
Handphone Shafira masih terus berdering dalam perjalananya menuju sebuah café tempat ia janjian dengan teman-temannya. Adalah nama Reza yang terus muncul di layar ponselnya memanggil untuk keempat kalinya.
Sebenarnya Shafira sedang tidak ingin berbicara dengan Reza karena masih ada perasaan mengganjal di hatinya yang belum bisa ia simpulkan. Tapi di pikir-pikir, kasian juga, Reza pasti sedang sangat sibuk saat ini menyiapkan acara di gallery-nya dan pasti ada sesuatu yang penting yang ingin Reza sampaikan. Setelah menyalakan musicbox mobilnya, ia pun menjawab panggilan Reza.
“Iya kak reza…” jawab Shafira sambil tetap fokus mengatur kemudinya.
“Dek, kamu kemana aja aku teleponin susah banget.” Protesan Reza yang langsung mengisi suara di kabin mobilnya.
“Ini aku lagi nyetir, masa sambil telponan sih?” Shafira beralasan. Memang benar, ia mengingat pesan Sigit, salah satu syarat ia boleh membawa mobil sendiri adalah tidak boleh bertelepon tapi kali ini ia melanggarnya. Maaf dady.
“Terus sekarang udah menepi?” Reza terdengar cemas, suatu hal yang selalu membuat perasaan Shafira tidak karuan.
“Nggak, aku loudspeaker kok. Ada apa kak?” Kembali ke topik, tidak perlu membicarakan hal lain di luar itu.
“Gak apa-apa, cuma mau mastiin nanti malem kamu dateng kan?” Reza mengingatkan Shafira pada acara barbeque di gallery.
“Oh iya, aku usahain dateng. Udah sampe mana persiapannya?” acara yang disiapkan untuk mengenalkan Ellen secara resmi pada Nita ini memang atas idenya Shafira, ya ide yang dibuat sebelum perasaan aneh itu muncul.
“Belum aku cek, aku minta orang rumah buat nyiapin. Tapi yang pasti kamu dateng kan?” Reza bersikukuh bertanya rencana kedatangan Shafira.
Sejenak Shafira terdiam, sambil berfikir dan menghentak-hentakkan jarinya ke stir. Sejak dulu sampai sekarang, ternyata Reza masih sama. Tidak bersunguh-sungguh dengan apa yang ia lakukan. Padahal menurut Shafira, kalau Reza bersungguh-sungguh dengan Ellen, harusnya Reza sendiri yang menyiapkan semuanya. Bukankah itu akan terkesan lebih romantis?
Tapi, ya begitulah Reza. Sang Casanova dengan pesonanya yang terlalu kuat untuk menaklukan hati seorang wanita selalu ia jadikan andalan kalau wanita itu pasti menerimanya terlebih saat wanita itu balas memberinya perhatian. Ya kita kecualikan saja Disa. Tapi bagi seorang Ellen, dari cerita yang selalu Reza ceritakan sepertinya wanita itu bersedia menunggu sampai Reza benar-benar yakin.
Lalu apa yang harus Shafira lakukan di antara dua orang ini? Mengapa Reza masih selalu melibatkannya?
“Aku usahain ya kak, soalnya aku ada janji buat latihan dulu sama temen-temen. Inipun aku otewe ketemu mereka. Eh bentar,” Shafira menepikan mobilnya saat melihat seseorang yang ia kenal sedang duduk di meeting point busway.
“Kenapa?” suara Reza masih tersambung.
“Kayaknya aku liat malvin.” Sahut Shafira sambil meyakinkan diri sendiri.
Menurunkan sedikit kaca jendelanya, “Vin!” serunya saat ia yakin kalau yang duduk di tempat tunggu busway itu benar-benar Malvin. Ia pun membunyikan klakson.
Malvin yang mengenali suara Shafira segera menoleh dan melambaikan tangan disertai senyuman yang selalu berhasil membuat jantung para gadis tidak aman.
“Sini!!” panggil Shafira.
Malvinpun mendekat. “Fir,” sapanya ragu-ragu.
“Lo mau ke café kan? Ayok bareng gue aja.” Ajaknya.
