Marry The Heir

Marry The Heir
We know you are strong!!!



Keinginan Arini memang tidak bisa di bantah. Pagi itu, setelah sarapan mereka bergegas pindah ke rumah Kean. Tidak banyak barang yang ia bawa, hanya satu koper kecil pakaian dan satu tas obat-obatan yang biasa ia gunakan. Ia sangat yakin untuk segera keluar dari rumah mewah ini karena di rasa memang sudah tidak nyaman.


Ia bersedia meninggalkan rumah mewah dengan desain megah dan segala fasilitasnya yang canggih, berpindah ke sebuah town house yang bisa di bilang jauh lebih sederhana. Karena baginya, rumah bukan tentang seberapa megah bangunan yang ia tinggali tapi seberapa hangat kedekatan yang bisa di jalin dengan semua pengisi rumah.


Adalah Kinar yang saat ini sibuk menata kamar untuk Arini tempati. menempatkan barang-barang dengan jarak yang aman agar tidak menghalangi pergerakan Arini dengan kursi roda. Nita dan Reza pun ikut andil dalam merapikan rumah yang sedikit demi sedikit di ubah demi kenyamanan penghuninya.


Arini menempati kamar tamu dan Disa menempati ruang kerja Kean. Ruang kerja Kean awalnya memang sebuah kamar, hanya saja ukurannya tidak sebesar kamar yang lain sehingga di gunakan sebagai ruang kerja. Untuk ruang kerjanya bergeser ke ruangan samping kamar Disa, tempat biasanya Kean menghabiskan waktunya sambil menikmati secangkir teh.


Di kamar baru Disa, Reza dengan semangat menata kamar yang cukup sederhana. Tidak banyak barang yang harus di tata, hanya sebuah tempat tidur dengan satu set lemari dan meja rias. Ia pun memasangkan sebuah karpet di dekat tempat tidur sebagai tempat untuk bersantai.


“Kamu harus ngasih gorden tipis di jendelanya sa, supaya kalau siang, kamu bisa buka jendela.” Ujar Reza yang masih berusaha menggeser lemari pakaian Disa. Keringatnya sudah bercucuran karena sedari pagi ia terus memindah-mindahkan barang dari satu tempat ke tempat lainnya.


Mereka memang menyewa beberapa tukang, tapi lebih di fokuskan untuk melakukan pekerjaan berat seperti memasang kanopi di taman dan memperbaiki saluran air. Untuk hal kecil yang masih bisa di tangani, mereka lakukan sendiri.


“Iya kak.. nanti aku beli gorden tipis.” Agar pekerjaan mereka lebih cepat selesai, Disa Ikut membantu Reza mendorong lemari dan barang berat lainnya. Tenaga Reza memang besar, ia mampu memindahkan sendiri lemari pakaian yang tidak terlalu besar. Hanya saja Disa tidak terbiasa berpangku tangan, membiarkan orang lain menata kamarnya sementara ia hanya menonton.


Lagi pula bekerja dengan orang yang kita sukai terasa lebih menyenangkan.


“Tempat tidurnya aku geser diikit ya, supaya muat kalo kamu mau sholat.” Ini pekerjaan ke sekian yang di lakukan Reza untuk menata kamar Disa.


Dalam hal menata ruang, Reza memang mumpuni. Ia memperhatikan setiap detail ruangan tidak hanya dari fungsi melainkan dari sisi keindahan dan kerapihan. Sepertinya ia bukan tipe laki-laki yang suka menaruh handuk basah di atas tempat tidur. Semua yang ia lakukan terkonsep dan apik.


“Iya kak.”


Siapa sangka Reza bisa bawel juga dan cukup menghibur untuk Disa. Sejak pertama melihat Reza, pembawaannya yang ramah memang membuat siapa pun sangat mudah tertarik pada sosok tampan ini. Terlebih ia sangat peduli pada orang-orang di sekitarnya termasuk Disa.


“Sa, kamar mandinya licin, jangan lupa nanti di sikat dulu supaya kamu gak jatuh.” Pekerjaan Reza hingga mengecek kamar mandi, memeriksa lantainya dan mencoba nyala lampu.


“Iya kak.” Hanya bisa tersenyum dan menyibukkan diri dengan memasukkan baju ke dalam lemari.


