Marry The Heir

Marry The Heir
Ganti perban saya



“Ting tong!” suara bell terdengar nyaring, membuyarkan lamunan Disa beberapa saat lalu.


Ia memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan beranjak untuk membuka pintu.


“Nina?!” seru Disa saat melihat Nina berdiri di hadapannya.


“Sa,…” sambutnya seraya memeluk Disa.


Beberapa jam lalu ia mendapat kabar kalau Disa dicopet di pasar. Tina yang menceritakan ceritanya dengan dramatis membuat bulu kuduk Nina meremang membayangkan kondisi seperti apa yang di hadapi Disa saat itu.


Begitu Kinar memberi tugas untuk mengantarkan baju dan barang pribadi Disa, Nina lah yang langsung bersemangat untuk pergi.


“Kamu udah baik-baik aja kan sa?” melepaskan pelukannya dan sedikit menarik tubuhnya agar bisa melihat Disa secara utuh.


“Iya, alhamdulillah aku baik-baik aja. Tapi malah tuan muda yang luka. Aku bener-bener ngerasa bersalah.” Ungkap Disa dengan sendu.


“Iya aku denger ceritanya dari kak tina. Tapi paling nggak, kamu bisa jagain tuan muda. Kamu gak di marah-marahin kan?” Terlihat Nina yang tampak cemas membayangkan posisi Disa saat ini.


Hanya menggeleng seraya menghela nafas dalam.  Lantas ia mengajak Nina masuk menuju dapur lalu sama-sama duduk di bangku yang ada di ruang linen.


“Tuan muda gak banyak bicara. Aku tau lukanya pasti sakit banget. Tapi dia gak marah sedikit pun dan itu bikin aku makin ngerasa gak enak.” Tutur Disa yang tertunduk lesu.


Pandangannya tertuju pada jas yang tergantung dan baru selesai ia setrika. Ia tengah membayangkan, Kean sedang berdiri di sana dan memandanginya dengan dingin tapi tidak marah sedikit pun. Entah apa arti ekspresi yang ia tunjukkan.


“Jangan terus-terusan ngerasa bersalah sa. Kata kak tina, tuan muda itu orang yang cukup introvert tapi spontan. Gak bisa kita tebak, kita cuma bisa nunggu dia ngomong apa yang dia pengen atau apa yang dia rasakan.” Ujar Nina dengan sungguh-sungguh.


Mendengar kalimat Nina, Disa tersenyum tipis. Rupanya Tina mulai memberikan ilmunya pada teman-temannya.


“Maaf ya na, gara-gara kejadian ini, mungkin aku akan merepotkan kalian dengan tugasku di rumah utama.” tatapan Disa terlihat nanar. Bagaimanapun ia terbiasa mengerjakan tugasnya sendiri, tapi kali ini harus merepotkan teman-temannya.


Nina meraih tangan Disa yang lalu ia genggam.


“Gak pa-pa sa, kamu fokus aja ngurus tuan muda sampe dia sembuh. Lagi pula, di rumah utama ada yang seger-seger, jadi kita gak bete.” Nina tersenyum gemas di ujung kalimatnya.


“Yang seger-seger apa na?” bertanya dengan penasaran karena ini ekspresi langka Nina.


“Em, hampir tiap hari ada cowok ganteng main ke rumah utama. Aku, wati sama kak tina gantian ngehidangin makanan atau minuman. Kadang dia ikut makan malam, hihihi…” Nina terkekeh gemas sendiri.


“Hah, siapa sih? Kok aku gak tau?” Disa dibuat makin penasaran.


“Kamu juga kayaknya pernah ketemu deh. ‘tuan muda marcel, adiknya tuan besar.’ Kita manggilnya ahjusi rasa oppa.” Nina memelankan suaranya saat menyebut nama Marcel.


“Ooo…” Mulut Disa membulat. Ternyata laki-laki itu yang membuat Nina merona.


“Aku gak ngerti, kenapa keluarga hardjoyo ganteng semua yaa.. Bikin oleng. Tuan besar aja yang udah berumur, tetep aja gantengnya gak kalah saing.” Ungkap Nina dengan penuh kekaguman.


Entah apa yang ada dipikirannya saat ini Ketika membayangkan sosok laki-laki di keluarga Hardjoyo. Tapi paling tidak, kedatangan Nina bisa membuat Disa terlupa sejenak dari perasaan tidak nyamannya.


****


“…..Kaaataaaa, mereka diriku, slalu ditimang….. kaaataaaa, mereka diriku, slalu dimanjaaaa…. Ooo bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku,…”


Suara Shafira terdengar jelas menggema di ruang musik, tempat anak-anak paduan suara biasa berlatih. Mereka tengah menghabiskan waktu untuk menyempurnakan penampilan mereka yang tidak lama lagi akan naik pentas.


“Gimana?” tanya Shafira pada teman-teman padusnya, yang tumben tidak bertepuk tangan.