“Em iya.” Sebelum kendaraan di belakang mengklakson Shafira, buru-buru Malvin naik.
“Thanks fir, tadi gue nungguin busway cuma belum dateng.” Malvin melihat jam yang melingkar di tangannya, ia memang sengaja menunggu lebih awal.
“Lo gak bawa motor?” Shafira jadi teringat pada motor Malvin yang dulu memboncengnya saat ia sedang menangis di jalanan.
“Lagi di bengkel, sore ini gue ambil. Maklumlah motor tua, udah mulai kolokan.” Terang Malvin.
“Hahahaha… Ada-ada aja lo!” Shafira mulai melajukan mobilnya setelah Malvin siap dengan sabuk pengamannya.
“Kak, udah dulu ya, nanti aku kabarin lagi.” Shafira kembali berbicara dengan Reza.
“Iya hati-hati di jalan bocah. Jangan lupa makan.” Pesan Reza yang membuat suasana di mobil jadi canggung.
“Yups, bye!” cepat-cepat Shafira mengakhiri panggilannya.
“Kak reza?” tanya Malvin yang mengenali suara tersebut.
“Hem. Dia ngundang gue buat ke acara dia nembak ceweknya.” Menceritakan rencana malam ini membuat Shafira meremas stirnya kesal, entahlah itu refleks saja.
Malvin hanya tersenyum dan membuang pandangannya keluar jendela.
“Lo beda.” Ujar Shafira tiba-tiba, saat melihat penampilan Malvin yang masih sangat rapi. Setelah pulang dari inggris, baru kali kedua ini Shafira bertemu langsung dengan Malvin. Biasanya mereka hanya bertemu secara virtual, tapi kali ini secara utuh.
Malvin memperhatikan dirinya sendiri, apa yang beda pikirnya.
“Lo emang cocok tampil dengan tampilan pak guru kayak gini. Gimana rasanya ngajar anak SMA? Throw back time gak sih?” Shafira berusaha mencairkan suasana.
“Oh, yaa begitulah. Gak beda jauh sama waktu kita belajar dulu. Adaptasinya juga lebih mudah.” Sahut Malvin. Jawabannya memang selalu tanpa basa basi.
Setelah lulus SMA Malvin memang dapat banyak tawaran beasiswa dalam negeri. Prestasinya yang banyak membuat ia bebas memilih mau bersekolah dimana. Dan siapa sangka, Malvin memilih untuk mengambil Pendidikan fisika, pelajaran yang sangat ia sukai namun di benci Shafira.
“Gimana pak guru, apa hukum kesetimbangan itu masih sama?” jadi ingat saat Malvin mengajarinya satu rumus yang membuat Shafira harus fokus menyimaknya. Rumus dasarnya sih gampang tapi setelah jadi soal kuis mendadak semuanya jadi susah. Kadang ada perasaan kalau materi itu tidak diajarkan.
“Sama, cuma objeknya ada yang berbeda-beda.” Timpal Malvin.
“Hahahhaha… Gue bayangin, lo pasti jadi pak guru idola di sekolah. Pinter, keren dan ganteng.” Tanpa sadar Shafira memberikan pujian itu pada sahabatnya.
“Nggak! Gue malah di benci murid gue. Katanya tugas gue susah-susah.”
“Hahahhaa… Ya guru baru dan muda dengan idealis tinggi. Kayak pak Imran dulu dong.” Teringat pada guru Fisika mereka yang terkenal killer.
“Ya kurang lebih.” Malvin masih sama, kalimatnya terbatas walau mereka sudah cukup dekat sebagai teman satu band.
4 tahun terpisah, mereka masih menjalin komunikasi yang baik. Berkat group band yang mereka buat membuat keduanya bisa selalu terikat. Berlatih secara virtual sebagai ajang untuk melepas penat, berbincang hal random, cover lagu hingga akhirnya mereka bertemu seorang produser beberapa hari lalu.
Akhir perbincangan mereka membawa Shafira dan Malvin tiba di sebuah café. Café tempat Malvin bekerja sejak ia SMP dulu.
