
Setelah kepergian Kean, Disa tinggal sendirian di rumah. Ia mematuhi perintah Kean untuk tidak keluar dari rumah atau sekedar memberikan makanan pada Rahmat. Ia benar-benar menuruti Kean dengan berdiam diri di kamarnya.
Percayalah menunggu itu bukan sesuatu yang menyenangkan. Ada ketidak tenangan di dalamnya di tambah masalah dalam hubungannya dengan Kean yang membuat jantung Disa kemping kembung dalam waktu yang cepat.
Untuk mengisi waktunya, Ia memutuskan untuk melanjutkan menjahit sebuah dress yang sedang ia buat. Sudah hampir selesai, hanya tinggal menambahkan pemanis berupa manik-manik di bagian dada.
“Awh!” karena tidak fokus, tiba-tiba saja jarum yang ia pegang menusuk jari telunjuknya. Walau lukanya kecil tapi darah yang menetes cukup banyak.
“Kamu ceroboh banget sih sa.” Disa segera menghisap darah di telunjuknya dan tiba-tiba saja perasaannya jadi tidak nyaman.
Antara takut, sedih dan was-was.
Ia melirik jam di dinding kamarnya, sudah satu jam tuan mudanya pergi tapi belum juga kembali. Katanya hanya sebentar tapi sampai sekarang masih belum pulang. Hati Disa mulai tidak karuan. Ia melihat layar ponselnya dan tidak ada pesan atau pun panggilan dari Kean. Kata orang dulu, kalau jarinya tiba-tiba terluka, biasanya ini adalah firasat buruk.
Memikirkan hal itu, membaut Disa semakin tidak tenang. Walau ia dan Kean berusaha untuk tenang menjalani hari-harinya, namun keduanya sama-sama tahu, ada seseorang yang mengawasi mereka. Dia bisa kapan saja datang dan melakukan hal yang mungkin lebih mengancam keselamatannya.
“Tuan, apa anda baik-baik saja?” gumamnya tidak karuan. Ia sadar, tidak hanya dirinya yang terancam, mungkin Kean pun sama.
Membuang perasaannya yang tidak nyaman, akhirnya Disa turun ke dapur. Ia melakukan apa saja yang bisa mengalihkan pikirannya. Pasta yang akan ia buat saat Kean sudah mengabarinya pulang, akhirnya ia buat sekarang. Tangannya meramu makanan tapi pikirannya tidak di sini.
Ia memasang indra pendengarannya kuat-kuat juga matanya sesekali melihat ke sekeliling rumah, entah mengapa setelah mendapat ancaman dan penculikan dari Sigit, ia jadi mudah ketakutan. Overthinking yang sudah mulai bisa ia kendalikan kali ini muncul kembali dan mengendalikan beberapa sisi logis pikirannya.
“Tenang disa, ada allah. Tenang…” ia mengusap-usap dada kirinya untuk menenangkan jantungnya yang sedari tadi berdetak tidak menentu. Apa yang dilakukan Sigit ternyata benar-benar membekas dipikirannya. Seperti laki-laki itu telah berhasil menanamkan rasa takut dalam-dalam.
Pasta sudah selesai di buat. Disa menaburinya dengan keju, seperti kesukaan Kean. Aromanya yang enak dan tampilannya yang cantik benar-benar mengundang selera.
“Pulanglah dengan cepat tuan, saya sudah membuatkan pasta special untuk anda.” Gumam Disa dengan senyum terkembang. Di pandanginya pasta di depan mata sambil membayangkan ekspresi Kean saat menikmati pasta buatannya.
Selesai membuat pasta, Disa Kembali ke atas. Tidak langsung ke kamarnya melainkan berdiam diri di balkon. Ia perlu menghirup udara segar untuk mengusir pikiran yang tidak seharusnya ia simpan. Kata orang, melihat-lihat sosial media bisa mempercepat waktu. Akhirnya Disa meng-instal beberapa media social sebagai hiburan. Ia pun mengecek instagramnya dan banyak sekali notifikasi.