Di tangan Reza tidak lepas lap yang ia gunakan untuk membersihkan ke beberapa sudut ruangan.


“Eh lampunya juga mati. Aku ke bawah dulu buat ngambil lampu.”


“Nanti aja kak, aku minta bantuan pak wahyu buat masang lampu.”


“Udah sekalian aja sama aku. Kamu pikir aku gak bisa pasang lampu doang?” ujarnya dengan segaris senyum. Ternyata seperti itu wajah Reza saat kesal, terlihat benar-benar lucu.


“Ya udah, makasih ya.”


“Hem.” Hanya itu sahutan Reza sebelum turun.


Disa masih tersenyum sendiri mengingat hari yang begitu menyenangkan ia lewati bersama Reza. Jarang, namun berkesan.


“Sa, mau sekalian aku ambilin minuman ringan gak?”


Eh dia balik lagi, membuat Disa harus melupakan sejenak lamunanya.


“Boleh kak, makasih ya.”


Yang di mulut pintu hanya mengangguk sebelum benar-benar pergi. Sayup-sayup masih terdengar suara langkah kakinya. Disa menggelengkan kepalanya untuk mengusir sejenak pikirannya yang terlalu manis tentang Reza.


Satu ketukan di pintu kembali menjeda pekerjaan Disa. “Iya kak.” Sahutnya seraya menoleh.


Matanya langsung membulat saat melihat seseorang yang berdiri di pintu dan ternyata bukan Reza.


“Saya kean, sa-ya kean.” Kean berujar dengan penuh penekanan. Kesal juga rasanya di panggil “Kak” tapi sudah pasti itu panggilan untuk Reza. Dan lihat ekspresi wajah Disa, kenapa dari sesenang itu kemudian berubah kecewa saat yang di lihat bukan Reza. Mengesalkan, pikir Kean.


“Ma-maf tuan muda. Saya pikir, kak reza.” Disa menunduk dengan sesal. Suaranya pun terdengar lebih pelan. Harusnya ia menoleh dulu baru berbicara. Kalau sudah melihat ekspresi tuan mudanya yang seperti ini, alamat seharian ini tuan mudanya akan kesal.


Tidak mau menanggapi ucapan Disa, ia masih terlalu kesal karena di kira orang lain.


“Turun, hidangkan makanan yang saya bawa!” ketusnya lantas berbalik meninggalkan Disa.


Dia melihat jam di dinding dan sudah jam setengah 12 siang. Ternyata waktu benar-benar tidak terasa kalau digunakan untuk melakukan banyak pekerjaan. Tunggu, menghidangkan makanan? Ia kan belum masak.


Dengan langkah cepat disa menyusul Kean. Saat tiba di lantai satu, Nita dan Arini sudah berada di ruang tengah dan sedang berbincang. Sementara Kean masih berbicara dengan seorang pekerja.


“Ada apa?” Reza dengan sebotol minuman ringan tampak terkejut melihat Disa yang tiba-tiba berlari menuju dapur.


“Aku lupa belum nyiapin makan siang.” Gumamnya yang masih bisa di dengar oleh Reza. Ia mengabaikan begitu saja botol minuman ringan yang ada di tangan Reza.


Melihat Disa yang tampak panik, Reza hanya tersenyum seraya menggenggam erat botol minuman di tangannya. Saat sudah ada Kean, fokusnya langsung beralih dengan cepat. Hal lain di luar kebutuhan tuan mudanya terlihat tidak penting. Padahal Reza masih ingin bersama-sama menikmati minuman dingin ini di balkon seraya berbincang.


“Disa, gak usah masak. Tuan muda bawa makanan.” Kinar membawakan dua kantong paper bag dengan label sebuah restoran terkenal.


“Oh baik bu, saya hidangkan dulu.” Mengambil paper bag dari tangan Kinar lantas menempatkannya di piring-piring.


Disa menoleh sejenak tuan mudanya yang masih memberi instruksi pada pekerja. Ia sadar, tuan mudanya sedang berusaha meringankan pekerjaannya. Tidak menuntutnya untuk memasak seperti biasanya dan malah membawakan menu makan siang yang mewah.