“Wah, suasananya masih sama ya vin.” Ujar Shafira saat mereka masuk ke café. Letak piano masih sama, kaca penghadap yang sering Shafira tulisi saat hujan pun masih sama. Hanya catnya yang masih selalu terlihat baru dan beberapa lukisan yang menghiasi dinding yang kosong.
“Wah keren…” seru Shafira saat melihat suasana berbeda di lantai 2. Café dengan suasana rooftop ini membuat Shafira bisa menghela nafasnya dalam. Indah, pikirnya.
“Lo yang nata rooftop ini?” tanya Shafira. Malvin berdiri di sampingnya dengan postur tubuhnya yang semakin keren.
“Iyaa.. Gue udah beli 50% saham tempat ini, jadi gue punya kebebasan nata tempat ini sesuka hati gue.” Aku Malvin.
“Oh ya? Waw lo keren vin!” lagi Shafira berseru.
4 tahun tidak tahu banyak tentang pribadi Malvin ternyata sahabatnya ini memberi banyak kejutan dengan pribadinya yang bertumbuh. Seingat Shafira, Malvin bekerja di café ini sejak ia kelas 3 SMP dan setahu ia pula, Malvin hanya mengambil setengah gajinya sisanya ia investasikan. Mungkin salah satunya di café ini.
Malvin hanya tersenyum mendengar pujian Shafira.
“Tunggu bentar, gue ada titipan buat lo.” Malvin mengambil tasnya yang ia taruh di atas meja. Sebuah botol yang Ia keluarkan dari dalam tasnya.
“Buat lo.” Malvin menyodorkan botol itu pada Shafira.
“Wah ini air jahe vin?” terka Shafira.
“Hem, ibu bilang itu bagus buat suara kalo lo agak serak. Tapi tetep harus banyak minum air putih.” Terang Mavin.
Tempo hari Shafira memang mengatakan kalau suaranya sedikit serak karena sering begadang tapi siapa sangka kalau Malvin inisiatif membawakan minuman ini untuknya.
“Thanks vin.” Ungkap Shafira.
Malvin hanya terangguk lantas terduduk di lantai menghadap ke area terbuka di hadapannya. Shafira ikut duduk di sampingnya. Meneguk minumannya beberapa kali, memberi tenggorokannya rasa hangat dan lega.
“Gimana kabar ibu sama adek-adek?” tanya Shafira tiba-tiba.
“Baik.” Mavin tersenyum di ujung jawabannya. “Ibu titip salam buat lo.” Imbuhnya seraya menatap Shafira beberapa saat.
“Wa’alaikum salam..” terangguk takzim mendengar wanita yang selalu di banggakan Malvin mengiriminya salam.
“Kapan ya gue bisa ketemu ibu? Beberapa kali ngobrol lewat telpon doang. Kayaknya ibu temen cerita yang seru deh vin.” Shafira jadi memandangi wajah tampan di sampingnya, senyumnya yang tipis dan matanya yang tajam menatap jauh ke depan sana. Ada kumis tipis yang tumbuh di atas bibir Malvin dengan rahang yang di tumbuhi rambut halus. Laki-laki ini memang sudah tumbuh dewasa.
“Iya, ibu suka banget cerita. Di rumahpun hoby-nya cerita sama adik-adik. Jadi rumah gak kerasa sepi.” Ungkap Malvin. Baru kali ini Malvin mau cerita tentang keluarganya. Suatu perkembangan yang pesat untuk seorang introvert seperti Malvin.
“Lo cowok satu-satunya pasti sering kehabisan kesempatan buat ngomong ya?” terka Shafira yang terkekeh di ujung kalimatnya. Ada kesempatan saja Malvin jarang bicara apalagi tidak ada kesempatan. Pasti hanya mata tajamnya yang memperhatikan lingkungan sekitarnya, seperti tengah mengitung rumus dari setiap benda yaang ada di dekatnya.
“Hem.” Malvin kembali tersenyum.