“Kurang dikit lagi feel-nya.” Adalah suara Malvin yang menyahuti dari arah pintu masuk. Ia baru datang dengan sebotol air mineral di tangannya dan melangkah santai menuju pianonya.


“Gue gak nanya lo!” sinis Shafira. Ia kembali bertanya pada Diana dengan isyarat matanya dan Diana malah mengangguk seolah mengiyakan kalimat Malvin.


“Huhh…” dengus lirih Shafira yang kesal karena pendapat mereka sama.


Ia memilih untuk duduk di samping Diana lalu mengambil air minum miliknya dan meneguknya hingga tandas.


Malvin mulai memainkan barisan tuts-nya dan membuat perhatian mereka teralih. Sejenak Disa memperhatikan penampilan Malvin yang begitu menjiwai saat memainkan melodi lagu yang ia nyanyikan. Hatinya masih berdesir, dengan wajah yang terasa menghangat. Kenapa begitu sulit melupakan perasaannya pada Malvin?


“Mungkin lo harus latihan langsung sama malvin, fir.” Cicit Diana seraya menyenggol tangan Shafira dan membuatnya terkejut.


“Ish, ngggak ah. Nanti aja.” Tolaknya. Ia memalingkan wajahnya dari Malvin yang kali ini menolehnya dengan segaris senyum.


“Jangan sok keren lo!” dengus Shafira seraya mengambil ponsel dan kembali mencocokan earphone-nya ke dalam lubang telinganya.


“Fir, mau kemana?” seru Diana saat melihat Shafira beranjak.


“Mau ke perpus, butuh ketenangan!” serunya, mengabaikan Diana.


Diana hanya bisa menggeleng seraya menghembuskan nafasnya kasar. Usaha Shafira masih begitu kuat untuk menghindari Malvin.


Keluar dari ruang musik, sayup-sayup dentingan piano itu masih terdengar. Sebenarnya Shafira tidak benar-benar menyalakan pemutar musiknya, ia hanya memasangkan earphone tanpa ada lagu yang terdengar. Bibirnya mengulum senyum kecil saat melihat Malvin yang memandanginya dengan segaris senyum. Entah sejak kapan laki-laki itu jadi sering tersenyum.


Dari kejauhan ia melihat ketiga mantan anggota genk-nya berjalan berlawanan dengannya. Fia yang terlihat berbisik-bisik dengan tatapan mata tertuju pada Shafira. Sementara Ira, hanya tertunduk di samping Nara yang berjalan dengan penuh percaya diri.


Sejak kejadian beberapa waktu lalu, mereka memang tidak pernah berkomunikasi. Layaknya orang asing, Shafira mengabaikan keberadaan mereka, mengabaikan semua yang mereka lakukan dan bicarakan. Shafira memang ahlinya mengabaikan, mungkin ini salah satu trah yang diturunkan ayahnya pada Shafira.


Seperti saat ini, ia tidak peduli apa yang dibisikan Fia pada Nara. Yang terdengar dari Nara hanya, “Iyalah, gue harus nemenin malvin latihan biar dia tambah semangat.” Ujarnya dengan suara yang sengaja di buat keras agar di dengar Shafira.


Shafira tidak bereskpresi sedikit pun saat mereka berpapasan. Tujuannya yang semula ke perpustakaan beralih menuju tempat olahraga indoor.


Kembali mengulang, mendengarkan lagu melly goeslaw dan mencoba menggumamkannya. Kata Malvin, penghayatannya kurang. Ia membuka-buka video tentang seorang ibu dan anak-anaknya, video mengharukan tepatnya, agar suasana hatinya berubah.


Nihil, tidak ada yang berhasil. Ia kesulitan membayangkan posisi seorang anak yang tengah memuja ibunya yang memberi limpahan kasih sayang tidak terbatas. Hatinya tidak tertaut apalagi terrenyuh  karena ia tidak pernah punya pengalaman untuk merasakannya. Seperti apa rasanya keharuan dan kehangatan itu, sungguh sangat jauh dari bayangan Shafira.


“Haaisshhh!  Harusnya aku milih lagu yang lebih ceria, tidak mellow seperti ini.” Gumamnya dengan kesal.


Terdiam sendirian di sini, sungguh ia memerlukan petunjuk.


*****


Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam dan Kean baru terlihat keluar dari kamarnya. Menapaki satu per satu anak tangga dengan langkah gontai dan wajah yang terlihat pucat.


“Tuan, anda akan makan malam sekarang?” sambut Disa yang baru selesai menata meja makannya.


Kean tidak menimpali, ia lebih memilih duduk di kursi makan dan memandangi makanan di hadapannya.


“Apa anda baik-baik saja tuan?” tanya Disa yang memperhatikan lekat wajah Kean yang pucat.


“Ya, saya baik-baik saja.” Akunya tanpa menoleh Disa.


Tangannya berusaha menggapai piring dan Disa yang mengambilnya lebih dulu.


“Saya bantu tuan. Tuan mau makan dengan apa?” tawarnya.