*****


Berdiam diri seharian di rumah dan hanya meringkuk di atas tempat tidur dengan selimut tebal yang menutupi hampir seluruh tubuhnya. Tidak makan atau pun minum dan mengabaikan semua ketukan di pintu. Sudah seharian ini Shafira melakukan hal ini. Tidak ada tenaga untuk ia beranjak dari tempatnya, tubuhnya terasa begitu lemas dan tidak bersemangat.


Matanya masih bengkak dan suaranya parau karena terlalu sering menangis. Jika mengingat beberapa kejadian yang tidak menyenangkan baginya, mendadak dadanya terasa panas apalagi saat membaca obrolan teman-temannya di group virtual sekolah.


“Tugas kimia halaman 187, di kumpulin selasa ya teman-teman.” Kalimat itu seolah menjadi penjeda percakapan yang di lemparkan Malvin ke dalam obrolan mereka.


Tidak ada yang merespon, padahal biasanya para cewek-cewek langusung berrebut minta contekan. Beberapa menit kemudian yang kembali di share adalah gossip tentang dirinya. Yang lebih ngawur dan tanpa dasar.


“Ups! Sorry salah kirim.” Begitu komen yang membagikan tautan sebuah artikel online 10 menit setelah berita itu ia sebarkan. Tentu teman-temannya sudah membaca karena viewernya naik drastis.


Shafira hanya menghela nafas panjang, begitu puas teman-temannya membully-nya melalui kata-kata. Mungkin di antara mereka ada yang sedang tertawa puas. Dan ini yang membuat Shafira semakin enggan untuk pergi ke sekolah. Mentalnya belum cukup kuat, ia tidak siap bertemu dengan teman-temannya yang mungkin akan menatapnya dengan sinis dan membully-nya secara terang-terangan.


Dalam pikirnya, walau ia tidak memiliki banyak teman, circle pertemananya sempit namun ia orang yang self orientation. Ia bukan tipe orang yang turut campur urusan orang lain apalagi ikut membully. Baginya masalahnya sudah cukup banyak maka tidak ada gunanya mencampuri urusan orang lain. Tapi yang di lakukan teman-temannya seolah ia seorang yang jahat sehingga mereka dengan puas membully Shafira tanpa ragu. Entah apa alasan mereka bisa begitu kompak berusaha untuk menjatuhkan mental Shafira? Mungkin hanya sekedar merasa puas saat melihat mental seseorang jatuh lantas tertawa melihat kesulitan orang lain. Sungguh, tidak untuk di contoh.


Shafira sudah lelah dengan semuanya. Jika mengingat kalimat Kean semalam, “Berhenti membaca komen-komen tidak penting di media social manapun. Bukan kewajiban kamu untuk membalas apalagi menjelaskannya pada semua orang!”


Harus ia akui, rasanya kalimat itu benar. Anggaplah keluarganya memang bermasalah tapi mereka tidak berhak memberikan penilaian atau hujatan pada keluarganya.


Akhirnya yang di lakukan shafira adalah keluar dari obrolan group itu. Ia sudah lelah. Terserah mereka mau berbicara apa yang jelas ia tidak ingin memikirkannya. Biarkan saja mereka berfikir Shafira adalah seorang pengecut tapi baginya, menjaga kesehatan mental itu jauh lebih penting. Ia perlu waktu, ia perlu menguatkan dirinya sendiri.


Beberapa pesan juga di terima oleh Shafira. Dari Diana, Malvin dan Ira?


Pesan dari Ira yang membuat Shafira penasaran dan dengan cepat Shafira membacanya. “Fir, lo baik-baik aja kan?” begitu bunyi pesan yang di kirim Ira beberapa saat setelah Shafira keluar dari group virtualnya.


Sejak kapan Ira peduli pada keadaannya? Bukankah ia salah satu orang yang memiliki dendam tidak hanya pada Shafira tapi juga pada keluarganya? Harusnya ia merasa puas bukan, melihat Shafira terpuruk?


Sedikit mengingat, di percakapan group virtualnya Shafira memang tidak menemukan komentar Ira. Sepertinya ia masih punya perasaan untuk tidak ikut membully Shafira.


Pesan lainnya di kirimkan oleh Diana. “Fir,..” tulisnya dengan sebuah emotikon pelukan dan ciuman.