Malvin memang berasal dari keluarga yang sederhana. Ia hanya tinggal berempat bersama ibu dan dua adik perempuannya. Katanya ayahnya meninggal saat malvin kelas 1 SMP sehingga ia harus menjadi tulang punggung keluarga, membantu ibunya.
Hingga saat ini Malvin dan ibunya bisa tetap membiayai hidup mereka, menyekolahkan adik-adiknya yang hanya terpaut usia 2 tahun satu sama lain dan sedang sama-sama kuliah. Beban Malvin memang berat dan ia seorang anak laki-laki sekaligus seorang kakak yang bertanggung jawab. Patut di banggakan.
Itu yang Shafira tahu tentang Malvin dari dua teman pria di group band-nya.
“Diana, lutfi sama andre mana ya.” Shafira berusaha memecah keheningan di antara ia dan Malvin.
“Gue coba telepon dulu. Lo tunggu aja di dalem.” Malvin menunjuk sebuah ruangan di dekat mereka yang bertuliskan “File”, yang dalam bahasa Yunani berarti sahabat. Ya, ruangan ini seperti sahabat bagi Malvin untuk menemaninya saat sepi.
“Itu studio kita vin?” Shafira beranjak dari tempatnya.
“Hem, lo tunggu aja di dalem nanti gue nyusul.” Malvin mengeluarkan ponselnya dan mulai menghubungi teman-temannya.
Ruangan berukuran 4x6 meter ini adalah studio tempat Malvin dan teman-temannya berlatih. Ruangan kedap dengan banyak alat musik di dalamnya. Ada juga alat perekam yang biasa mereka gunakan saat berlatih secara virtual.
“Ding!” Shafira menekan salah satu tuts piano yang biasa di mainkan Malvin. Berjalan perlahan menikmati suasana ruangan yang aestethic dan membuatnya merasa menemukan hidupnya.
Berdiri di depan stand mic, sambil memejamkan mata, mengingat saat ia berdiri di atas panggung sekolah untuk terakhir kalinya. Aahh rasanya baru kemarin band ini terbentuk dan sekarang sudah 5 tahun berjalan. Sungguh waktu memang cepat sekali berputar.
“Rinai hujan basahi aku,” tiba-tiba saja Shafira menyanyikan lagu yang terakhir ia nyanyikan bersama Malvin.
“Temani sepi yang mengedap.” Mendengar suara itu Malvin mengakhiri panggilannya dan menyusul Shafira ke dalam. Harus ia akui, suara Shafira yang semakin indah dan matang seperti memanggilnya untuk mendekat.
“Kala, aku mengingatmu dan semua saat manis itu.” Jeda Shafira saat melihat Malvin masuk ke dalam studio.
“Gak apa-apa kan gue nyanyi lagu ini?” tanya Shafira saat melihat Malvin menatapnya.
Malvin terangguk.
“Kalo lo inget sama gue dan temen-temen, lo nyanyiin lagu ini ya fir. Gue pastikan waktu berlalu dengan cepat. Lo hanya perlu menunggu 7 kali musim hujan dan kita akan ketemu lagi dalam keadaan yang lebih baik.” Kalimat itu yang Malvin katakan sebelum mengantar Shafira ke Inggris 4 tahun lalu. Siapa sangka, Shafira selalu mengingat lagu ini dan menyanyikan dengan caranya sendiri.
Malvin mengambil gitarnya lalu duduk di samping Shafira.
“Segalanya seperti mimpi,” Kembali suara Shafira terdengar dan Malvin mengiringinya dengan suara gitar. Sesekali ia mencuri pandang pada paras cantik yang terlihat berseri saat sedang bernyanyi.
“Ku jalani hidup sendiri.
Andai waktu berganti. Aku tetap takkan berubah
Aku selalu bahagia. Saat hujan turun
*Karena aku dapat mengenangmu. Untukku sendiri. O-o-ow*...”
Dan lagu tersebut menjadi teman bagi Shafira dan Malvin mengingat banyak kenangan di masa remajanya. Beberapa saat saja mengingat masa lalunya, setelah ini, mereka harus kembali terbangun pada sebuah reallita kalau semuanya adalah masa lalu dan ada masa depan yang harus mereka hadapi.
*****