My Little Girl

My Little Girl
S2 MLG 59. lain dimulut lain dihati



Ara memperhatikan ay yang baru saja menutup teleponnya.


“kenapa mom?” tanya ay bingung.


“cepat telepon brian” perintah ara.


“harus sekarang?” tanya ay balik.


“Iya harus sekarang” paksa ara pada ay.


Ay akhirnya mengangguk, dia segera mencari nomor brian sesekali mata gadis itu melirik ara yang sedang berkacak pinggang.


“Di loudspeaker biar mommy bisa dengar juga” ucap ara masih dengan ketegasannya.


Ay hanya menhela nafas panjang, dia tau mommy nya memiliki hati yang sangat baik tidak seperti dirinya, tapi mau dibilang apa pun mommy ara tidak akan mengganti keputusannya, ay hanya berharap brian mengerti maksud ay, memang mengatakan iya memaafkan di mulut tapi melakukan penghukuman dibelakang tanpa di ketahui oleh siapapun, terlihat seperti benar-benar kematian secara alami.


“halo sayang” suara brian terdengar dari sebrang telepon.


“hai kak” jawab ay, gadis itu melirik ara yang sedang berkacak pinggang


“kak ay boleh minta sesuatu?” tanya ay pelan setelah dia mengambil nafas panjang tadi.


“Apa itu sayang?” tanya brian heran.


“maafkan melani kak” ucap pelan ay.


“apa?! Bisa kamu ulangi sekali lagi sayang?”


“maafkan melani, hanya untuk kali ini kak, kalau dia melakukan untuk kedua kalinya baru kakak menghukumnya dengan kejam”


.


Di tempat brian, pria itu terdiam mendengar ucapan ay padanya, kepalanya langsung mengeryit bingung dari mana ay tau tentang melani yang harus mendapatkan hukuman, kecuali itu dari daddy George.


“Sayang kamu tau arti dari kata memaafkan? Dia akan melakukan hal yang sama untuk kamu dan aku tidak tau apa yang akan dia lakukan yang pastinya lebih berbahaya dari yang sekarang ada” ucap Brian dengan lembut.


“Aku tau kak, kalau boleh jujur aku juga tidak ingin memaafkan tante sexy itu” ucap ay dengan nada pelan.


“ehem” terdengar suara dehaman dari dalam ponsel brian, kening pria itu Kembali mengernyit sekarang dia tau alasan ay menelponnya.


“bagaimana jika kakak bilang kakak tidka akan mau memaafkannya?” tanya brian pelan, dia ingin mendengar apa yang akan di jawab oleh ay.


Cukup lama ay diam, dia tidak menjawab ucapan brian, laluterdengar helaan nafas ay yang sangat panjang, brian tau ay sedang dipaksa untuk meminta memaafkan melani, dia seorang mafia, dia sangat terlatih dalam mendengar suara yang sangat kecil sekalipun dan dia bisa tau dari nada seseorang yang sedang berada dibawah paksaan, pria itu bukan pria yang bodoh, dia di tempa menjadi seorang ketua mafia sejak berumur 5 tahun, wajar jika dia sangat cepat tanggap.


“Kita batal menikah kak” ucap ay pelan, terdengar nada suara sedih dari sebrang telepon.


“baik sayang, kali ini akan kakak maafkan, kakak tidka ingin membatalkan pernikahan kita, jadi kamu tenang saja, semua akan baik-baik saja kamu harus tenang ya, kakak akan bicara pada daddy untuk memaafkan melani, bagi kakak kamu nomor satu sayang” jawab brian, mulutnya berucap dengan manis tapi matanya menyampaikan kekesalan yang amat sangat pada daddy nya. Mulut dan hati pria itu saat ini sedang saling bertolak belakang, dia memang mengatakan akan memaafkan tapi hatinya berkata akan tetap melanjutkan penghukuman bahkan lebih kejam dari yang bisa di bayangkan, dan hal yang tidak terduga sama sekali. Brian berniat melenyapkan melani tanpa bantuan siapapun, hanya dirinya sendiri yang akan menghabisi gadis itu.


“Waahhh benarkah kak? Terima kasih” ucap ay, tapi brian tau nada suara ay terdengar sangat dipaksakan.


“tenang sayang, aku tidak akan melakukan hal itu” batin Brian.


“Iya sayang, apapun untuk kamu” ucapan yang di keluarkan brian memang benar adanya, pria itu sanggup melakukan apapun untuk ay, tapi pria itu tidak akan pernah memaafkan siapapun yang sudah berniat melenyapkan nyawa ay, walaupun ay meminta dia di maafkan tetap saja brian akan melawan orang itu.