Beberapa foto shafira masuk di berandanya dan menandai Disa. Terutama foto-foto yang menampilkan Shafira sedang memakai baju yang ia buat.
“Weh cantik banget tuan putri.” komen salah satu netizen, mengomentari sosok Shafira yang terlihat menawan layaknya seorang model. Gadis ini memang pandai berpose. Ekspresi wajahnya benar-benar hidup dan berkarakter.
“Iya dong. Outfit by: Psandhya.” Shafira menyebut akunya di kolom komentar. Nona mudanya benar-benar mempromosikan karya Disa layaknya endorsemen.
“Non fira memang cantik.” Disa membalas komentar Shafira dan tidak berselang lama Shafira membalasnya.
“Miss u mba disa. Aku main yaa ke rumah.” Rupanya nona mudanya sedang online.
“Iya non, saya tunggu.” Disa masih tersenyum membaca tulisan Shafira. Nona mudanya yang ceria selalu membuatnya merasa kalau dunia ini terlalu indah, maka jangan di buat murung dengan pikiran yang belum tentu terjadi.
Benar saja, beberapa saat kemudian terlihat nyala lampu yang benderang dari sebuah mobil. Pintu gerbang terbuka dan sport car mewah milik tuan mudanya masuk ke halaman.
Disa bisa bernafas lega dengan senyum terkembang saat melihat tuan mudanya pulang. Entah mengapa, kepulangan Kean mulai menjadi sesuatu yang di nanti.
Terlihat Kean yang turun dari mobil. Segera berlari kecil masuk ke dalam rumah. Sepertinya tuan mudanya sama-sama tidak sabar untuk bertemu.
Sambil menunggu Kean, Disa Kembali menghela nafasnya dalam, menikmati hembusan angin malam yang terasa sejuk. Suara langkah kaki tuan mudanya semakin terdengar jelas, berlari menaiki anak tangga dan tiba-tiba saja ia memeluknya dari belakang.
“Masih menungguku?” Kean berbisik di telinga Disa dan sang empunya tersentak kaget.
“I-Iya tuan.” Jawab Disa. Kehadiran tuan mudanya selalu saja membuat jantungnya berpacu dengan cepat namun dengan irama yang berbeda dari debaran jantung karena rasa takut dan was-was.
“Apa sudah membuat pastanya?” Kean semakin mengeratkan pelukan tangan yang melingkari pinggang Disa, rasanya sangat menggelikan hingga Disa bergidik.
“Sudah tuan.” Tubuhnya menggeliat, berusaha melepaskan diri dari pelukan Kean.
“Kenapa?” Kean memperhatikan tubuh Disa yang sedari tadi tidak berhenti bergerak.
“Nanti pak rahmat liat dari pos tuan.” Mencoba berkilah dan melepaskan satu per satu tangan Kean dari pinggangnya.
“Hahahaha.. Sehebat itu dia bisa lihat sampai sejauh ini? Memang dia bajak laut dan punya teropong.” Kean tertawa renyah mendengar kekhawatiran Disa. Mana mungkin hal yang di takutkan Disa terjadi.
"Ish tuan, bisa saja pak rahmat melihat kita dari bawah sana." menunjuk ke arah lampu taman.
"Tidak akan." Di pandanginya gadis yang merona di hadapannya. Sangat tenang rasanya melihat Disa baik-baik saja.
“Bisa makan pasta sekarang?” perut Kean sudah keroncongan minta di isi. Di rumah Clara ia memang tidak minum apalagi makan. Sementara tenaganya terkuras banyak menghadapi tiga orang yang tidak bisa di ajak kompromi.
“Saya ambilkan dulu, tuan tunggu di sini.”
“Tidak, kita makan di bawah aja. Aku mau sambil nonton singa.” Menarik tangan Disa agar berjalan di sampingnya. Disa mengikuti saja kemana tuan mudanya melangkah.