Mungkin ini bentuk semangat yang di kirimkan Diana tanpa bisa mengatakan apa-apa. Tapi shafira bisa merasakan pesan kecemasan yang di rasakan Diana untuknya. Ia masih mengingat saat Diana berusaha membelanya di hadapan Nara dan Fia.


Mereka bertengkar sengit walau Shafira tidak tahu ujungnya seperti apa.


Dan pesan terakhir adalah pesan dari Malvin. Shafira mengernyitkan dahinya saat yang di kirim Malvin adalah sebuah video. Saat di putar, suara dentingan piano yang dimainkan Malvin dan ia tahu, ini adalah lagu yang akan mereka nyanyikan besok. Teman-teman padusnya menyanyikan part mereka dan saat part Shafira, tidak ada satupun yang bernyanyi. Mereka terdiam dengan tatapan sendunya.


Malvin menoleh ke layar ponselnya lantas memejamkan matanya berusaha menikmati melodi yang ia jalin. Sangat indah. Perlahan bibir Shafira ikut bergumam, menyuarakan barisan lirik dengan suara paraunya. Ia memegangi dadanya yang tiba-tiba terasa sesak dengan air mata yang mulai menetes.


Ia bangkit dari tempat tidurnya tanpa menghentikan video yang di tontonnya. Ia merindukan suasana ini. Suasana berlatih dan saling menyemangati dengan teman-temannya. Menyumbangkan suara terindah sesuai part mereka yang membuat lagu ini menjadi semakin emosional.


Tidak lama, terlihat wajah Diana yang tampak sendu mengisi layar ponsel. Ia duduk di samping Malvin yang masih memainkan pianonya dengan mata terpejam.


“Fir, ini part lo. Dan gak akan ada yang nyanyiin part ini selain lo.” Diana mengusap air matanya yang tiba-tiba menetes. Ia berusaha untuk tersenyum tapi ternyata sulit.


“Besok kita tampil. Bu andini udah beliin seragam baru buat kita."


"Warnanya hitam, kayak warna baju yang lo kasih liat ke gue tempo hari. Lo bakal dateng kan fir?” akhirnya Diana terisak. Ia menaruh ponselnya dan yang terlihat sekarang adalah langit-langit aula yang sudah di dekor dengan balon dan bunga.


“Lo jangan nangis di. Nanti fira denger dan tambah sedih. Vin bagian ini lo cut aja videonya.” pinta seorang gadis yang terdengar sedang menenangkan Diana.


Shafira tersenyum samar. Ia mengigit bibirnya dengan kelu untuk menahan tangis yang pecah. Sangat menyesakkan hingga bahunya bergerak naik turun namun tanpa ada suara tangis yang terdengar.


Membayangkan teman-temannya yang sedang berlatih dan ia terkurung sendiri di kamarnya, terasa tidak cukup adil. Mereka sama-sama berlatih dari awal dan di saat seperti ini mereka masih berusaha menyemangati Shafira lewat video kedua yang di kirimkan Malvin.


“Firaaaa…. Semangat yaaa… Kita tunggu lo gabung lagi. Semangat firaaa….” Seru teman-teman paduan suaranya dengan kompak.


Shafira tersedu.  Tangisnya benar-benar pecah. Ternyata ia salah. Selama ini Ia tidak pernah sendirian. Dari sekian banyak orang-orang yang membuly-nya ternyata masih ada orang-orang yang peduli padanya. Ada orang-orang yang tidak meninggalkannya saat ia terpuruk.


“Firaaa, semangat yaa… Apapun yang terjadi, we know you are strong. We love you!!!” ujar Andini yang di sambung oleh seruan teman-temannya.


Shafira tertawa dalam tangisnya. Antara haru dan sedih bercampur menjadi satu. Sejak kapan teman-teman yang cuek menjadi begitu manis memiliki kepedulian yang besar. Walau kata-kata mereka pendek dan singkat, tapi perhatiannya terasa benar hingga ke dasar hati Shafira.


Walau mereka tidak membantu Safira menyelesaikan masalahnya, tapi semangat yang mereka berikan berhasil meluruhkan sebagian beban kesedihan Shafira.


“Jangan nangis, nanti kalian serak.” Lirih Shafira seraya mengusap layar ponselnya.


Sungguh ia merasa beruntung karena memiliki teman-teman yang mendukungnya. Sesuatu yang tidak akan bisa ia beli dengan uang.


*****