menunjuk dirinya sendiri.
Dokter terlihat enggan mengatakan didepan orang-orang itu, "bisakah anda mengikuti saya?"
"Bisa dok" jawab Axel cepat. Dia berjalan mengikuti dokter itu.
.
"Loh tuan Allinsky anda juga ikut?" dokter itu baru menyadari Deon juga mengikutinya memasuki ruang pribadi dokter.
"Saya suami dari wanita itu, jadi saya berhak tau juga dengan keadaan istri saya" ucap Deon Tegas.
"Apa? tu-tuan sudah menikah?" Dokter itu menatap Axel meminta penjelasan.
"itu memang benar dok, pengumuman pernikahan mereka saja yang memang belum di beritahu, tapi mereka sudah menikah hampir setahun" jelas Axel, untuk menjawab pertanyaan dari dokter itu.
"Syukur lah, saya pikir nona Ara sama seperti gadis yang beberapa bulan lalu datang kesini" ucap dokter itu, ketegangan nya sudah mulai menghilang digantikan oleh kebingungan dari Axel dan Deon.
"Maksud dokter apa ya?" tanya Axel sedikit cemas.
Axel dan Deon masih berdiam diri mencerna ucapan dokter itu.
"Bisa lebih jelaskan secara pelan dok, saya sepertinya salah dengar tadi" ujar Axel.
"Adik anda kelelahan makanya dia bisa pingsan, dan kelelahan itu disebabkan oleh janin yang sedang di kandung nona ara, mengingat usia kandungannya masih dini, dia juga masih terlalu muda untuk mengandung, jadi kesehatan kandungannya sedikit bermasalah, akan rawan sekali dalam keguguran, karena kandungan nona ara sangat lemah" jelas dokter itu dengan pelan.
"Sekarang bagaimana keadaan istri saya dok" Deon memang senang, tapi dia lebih mengutamakan keadaan istrinya, dibanding tentang berita kehamilan ara.
"Sudah membaik, tapi perlu penjagaan dari kalian semua, tolong jangan sampai membuat nona itu kelelahan, jika bisa nona itu dirawat dulu di rumah sakit selama dua minggu, saya khawatir dengan kondisi rahim nona ara yang masih kurang kuat"
"Lakukan apapun untuknya dok! saya mohon" lirih Deon.
"Apa ara tidak boleh hamil dok?" tanya axel, dia mulai paham kenapa ara bisa pingsan tapi dia kurang paham kenapa ara harus benar-benar dirawat intensif.
"Nona ara boleh hamil, tapi memang sangat rawan dengan keguguran, karena kondisi rahimnya yang lemah" ujar dokter itu.
"Apa minuman alkohol dan rokok berpengaruh pada rahim dok?" tanya Axel lagi. Dia tau dulu adiknya itu sangat suka mabuk-mabukan dan merokok.
"Apa nona ara pernah melakukan itu? ini bisa jadi salah satu alasan kenapa rahimnya sangat lemah, kita harus betul-betul menjaganya" ujar dokter.
Deon dan Axel tertunduk sedih, keadaan Ara juga karena pengawasan mereka yang kurang.
"Tuan Allinsky dan tuan Axel tenang saja dunia medis sekarang sangat canggih, apa lagi nona ara adalah istri dari pemilik rumah sakit ini, jadi kami akan mengutamakan keselamatan Nona ara dan bayi-bayinya".
" Bayi-bayi? " Serempak Deon dan Axel berkata.
"ohh maaf, saya belum memberi tahu, nona ara sedang mengandung kembar 3, makanya dia juga lebih cepat lelah, energi ibunya dibagi bertiga dengan bayi-bayinya".
" Apa kembar 3?! bagaimana bisa saya tidak ada keturunan gen kembar dok__" teriak Axel kebingungan.
"Aku ada xel, ibuku kembar" potong Deon cepat.
"Bisa jadi ini dari gen tuan Allinsky, kalau begitu saya akan memindahkan pasien dulu, ingat perkataan saya tolong jaga emosi dan kondisi fisik nona ara" nasehat dokter itu sebelum pergi.
"Wahh... papi gue bakalan marah bro!" Axel melirik Deon yang masih diam.
"Gue gak masalah di marahi papi dan mami lu, yang gue takutkan adalah kondisi ara yang sangat lemah" ucap Deon lemah.
'puk' Axel menepuk bahu Deon dengan pelan.
"Tenang aja, lu kan kaya, apa susahnya panggil dokter terbaik di luar sana untuk datangkan kesini, agar adik gue sehat" kekeh Axel. "yang terpenting gimana caranya kita beritahu orang tua kita tentang kondisi ara".
🎼 belum sempat mereka mencari ide, ponsel Deon sudah berbunyi nyaring, karena panggilan dari ayahnya.
" Bokap telepon"
"Angkat aja" paksa Axel.
📲 "Iya yah ada apa?"
📲 "Apa yang terjadi dengan menantu ayah?" tanya ayah Deon dari sebrang, sepertinya berita ara yang masuk rumah sakit sudah diketahui oleh ayahnya, padahal Deon belum memberitahu apapun.
📲 "Sudah membaik yah, tapi perlu perawatan intensif disini selama dua minggu" ujar Deon.
📲 "Sakit apa hingga harus dirawat sampai dua minggu?"
Deon mengambil nafas panjang, dia sudah mempersiapkan diri untuk menerima amukan dari ayahnya.
📲 "Ara sedang mengandung yah, kembar 3 jadi kondisinya sangat lemah sekarang".
📲 " apa?! hahahhaha hamil! baiklah ayah akan kabarkan mertua kamu dan bundamu" suara riang ayahnya yang bisa deon dengar sebelum ponsel itu mati.
"Bagaimana?" Axel menyikut lengan Deon.
"Bokap gue gak marah, malah tertawa" ucap Deon.
"Syukur deh, sekarang kita ke ruang perawatan ara yuk" ajak Axel.
Deon hanya mengangguk dia dan Axel mulai berjalan mencari ruang rawat Ara.
...🐤🐤🐤🐤🐤...