Ia memperhatikan wajah Kean dari samping. Walau pria tampan di sampingnya ini berusaha terlihat setenang mungkin, tapi dari dahinya yang berkerut, Disa melihat ada kecemasan yang ia simpan. Mungkin kecemasan yang sama seperti yang ia rasakan.
Disa melirik tangannya yang di genggam erat oleh tangan kokoh Kean. Sejak hari itu, tuan mudanya sangat suka memegang tangannya. Ia berinisiatif untuk mengeratkan genggaman tangannya dan terlihat Kean yang tersenyum saat merasakan genggaman tangan Disa yang semakin erat.
Rasanya sangat nyaman berpegangan tangan seperti ini.
*****
Menikmati pasta di sofa seraya melihat aksi sang raja hutan yang berduel dengan seekor ular. Tampilannya yang gagah dengan rambut di bagian kepala yang sangat lebat, membuatnya terlihat sangat sangar saat ia mengaum.
Pergulatan yang hebat antara seekor ular berbisa ternyata harus berakhir dengan ular tersebut pergi meninggalkan raja hutan. Singa kembali mengaum, mengumumkan kemenangannya atas ular. Aumannya di sahuti singa lain, seperti tengah merayakan kemenangan mereka.
“Keren kan sa?” Kean girang sendiri saat singa itu menyeringai garang.
“Hem, sangat keren. Tapi tidak semua perkelahian itu keren. Banyaknya menyisakan rasa was-was.” Disa berujar polos seraya memandangi lebam di wajah Kean yang belum sepenuhnya hilang.
Kean menoleh gadis itu dan tersenyum. “Kamu masih mencemaskanku?”
Disa terangguk. Bukan hanya mencemaskan Kean tapi mencemaskan banyak hal.
“Aku sudah bilang kalau aku baik-baik saja. Asal kamu ada di sini.” Bisiknya. Menyundulkan kepalanya ke kepala Disa dan membuat gadis itu tersipu.
“Ada atau tidak ada saya, tuan harus selalu baik-baik saja, hem.” Tatapan Disa terlihat sendu. Seperti ada perasaan yang ia coba urai namun tidak menemukan ujung pangkalnya.
“Tentu saja, aku di kamar mandi sendiri, berangkat kerja juga sendiri dan semuanya baik-baik saja.” Satu suapan pasta kembali masuk ke mulut Kean. Makanan favoritnya ini memang selalu bisa membuat perasaannya lebih baik.
Disa tersenyum tipis dan mengalihkan pandangannya dari Kean. Ia kembali menikmati pastanya seraya menata pikirannya yang sempat berantakan karena kemunculan overthinking-nya.
Di sampingnya, Kean masih memandangi wajah Disa yang tidak pernah membuatnya bosan. Sangat menyenangkan melihat air mukanya yang tenang sampai kemudian,
“Ting nong!” bell rumah berbunyi.
Mereka kompak menoleh ke arah pintu, entah siapa yang bertamu selarut ini. Disa beranjak hendak membuka pintu, namun dengan cepat Kean menahannya.
“Aku yang buka.” Ia mulai waspada.
Disa mengangguk setuju, mengikuti langkah Kean di belakangnya.
“Ting nong!” lagi bell berbunyi, seperti tidak sabar menunggu pintu terbuka.
Kean berdesis, menempatkan telunjuknya di bibir sebagai isyarat agar Disa tidak bersuara. Di intipnya orang yang membunyikan bell dari lubang pintu.
Kean menghela nafas lega dan segera membuka pintu.
“Nyonya,..” Disa segera menghampiri.
Tidak menyangka kalau yang datang adalah Arini. Wanita itu terlihat sumeringah bahkan bisa memperlihatkan sedikit senyumnya.
“Apa kalian merindukanku?” ia bertanya dengan semangat. Cukup lama ia meninggalkan Kean dan Disa di rumah ini.
Awalnya ia hanya menginap di rumah Nita tapi kemudian teman-temannya datang dan mengajak Arini pergi. Siapa sangka Arini pergi ke singapura dan tinggal beberapa hari di sana.