Menunjuk sup ikan yang ada di hadapannya dan Disa segera mengambilkan.


“Mau saya suapi tuan?” tawarnya lagi.


“Saya bukan anak kecil.” Mengambil piring dari Disa dengan tangan kirinya lalu menaruhnya di hadapannya.


“Jangan terlalu mengurusku hanya karena kamu merasa bersalah.” Sinisnya. Ia mulai menyuapkan satu suapan ke mulutnya dan terlihat seperti tengah mengecap rasanya.


Disa terpaku di tempatnya dan memperhatikan Kean yang tampak pucat. Beristirahat seharian sepertinya tidak benar-benar membuat tubuh Kean segar.


“Saya memang merasa bersalah tapi mengurus tuan adalah kewajiban saya.” Dengan berani Disa duduk di kursi samping Kean yang ia putar menghadap Kean. “Lagi pula, tidak baik makan dengan tangan kiri.” Imbuhnya seraya menengadahkan tangan meminta sendok dari tangan Kean.


Pandangan Kean teralih menatap Disa yang sedikit merundukkan tubuhnya dengan wajah menengadah berusaha menatap Kean. Terlihat binar matanya yang hangat beradu dengan tatapan Kean yang sendu. Hanya beberapa detik mereka saling bertatapan sebelum akhirnya Kean menyerah dan memberikan sendoknya pada Disa.


“Ada goreng emping, apa tuan mau?” tawarnya yang mulai menyuapkan makanan ke mulut Kean.


Kean menggeleng, cukup makanan ini yang di santapnya.


Kean terlihat canggung berada sedekat ini dengan Disa yang mengurusinya. Rasa kecewanya masih cukup besar saat mengingat kalimat Disa pagi tadi. Untuk alasan apa ia kecewa, ia pun tidak tahu. Seharian berada di kamar dengan banyak hal yang ia pikirkan salah satunya adalah alasan perasaan kecewanya saat ini.


Makan malam berlalu dalam keheningan, hingga makanan di piring Kean bersih dan ia menolak untuk tambah. Disa menghela nafasnya lega, saat Kean mau makan dengan porsi normal.


Menyodorkan segelas air untuk kemudian di teguk hingga tandas oleh Kean.


“Tadi bu kinar mengirimi saya pesan, bertanya kondisi tuan. Tapi belum saya balas karena saya harus memastikan dulu keadaan tuan.” Ujar Disa yang mulai beranjak dari tempatnya dengan membawa piring kotor.


Kean pun ikut beranjak dari tempatnya, beralih menuju kamarnya.


“Katakan saya baik-baik saja, agar kamu tidak mengecewakan dia.” Sinis Kean yang meneruskan langkahnya.


“Tapi saya belum bertanya pada anda tuan, apa anda baik-baik saja, karena anda terlihat sangat pucat.”


“Saya baik-baik saja. Cukup kan, bahan laporan untuk kamu sampaikan pada bu kinar?” sengitnya lagi, makin kesal.


“Mengapa tuan selalu mengira saya bertanya kabar tuan hanya untuk di laporkan pada bu kinar?” kali ini suara Disa terdengar lebih keras hingga membuat langkah Kean terhenti sejenak. Ini protes pertama yang Disa lakukan pada sikapnya.


“Karena itu yang kamu butuhkan. Saya hanya mengikuti apa yang kamu katakan tadi pagi. Apa masih kurang?” Timpalnya, yang mulai mengepalkan tangan saat mengingat ucapan Disa.


Disa sedikit mengernyitkan dahinya, berusaha mengingat kalimatnya yang membuat Kean terdengar sangat kesal.


Ya, mungkin kalimat itu yang disalah pahamkan oleh Kean.


“Saya bertanya keadaan tuan, bukan hanya sebagai bahan laporan pada bu kinar. Saya memang berharap bisa mengatakan kalau tuan baik-baik saja tapi bukan berarti tuan harus berusaha terlihat baik-baik saja. Jika tuan merasa sakit, katakan sakit. Saya akan merawat tuan. Jika tuan memang sudah baik-baik saja, katakan baik-baik saja dengan sebenarnya.”


“Kalau saya mengatakan tidak baik-baik saja, mungkin kinar akan memarahimu.” Lirih Kean akhirnya.


“Tidak masalah. Saya hanya perlu tahu keadaan tuan yang sebenarnya karena saya lebih peduli pada keadaan tuan di banding laporan menyenangkan hanya untuk membuat orang lain menganggap saya telah bekerja dengan baik.”


Kean menghela nafasnya panjang seraya memejamkan matanya. Seperti ada bongkahan besar yang tiba-tiba menghilang dari tempatnya hingga membuat kepalan tangannya memudar. Ia berharap, apa yang dikatakan Disa benar, bahwa ia memang peduli.


“Ganti perban saya.” Ujarnya kemudian seraya berlalu menuju kamarnya.


“Baik tuan!” seru Disa dengan semangat.


Dalam langkahnya, Kean tersenyum kecil mendengar seruan Disa.


*****