“Terima kasih kak” telepon langsung terputus, brian tau ay sedikit kesal mendengar jawabannya, tidak lama setelah ponselnya mati brian tersenyum mengerikan, dia mengambil pistol kesayangannya dan membawa pistol itu menuju daddy nya.


“tuan muda” bobby menyapa brian yang datang dengan menunduk hormat.


‘dor’ ‘dor’ Deon menembak vas bunga yang ada disebelah bobby dan sebelah asisten daddy George, bergerak sedikit saja mungkin kedua asisten itu sudah terkena timah panas dari tembakan brian.


“Hahahhaha ide kalian memang aku acungi jempol! Hebat bagi kalian meminta bantuan ay adalah solusi satu satunya, apakah kau yang memberikan ide bobby?” tanya brian dengan todongan pistol di kepalanya.


“A-a-anu tu-tu__”


“Bukan bobby, tapi daddy yang memdapatkan ide itu” ucap Daddy George.


“Ohh daddy ya? Daddy tau selama ini aku memang baik bahkan bersikap seperti orang normal, tapi daddy lupa jika aku sudah melihat darah dan mendengar suara tembakan maka sisi mengerikanku akan bangun, apa daddy mau bermain dengan senjata kesayanganku?” ucap brian pria itu duduk di single sofa sambil melipat kakinya bak raja.


Orang tua melani hanya terdiam melihat sifat asli yang di tunjukkan oleh brian.


“Ohh ada om dan tante, apa kalian kesini mau menggantikan nyawa putri kalian dengan nyawa kalian sendiri?”gelak tawa mengerikan brian Kembali terdengar, “Aku tidak suka memaafkan, rasanya seperti aku sudah kalah, lain halnya jika itu kesalahan gadis kecilku” tambah brian lagi sambil memainkan pistol di tangannya dengan sangat santai.


“Brian, kamu kesini mau bicara apa?’ tanya daddy George, dia masihlah tetap seorang ketua mafia, jadi dia tidak takut melihat putranya yang mengerikan itu hanya saja dia sedih telah menciptakan monster tanpa hati, dan itu semua adalah hasil didikannya.


“kalian berdua dan daddy buat perjanjian bahwa gadis itu tidak akan menggangguku dan ay” ucap brian. Padahal sebenarnya dia hanya menyuruh itu agar semua orang percaya dia sudah memaafkan melani.


Daddy George menatap mata putranya itu yang tidak menunjukkan ekspresi apapun, datar tanpa ekspresi.


“benarkah kamu mau memafkan putri kami?” tanya ibu dari melani.


Brian tidak menjawab hanya mengangguk sambil menggaruk keningnya dengan pistol yang ada di tangannya.


“cepat lakukan atau aku berubah pikiran” ucap brian.


“Alex segera ambilkan kertas perjanjian kosong kesini” perinta daddy George.


“Terima kasih nak, telah mengabulkan permintaan daddy, tapia pa benar kamu akan membarikan kesempatan itu?” ucap Daddy George masih belum 100 persen percaya pada brian.


“karena ay yang meminta aku tidak mungkin tidak mengabulkan permintaan kekasihku bukan” ucap brian berlainan dengan rencana yang sedang dia rencanakan.


.


“Tulis, nama kalian berdua,setelah itu ucapan kalian tidak akan menuntut ataupun membalas dendam pada keluargaku jika melani melakukan kesalahan untuk kedia kalinya” ucap brian memberi arahan dalam membuat surat perjanjian itu.


Setelah mendengar arahan dari brian kedua orang tua melani segera menanda tangani surat itu dan memberikan pada brian.


“Kalian kan masih punya anak satu lagi kenapa masih mempertahankan anak seperti itu” ledek brian sebelum keluar dari ruangan daddy George sambil membawa surat perjanjian itu.


.


“berarti dia sudah memaafkannya kan George?” tanya daddy melani.


“iya, aku tau putraku, dia akan melakukan apapun permintaan kekasihnya itu, kalian tenang saja melani sudah diberi kesempatan kedua, jadi tolong manfaatkan itu sebaik-baiknya” ucap daddy George.


Bobby tertunduk, mendengar ucapan daddy George, tadi dia sempat melihat senyum tersembunyi dari bibir brian, walau hanya singkat bobby tau, tuan mudanya itu sedang bersandiwara, dia sudah sangat lama mengenal brian jadi dia tau arti senyuman itu.


“maafkan saya tuan besar, monster yang anda ciptakan akan membunuhku jika aku memberi tahu tentang hal ini” batin bobby.