“Tentu.” Seru Disa. “Nyonya gimana kabarnya?” senang rasanya melihat Arini dalam keadaan yang lebih baik.
“Sangat baik sa. Tapi kayaknya cuma kamu aja yang seneng saya pulang. Anak saya acuh aja.” Melirik Kean yang masih mematung di pintu dan memperhatikan interaksi Disa dan Arini.
“Kean juga seneng lah. Cuma gak nyangka aja mamah pergi selama itu.” Dikecupnya dahi Arini dan mendorong kursi rodanya masuk ke rumah. Syukurlah Arini yang datang, bukan Sigit ataupun orang suruhannya.
“Iya, banyak hal yang mamah lakuin di sana.”
“Mamah ketemu dokter rekomendasi dari temen mamah. Dia terapis yang bagus untuk kaki mamah. Katanya, selama ini kaki mamah udah terstimulus dengan baik dan kemungkinan bisa jalan lagi.”
“Wah, mamah seneng banget. Ini berkat disa yang gak pernah bosan nemenin mamah belajar jalan sama mijit titik akupuntur di kaki mamah.” Di usapnya tangan Disa yang masih ia genggam.
“Saya hanya membantu sedikit nyonya. Bagian terbesarnya adalah keinginan nyonya untuk sembuh.” Timpal Disa yang ikut merasa bahagia.
“Em, kamu manis banget sih.” Di cubitnya pipi Disa dengan gemas, meninggalkan rona merah di bekas cubitannya.
Disa hanya tersenyum, sedikit melirik Kean yang ternyata sedang memandanginya. Kali ini kedua pipinya yang merona karena melihat tatapan Kean.
“Oh iya, mamah bawa oleh-oleh buat disa. Sebentar,” mengeluarkan sesuatu dari tas tangannya. Sebuah kotak kecil berwarna hitam dengan sebuah logo brand aksesoris terkenal di atasnya. “Ini, untukmu. Saya harap kamu suka.” Arini memberikannya pada Disa.
“Wah, terima kasih nyonya.” Matanya langsung berbinar, mendapat hadiah dari Arini.
“Bukalah. Saya ingin tau apa kamu menyukainya atau tidak.”
“Baik nyonya.” Dengan semangat Disa membuka kotak tersebut.
Matanya kembali berbinar saat melihat sebuah penjepit rambut berbentuk pita dengan butiran Mutiara di atasnya. Mutiara berwarna rose yang memunculkan warna bayangan biru, pink dan emas saat terkena cahaya.
“Nyonya, ini..” Disa terharu sendiri melihat hadiah yang diberikan Arini. Mutiara berjenis akoya pearl tentu bukan barang yang murah.
“Kamu sangat suka mengepang rambutmu, sesekali, pakai penjepit ini di rambutmu. Pasti sangat cantik.”
“Terima kasih nyonya.” Disa tersungut-sungut dengan perasaan senang yang tidak bisa di ungkapkan.
“Sama-sama. Jangan lupa di pakai ya.”
“Iya nyonya.” Masih memandangi sepasang penjepit rambut di tangannya. Ini hadiah pertama yang ia terima dari Arini dan ia berjanji akan menjaganya baik-baik.
“Oh iya, saya juga punya sesuatu untuk nyonya.”
“Oh ya? Apa?” jadi penasaran melihat ekspresi Disa yang berubah denagn cepat.
“Em, tunggu sebentar nyonya, saya ambil dulu.”
Disa langsung berlari ke kamarnya.
“Jalan pelan saja sa, saya tidak akan kemana-mana.” Seru Arini dengan suaranya yang berat. Tidak terdengar sahutan dari Disa sepertinya gadis itu tidak mendengarnya.
“Hadiah buat kean apa mah? Kok kean gak dapet?” Kean ikut merajuk. Mana mungkin Disa dapat hadiah sementara ia tidak.
“Ada, sebentar ya.” Arini kembali merogoh isi tas tangannya. Ia mengambil sesuatu dan bentuknya sama mungilnya dengan yang ia berikan pada Disa.
“Bukan jepit rambut kan mah?” tanyanya usil.
“Hhahaha.. Bukan dong sayang. Coba buka.”
Kean ikut penasaran dengan kotak yang diberikan Arini. Ia pun membukanya.
“Gelang?” Kean mengernyitkan dahinya tidak paham. Untuk apa ia diberi aksesoris wanita?
“Iya gelang.” Sebuah gelang platinum berbentuk bulat utuh.
“Gelang ini memang sederhana, tapi ini dari nenek kamu. Nanti, kalau kamu nikah, pakaikan ini ke istrimu ya nak.” Pesan Arini.
Rasanya Kean mulai paham dengan maksud Arini. Ia memperhatikan gelang silver dengan dengan beberapa mata berlian di tengahnya. Ini memang hadiah paling berarti yang pernah Kean dapat dari ibunya.
“Tapi ingat, cari dulu perempuannya, jangan di pake sendiri.” Ledek Arini. Anggap saja ini cara memotivasi Kean agar segera mencari pendamping hidup.
Kean hanya terkekeh, bisa juga Arini meledeknya. “Iya, secepatnya kean cari wanita yang akan memakai gelang ini.” Tandasnya membuat Arini menahan senyum. Yakin sekali putranya mengatakan hal tersebut.
Terdengar suara langkah kaki menuruni anak tangga. Kean segera menyembunyikan gelang pemberian Arini di dalam sakunya.
Disa datang dengan sebuah kotak berukuran lebar.
“Waah, apa ini. Kok saya jadi penasaran?” Arini memperhatikan kotak berwarna coklat di tangan Disa.
“Hadiah untuk nyonya.” Ia memberikan kotak tersebut pada Arini.
“Ini hari apa sih? Kok kita jadi bertukar kado gini.” Meraih kotak yang di berikan Disa. Menaruhnya di atas pangkuan dan mulai ia buka.
“Tidak harus hari khusus kan kalau ingin memberikan hadiah?” Disa balik bertanya.
“Tentu sa. Ulang tahun saya masih jauh. Sering-sering seperti ini tidak masalah kok. Malah seneng.”
Penutup kotak sudah di buka. Warna hijau botol terlihat manis di pandang Arini. Ia mengusapnya dan rasanya sangat lembut. Di angkatnya tinggi-tinggi dan ternyata sebuah dress.
“Disa, ini buatanmu?” Arini menatap tidak percaya pada dress berbahan katun silk tersebut.
“Iya nyonya, baru selesai saya buat.”
“Ya ampun, cantik sekali.” Arini begitu mengagumi dress buatan Disa. Bagian lehernya yang di buat agak lebar dengan tengah tubuhnya di potong kancing terbungkus serta ikat pinggang berbentuk pita yang memberi kesan elegan.
“Saya memilih bahan ini supaya kalo nyonya memakainya keluar, tidak membuat panas jadi nyonya bisa tetap nyaman walau berlengan panjang.”
“Wah, saya sangat suka. Terima kasih.” Arini tidak menyangka kalau hadiah yang diberikan Disa sangat special. Gadis ini mendesain dan menjahitnya sendiri. Hasilnya sangat di luar dugaan.
“Kemarilah.” Arini merentangkan tangannya pada Disa. Walau ragu, Disa tetap menghampirinya. Di peluknya Disa dengan erat.
“Terima kasih banyak sa. Saya pasti akan memakainya.” Bisik Arini dengan rasa haru.
Disa hanya terangguk. Tiba-tiba saja dadanya terasa hangat. Ada ketenangan yang ia rasakan saat Arini memeluknya. Entah karena pelukan Arini yang memang spesial atau karena ia sangat merindukan sebuah pelukan dari wanita seperti Arini. Mungkin seperti ini kurang lebih saat ia memeluk seseorang yang ia idamkan sebagai seorang ibu.
Hangat dan menenangkan.
****